Pengalaman ke Dieng Culture Festival 2019, Nikmatnya Nonton Jazz di Atas Awan


Sejak lama gue pengen banget menonton jazz di atas gunung. Bermula ketika masih menjadi jurnalis dan sering mengedit berita kontributor di Jawa yang menulis soal Jazz Gunung (Bromo).  Udah ngebayangin tuh, di atas gunung, nikmatin alunan musik jazz, suasana yang dingin, nyaman dan pasti berasa damai. Wah, pokoknya mupeng banget. Lalu ada pula jazz Prambanan dan ternyata ada Jazz di atas awan yakni di Dieng.


Bacaan Penting:

- Ayo Hijrah Bank Muamalat, Gak Melulu Soal Komersial
 - All New Nissan Livina, Mobil Idaman Para Ibu Indonesia
Bunda Tenang, My Baby Minyak Telon Plus Lindungi Anak hingga 12 Jam
- Cari Tas Murah di Pasar Senen Jakarta
- Jalan-jalan Seru ke RKB BNI Fest di Halal Park Senayan

Dan keinginan itupun menjadi kenyataan, Alhamdulillah. Dua bulan sebelum acara, gue mendapatkan informasi mengenai Dieng Culture Festival 2019 atau yang dikenal Jazz di Atas Awan yang digelar 2-4 Agustus 2019. Langsung deh cari infonya dengan brosing, googling. Ternyata, untuk datang ke sana lebih baik ikut OT (Open Trip) pada sebuah travel.

Bisa juga sih backpacker, tapi sepertinya untuk anak-anak muda ya (hiks). Gue juga nggak mau ribet, cuma pingin duduk manis manjah di bus, alhasil gue ikut OT salah satu travel. Udah tanya ke beberapa travel, gw menjatuhkan pilihan pada travel ini. Alasannya, gue liat track record bagus, lebih murah, masuk dalam daftar list rekomendasi di Detik Travel, testimoni juga bagus.


Lalu agar diri ini tidak ragu pada hari selanjutnya, gue bayar DP sekalian ajak si sulung. Itung-itung mau rasain ngebolang sama anak baru gede. Lalu H-7 langsung bayar full, H-2 masuklah dalam WAG untuk koordinasi.

Dengan banyaknya info mengenai Dieng yang suhunya bisa minus bahkan bisa muncul salju (excited banget ini), gue bikin list apa aja yang perlu dibawa. Jangan sampai nyusahin orang ya geysss, secara gue udah gak muda lagi, hihihii. Emang siiihhhh dulu jaman SMA sering naik gunung, tapi itukan 20 tahun lalu, hohohohoho.

So...brangcutttt pas hari H.

Perjalanan by bus ke Wonosobo itu ternyata tidak sesuai prediksi. Dari Mepo Senayan kurleb jam 22.00 sampai ke Wonosobo jam 10.00 pagi. Lalu dilanjutkan ke Dieng, ini terminal kecil yang nantinya terhubung dengan bus kecil hingga ke atas tujuan. Sampai di Terminal kecil jam 12.00 pas untuk sholat Jumat. Lalu perjalanan di lanjutkan yang disuguhi pemandangan indah. Bukit-bukit itu kayak memiliki garis atau dakian di tubuhnya. Dari jauh kliatan keren banget.

Transit di Dieng, naik bus kecil

Sampai ke homestay sore. Gue  bersama 15 orang lainnya mendapatkan satu rumah ukuran sedang, terisi 2 kamar, dapur dan kamar mandi yang ada air hangat. Jadi ruang tamu digelar karpet, ruang dalam juga dan 2 kamar tidur bisa dipake 5 orang. Yang buat gue bersyukur adalah mendapatkan teman perjalanan yang asik-asik banget. Mereka nggak ada tuh rebutan kamar, terserah siapa aja yang tidur di kamar, atau di luar, bebas.

Formasi 16 orang ini juga menarik, cuma 4 orang laki dewasa, 1 anak laki kecil 5 tahun, sisanya kebanyakan perempuan yang masih berusia 20-an. Beberapa solo traveling atau bersama teman ceweknya. "Gue bukan jomblo ya tapi single," kata mereka sambil dibarengi gelak tawa.
"Single itu pilihan, jomblo itu takdir," sahut yang lainnya dibalas dengan tawa lainnya.

