Pasutri Zaman Now: Suami Perhatian ke HP, Istri Curhat di Medsos


Alasan saya menulis tema ini ketika melihat di Facebook ada kutipan video dari seorang ustad yang berjudul 'Berpahala Mengobrol dengan Istri'. Tadinya saya melihat biasa saja, cuma bergumam, hhmmmm oke.

Tapi saya kaget dan takjub juga ketika membaca komentar di video tersebut. Bisa dibilang sebanyak 90 % yang berkomentar para istri. Dan hebatnya lagi, sekitar (ini menurut saya pribadi) 70 % isi komentarnya adalah, para istri yang kecewa dengan suaminya.
Baca:
- Barang yang Perlu dibawa untuk Umrah
Tempat favorit untuk berbuka puasa
Makanan Berbuka Puasa yang harus ada tiap Tahun
Pengalaman Beribadah Umrah Kedua Kalinya
- Pengalaman Belanja Murah di Madinah dan Mekkah, di Sela-sela Umrah

Rata-rata para istri ini kecewa kalau suaminya ketika diajak ngobrol malah direspon kasar, membentak, selalu marah-marah. Yang bikin kzl para istri lagi adalah, para suami malah lebih senang 'mengobrol' di HP daripada dengan istrinya. Yang lebih sakit hati lagi, kata mereka, kalau interaksi dengan para cewek di WA atau di telpon, si suami sangat manissss dan sering bercanda. OEmJiiiii... (Astagfirullah).

Jujur, saya bacanya KZL kuadrat. Saya juga sebagai seorang perempuan pasti paham bagaimana perasaan digitui. Istri yang sudah mengurus suami dengan ikhlas, mengurusi anak-anaknya dengan sabar, tapi diperlakukan begitu?

Untuk menenangkan diri, lalu saya mengambil kesimpulan kalau si suami belum paham dan belum ada ilmu agamanya mengenai kehidupan rumah tangga. Seandainya mereka banyak membaca buku agama, datang ke majlis ilmu, pasti mereka langsung berlomba-lomba menyenangkan hati istrinya.


Memang, saya akui majlis ilmu lebih banyak diminati dan didatangi oleh para istri. Penyebabnya tentu saja si suami sibuk bekerja mencari nafkah. Tapi itu bukan sebuah alasan, bisa saja tiap weekend, bersama-sama mendatangi majlis ilmu yang sering digelar di masjid-masjd? Misalnya kajian Dhuha.

Nah, saking saya kepo masalah ini, supaya enak ngebahasnya saya mencoba bertanya kepada seorang ustad langsung, Ustad Doddy Al Jambary . Kebetulan ustad ini sering ada di majlis taklim yang saya ikuti. Supaya balance dari segi agama dan segi non agama, saya juga bertanya kepada seorang psikolog terkenal, Anna Surti Ariani S.Psi. M.Si. 

Awalnya saya agak gak yakin kalau Mbak Nina (panggilannya) mau ditanya soal ini secara saya memperkenalkan diri bukan sebagai seorang wartawan, tapi blogger. Nggak sedikit, narasumber agak 'males' menjawab pertanyaan jika bukan dari wartawan. Ketika saya masih aktif menjadi wartawan, narsum sangat gercep menjawab pertanyaan saya, bahkan mereka bisa telpon balik. Gitulahhh..

Tapi Alhamdulillah Mbak Nina dengan baik hati mau menjawabnya dengan profesional. Makasih Mbak Nina, jangan bosen ya menjawab pertanyaan saya yang kadang ceriwis, hihihihi. Juga terima kasih Pak Ustad Doddy mau sabar menjawab pertanyaan saya yang terbaca 'maksa', heheheh.

Okeh, langsung saja ya,


Pandangan Psikolog  Anna Surti S.Psi. M.Si. 


Mbak Nina sangat memahami di zaman tekhnologi di mana informasi serba terbuka ini, gadget adalah barang yang sangat diminati semua kalangan. Mulai dari anak balita hingga lansia. Bahkan kesenangan dengan gadget itu bisa menjadi kecanduan seseorang, sehingga bisa jadi bingung untuk membedakan dunia maya dan dunia nyata.

"Penyebab adiksi gadget ada banyak. Namun sebagian besar adalah karena ada kebutuhan emosional yang belum terpenuhi, misalnya kebutuhan untuk eksis (misalnya bagi mereka yang sering merasa tidak dihargai oleh orang lain). Ada lagi misalnya kebutuhan untuk melarikan diri dari hal lain (misalnya orang ini tidak bisa menyelesaikan masalah dirinya, lalu mendapat keasyikan di gadget)," kata Mbak Nina.

