Featured Slider

11 Tahun Setelah Chrisye Pergi, Adakah yang Menggantikan Posisinya


Foto: Google


Siapa yang tak kenal Chrisye. Penyanyi lawas dan seorang legenda di dunia musik. Mendengar suaranya, orang pasti tahu kalau itu Chrisye sedang bernyanyi. Saya termasuk beruntung, bisa bertemu dan wawancara Chrisye di masa hidupnya. Ketika masih menjadi wartawan di Harian Rakyat Merdeka, saya beberapa kali hadir dan wawancara perihal proses kreatif lagu-lagunya.
Saya juga beruntung bisa menyaksikan beberapa konsel Chrisye di Jakarta dengan panggung dan tata suara yang mewah. Yang menjadi ciri khas Chrisye adalah, mau panggung semegah apapun atau semewah apapun, gesture tubuhnya yang kaku tetap saja dia berdiri di satu titik itu sampai lagu selesai. Jika pun berjalan, hanya seputar di depan panggung saja, dan senyum sekilas. Itulah Chrisye, penyanyi apa adanya, nggak neko-neko, pribadi yang tenang, seperti tanpa emosi dan nggak merasa dia seorang legenda musik di Indonesia.

Lagu-lagunya nggak pernah kehilangan kharismanya meski telah 11 tahun Chrisye ‘pergi’, meninggalkan 'warisan' yang  nilainya tak bisa dinilai dengan uang. Sampai sekarang saya masih mendengarkan lagu-lagu Chrisye, terutama ketika menyetir mobil sendiri. Lagu-lagunya dengan lirik yang memesona dan suaranya yang jernih, lumayan bikin adem ketika menyetir di siang hari yang panas. Tau dong, bagaimana lalu lintas Jakarta dengan segala mental pengemudinya di jalan, suara Chrisye bikin menyegarkan hati dan bikin saya jadi nggak nyolot kalau menyetir, Lolss.

Foto: Google

Traveling Anti Mainstream ke Lombok (2)


Hehehhe, padahal nggak ada niat bikin tulisan ini bakal berseri. Pas endingnya menggantung, dan ternyata responnya pada penasaran, yaudah deh gue terusin ceritanya.

Baca: Cari Air Minum Gratis di Singapura

Belakangan, pas jadi sering traveling sendiri (maksudnya tanpa ada undangan untuk kerja gitu), ada aja drama yang bikin deg-degan. Sejak drama menghebohkan di Kuala Lumpur, baca di sini, gue jadi deg-degan terus kalau ada kejadian di luar expetasi. Lalu gue membatin sendiri (secara gue orangnya ceroboh), apa yang salah ya? Apakah ada yang kelupaan? Apa lagi sih ini?

Nah, kejadiannya sama ketika tiket pulang dari C*t*l*nk gue dibatalkan karena nggak ada penerbangan hari itu. Untuk yang belum baca kejadian pertama, baca di sini. Jadi setelah gue kontak direct ke petugasnya berhasil, dia menjanjikan gue bakal dapet penerbangan dengan B*T**k. Tapi sampai malam, gue hubungi dia untuk conform susah banget masuknya. Telpon nggak diangkat, telpon kantor C*t*l*k nggak diangkat juga (anehkan, padahal itu kantor, masa nggak ada operatornya?), SMS nggak dibales, email juga sama.

Gue jadi suuzon apakah mereka berkonpirasi supaya gue nggak dapet penerbangan pengganti? (hehehe kebanyakan nonton film detektif). Kenapa semua jalur komunikasi susah banget masuknya. Padahal semua temen seperjalanan, udah janjian mau ke Gili Terawang Senin paginya, lalu Selasanya ada yang lanjut ke Bali dan Pinky Beach. Jadi gue gimana dong?

Nggak mungkin juga ikut mereka. Pertama ijin pak suamik cuma ampe hari Senin. Ada si bontot di rumah yang tiap video call bikin kangen, lalu banyak tanggung jawab sebagai emak yang menanti.


Setelah deg-degan hampir malam gak ada kabar, eng ing eng... tak lama masuk SMS yang memberikan kode booking. Phuiihh..gue lega. Supaya bener itu kode bookingnya, gue pun langsung mencoba check in online ke B*t*k , Alhamdulillah lancar jaya. Gue udah dapet nomor kursi di penerbangan.

Berpisah

Senin pagi, yang pingin ke Gili Terawang udah siap-siap pergi, ada Elf yang menanti mereka. Gue pun sendiri di penginapan (eh ada sih Trio Guru Sulawesi itu yang nggak ikut karena ada penerbangan sore).

CARI AIR MINUM GRATIS DI SINGAPURA


Baru beberapa hari lalu pulang dari Singapura, berasa banget air minum itu penting di tengah panasnya cuaca di Singapura. Menurut gue, lebih panas Singapura dibanding Jakarta.

Baca: Traveling Anti Mainstream ke Lombok

Kalau di Jakarta beli air mineral gampang banget, bertebaran warung-warung dipinggir jalan. Harganya pun terbilang murah, ada yang 3000, 4000 malah air mineral merk gak beken bisa cuma seribu. Lalu berapa air mineral di Singapura sebotol yang ukuran 600 ml?

Hohohohoho, you know lah, nilai dolar Singapura sekarang terbilang gede. Nyaris menyamai dolar Australia. Kaget juga pas nuker dolar Singapura udah di angka 10500. Pada 2010 gue ke negri Singa itu belum nyampe 7000.

So, lumayan kan irit Rp 10500 kalau bawa botol sendiri, mending uangnya bisa untuk naik MRT atau nambahin jajan bahkan bisa berlebih kalau beli es krim roti di Orchard Road atau juice di Bugis Junction yang cuma 1 SGD.

Jadi kalau lagi hoki bisa tuh dapet 1 SGD sebotol air mineral di Singapura. Tapi kalau tempat lain, kayak Sevel bisa 1,80 SGD.

So, daripada beli dengan harga mahal, gue mengakalinya dengan membawa botol dari rumah dalam keadaan kosong. Atau bekas botol air mineral di hotel gue bawa, pas ketemu tempat air minum, langsung deh diisi.

Menulis dengan Cinta ala Dini Fitria


"Menulis dengan Cinta bersama Dini Fitria"
Begitu flyer yang saya lihat di Instagram dan Facebook Komunitas Indonesian Social Blogpreneur.
Siapa ya Dini Fitria, begitu saya membatin, ketika sekilas membacanya. Lalu terlupakan.

Tak berapa lama para blogger heboh membahas hasil worksop tersebut, bahkan ada pemenang tulisannya. Sayapun kepo.

Beberapa hari kemudian muncul lagi flyer yang sama, tapi kini dengan embel-embel batch 2. Saya mulai tertarik lalu mendaftar.  Ternyata, nama saya sebagai salah satu peserta yang terpilih. Baru deh saya browsing siapa Dini Fitria itu.