Seru banget. Eh secara gue bukan anak milenial ya, kenapa si mereka pada galau kalau jomblo? Gue dulu sering jomblo malah happy-happy aja (eeaaaa), malah enak lebih bebas nongkrong kemana aja, sama siapa aja,  nggak pake diplototin kalau keplak-keplakan sama anak cowok, atau diatur jangan berteman dengan ini itu. Yegak geys (beda kali makkk sama sekarangggg).

Malam jam 19.00 kita udah siap-siap dengan 'peralatan perang' untuk nonton Jazz di Atas Awan. Baju 3 lapis, jaket, sarung tangan, long john, kaos kaki tebel, syal, masker, kupluk, jujur itu dingin banget.
Lokasi berdekatan dengan komplek Candi Arjuna. Sepanjng jalan ruaamee banget. Jangan membayangkan kalau Dataran Tinggi Dieng itu jauh dari perdaban dan kampungan ya. Nop! Ini udah area wisata banget. Semua penghuni nyaris berdagang, banyak toko, cafe, rame banget. Lantaran ini DCF 2019, sebelum masuk area Candi Arjuna banyak stand penjualan aneka makanan dan minuman. Ada panggung juga.




Nah, banyak nih yang kecele, kayak gue juga. Kirain di situ lokasinya jazz gunung, agak bingung karena nggak ada petunjuk. Sempet ngebatin, masa acara tahunan yang udah kelas nasional segitu doang. Pas diusut ternyata itu hanya bagian dari Pasar Rakyat. Untuk ke area jazz gunung masuk lagi ke komplek Candi dan harus diperlihatkan ID Card (ini udah termsuk bagian dari OT yang disediakan phak travel).

Jalan ke dalam makin ramai, musik sudah mulai terdengar, wuihh ternyata sudah ramai banget. Saking dingin, jadi posisi nonton itu duduk. Banyak yang nggak punya tiket hanya berdiri di luar pintu masuk yang antri dan padat.

Musik dan nyanyian dari grup band Gugun Blues Shelter terdengar. Jujur lagi, gue gak hafal lagu-lagu mereka yang menurut gue cenderung ke rock bukan jazz. Ini DCF ke 10 tahun, pastinya udah banyak musisi dan band yang pernah manggung. Gue sih berharap ada band seperti Padi, atau Eva Celia yang suaranya nge jazz banget, kayak ayahnya Indra Lesmana. Atau yang lebih nge jazz lagi seperti Maliq & D'Essentials atau The Groove yang beken di era 90-an.




Setelah Gugun manggung, muncul si mantan vokalis band Payung Teduh, Is. Anak gw yang nge-fans sama lagu lagunya tentu happy, tinggal gue yang cuma bisa menikmati musikalisasinya. Is juga ngenalin single solo terbarunya yang menurut gue beda banget sama Payung Teduh yang musiknya cenderung vintage dan main aman. Kalau lagu barunya lebih ke ngepop dan kekinian.

Waktu udah pukul 22.00 gue pun balik ke homestay, karena jam 2 pagi harus banget untuk siap-siap melihat sunrise di Bukit Sikunir.

Jazz di Atas Awan Hari ke -2.

kemah penuhh
Malam minggu, Dieng makin ramai. Jalanan makin padat, macet malahan, mobil dan motor rebutan mau lewat. Jadi yang jalan kaki harus hati-hati berjalan satu arah menuju ke panggung. Kali ini gue lewat arah yang berbeda, ternyata yang kemarin itu lebih jauh jadi muter.

Malam itu terasa lebih dingin, apa karena malem minggu ya (eeaaaa kasian yang jomblo). Gue ternyata masuk lewat ke area perkemahan. Ini untuk para backpacker yang menyewa lahan kemah Rp 150 ribu/ hari. Bawa kemahnya sendiri ya, gak disediakan panitia. Daripada untuk homestay itu bisa di atas Rp 300 ribu/kamar.

Melihat anak-anak muda ini berkemah sambil main gitar dan api unggun, jiwa masa muda gue seakan berontak (halah). Duh, kangennya suasana begitu. Seseruan, happy terus, makan seadanya, makan sama-sama, ketawa terus bawaanyaa...omaygotttt ternyata gue udah tuaaaaa aaarrrghhhh... (emak nggak terima takdir begini nih).

