Friday, November 17, 2017

Kejeblos Jadi Solo Traveler


Pingin rasain jadi solo traveler? Gue sempat ada keinginan, ketika melihat cewek-cewek melakukan traveling sendiri. Tapi agak ragu, apa gue bisa? Apa gue mampu? Pastinya kalau ke luar negri kendalanya bahasa, apalagi bahasa Inggris gue cuma bisa 'yes' or no' , thank you', kacau bangetkan. Belum lagi gue paling oneng kalau baca map alias peta. Gue angkat tangan deh kalau disuruh baca peta. Panggil aja si Dora.

Gue mau cerita ketika secara nggak sengaja jadi solo traveler. Selama ini gue nggak pernah pergi sendiri ketika melakukan traveling dengan pesawat. Gue terbiasa tinggal duduk manis manjah.
Maklumlah, perjalanan gue dengan pesawat dimulai ketika gue kerja jadi wartawan. Undangan ke luar kota, pastinya udah diservis semuanya. Gue cuma dateng ke bandara, nenteng koper, terus duduk manis di pesawat. Nggak ribet soal urusan check in, boarding atau semacamnya. Kalaupun traveling di luar tugas kerja, suamik bagian ribet.

Nah, ini kasus spesial menurut gue. Bahkan pengalaman yang deg-degan tapi nagih. Berasa bebas gitu.

Jadi kebetulan guekan ikutan Komunitas Emak-Emak backpacker (EEB). Kan di sana banyak banget penawaran tiket murah, tiket promo atau trip murah. Pada suatu hari di antara semua tawaran trip, gue tertarik sama tawaran tiket ke Kuala Lumpur yang hanya Rp 500 ribu sekian PP. Seorang anggota EEB yang juga punya tour and travel, Mak Indri kasih pengumuman kalau dia mau ke KL dengan harga tiket sekian. Kalau ada yang mau barengan bisa share cost.

Tripnya ke Penang dan Kuala Lumpur. Gue yang emang banci jalan dan udah lama banget nggak traveling sejak hamil si bontot, berasa ada angin segar. Apalagi cuma 2 malam. Bisa lahya si bontot di tinggal sebentar. Untung si suamik selalu mengijinkan, doi paham dah bininya gatel jelong-jelong.

Oke semua fix, gue udah tranfer untuk biaya tiket dan hotel selama di KL dan Penang. Gue tinggal jalan. Agar dapat tiket murah, teman gue ini pilih jam 12.30 malam hari Minggu 5 November 2017. Yang ada dalam bayangan gue, hari Minggu dong, nggak kepikiran harus check in, boarding dan harus ada bandara itu Sabtu malam. Karena di otak gue udah terprogram hari mInggu.

Padahal Mak Indri ini dari Sabtu siang udah bilang, "Kita ketemu entar malam ya di bandara." Dia WA hari Sabtu pagi,  gue mikirnya, dia salah tanggal nih. Nah gue WA teman lain yang satu perjalanan, Mak Ina. "Iya besok," katanya. Jadi gue yakin Mak Indri salah kasih info (gue emang sotoy).

Nggak tahu kenapa, malam itu HP tumben banget gue matiin. Biasanya HP gue selalu menyala lho, sudahlah memang takdir gue harus ditinggal ya bo.

Pas besok subuh, hari minggu jam 5 gue buka HP,  gue langsung loncat disko. Miskol banyak banget dari 2 temen perjalanan gue ini. Dan mereka juga Wa kalau udah boarding, udah masuk pesawat, atau sedang otw ke Penang dari Kuala Lumpur.

Gue panik sejadi-jadinya. "Hah? Gue ditinggal? Gue nggak jadi jelong-jelong? Gue ketinggalan pesawat? Duit gue ilang? Tiket pesawat gue angus?"
Berasa banget saat itu gue sangat memohon sama Sang Pencipta minta dimundurin waktu 8 jam ke belakang. Sangat-sangat memohon. (Dari sini gue jadi sangat sadar, kita nggak boleh melihat ke belakang. Nggak boleh menyesali waktu yang udah lewat. Nggak bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahan. Kita harus maju ke depan, kalau salah, harus tanggung itu resiko. Paling nggak dijadiin pelajaran untuk ke depannya). Noted!

Gue telpon, Mak Indri. Mereka lagi di bus otw Penang. Dia mau bantu gue cariin hotel dan tiket kalau gue menyusul.

Akhirnya setelah pertimbangan panjang dan tanya suamik, gue buka laptop cari tiket paling murah ke KL. Sedangkan Mak Indri langsung booking hotel yang sama, Hotel Sungai Weng di Jalan Bukit BIntang Kuala Lumpur. Soal Penang harus diikhlaskan. Karena waktunya juga nggak cukup. Perjalanan dari KL ke Penang itu sekitar 4 jam.


The Story has just begin.

Pesawat Lion Air gue dijadwalkan jam 4 sore menuju KL. Dianter suamik dan kiddos, (duh Alhamdulillah para lelaki gue ini pengertian banget emaknya itu doyan jalannnnnn).( Si bontot aja ngerti, diajak ngomong ngangguk-ngangguk yes. Lols, makasih cintaahhhhh )

Gue mengantri untuk check in. Di depan ada seorang ibu dan anak gadisnya, yang ternyata orang Malaysia, (mereka akan terkait cerita gue di bawah. Tungguin)

Setelah check in, gue menunggu untuk boarding. Di bagian ini aja gue udah merasa excited dan happy sendiri ngebayangin bakal ngebolang. alone.

Gue mulai mengatur rencana, akan pergi kemana jika sampai di KL sendiri? Pasalnya, gue bakal ketemu temen gue yang tiga itu keesokan sorenya. Mereka akan eksplore Penang dulu baru sampai KL jam 3 sore by bus.  (Tau gak genks, emang itu yang terbaik, ternyata pas saat itu Penang lagi ada baday. Ketiga temen gue itu langsung naik pesawat balik ke KL, dan kita berkumpulllll Senin paginya).

Dari hasil brosing gue tertarik sama hal-hal yang berbau unik dan beda (bukan mal). Gue tertarik dengan Little India di KL. Pastinya berbeda dengan Little India di Singapura.
okeh.

Pas di bagian check imigrasi ini yang bikin lucu. Kenapa ya bapak-bapak Imigrasi kita ini bawaan curiga aja sama perempuan yang tujuannya ke Malaysia atau negara-negara Timur Tengah. Dikira gue TKW kali di Malaysia, apa muka gue, muka TKW? Iya x yaaa...Hahahah.

Ini bukan pengalaman pertama sebenarnya.

