(REVIEW) Fim Warkop DKI Reborn Jangkrik Bos, Puaskan Rindu Legenda Komedi



Akhir pekan lalu, saya diundang oleh operator Three (3) untuk menonton film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Bos Part 1. Ketiga pemainnya juga muncul, Abimana Aryastya (Dono), Vino G Bastian (Kasino) dan Tora Sudiro (Indro). Film yang disutradarai Anggi Umbara ini bisa dibilang sebagai pelepas rindu penggemar film Warkop yang saat ini masih suka tayang di televisi.


Film ini ceritanya juga simple menurut saya. Namanya film komedi, di mana-mana pasti pemeran utamanya kebanyakan sial. Mereka bukan superhero bro, mereka komedian yang harus bergaya tolol dan sial untuk memancing tawa. Iyakan? Coba aja liat film-filmnya Ben Stiller, Adam Sandler, Eddie Murphy dan masih banyak lagi. 

Nah, sama kayak Warkop DKI Reborn ini. Keliatannya sial terus, padahal mereka CHIPS, setara dengan polisi. Dan mereka sadar kalau mereka selalu sial. Tengok adegan dialog ini ketika mereka diminta menangkap begal motor oleh bosnya. "Kita kerjaan biasa aja nggak selesai bos, apalagi menangkap begal," kata Dono.

Namanya mereka sadar ya nggak bisa diandelin. Dan benar saja. 

Film Warkop DKI nggak sah kalau nggak ada wanita seksi. Tapi menurut saya, si Anggi Umbara ini terlalu berlebihan menampilkan sosok wanita seksi. Kayaknya maksain, yang penting ada cewek seksi, mau  nyambung mau nggak. Coba seandainya peran Nikita Mirzani dipanjangin, nggak cuma sebagai tempelan. Misalnya, Nikita ikut ke Kuala Lumpur dengan gayanya yang lenje dan manja itu, pasti lucu.

Saya tadinya membayangkan, Warkop's Angel itu muncul, seperti Nurul Arifin, Meriam Bellina, Lidya Kandao, meski hanya cameo. Saya menuntut mereka muncul di Part 2. Harus ada! Titik! (Lho, maksaa).


FIlm-film Warkop itu jumlahnya sudah puluhan. Dari genre horor, drama, action semua dimasukin dan menjadi legenda. Nah, si Anggi kalau menurut saya lagi-lagi kebingungan nih. Awalnya film itu berjalan sesuai "fitrahnya", drama komedi. Kenapa tiba-tiba ada horornya ketika wajah si Ingrid Widjanarko bisa dilepas dan ketuker dengan Hengky Solaeman  yang jadi suaminya. Absurd.

Mungkin dipikir, kalau film komedi apa saja sah, mau masukin horor kek, action kek, nggak boleh ada yang complain. Oke deh kalau memang begitu maunya.

Lalu bagaimana soal cast? Menurut saya di antara semua pemain, yang menjurus mirip itu si ganteng Abimana. Nggak kebayangkan, muka ganteng Abimana yang ditunjang indo-indo apalah bisa berubah jadi Dono. Giginya yang ke depan serta sisiran rambutnya yang disesuaikan dengan Dono asli. Belum lagi gesture tubuhnya, cara bicara dan jemari kedua tangan khas Dono ditiru oleh Abimana. Tapi perutnya menganggu yaa.


Lalu si ganteng satunya lagi, pahmud (papah  muda) Vino G Bastian. Melihat aktingnya Vino sebagai Kasino, pikiran saya melayang kepada semua film Warkop, apakah Kasino seceriwis itu? Perasaan, sepanjang film lebih banyak suara Vino yang terdengar. 

Lalu Tora Sudiro. Nah, Tora sebagai Indro dengan logat Batak, kayaknya ini peran "biasa" untuk Tora, peran gampil (gampang). Karena yang saya lihat, di film itu Tora jadi dirinya sendiri, dia nggak akting. Dan Tora udah sering berperan dengan logat Batak seperti itu.

Untuk menjadi hiburan dan pelepas rindu bolehlah, lumayan meski ceritanya pendek dan penonton harus menunggu Part 2. Semoga Part 2 lebih baik dan lebih lucu juga lebih greget. Seneng sih, film Indonesia sekarang mampu meraup penonton sampai jutaan. Bravo Film Indonesia! 


AAL