Note: Gue saranin sebagai emak mantan tukang kemping dan naik gunung, nikmatin masa muda dengan positif, banyakin berteman, banyakin traveling, tapi yang positif. Jangan fokus ke gadget, game online atau HP. Kasian hidup lo, hidup cuma sekali kalau dihabiskan di dunia maya. (mulai deh insting emak2 keluar).

Di pintu masuk padet banget. Di sini harus hati-hati yang punya ID Card, bisa dijambret atau ditarik. karena banyak banget orang yang nggak punya tiket dan cuma duduk dibalik pager. Mereka ini si sebenarnya yang bikin macet dan akses keluar masuk susah. Kurang dikoordinasi sepertinya.

Masuk ke dalam sangat-sangat susah. Ini yang bikin gue bingung sama panitia DCF, katanya udah 1 dekade tapi kenapa pengaturannya masih kayak 1 tahun. Yu no wat, itu pintu masuk dibikin 2 arah, sempit pulak. Jadi panitia membiarkan orang keluar lewat pintu masuk, jadi lo bayangin aja bagaimana padatnya itu tempat.

Belum lagi toilet umum gelap, antri, dan ada 2 toilet yang nggak dibuka. Alhasil, jika masuk ke dalam toilet kita pakai senter HP. Emejing kan.

Di hari kedua DCF ada Djaduk Ferianto yang memamerka khas musiknya, musik kontemporer. Alat musik tradisional dan elektronik untuk memberi kesan bahwa musik ini dapat diterima oleh kemajuan dan modernitas. Gue tertarik ketika Djaduk dengan tim nya, mengotak atik soundtrack film Mission Impossible dengan hasil yang kece banget.

Diperkirakan tahun ini ada 177 ribu pengunjung 



Usai Djaduk tampil muncul si cantik Isyana Sarasvati. Jujur banget ini (gue mah jujur orangnya) nggak ngerti sama lagu Isyana dan menurut gue biasa aja si. Dan penonton lainnya juga banyakan nggak hafal sama lagunya Isyana. Ya, sudahlah mungkin panitia ada alasan kenapa memilih Isyana.

Pada puncaknya malam itu adanya Festival Lampion, yeay.

Tips:
1. Siapkan barang penting yang perlu dibawa, baju winter
2. Nyaris semua yang gue temuin mengatakan kalau makanan di Dieng kurang rasa. Gue saranin bawa sambel yang udah jadi aja, jadi makan berasa lahap. Soalnya dari 7 kali makanan yang disediakan gue cuma makan 2 kali, sisanya nggak tertarik. Untung gue tahan nggak makan, hiks.
3. Pilih travel yang punya track record baik
4. Kritik dan saran untuk panitia DCF 2019, tolong dong pelayanan diperbaiki. Kalau nggak bisa menampung banyak pengunjung jangan buka penjualan tiket lagi. Gue dapet kaos DCF 2 tahun lalu warna hitam, harusnya tahun ini warna putih, juga tas nya yang tertulis DCF ke VIII (bukan X).
5. Kalau dapat homestay dan makanan di luar ekspetasi, santai bae. Nikmatin aja perjalanan, toh gak setiap hari. yang paling penting dapet temen baru dan pemandangan yang emejing, Masha Allah.
6. Kalau mau backpacker cari temen yang asik, sering traveling, nggak nge bossy, mau susah, nggak pelit dan tahu medan.
7. Kalau nggak kuat dingin, jangan dipaksain, banyak peserta yang kena hiportemia. Ada yang digotong atau dibawa pake ambulan. Ditambah dengan padatnya orang, diperlukan fisik yang kuat.
travelmate

Semoga Bermanfaat

AAL 

26 comments

  1. Travel yang "ini" namanya apaaaa.. ����

    Btw baca ini koq jadi pengen yah, tapi ngebayangin dinginnya ga jadi pengen deh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha jangan bayangin dingin lube, kan kita jalan2 jd gak dingin bgt

      Delete
  2. waah ngeliatnya aja udah seruu...
    angan2 pisan buatku ikut acara begini krna suami n anak2 ga bakal ngijinin hihihi