Beberapa tahun lalu ketika gue pulang umrah, pesawat Ijtihad transit dulu di Bandara Abu Dhabi. Itu bandara keren bangettt. Di antara transit di ruang tunggu itu ternyata banyak TKW berkumpul, mereka baru balik dari negara mereka bekerja. Ada yang dari Qatar, Kuwait, Arab dan lainnya akan pulang ke Indonesia. Dan mereka pun satu pesawat sama gue menuju Bandara Soeta.

Jadi nggak salah juga sih ketika gue tiba di Soeta, bapak Imigrasi nyuruh gue lewat jalan yang berbeda, dibarengin sama para TKW itu.  Setelah gue jelaskan gue baru pulang umroh, mereka akhirnya paham. Jaaahhhh..gak bisa bedain apa pak, aura gue abis lihat Ka'bah?

Oke kembali ketika boarding ke KL.

Petugas imigrasi di balik ruang kerjanya yang kotak itu bertanya begini:

Imigrasi: Berapa hari di Malaysia?
Gue: 2 hari
Imigrasi : Coba lihat tiket pulangnya
Gue: Saya ketinggalan pesawat, ini beli tiket baru, tiket pulang sama temen.
Bapak Imigrasi itu pasang wajah curiga kayak satpam. Setelah paspor gue dikasih stempel, dia sambil berdiri mau mengamati tas bawaan gue. Yaelah, gue cuma bawa koper kecil doang sama ransel kecil. Masa gue mau kerja di Malaysia sii,, phhuiless deee paakkk..

Masuk pesawat, ternyata gue satu sejajar kursi sama ibu dan anak gadisnya, yang tadi gue cerita. Si ibu yang namanya Bu Intan menegur ramah. Akhirnya gue tanya-tanyalah sama dia. Nanti sampai KL gue naik apa ke Bukit Bintang, better naik bus atau MRT or Monorail.

"Ikut saye saje sampai KL Center, nanti naik bus." (bahasa Upin Ipin yaa heheheh)

Okeh fix.

Perjalanan ke KL itu makan waktu 2 jam, dan waktu Malaysia lebih cepat 1 jam dari Indonesia.

Bandara Kuala Lumpur
Mendarat di KL rame. (Cuma info: Nggak tau ya kenapa, gue suka suara-suara dan kesibukan di dalam pesawat pas landing. Semua penumpang serentak berdiri dan buka kabin siap-siap keluar dan antri di lorong).

Masuk bandara KL jangan bayangin kayak Soeta ya booo..Bandaranya luas dan besar, banyak mal, banner iklan, semua serba modern. Untuk mengambil bagasi, kita harus turun ke bawah dengan eskalator. (Nanti gue uplot di Youtube Channel gue ya, don't miss it.)



Gue mah ngintilin si ibu Intan dan anaknya aja. Lalu di tengah gedung itu kita menunggu di jalur kereta. (Jangan bayangin jalur kereta kayak di Gambir yegenks). Nggak lama kereta datang. Keretanya gak gitu panjang, karena memang beroperasi hanya di sekitar bandara saja.

Keluar kereta langsung menuju bagian imigrasi sebelum mengambil bagasi. Nah, di sini gue terpisah sama Bu Intan. Karena jalur guekan di bagian orang asing, jadi lama dan antri.  (Kenapa ya di Malaysia dan Singapura itu banyak banget orang India.)

Mulailah di situ gue sendirian. Menuju bagian bagasi, udah sepi. Gue SMS bu Intan yang ternyata udah di dalam bus menuju KL Center, karena anaknya sakit perut sampai muntah. Dia kasih petunjuk gue ke arah bus yang ke Center KL.

Untung banget solo traveler perdana gue ini ke Malaysia yang bahasanya nggak jauh beda sama Indonesia. Kalaupun campuran sama Inggris juga yang standar. Beberapa kali bertanya arah bus ke KL Center. Gue diarahkan menggunakan lift ke bawah. Sampe bawah  malah lebih sepi. Toko-toko siap mau tutup. Nggak ada satpam atau petugas yang berkeliaran (lo kira Soeta apa).

Akhirnya gue tanya petugas toko yang mengarahkan gue harus keluar gedung. Emang sih di luar gedung banyak bus parkir, tapi untungnya mereka pada sopan lho. Para supir bus yang rata-rata orang India itu kasih gue petunjuk yang benar, di mana gue harus naik bus menuju KL Center.

Gue nggak kebayang kalau di situasi begitu gue ada di di salah satu terminal di Jakarta. Tau dong, berapa banyak preman dan pengangguran yang nongkrong di terminal, apalagi kalau udah jelang tengah malam.

Dari pengalaman, jika gue di beberapa terminal di Jakarta itu sampai malam, mereka yang tadinya nggak kepikiran jahat, karena iseng, ada peluang untuk berbuat jahat. Apalagi jika lihat seorang wanita muda (jaahhh) sendiri kebingungan. Di otaknya terlintas untuk berbuat jahat. tul gak.

okeh.

Ternyata, untuk ke bus menuju KL Center itu di gedung yang berbeda. Gue menyebrang lalu masuk  ke gedung yang nggak ramai. Di paling belakang banyak loket bus ke arah KL Center, Penang, Malaka dan tempat lainnya. Juga ada kayak food court tempat orang dagang makanan. Gue beli tiket seharga RM 10, dan naik bus yang lagi nge-tem.  Alhamdulillah di dalam bus ada bu Intan dan anaknya.

Ternyata perjalanan lumayan jauh juga ke KL Center. Jalanannya lancar jaya, nggak pakai macet.
Waktu sudah pukul 22.30 ketika gue sampai KL Center. Bu Intan pun dengan baik hatinya mencarikan gue taksi.

"Aliya, harus cari taksi yang pakai mite tak."
Artinya: Alia harus cari taksi yang gak pakai argo.

Katanya, kalau pakai argo cuma RM 15. Sedangkan yang nggak pakai argo bisa ditembak sampai RM 40-50.

Awalnya kalau nggak kemalaman, gue disarankan naik monorail ke Bukit Bintang. Lebih murah dan cepat. Turun langsung di Bukit Bintang dan jalan sedikit ke hotel. Tapi karena sudah menjelang tengah malam dan sepi, akhirnya gue putuskan naik taksi ke hotel.

Lama juga tuh temuin taksi yang gak pake argo. Padahal banyak taksi, dan taksi gelap (mobil pribadi) ngetem, dan nggak mau pake argo. SI Ibu Intan ini baik banget, dia nungguin gue dan cariin gue taksi sampai dapet. Padahal anaknya belum makan dan sakit perut (makasih ya bu, sejak itu gue jadi aktif WA sama Bu Intan. Alhamdulillah kan dapat teman baru).

Bukit Bintang So Excited

Bukit Bintang di malam hari
Bukit Bintang di pagi hari
Hotel Sungai Weng

Jam 11 malam, fix gue nyampe Bukit Bintang. Pemandangan yang berbeda yang gue  dapatkan dibandingkan kesepian tadi. Sangat ramai, macet, hingar bingar musik, jalan Bukit Bintang seperti tak pernah hening. On 24 jam.

