Pengalaman Berobat Tumor di dr Paulus W Halim di BSD City



Wait, bukan saya yang kena tumor. Alhamdulilah genks, saya sehat waalfiat. Saya hanya ingin berbagi cerita, siapa tahu bisa membantu orang yang membutuhkan. Siapa tahu ada yang sedang mencari metode pengobatan yang cocok, setelah lelah kemana-mana nggak ada progress.


Kebetulan, saya hanya mengantar salah satu abang  yang kena tumor jinak di bagian pahanya.  Jadi sekalian saja sharing di blog.


Sebenarnya lucu juga, kawasan BSD itu dekat dengan rumah di Gading Serpong. Masih sama-sama kawasan Serpong, tapi saya baru tahu ada pengobatan di dokter ini yang which is deket rumah.

Baca:
Papsmear di YKI Lebak Bulus Bisa Pakai BPJS
Sempat Menolak Anak Nyantri, Akhirnya Anak Masuk Pesantren
Ke Semarang, Pengalaman Pertama Kali Naik Kereta Api dengan Anak Balita

Padahal kita udah berobat kemana-mana, mendatangi berbagai macam dokter, tapi nggak ada yang cocok. Nggak taunya, ada dokter yang kabarnya mujarab bisa menyembuhkan yang lokasinya deket rumah. Namanya ikhtiar yaaaaa, kemana aja dijabanin.

Jadi, setelah 'lelah' kemana-mana, si abang akhirnya manut akan mengikuti saran dokter (ini dokter kesekian) untuk operasi pengambilan tumor. Karena sakitnya sudah menganggu aktivitas dan kegiatan penting.

Lantaran memakai BPJS, jadi kita menunggu antrian. "List tahun 2017 aja masih banyak menunggu untuk di operasi," kata petugas rumah sakit. Kebayang kita harus menunggu lama buangeett. Yang ada presiden udah diganti tetep aja masuk waiting list, Lols.

Nah, ketika sedang menunggu itulah, seorang teman si abang merekomendasikan dr Paulus W Halim ini. Saya browsing, nggak cukup banyak info yang didapat soal dr Paulus. Saya juga tanya ke WAG yang isinya ibu-ibu yang berdomisil di Tangsel soal dr Paulus ini.  Ternyata ada beberapa ibu yang japri dan memberikan testimoni kalau dr Paulus memang bagus. Kanker Insya Allah bisa sembuh, apalagi tumor jinak katanya bisa dihilangkan. Semoga Ya Allah.



Hunting ke dr Paulus W Halim

Alamat Prateknya di Perumahan Griya Loka, Jl Suplir Blok F1/13 Sektor 1.5, BSD.
Dia Praktek hanya : Senin, Rabu dan Jumat.


Rumahnya ber cat putih. Dari luar tak tertulis praktek dokter, hanya rumah biasa. Tapi orang sekitar sana udah tau itu tempat prakteknya. Letak rumahnya dua dan tiga rumah dari hook (pas belokan, gak jauh dari RS Putra Delima BSD).

Jadi gini, saya datang hari Selasa pagi (nggak tahu kalau dokter hanya praktek 3 kali saja dalam seminggu). Sampai sana jam 07.00 pagi, cuma ada satu dua orang. Agak aneh juga, katanya banyak pasien. Saya tanya-tanya ternyata prakteknya hanya Senin, Rabu, Jumat. Tapi harus daftar satu hari sebelumnya.

Kalau datang kepagian jangan sedih, di sebelah ada yang jualan soto lamongan endang bambang untuk sarapan, murah lagi pake nasi, ada juga krupuk.

sebelah ada dagang soto lamongan
Lanjut.

Saya pun disuruh isi semacam absen. Tertulis: Untuk pasien lama (L) dibatasi 25 orang saja, untuk pasien baru (B) hanya 10 orang. Alhamdulillah saya dapat untuk yang B di list 9. Banyak pasien dari daerah, ada dari Palembang, Jawa Timur dan lainnya. Bahkan konon ada juga yang dari luar negri.

Nah, setelah isi absen, jangan pulang dulu genks. Kita harus menunggu jam 10 pagi untuk pendaftaran. Ada beberapa yang nggah tahu, pas nulis absen langsung pulang, besoknya datang gak bisa berobat. Semakin mendekati jam 10, orang mulai banyak berdatangan. Mereka ternyata udah ada yang datang dari jam 5 subuh, katanya kertas untuk absen sudah terletak di kursi untuk diisi.


Jam 10 pagi pintu terbuka. Seorang ibu lumayan tua keluar dengan meja kecil. Satu persatu nama yang terdaftar sesuai urutan maju untuk memberikan KTP agar mendapatkan nomor antrian berobat esok harinya.  Ibu ini tegas, nggak ada kata KKN. Dia kenal orang-orang (kayak semacam joki) yang mengambil nomor yang bukan pasien langsung. Jadi nama pasien dan KTP harus sama.

