Saturday, July 22, 2017

Pengalaman Pijat Syaraf di Haji Zein Ki Santri

Haji Zein in action (google)


Sejak awal 2015, bell's palsy yang menyasar syaraf ketujuh di wajah saya belum sembuh 100 persen.

Cerita awalnya bisa baca di sini: Hamil Kena Bell's Palsy

Meski udah pengobatan fisioterapi sampai tuntas dari yang disarankan dokter, tapi wajah saya belum normal sepenuhnya. Lama kelamaan, mata kiri lebih sipit dari yang kanan, kantong mata kiri lebih terlihat jelas dibanding kanan, kalau tertawa lebih kecil, pokoknya yang membutuhkan aktivitas wajah, pasti mata kiri merem sebelah.

Saya udah pasrahlah.

Baca Juga: Morinaga Berperan Mencetak Generasi Platinum

Lalu beberapa bulan lalu, suami yang kena hamstring sejak 2014 (ada yang bilang itu saraf kejepit, ada yang bilang hamstring. Entahlah, ke beberapa dokter diagnosa beda-beda terus), direkomendasi ke Haji Zein di Padepokan Ki Santri, di kawasan Jatiasih Kota Bekasi Jawa Barat.

Suami yang juga sudah ikhtiar ke beberapa dokter dan tukang urut ternyata merasa cocok di sini. Ada progress membaik setelah diurut Haji Zein. Melihat itu, saya merasa punya harapan baru untuk ngebenerin wajah imut ini supaya normal lagi. Pokoknya yang berhubungan dengan syaraf, katanya Haji Zein jagonya.

Pertama kali ke sana malem jam 19.00 sama suami dan si bontot dibawa. Itu sekitar bulan Desember 2016. Rame banget karena mau musim libur. Masuk ke Ki Satri disambut satpam, lalu diminta parkir di belakang dekat mesjid mewah yang didominasi warna hijau.

Lokasi Ki Santri luas. Ketika dari pintu masuk, ada rumah besar itu tempat untuk diurut. Ruangan sebelahnya ada beberapa pegawai yang siap untuk membantu pasien refleksi sambil menunggu haji Zein, dengan bayar seikhlasnya. Yang datang ke tempat itu beragam, dari kalangan bawah, tengah sampai atas. Terlihat dari penampilan dan kendaraan yang dibawa. Semua punya satu tujuan, pingin sembuh.
google

Pasien diberi nomor antrian oleh satpam di depan ruangan sekaligus ditulis namanya di sebuah buku besar.

Setelah menunggu berjam-jam, Haji Zein nongol juga. Dari jam 19.00, si pak haji muncul almost jam 24.00. Mau kesel? Silahkan. Kita yang butuhkan. Tadinya saya penasaran seperti apa bentuknya Haji Zein yang terkenal itu. Sampai banyak orang yang rela menunggu berjam-jam. Ternyata masih muda, usia sekitar 40 tahun, terlihat tubuhnya tegap kuat, nggak begitu tinggi. Di bagian sisi rumah memang terlihat ada alat nge-gym sama moge alias motor gede.

Haji Zein prioritaskan yang urgent dulu, alias pasien yang nggak bisa jalan, di kursi roda, atau anak-anak yang punya kelainan di tubuhnya. Jadi pasien duduk berjejer membuat shaft. Dari ujung Haji Zein memegang pasien, terlihat mulutnya komat kamit. Hanya memegang hitungan menit, sebentar banget, dia pindah ke pasien satunya.

Setelah pasien urgent selesai baru pasien biasa seperti saya gini. Dipanggil nomor berurutan duduk sesuai nomor. Saya dengan seksama dan sebenar-benarnya memperhatikan bagaimana Haji Zein bekerja. Pasien duduk membelakangi, lalu dari belakang Haji Zein melingkarkan tangannya di sebatas bahu dan ditarik badan ke belakang. Lalu dia mulai memencet bagian yang sakit . Ketika saya bilang bell's palsy, dia meminta saya untuk memonyongkan mulut.

"Sedikit lagi," katanya. Maksudnya sedikit lagi bisa sembuh, yeay.