Gue sukak!

Masuk ke dalam Hotel Sungai Weng, minta kunci, taro koper di front office dan gue pun ikut berbaur di jalanan. Asik banget. Nggak berasa capek, gue eksplore aja sendiri.

Note: sekarang ada peraturan baru di Malaysia sejak September, menginap di hotel ada pajaknya semalam itu RM 10.

Happy Traveling genks!

AAL

Friday, November 3, 2017

Review QL Cosmetic Lipcream Matte, Murah dan Bikin Cakep


Akhirnya pecah telor juga bisa review lipstik. Kayaknya happy bangeeettt, ini tantangan banget, bisa menulis review lipstik mengingat masa lalu saya 'musuhan' sama produk kosmetik. Maklum, masa ABG diwarnai dengan naik gunung, panjat tebing dan kerjaan kelaki-lakian lainnya, heheheh.

Selain itu, manfaat review lipstik ini untuk menghilangkan ketidak pedean foto selfie. Udah beberapa tahun belakangan berasa maluuu bangeett kalo liat foto sendiri yang close up segede gaban gitu ada di medsos. Siapa sih gue? Artis kagak, seleb kagak, sok kece banget. Begitu sih yang ada dipikiran,  Lol.

Nah , dengan review lipstik mau gak mau harus banyak foto selfie dong dengan memakai lipstik yang warnanya cerah ceria. Tau gak genks, buat saya lipstik itu adalah senjata ampuh supaya cantik manjah. Selalu dibawa kemana-mana dan punya banyak.  Satu ada di dalam tas, taronya di pouch, setia menemani kemanapun pergi. Juga ada di mobil, ada di kamar, ada di ruangan bawah. Jadi kalau dadakan pergi, itu lipstik yang jaraknya terdekat, mampir dulu di bibir. Soalnya, bibir saya gelap genks, wajah jadi bluwek kalau nggak pake lipstik.

Kosmetik QL Lipcream Matte

Melihat banyaknya produk QL Lipcream Matte ini wara-wiri di medsos, saya jadi kepo mau coba untuk review juga. Shadesnya berjumlah delapan, dan semua warnanya kece-kece banget dan bikin jatuh cintrong.

Ini saya jabarin apa aja ya:
#21 Peach Angel,
#22 Pink Me
#24 Nudy Classic
#25 Nude Brown
#26 Flaming Rose
# 27 Erotic Rose
#28 Apple Berry
#Sugar Plum



Entah kenapa nggak ada nomor 23, nanti saya coba cari info ya genks.

Semua shades udah dicoba, dan ada beberapa yang saya suka dan yang nggak, ini dia:

Yang nggak suka:
#21 Peach Angel dan #22 Pin Me. Kenapa?

Kedua warna tersebut cenderung ke merah muda, sedangkan kulit saya itu sawo  matang. Jadi nggak pas banget di wajah, berasa dari jauh orang hanya melihat lipstik saja.Karena kedua warna ini jatoh di bibir saya nggak menyatu. Lantaran QL Lipcream Matte ini cepat kering, dan seperti menggumpal di bibir. Seperti ada campuran bedak.

Yang disuka:
#24 Nudy Classic #25 Nude Brown #26 Flaming Rose
# 27 Erotic Rose  #28 Apple Berry #29 Sugar Plum

Shades tersebut pas banget di bibir. Seperti Nudy Classic dan Nude Brown itu cenderung coklat. Jadi ketika dipakai nggak terlalu nge-jreng, lebih kalem dan lembut. Biasanya saya pakai ke mal atau jalan manjah yang santai.

Sedangkan 26 Flaming Rose dan  27 Erotic Rose  cenderung ke merah cerah ceria. Tetiba wajah terlihat lebih kinclong dan cakep banget pokoknya.

Sisanya, 28 Apple Berry dan 29 Sugar Plum cenderung ada unsur ungunya. Sukak banget, bibir saya yang gelap jadi gak terlihat. Ini biasanya dipakai untuk acara formal, kayak kondangan atau miting.

Bagaimana dengan packagingnya?
Dari kesingnya aja, lipstiknya udah menarik. Lihat deh, pas banget sama era milenial sekarang kan.
Bentuknya sekilas mirip tabung, dengan ukiran serta lekukan yang feminin (maksudnya emang pas banget untuk perempuan), berbeda jika pingin dibandingkan dengan lipcream lainnya.

Aplikatornya di ujung agak miring untuk memudahkan memoles lipstik di bibir, terutama di ujung. Packagingnya dari plastik, disitu tertulis ingredients, BPOM, serta expired produk.

Dengan bungkusan warna bening bisa terlihat dari luar warna dari lipstik.

Kalau dilihat dari kemasannya, bakalan nggak nyangka kalau lipstik ini adalah produk lokal. Dan harganya murah banget, cuma Rp 36 ribu.

Bagaimana soal tekstur?

Tekstur QL Lipcream Matte ini cair, ketika ditarik aplikatornya terlihat lipstik yang menempel, bukan cream. Dan ketika dipakai di bibir cepat langsung kering.

Lalu ketika minum atau makan, warna lipstik akan menempel dan terbilang cepat hilang jika saya bandingkan dengan lipcream matte lainnya. Karena nggak waterproof. Tapi kalau lagi puasa, alias nggak makan dan minum, warna lipstiknya tetap kinclong laya, Lols.

Kekurangan:
1. Gak waterproof
2. Warna tertentu terlihat menggumpal di bibir, gak menyatu seperti ada bedak menempel.
3. Cepat hilang kalau habis makan dan minum
4. Warna satu sama lain nyaris mirip, kurang eksplore warna lain

Kelebihan:
1. Murah
2. Packaging bagus dan menarik
3. Produk lokal, gak kalah dengan produk luar
4. Warna-warna merah tua bikin jatuh cintrong

Well genks, murah bangetkan lipstiknya. Yuk ah dicoba, dengan harga murah bisa membeli beberapa warna. Untuk lebih lengkap produk QL silahkan diintip di sini genks website www.qlcosmetic.com
Nah ini reviewnya di vlog eyke. Subscribe yess:

https://www.youtube.com/watch?v=B-AIp1wa020&t=16s




Monday, October 30, 2017

Kelas Blogger 17, Belajar Blogging on The Spot

Foto: Kelas Blogger
Raksa Online

Tiba waktunya untuk ikut Kelas Blogger ke 17. Tentu seneng banget bisa kepilih dari 100 yang terdaftar. Ini kedua kalinya saya ikut Kelas Blogger, dan pastinya selalu mendapat tambahan ilmu usai pulang dari sana.