Pulang, siap-siap besok pagi balik. "Jam 8 kurang sudah sampai ya pak,"kata si ibu.

Tips: Jangan datang telat. Soalnya kalau kita datang telat ketika sedang dipanggil, mau nggak mau nomor urutan jadi mundur ke bawah. Saya daftar dapat nomor 20, ada beberapa yang dipanggil nggak ada, esoknya pas mau berobat saya jadi dapat nomor 16. Sayangkan udah nunggu lama.

Mulailah Bertemu dr Paulus W Halim

Keesokan harinya, Rabu sampai lokasi pukul 7.50 pagi. Pas nyampe, nggak lama pintu kebuka. Semua pasien masuk, tanpa alas kaki. Jadi itu rumah di setting seperti klinik. Ada satu ruang praktek, ada ruang resepsionis untuk pendaftaran dan mengambil obat. Sedangkan, garasi untuk pasien menunggu, ada kursi panjang.


Nah berbeda jika ke dokter, kita akan dipanggil oleh suster, kalau di sini harus proaktif bertanya sudah nomor berapa? Karena nggak bakal ada tereak-tereak panggil nama pasien. Kalau merasa nomor kecil, mending duduk di dalem deh.

Akhirnya, sampai juga nomor kita. Saya dan si abang  masuk. (Oiya, better membawa surat diagnosa dokter soal penyakit kita, entah surat atau hasil rontgen). Dokter Paulus sudah tua, sekitar usia 70-an, rambutnya lebat sudah putih semua.

Si abang menyodorkan hasil diagnosa dokter. Dokter Paulus membaca serius, lalu dia membeberkan, jika memutuskan untuk operasi akan seperti ini akibatnya karena bagian ini berbahaya. Pokoknya kita takzimlah mendengarkannya. Dokter senior itu seperti sangat menguasai semua istilah-istilah penyakit yang ada di kertas itu. Karena basik nya dia memang dokter bedah (ini saya baca infonya di internet).

Lalu dia mulai melakukan pengobatan dengan cara yang unik, pendekatannya berbeda. Dia meminta si abang agar meminum obat sesuai petunjuk, jangan sampai lewat. Jika tumor sudah mengecil jangan stop pengobatan, katanya.

Obatnya terbilang mahal, si abang dikasih obat untuk satu bulan buanyak banget. Sekali minum ada sekitar 5 kapsul yang isinya semacam jamu racikan si dokter. Ada juga ramuan seduh yang katanya pahit.


Kabarnya, jika hanya ingin mendengar diagnosa dokter saja tanpa membeli obat hanya membayar Rp 200 ribu. Sedangkan harga obat tergantung seberapa parah penyakit. Si abang kemarin obatnya seharga Rp 2,9 juta untuk satu bulan.

Tips: Jika rumah jauh atau di luar daerah, lebih baik membeli obat sekalian banyak supaya nggak bolak balik, misal untuk 2 bulan. Setelah itu, disarankan pasien datang lagi untuk melihat progress nya, siapa tahu ada perubahan lebih baik dan obatnya berbeda.

Hasil  ngobrol dengan pasien lama

Kan lumayan tuh lama nunggu sampai 3 jam, saya ngobrol deh sama pasien lainnya.

1. Si mbak ini datang dari jam 5 subuh dan dapat urutan nomor satu, pasien baru. Dia diminta suaminya untuk mengambil nomor lantaran abang suaminya kena kanker mulut. Menurut dia, si abang iparnya itu sudah berbobat ke beberapa dokter di Bekasi, malah direkomendasi rumah sakitnya untuk berobat ke dr Paulus.

2. Pasien lama, dia supir yang selama 2 tahun selalu mengantar majikannya berobat. Kata dia, majikannya ada perubahan yang bagus. Dulu berobat ke dr Paulus nggak seteratur sekarang, kalau pas waktu berobat rame banget kayak pasar.


3. Pasien lama. Si kokoh ini mengantar istrinya yang ada cairan getah bening, dia udah 3 x bolak balik dan sekali membeli obat sampai Rp 5 juta. Katanya ada perubahan yang bagus untuk istrinya.

Saya baru beberapa pekan lalu mengantar si abang, jadi belum bisa sharing hasilnya. Tapi katanya sih jadi sering kentut, hihihihi.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan membantu, sehat-sehat yaaa.

AAL

5 comments

  1. Info bermanfaat banget mba, karena pengobatan penyakit ini identik mahal kalo tarif segitu masi cukup terjangkau

    ReplyDelete
  2. Permisi, mbak. Mau tanya. Padiennya hrs datang sendiri.atau bisa diwakilkan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hallo, untuk daftar bisa diwakilkan asal ada KTP pasien, pas periksa harus ada pasiennya

      Delete
    2. Saya juga diperiksakan di dr paulus... Yg kesana kakak saya bisa..saya tidak ikut karena saya di jogja.

      Delete