    ReplyDelete
  3. Senangnya. Apalagi tahun ini DCF yg ke 10 ya?
    Terakhir ke DCF tahun 2013. Wah lama banget...
    Tahun ini tadinya saya dan keluarga mau ke DFC juga. Tapi tanggalnya hampir bentrok. Soalnya Minggu ini kami mau mendaki Kerinci. Insyaallah. Takut anak kecapean, jadi DCF ini kami tunda. Semoga tahun depan bisa ke sana lagi. Sementara ini kami mau upacara 17 Agustus di puncak Sumatera dulu
    Hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ihh keren banget si satu keluarga suka gunung, how lucky you are

      Delete
  4. Jd penasaran pengen nonton jazz di atas awan. Kapan ada lagi ya mba? Nabunh ah hehe

    ReplyDelete
  5. Seru juga pengalaman nonton jazz di atas awan. Aku belum pernah tuh. Fisik yang kuat bisa menahan dingin diperlukan juga, apalagi buat anak Jakarta yang biasa panas Kalau kesana, aku pastinya pilih open trip aja secara ingin duduk manis di jalan. Makasih cerita pengalamannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener pilih OT lbh enak, gak beda jauh juga harganya

      Delete
  6. Wuiih nonton musik Di atas awan, antimainstream banget ya mom hehe. sanyag pas aku ke Dieng pas lebaran belum ada Dieng Fest ini. Semoga taun depan pelaksanannya lebih seru Dan lebih baik

    ReplyDelete
  7. Ini salah satu festival yang sudah sangat kutunggu dari sekian lama tapi sampai tahun ini pun belum pernah sampai disana. Dengan udara yang sejuk ditambah alunan musik nambah deh kenyamanan liburan dalam event Dieng culture festival tersebut yah,mbak.

    ReplyDelete
  8. Kalau soal makanan pasti larinya ke urusan selera ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, tapi semua ngomong makanan di dieng gak ada rasa, mau jajan, mau disediain, jd tambahan bawa dari rmh aja

      Delete
  9. Diwng dg jajarn fwstivalnya menarik ya, bnyak jug pengunjungnya ya

    ReplyDelete
  10. Seperti opening Mbak Alia, saya juga sejak lama pengin ke Dieng Culture ini, Mbak. Apalagi saya sekarang di Gombong yang lebih dekat ke Wonosobo. hanya belum kesampaian hahaha.

    Dan ini kan acara tahunan yang sudah terkenal ya, Mbak. Malah sudah woro-woro sejak awal tahun. Jadi harus terus ditingkatkan. Dari catatan Mbak, banyak yang kurang pas. Misalnya kaos dan tasnya malah dapat yang tahun lalu. Saya setuju, biar semakin keren, kapasitas disesuaikan saja. Semoga tahun depan bisa ke Dien Culture.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas panitia dcf nya sepertinya selalu berganti jd gak berjalan baik. Aneh aja dapat kaos dan tas 2 tahun lalu

      Delete
  11. Duh, gimana saya yang suka beser kalau toiletnya kayak gitu, ya. Padahal event kayak gini kan suka seru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaa samaaa, kalo dingin bolak balik toilett

      Delete
  12. DCF ini acara impianku jamannya sering liputan buat Warta Jazz. Waktu masih lajang, ortuku gak kasih ijin ke DCF, alesannya jauh, nanti kenapa2 gimana de el el hahahaha maklum anak wedhok pertama.

    Begitu sudah menikah, pengin ke DCF ya gak dikasih ijin suamik, alasannya lebih banyak lagi hahahaa yauwes lah, membaca tulisan Mbak Alia seperti mengingatkanku suatu hari harus ke DCF. Mungkin berdua aja sama anak.

    ReplyDelete
  13. Wah rame sekali ya DCF nya
    Aku waktu ke Dieng dulu pas lagi gak ada event begini
    Jadi gak terlalu ramai
    Lihat foto teman-teman yang hadir di DCF 2019 aku langsung iri maksimal haha

    ReplyDelete
  14. Sekarang semakin ramai acara DCF dari tahun ke tahunnya

    ReplyDelete
  15. Seru bgt pengalamannya bikin mupeng ih....semoga aku bisa ikutan nonton jazz di tempat dingin romantis spt itu

    ReplyDelete