Atas kerjasama dengan Raksa Online, Kali ini, Kelas Blogger memberikan materi seputar "Bagaimana Melakukan Reportase dan Blogging On The Spot“. Kegiatan ini tidak hanya membekali blogger akan dasar-dasar reportase, melainkan juga praktik di lapangan.

Pagi-pagi saya sudah duduk manis di ruangan yang lokasinya di kantor Raksa Online, di kawasan Jakarta Pusat.  Ruangannya kayak sebuah ruang di sekolah  (yaiyalaa namanya kelas, heheh), para peserta duduk dengan rapi dan tertib.

Dorprize (Foto: Kelas Blogger)
Tak lama Pak Junardi, Direktur Asuransi Raksa memberikan sambutan mengenai Raksa Online yang telah berdiri sejak 1975. Ternyata dibandingkan dengan asuransi mobil lainnya, Raksa Online memiliki berbagai fasilitas untuk melayani nasabah.

Menariknya di Kelas Blogger 17 ini, royal banget bagi-bagi hadiah. Sebentar sebentar kocok dorprize. Lagi bengong cantik, tau-tau pengumuman mau bagi dorprize, lagi makan manjah diteriakan mau kocok dorprize, asik bangetkan. Untung saya dapet dorprize juga, lumayanlah dateng jauh-jauh dari Sepong pulang bawa hadiah.

Setelah Raksa Online presentasi, para blogger diminta untuk menulis blogging on the spot mengenai Raksa Online. Nah sebelum menulis berjamaah di kelas, para blogger diajak tur keliling kantor Raksa Online. Diperlihatkan ruangan untuk manicure, pedicure dan refleksi.


Ruangannya luas dan nyaman, jadi betah.

Sekitar 2-3 jam, peserta dibebaskan untuk menulis reportase tersebut. Semua serius, memandang laptop di hadapannya. Emoh lirak lirik. Maklumlah, hadiahnya bikin nyeces. Laptop dan hape boooo.

Blogging on The Spot ala Bang Gapey

Setelah makan siang, perut kenyang, pasti enaknya tidur dong. Eitss, jangan dulu. Ada Gaper Fadli yang biasa disapa Bang Gapey, dikenal sebagai penyiar radio dan wartawan senior (udah keliatan sih dari kesingnya kalau senior, Lolss Piss bang). Bang Gapey berbagi ilmu untuk kita semua, berbagi pengalamannya sebagai jurnalis puluhan tahun.

Bang Gapey memberikan tip bagaimana reportase sebuah berita ketika di lapangan. Nggak jauh beda sih sebenarnya cara kerja blogger dan wartawan ketika meliput sebuah event. Yang paling penting itu menurut Bang Gapey dalam membuat berita hasil liputan:

1. Jeli
Kita harus jeli mana berita yang menarik untuk ditulis. Yang berbeda yang saya rasakan ketika menjadi blogger dan wartawan adalah, di dunia wartawan harus jeli mengambil angle berita sehingga pembaca ingin membacanya sampai selesai. Angle berita yang berbeda dari media lainnya, bahkan kalau bisa kita pencetus awal, pembuka isu. Sedangkan kalau blogger lebih harus mendalami sebuah produk

2. 5W1H
Sebenarnya ini harus ada di semua tulisan bukan cuma untuk blogger atau wartawan. 5W1H ini sebagai pegangan kita dalam menulis apapun.

3. Kepo
Kesannya mau tau aja. Tapi memang harus kepo jika ingin menulis sebuah produk. Kalau nggak kepo, susah juga tulisan dijadikan refrensi oleh pembaca. Yang ada pembaca ogah balik ke blog kita, yegak.

4. Runut
Dalam membuat sebuah tulisan harus runut, dari A sampai Z, dari atas sampai bawah. Jadi yang ngebaca juga nyaman dan enak. Kronologisnya yang bener, jangan loncat-loncat.

5. Akurat
Nah, akurat itu penting dalam menulis sebuah isu. Sama juga dengan blogger, jangan asal comot informasi. Fakta yang kita temukan di lapangan, paling nggak harus kita dapatkan dari kedua belah pihak, cover both side kalau kata wartawan. Jadi kita sebagai penulis objektif.

6. Bermanfaat
Ngapain kalau kita menulis tanpa ada pesan yang disampaikan? Ngabisin waktu dan capek ngetik kan. Pembaca juga nggak dapet manfaatnya.

7. Etika dan eklusif
Kerja di dunia wartawan itu penting. Mencari wawancara narasumber jangan asal tabrak etika, kenalkan diri dulu, dari mana dan kasih pertanyaan yang sopan. Kalau soal ekslusif, mana ada sih orang yang nggak mau eklusif dalam menulis berita? Paling nggak yang pertama dia mendapatkan isu itu.
Kang Arul dan Bang Gapey (Foto: Kelas Blogger)

Kang Arul, Si Dosen Galau

Nah pas bagian Kang Arul (Ketua Kelas Blogger) cuma sedikit kasih masukan tapi ngena. Kata Si Dosen Galau ini, kalau menulis blog itu poin of view nya adalah 'aku'. Jadi tulisannya enteng, menceritakan peristiwa (bukan menulis peristiwa, beda ya bro), layaknya kayak curhat di diarylah.
Kang Arul juga kasih pesan, kalau mau ikut lomba, 2 paragraf pertama itu harus menarik. Kalau udah bikin bosen, juri udah males baca, langsung di banned itu blog. Nggak mau gitukan.

Happy Blogging Genks!

ALIA F

Tuesday, October 17, 2017

Lagi Mager? Asuransi Astra Tawarkan Layanan Garda Oto Digital

Teknologi digital kini sudah menyebar ke berbagai sektor. Revolusi digital tentunya mengubah cara individu dalam berinteraksi. Sekarang memang semua serba ingin praktis, akses inginnya yang mudah dan cepat.

Nah, Perusahaan Asuransi Astra juga harus mengikuti zaman dengan meluncurkan layanan baru yakni Garda Oto Digital. Layanan ini menawarkan kemudahan dalam membeli polis dan melakukan klaim asuransi mobil melalui aplikasi mobile.

Launching Asuransi Astra Garda Oto Digital



Wait, sebelum saya nulis panjang kali lebar soal produk Asuransi Astra terbaru itu, saya mau cerita soal acara launchingnya yang kece banget.

Begini:

Pas 10 Oktober 2017 saya diundang untuk peluncuran  layanan terbaru Asuransi Astra yakni Garda Oto Digital. Tempatnya di Ciputra ArtPreneur Jakarta.

Acaranya dikemas mewah dan private. Nggak sembarang orang bisa lewat karena ada pemeriksaan beberapa lapis. Begitu masuk ke ruangan acara, wuiihh keren. Di beberapa tempat diberikan spot untuk selfie dan narsis.