Nah, jika ada suami yang asik dengan gadget hingga 'menelantarkan' istri, menurut Mbak Nina kemungkinan besar si istri telah melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan. Misalnya bawel, terus mengkritik suami, sering menyalahkan suami, tidak percaya pada suami dan banyak sebab. Artinya, si istri juga harus intropeksi jika melihat suaminya lebih cinta gadget daripada dirinya sendiri.

" Orang yang mengalami kecanduan gadget atau terlalu asyik ke gadget memang perlu ditangani. Pasangan atau keluarganya juga perlu dibantu, antara lain untuk bisa membuat suasana yang lebih nyaman, sehingga si orang yang lebih suka bermain gadget itu jadi lebih berminat ngobrol," tutur Mbak Nina.

Ada benarnya kata Mbak Nina, bisa jadi si suami bete dengan istri yang terus menerus menuntut si suami. Si suami yang nggak sabar 'mendidik' istrinya (pastinya harus dengan mengobrol kan), lebih memilih main aman dengan bermain gadget.

Supaya tulisan ini juga enak dibaca, saya bertanya kepada seorang ustad yang bersedia menjawab. Alhamdulilah banget.


Pandangan Ustad Doddy Al Jambary

Jujur, jawaban Ustad Doddy awalnya bikin saya nggak mudeng (hiks). Tapi setelah saya baca baik-baik akhirnya saya paham. Ini jawaban ustad, langsung saya masukkan saja ya dari pembicaraan di WA.

Anda Puas, Kami Lemas
Jika Wanita adalah Mahluk lemah, mengapa yang suka minum obat kuat justru para pria? 
Ok, ga usah fokus sama obat kuatnya ya, karena obat kuat yang di konsumsi para pria sifatnya sementara, efek aphrosidiac nya habis, ya letoy lagi, hehehe
~•~
Sejujurnya anggapan lemah kuatnya mahluk tergantung pada kondisi hati, pria wanita sama saja, ketika hatinya lemah, semua berantakan. Ada sebagian pasangan yang jengah dengan kelakuan belahan jiwanya, karena hatinya bermasalah. Ada keluarga yang ga nyaman di rumah karena “pola sayang” yang mengganjal hatinya, sehingga lebih senang berada diluar rumah, karena pada dasarnya manusia berusaha keluar dari masalahnya, padahal hatinya yang bermasalah.
Terus Masalahnya muncul darimana? 
Justru muncul dari hatinya sendiri. Lho kok bisa? Ya bisa lah, Wong Hati itu gampang jungkir balik, eh gampang bolak balik, kadang menghadap kadang berpaling, fitrah sudah.
Faktor Pengaruh Pembentuk Hati.
Gerbang Info adalah Telinga dan Mata, diolah di Hati, ketika audio visual kita ditarik oleh yang tidak halal, maka rusaklah system fitrah yang Allah buat, disinilah mulai terjadi keretakan karena asupan data yang tidak halal, tidak hanya riba, tapi juga ngumbar mata karena ada sensasi sensual yang datang darimana saja, ditemukan atau dicari.
Makin sering berinteraksi dengan yang tidak halal, mulai hilang berkah, hati yang suci mulai ternoda dengan dosa yang tak terasa, meskipun disengaja. Maka perlahan tapi pasti, Hati mulai bermasalah, tak lagi menikmati yang syar’i, 
Pasangan membosankan, Rumah tak lagi Homy, Bahkan Obrolan tak lagi jadi seni, tak jarang jadi bahan pertikaian, dihindari menuju sepi. Bahkan tak lagi ada komunikasi antara hati, tak jarang makin lama hatinya mati...
Jadi intinya, ketika mulai jelalatan, maka pasangan sah tak lagi menarik. Pasti ada andil, baik dari salah satu atau keduanya, ga bisa di generalisir.
Berbagai kasus yang saya tangani, 
Kasus 1 : Istri dominan
                Suami jengah
Kasus 2 : Suami sok pengen poligamy tapi ga ada ilmu
Kasus 3 : Istri Monoton
                Suami Dinamis
Dan rata rata, Tidak ikut kajian rutin keluarga, maka ketika persoalan iman di remehkan, Setan leluasa bekerja. 
 1. Istri ngaji, Suami enggak
2. Istri ngaji, suami ngaji, tapi beda guru
3. Idealnya Suami Istri punya guru yg sama, perifernya sama

Begitu pemirsah.

Penting Dibaca:
Jadi travelmate yang menyenangkan itu gampang
Beli Cokelat Murah di Singapura bukan di Muastafa center
- Cari Tas Murah di Batam, ada yang Rp 100 ribu
Cara ke Singapura Lewat Batam, Hanya Rp 275 Ribu PP

Semoga Bermanfaat, yang mau diskusi di bagian komentar monggo..

AAL


No comments