Lalu dia memencet bawah mata antara dekat hidung, seperti ada yang kesetrum, sakit, mata saya berair. Dia meminta saya datang lagi 3 hari kemudian. Karena waktunya nggak ketemu, alias sibuk alias jauh dari Serpong saya datang lagi setelah dua bulan kemudian (kayak nggak niat mau sembuh ya, lols).

Ternyata sudah berubah cara pendaftarannya. Untuk mendapatkan nomor harus membayar Rp 50 ribu, jadi sudah tidak seikhlasnya lagi seperti sebelumnya.

Baca Juga: Sisi Lain Tamar Djaja, Perintis Kemerdekaan Tanpa Nama

Saya sempat bertanya kenapa sekarang bayar. Katanya agar lebih teratur dan itu peraturan baru. Mungkin karena bayar seikhlasnya orang seenaknya aja masukin duit. Saya pernah liat seorang ibu nggak memasukkan uang di sebuah kotak, dia malah kasih uang ke satpam. Ibarat kondangan, di dalam amplop pas dibuka ada yang kasih seceng, goceng, malah ada yang kosong. Kebangetan bangetkan.

Selain itu, saya juga baru tau ada jam praktek sore hari sampai menjelang  maghrib. Karena saya nggak pernah datang sore, jadi nggak ada bayangan bagaimana situasinya.

Kebanyakan pasien yang saya tanya, mereka ada kemajuan membaik setelah berobat ke Haji Zein Ki Santri itu. Misal, ibunya nggak bisa melihat. Udah beberapa kali ke Haji Zein ada kemajuan matanya bisa bekerja dengan baik. Juga ada anak-anak yang sejak lahir bermasalah sampai susah jalan, dan masih banyak kasus lain. 

Suami hingga kini masih rutin datang ke Haji Zein ketika kambuh hamstringnya. Walau belum sembuh, paling nggak, sepulang dari haji Zein dia nggak mengeluh dan meng-aduh-aduh lagi. Kata semua dokter si, hamstring nggak bisa sembuh, hanya mengurangi rasa sakit saja. Entahlah, wallahualam.

Kalau saya, sudah ikhlaslah. Untuk saat ini saya absen dulu ke Haji Zein. Selain menunggu lama, tengah malam dan bawa si bontot, mungkin nanti ada waktunya ke sana lagi.

Mentemen yang ingin ke Haji Zein dan ada masalah dengan syaraf, silahkan dicoba. Banyak pula yang berhasil asal sabar dan ihktiar. Artis-artis banyak juga kok yang jadi langganan, tapi tentunya ngga kayak orang bisa menunggu rame-rame.

Untuk pasien istimewa biasanya Haji Zein menyediakan waktu khusus. Atau mendatangi rumahnya di kawasan Prapanca dengan membayar Rp 350 ribu. Di sana kabarnya nggak antri dan menunggu lama. Si Suami awal berobat ke Prapanca, karena merasa enak diapun mendatangi Ki Santri. Insya Allah, ikhtiar aja.

Semoga tulisan ini bermanfaat ya.

AAL

8 comments:

  1. Salam kenal Mba.
    Mba, ini Haji Zeinnya yg backgroundnnya seorang TNI bukan?

    Btw, ini alamatnya dimana mba tepatnya? Anak saya juga punya masalah di syaraf

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo soal background aku nggak tahu mbak, alamatnya di kawasan bekasi, di google ada. Dia udah terkenal, semoga anaknya cepet sembuh ya mbak, amin

      Delete
    2. Alamat nya di parpostel raya jati asih padepokan kisantrie

      Delete
  2. Jadi penasaran pengen kesana juga!

    ReplyDelete
  3. Terima kasih ya mba tulisan pengalamannya. Semoga mba dan suami selalu sehat ya. Smeoga ini iktiar untuk mendapat kesembuhan total ya. Aamin

    ReplyDelete
  4. HI, mau tanya untuk yang di Prapanca hari minggu ada? Apakah ada nomor telp? Suami saya ada masalah syaraf tulang belakang.

    ReplyDelete