Melihat spot kece gitu, saya foto-foto dong dengan kehebohan yang bisa dilihat di foto-foto ini dengan beberapa blogger. Ada latar bola-bola dengan bantuan lighting dari laptop sehingga bisa berubah warna.

Selain itu juga diberikan permainan yang lucu, ada permainan papan dipenuhi gambar bola warna-warni, yang ditentukan dengan perputaran seperti jam.  Ada papan segiempat yang disusun, agar papan yang di atas tidak jatuh diperlukan keahlian. Lalu ada pula gambar tanpa warna soal sejarah Asuransi Astra. Undangan dipersilahkan untuk mewarnai sebebas mungkin. Lalu ada kolam bola warna-warni. Menarik dan kreatif.


Yang bikin saya mupeng adalah lomba foto yang diunggah ke medsos, hanya dengan memberikan tagar #MakinGampang foto-foto di Instagram dan di Twitter langsung bisa dicetak lho. Saya pun bolak balik selfie dengan latar yang berbeda. Sayangnya, semakin siang, semakin ngeh semua undangan dan mengerubungi bagian foto untuk minta hasil cetakan. Jadi susah narsis lagi. Pablebuat.

Setelah kenyang mencoba semua makanan (diet lupakan), dua pembawa acara yang heboh membagi hadiah kepada undangan, meminta kita semua untuk masuk ke ruangan teaternya. Acara peluncuran Garda Oto Digital mau dimulai. Eng Ing Eng....

Apa itu Garda Oto Digital?



Garda Oto Digital merupakan layanan penjualan produk Asuransi Kendaraan Bermotor Garda Oto melalui internet.

Perkembangan dunia digital yang pesat, tentunya berimbas ke hampir semua segmen bisnis di Indonesia. Lebih dari 50 persen, orang Indonesia sudah melek internet.

Sadar akan pertumbuhan tersebut, Asuransi Astra mengedepankan teknologi digital dalam pemasarannya, sehingga melalui Garda Oto Digital akan memudahkan pelanggan dalam mendapatkan perlindungan mobil yang komprehensif.


Peluncuran Garda Oto Digital dilakukan oleh CEO Asuransi Astra, Rudy Chen. Bapak Rudy Chen menjelaskan bahwa dengan diluncurkannya layanan Garda Oto Digital ini merupakan kesempatan yang baik untuk memberikan pelayan yang terbaik bagi pelanggan.

Menurutnya, membeli polis asuransi sudah bisa dilakukan melalui situs www.gardaoto.com yang bisa diakses kapan dan di mana saja, namun masih terbatas di wilayah Jakarta.

"Buat yang mager, nggak perlu datang. Kami melayani dengan datang ke lokasi, membawa mobil ke bengkel lalu dikembalikan lagi ke rumah," kata Bapak Rudy Chen.

Makin Gampang Klaimnya, Banyak Bonusnya.

Jika berbicara asuransi, pasti pertanyaan yang penting soal klaim.  Garda Oto Digital memberikan kemudahan kepada pelanggan karena bisa memilih sendiri lokasi klaim yang diinginkan baik di rumah, kantor, atau tempat lainnya.

Kemudahan yang didapat dengan layanan Garda Oto Digital: 

1. Makin Gampang Pilih Lokasi Klaim
Biasanya kalau mau urus asuransi kita datang ke kantor. Belum lagi kalau soal klaim, sekalian membawa berkas mobil. Di kantor asuransi harus antri, menunggu giliran dan keribetan lainnya (hihihi pengalaman saya inih).

Nah dengan menggunakan layanan Garda Oto Digital jadi makin gampang klaim di manapun kita berada. Di rumah, kantor atau dimanapun lokasi pilihan Anda.

2. Gampang Antar Jemput Kendaraan
Biasanya kalau mobil rusak masuk bengkel, bakal ribet tuh prosesnya. Tapi dengan Garda Oto Digital, bisa antar jemput kendaraan jika kita lagi mager.

3. Makin Gampang Pantau Status Klaim
Dengan layanan Garda Oto Digital kita bisa memantau status  perbaikan kendaraan. Kita bisa memilih fitur dari ponsel dan memantau bagaimana progress dengan mobil kita.

"Dalam proses klaim pelanggan biasanya merasa khawatir, mobil saya udah beres belum ya, kapan bisa diambil," Rudy Chen menceritakan kegalauan pelanggan jika berbicara soal klaim.

Menurutnya pelanggan bisa memantau status kendaraanya yang sedang dalam perbaikan. Klaim perbaikan pun bisa dilakukan on the spot. "Jangan tanya kapan bisa klaim, besok, lusa atau minggu depan? Ngapain lama, klaim sekarang aja," kata Bapak Rudy Chen yang dibarengi tepuk tangan para undangan.

Lebih lanjut Rudy mengatakan bahwa Garda oto Digital melengkapi platform digital Asuransi Astra yang terdiri dari berbagai aplikasi seperti Garda Mobile otocare, Garda Mobile Medcare, Garda Mobile HRakses, Garda Mobile CRakses, Garda Mobile otosales, dan Garda Mobile otosurvey.


Pelanggan Garda Oto Digital akan mendapatkan banyak bonus:
- Hadiah Langsung:
  E-Toll On Board Unit (hanya untuk pembelian tipe perlindungan Comprehensive)
- Voucher Optik Melawai (Khusus untuk pembelian tipe proteksi TLO & Comprehensive selama  bulan Oktober)
- Spin to Win Samsung Galaxy Note 8 (hanya untuk pembelian tipe perlindungan Comprehensive)
- Cicilan 0% dengan kartu kredit Bank BCA, Bank Mandiri, PermataBank

Untuk informasi lengkap tentang Garda Oto Digital bisa cek langsung www.gardaoto.com 

Alia Fathiyah

Monday, October 2, 2017

Ketika PR Kebingungan Perlakukan Wartawan


Public Relation (PR/humas) itu bisa dibilang pasangannya wartawan. Kerjaan mereka nggak mungkin sukses dan berhasil tanpa wartawan bukan? Namanya sepasang, takdirnya begitu pasti saling membutuhkan satu sama lain.

PR membutuhkan wartawan untuk mempublikasikan informasi dari kliennya ke masyarakat. Nah wartawan butuh berita lewat tangannya PR (walaupun nggak semua berita wartawan dari PR jugak).

Bisa kebayangkan nasibnya PR jika keinginannya kliennya tidak terpenuhi, alias tak ada wartawan yang mau mempublikasikan informasi kliennya. Yang ada kantor PR itu metong tong, alias bangkrut. Udah banyak kantor PR yang tetiba namanya hilang ditelan hembusan angin.

Nah, pada suatu hari di grup WA wartawan yang isinya wartawan kritis, ngomongin soal PR yang rese dan asik. Kita lebih fokusin ke PR rese yang mau enaknya sendiri tanpa melihat kebutuhan wartawan.

Awalnya, ada seorang teman yang skrinsut keluhan wartawan dari Twitter dan dilempar ke grup. Ramailah itu grup dengan curhatan masing-masing. Jangan sedih, wartawan kalau udah ghibah berjamaah itu kejam-kejam jendral! itu aib diubek-ubek, sampai dibeberin kelakuan masing-masing.

Saking sadisnya, PR rese itu sampe ditelusuri dan foto serta kantornya di skrinsut ke grup lho. Hahahaha. Jadi kalau ada PR yang merasa  kupingnya panas karena kita ghibahin, tolong komen di bawah yes?

Nah ini keluhan wartawan yang diskrinsut itu:

"Launching sukses, influelancer top di medsos, kesannya glamour, dan premium. Tapiiiii preskon utk wartawan aja cuma ngasih aqua botol kecil dan harus menahan lapar. Padahal acara dari pagi sampai jam 12.30"

Gue sih nulis ini supaya para PR itu ngerti bagaimana memperlakukan wartawan semestinya, bagaimana  'approach' to media, bagaimana 'treat' media. Jangan bingung ketika udah bikin 2-3 event, trs event ke empat wartawannya sedikit, malah diisi sama wartawan bodrek alias gak punya media. Mau situ begitu?


Ini dia curhatan wartawan soal PR : (tolong disimak ya PR, jangan baper)

"Ada yang merasakan pertemanan jadi nggak usahlah dibaikin nanti ngelunjak," ini kata seorang wartawan senior.

"Ada yang musuhan sama media, sampai-sampai karena harus mengundang media disuruh nunggu di luar kayak pembantu. Pembantu gue aja, gue suruh duduk manis."

"Ada PR yang sehat ada yang sarap. Selama 15 tahun jadi wartawan, belakangan jadi makin sarap."

"PR banyak meraup duit dari kita yang susah dateng ke acara dia. Dia yang untung, kita keringetan doang. Emang nggak ada acara lain apa?"

"Ada PR yang undang ke luar kota pulangnya cuma dibungkusin sambel. Kayaknya itu PR udah nggak kedengeran lagi tuh." (ini contoh PR yang bangkrut broh).

"Kalau gue salut sama PR yang sibuk telpon dan tanyain, kapan terbit? Bahkan tanya halaman berapa? Kerjaanya ngapain coba? Emang nggak punya tim news track?" (ini langsung di blacklist tebel, di bold, matanya dikasih spidol item).

Ada lagi temen wartawan yang curhat panjang banget, ini gue edit yes:

"Gue diundang ke Singapura untuk launching acara TV. Malemnya disuruh kumpul di lobi untuk jalan dan menikmati Singapura. Jalan kaki keliling, tau-tau udah jam 10. Si PR gak menawarkan untuk makan malam, akhirnya para wartawan makan sendiri, pake uang sendiri. Ketika ditanya jawaban PR: Kan udah dikasih makan waktu presconf (itu jam 4 sore cuy).

Besoknya pulang ke Jakarta. Rombongan naik pesawat jam 3 sore dan sudah di bandara jam 11. Lalu setelah wartawan dianter ke bandara (PR gak ikut pulang bareng), mereka balik ke hotel. Ketika ditanya wartawan soal jadwal makan siang, jawaban PR: Kan di pesawat di kasih makanan."


Sampai Jakarta wartawan yang ikut ke Singapura bertanya ke brand (klien) yang punya acara soal cara kerja PR itu. Akhirnya perusahaan besar dan PR nya mengundang kita makan malam, dan ditolak wartawan. "Kita butuh makannya waktu di Singapura."


See? Gue yakin PR itu langsung gak dipake lagi sama kliennya setelah wartawan complain. Imej penting bro!

Gue beberapa kali bantuin PR untuk koordinator di lapangan. Alhamdulillah selama ini baik-baik saja. Perusahaan itu mengerti dan welcome ketika gue kasih masukan dan saran.

Memang banyak perusahaan yang hire wartawan atau mantan wartawan untuk menjadi bagian dari PR. Karena sesama wartawan itu mengerti bagaimana psikolognya wartawan, ngerti otaknya wartawan, ngerti harus diperlakukan seperti apa.

Bahkan, hasil browsing gue menemukan artikel di Forbes.com berjudul: How to approach journalist. Dia lebih sadis menulisnya, begini: kalau journalist itu sekelompok orang yang egois, journalist itu miskin waktu dan memiliki ego tinggi. Jangan sedih jika email-email PR itu dicuekin. Ada beberapa aturan untuk mendekati journalist agar PR 'dicintai' wartawan. (catet tuh).

Kesimpulan dan Saran:


Dari beberapa curhatan wartawan di atas gue cuma memberikan saran, ini juga berdasarkan pengalaman gue bertahun-tahun magang kerja PR di beberapa tempat. Dan pengalaman ketika ketemu PR yang rese dan menyenangkan selama jadi wartawan:

1. Komunikasi.
Kalau undang wartawan, menyapa, ngobrol dan basa basilah biar ikrib.

2. Bikin press release sepadet mungkin. Jangan bertele-tele, intinya menggambarkan acara yang berlangsung saat itu dan sebutkan siapa narsumnya.

3. Gue tau, ketika PR mendapatkan klien pasti mereka udah prepare budget yang diajukan. Include untuk makanan dan goodie bag. Hey, jangan pelit. Sediain makanan sesuai waktunya, kalau pagi sarapan, kopi, teh, makanan kecil. Kalau pas jam makan siang, sediain makanan berat, nasi dan teman-temannya. Jangan mau dapet untung gede, tapi lo pelit keluarin duit. Coba kalo lo pasang iklan di satu media? Berapa uang yang dikeluarin? Lebih gede dari biaya press conference yang bisa mencakup 10 media atau lebih.

4. Jika wartawan diundang ke luar kota atau luar negri, pastikan wartawan diservis sesuai kebutuhan. Wartawan cuma duduk manis di pesawat, nyampe di lokasi dan meliput serta mengirim berita. Mereka nggak perlu diribetin harus check in tiket sendiri, cari transpotasi dan akomodasi sendiri. Lalu pulangnya bekelin wartawan oleh-oleh khas makanan daerah itu.

*Alhamdulillah selama ini gue selalu dapet PR kece jika ada undangan ke luar kota. Fasilitas mumpuni, malah malemnya suka kuliner khas daerah itu.

5. Kalau mengundang media dan mereka hadir di sebuah acara, jangan pernah berharap media akan memuatnya. Jika lo undang 20 media, yang muat 10 media aja lo udah bersyukur banget. Jangan berharap 20 wartawan itu akan menulis. Kenapa? Tiap media mempunyai standar berita sendiri. Jika undangan itu memang layak diberitakan, pasti kantor akan memintanya. Jika ternyata hasil presconference gak bagus, itu hak wartawan untuk nggak manulisnya dan memuatnya.

Jadi jangan pernah bolak balik tanya, "kapan turun?" Sekali atau dua kali bertanya juga cukup, kalau keseringan pake ngancem segala, karir lo diujung tanduk broh.

Ngeselinya pas udah turun pake ngeluh, "kok kecil sih, kok sedikit sih?" Coba kalo lo pasang iklan kecil begitu, berapa nilanya? Cek sendiri deh.

6. Jangan pernah berfikir semua wartawan ngarepin duit, nop! Jika isu yang ditawarkan bagus dan menarik untuk diberitakan, pasti wartawan akan datang. Apalagi jika narsumnya punya nama, udah deh, itu PR bisa dipuji-puji kliennya karena berhasil memberitakan gede-gede meski cantelan si narsum.

Sepertiya segitu dulu. Gue belum bisa menulis terkait blogger, karena masih newbie dan interaksi dengan event blogger masih sedikit (gue lebih banyak curhat di blog booo).

Semoga tulisan ini bermanfaat yes.

AAL

Saturday, September 9, 2017

(Review) Film Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss Part 2, Komedi Slapstik Absurd


Nyaris setahun film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Bos Part 2 nongol lagi di bioskop. Gue tadi berharap, part 2 ini akan lebih baik dari yang pertama, ternyata....Bisa baca  resensi yang gue tulis Part 1, di sini.

Cerita di Part 1 berakhir ketika Dono (Abimana), Kasino (Vino Bastian) dan Indro (Tora Sudiro) bersama Sophie (Hannah Al Rashid) berada di bandara Kuala Lumpur dan tasnya tertukar dengan seorang wanita berbaju merah. Akhirnya mereka mendapatkan petunjuk kalau wanita itu bernama Nadia (Fazura) seorang peneliti di sebuah laboratorium di Kuala Lumpur.

Singkat cerita mereka bertemu Nadia di sebuah pantai. Nah, di pantai pasti banyak  perempuan memakai bikini. Sang sutradara, Anggi Umbara sepertinya berusaha keras untuk menyelipkan cewek-cewek seksi, pingin dimiripkan dengan film Warkop DKI yang asli. Tapi gagal sodara-sodara!! Serius gagal! Malah terlihat maksain dan murahan.

Lalu serangkaian petunjuk mengarahkan mereka, ditambah Nadia ke sebuah pulau terpencil yang angker untuk menemukan harta karun.


Tau gak, sebenarnya perasaan gue udah nggak enak ketika film sudah sampai di adegan laboratorium. Mereka bertiga disuntikkan ramuan, lalu masing-masing berubah. Ada yang payudara membesar (Kasino), ada yang tangannya jadi kepiting (Dono) dan lari secepat The Flash (Indro).  Lalu mereka bermimpi menjadi ayam warna kuning terus joget-joget. Melihat itu, gue terkesima sendiri...ini film apa siii??

Ternyata feeling gue benar adanya. Setiap plot yang disajikan nggak jelas arahnya ke mana, yang penting dibikin selucu mungkin, itupun lucu slapstik. Absurd.

Dono, Kasino dan Indro di pulau seram itu berpencar untuk menemukan Sophie dan Nadia yang hilang. Dono harus bertemu dengan kuntilanak yang menggantung di pohon. Terjadilah percakapan antara Dono dan kuntilanak yang yang dialognya diulang-ulang.

Lalu Kasino bertemu dengan pohon-pohon yang bisa bergerak dan Indro harus mengahadapi beberapa pocong yang berbadan bersar serta bertato (apa sihh??).

Menonton part 2 ini seperti dipaksakan. "Pokoknya apapun yang terjadi film warkop DKI part 2 harus jadi! Gue nggak mau tau kisahnya kayak gimana?!" gitu kira-kira film ini akhirnya dibuat.

Sutradara dan Produser seperti kehabisan ide, mau dibikin apa lagi cerita ini? Mereka seperti asal comot dengan menyajikan film cerita nggak jelas begitu. Padahal, dibikin sederhana saja, nggak usah pake embel-embel tekhnik komputer yang teknologinya sangat kedodoran. Kenapa sih harus pake begitu kalau nggak bisa?

Jujur, gue kasihan sama Abimana dan Vino Bastian yang selama ini dikenal bermain film-film berkualitas yang akting serta kualitas filmnya bisa diadu di festival  luar negri. Okelah, mereka memakai nama besar komedian legenda Dono dan Kasino, tapi hasilnya kalau kayak gini, duh kasihan sama track record mereka selama ini. Kasian juga jadi memberikan dampak buruk bagi nama Warkop yang melegenda itu.

Selain itu gue melihat bagian Dono menurut gue pasif. Padahal kekuatan ada di Dono eh Abimana, baik dalam penampilan dan akting. Tapi porsinya sedikit, di sini karakter Dono dibikin lembut, selalu mengalah dan pasrah.


Selain itu, di beberapa adegan mereka selalu mengulang-ulang kalau film Warkop ini lebih baik dari sebelumnya, dan mereka merasa main film ini sebuah paksaan karena memperlihatkan kalau mereka sedang syuting film.

1.  "Supaya serem kayak film sebelumnya," kata Kasino merujuk pada film Setan Kredit.
2. Atau ketika di hutan, ada seorang kakek yang muncul dan complain soal sinar lampu. "Ini syutingnya udah bener belom?"
3. Lalu Kasino yang pake melirik dan ngomong ke kamera.

Masih adalah beberapa kayak gitu, tadinya menarik lama-lama jadi nggak ngerti maunya apa.

Gue berharap dimasukkan lagi karakter baru, tapi sampai akhir cuma Babe Cabita sebagai big boss. Atau Rhoma Irama, itupun ambil dari penggalan filmnya yang lama. Juga Suzanna dan Barry Prima, hanya cabutan adegan film mereka tahun 70-an yang jadul banget. Parodi dari Suzanna dan Barry Prima bisa ketebak nggak laku karena nggak dikenal remaja jaman sekarang.

Jika Part 2  mengecewakan seperti ini, gue nggak tahu apakah akan dibuat yang ketiga. Melihat banyaknya penonton feeling gue sih bakal dibikin sekuel. Gue barharap sekuelnya sangat-sangat lebih baik dan profesional.  Kalau nggak ngerti teknologi komputer di film, mending nggak usah pake deh. Serius. Garap aja bagian drama dan komedinya dengan layak.

AAL



Wednesday, September 6, 2017

Raisa-Hamish, The Lovely Couple


Raisa-Hamish menikah, medsos jadi heboh. Nggak cuma di Instagram yang timeline isinya mereka berdua, di Twitter dan Facebook juga banyak. Nah, ketika ada beberapa temen wartawan hiburan yang bikin status di Facebook soal cara peliputan dan pengamanan untuk wartawan, gue jadi tergelitik untuk menulis. Biasalayaaaa, gue ngincer viewers yang mampir ke blog gue. Kebiasaan! *Plak *ditimpukpakedolar

Jadi mohon kesabarannya, jangan ada yang baper, gue cuma mengungkapkan fakta saja yang menarik untuk dibaca. Tolong dibaca dengan hati bersih dan tulus seikhlasnya.


Para wartawan hiburan ini sudah mulai meradang ketika dikirim undangan dan peraturan jumpa pers. Merupakan hal biasa, ketika penyelenggara acara memberikan 'riders' banyak dan ribet. (Perasaan siapa yang butuh dan membutuhkan ya. Yang butuh publikasi supaya terkenal dan banyak duit, siapa coba??? *gayanyaDono).

"Kalau nggak disuruh kantor gue juga nggak mau," kata seorang teman yang jadi wartawan di sebuah tabloid wanita.

Jadi kebanyakan wartawan yang meliput disuruh kantor, karena melihat pembaca yang banyak banget pasangan sweet ini.

Nah, (ini hasil wawancara kecil-kecilan sama temen wartawan yang datang ke jumpa pers bagaimana situasinya), mereka pada KZL ketika nggak boleh melempar pertanyaan.

"Sewaktu preskon, seolah-seolah dia hanya mengajak MC nya ngobrol, ngelihat ke samping arah MC. Begitu diteriakin lihat kamera, HD kayak nggak suka gitu," kata wartawan senior itu.

Temen infotainment malah ada yang ngomong begini: "Mending mereka kawin di Bali atau luar negri jadi nggak dikejar-kejar wartawan gini."

Hhmmmm....tanda-tanda...udah terlihat

Gue sendiri melihat pesta pernikahan mereka kayak nonton film romantis Hollywood yang happy ending, atau baca novel romantis. Kayaknya sweet banget mereka berdua, cucok meong kalau kata Syahrini. Beneran deh, bikin kepo dan baper. So perfect. Ternyata cerita romantis kayak gitu ada juga di dunia nyata. Ketika mereka saling menatap, tssaaahhhh...dunia milik berdua, orang lain cuman nyewa.

Lucunya lagi, di grup WA wartawan seleb dan gaya hidup, pasangan ini jadi trending topic lhooo hahahaha seru bangett.  Mereka sih ijinin gue untuk memposting hasil 'ghibah berjamaah' itu di sini asal di blur (eh gue berasa jadi kayak lambe turah nih, hahahha).

Tapi kayaknya nggak etis juga kalau dipublikasikan, soalnya sangat banyak untold story alias cerita soal mereka di belakang layar. Aib euy, gak boleh buka aib. Sudahlah hanya orang tertentu saja yang tahu.

Soal Raisa-Hamish dipending dulu.

Gue cuma mau cerita lain (biar panjang tulisan di blog ini), soal para artis yang karirnya sampai sekarang masih menjulang ke angkasa. Kenapa? yang pasti karena hubungan baik mereka ke wartawan, meski wartawan udah berganti orang beberapa dekade. Si artis bukan saja melihat orangnya, tapi melihat profesinya. Para artis itu tetap banyak job, tetap berkarya dan tetap banyak penggemar.

Karena para artis itu tahu soal ini:

1. Wartawan harus bertanya ke narasumber yaitu si artis (kalau nggak tanya apa yang mau ditulis?)

2. Adanya interaksi antara wartawan dan narasumber (jadi ada hubungan yang harmonis, karena dunia wartawan dan narasumber itu adalah simbiosis mutualisme. Karena pasti, suatu waktu narsum sangat butuh wartawan. Nggak percaya? Let's see and wait).

3. Jika terganggu dengan pertanyaan wartawan, bisa dijawab dengan ramah, santun dan sabar. Karena kerja wartawan itu ya bertanya, bukan menjawab. Mereka juga akan paham kalau gak dijawab.

4. Seberapapun banyak media sosial sekarang ini, narsum atau artis paham kalau wartawan itu bisa memberikan karir mereka terus panjang. Karena ketika mempublikasikan sebuah berita, sudah melewati beberapa editan yang dasarnya dipertanggung jawabkan. Bukan netizen di medsos yang
asal cablak tanpa di rem.
5.....(mikir dulu)

Kalau ini hasil dari pengamatan, pengalaman dan masukan temen-temen wartawan, artis siapa aja yang memiliki attitude menyenangkan dan enak jadi narasumber kece:

1. Krisdayanti: Dari masih ABG sampai sekarang KD itu the truly diva of Indonesia. Humble, baik, ramah dan asik banget.

2. Titi DJ: Salah satu artis favorit gue. Apa adanya, humble, apapun pertanyannya dijawab santai sambil tertawa. She's also the truly of diva, suka bangettt sama mbak titi....kayaknya mengerti keinginannya dalam hidup, meski udah 3 kali menikah, dia nggak pernah malu menghadapi wartawan ketika ditanya. Sukaaakk

3. Alm Julia Perez: Biar udah tenar, tetep tuh kasih wartawan telpon yang direct. Serepot apapun selalu dijawab, bahkan SMS dibales. Al Fatihah untuk Jupe.

4. Giring Nidji: Kalau ketem wartawan pasti salaman sambil nunduk gitu. Ternyata alm bokapnya giring wartawan, dan dia pernah ngomong kalau dia sangat menghormati profesi wartawan. Dari alm bokapnya dia tahu bagaimana kerja wartawan. See?? Ini Giring Nidji yang kondang dan karyanya hebat itu lho.

5. Armand Maulana. Gue sukak sama lagu-lagunya GIGI yang tentu hasil dari suaranya Armand juga ciptaanya dia. Kalau liputan dan gue ke mushola, pas jam sholat selalu ada Armand. Dia juga menjawab semua pertanyaan dengan santai, wartawan udah kayak temen broh!

6. Anang Hermansyah. Gue sih beberapa kali telpon dan BBM (dulu) selalu djawab, wawancara langsung jarang. Tapi ada temen infotainmen yang berbagi cerita soal Mas Anang ini. Dulu, waktu masih baru divorce sama KD, Aurel ngomongnya agak gak sopan gitu ke wartawan. Trs saat itu juga, Anang 'memerintahkan' (jah bahasanya drama), Aurel untuk minta maaf. Gudjob!

Sebenarnya masih banyak sih, tapi ini tulisan udah kebanyakan, takut pada bosen.

Yang mau komen silahkan yang santun, jangan baper broh! No hard feeling, just peace ah.

AAL