Untuk Blogger, Tip Kece Menghasilkan Foto yang Indah #blogger


Memposting sebuah artikel lengkap dengan foto ke blog seperti sebuah kewajiban. Tak heran, jika seorang blogger menenteng kamera atau handphone lengkap dengan aplikasi foto yang canggih di dalam gadgetnya.

Bagi fotografer amatir, terutama blogger, bisa menghasilkan foto yang indah jika kita mengerti angle yang tepat. Apa saja yang perlu diperhatikan? Ada tip dari Diana Rikasari, seorang fashion blogger yang selalu berhasil mendapatkan ribuan love dari unggahan foto di akun instagram-nya membocorkan beberapa triknya, jika kita memotret kopi. Tapi tips ini bisa dipraktekkan dengan subjek yang lain.

Foto Tampak Samping 
"Foto dari samping fungsingya untuk memperlihatkan bagian dalam," kata dia, Selasa, 26 April 2016. Ia menjelaskan teknik seperti ini pas untuk memperlihatkan layer-layer yang dimiliki segelas cappuccino, misalnya. "Jadi layer-layer-nya bisa kelihatan."

Hand's in Frame (Personal) 
Ia mencontohkan sebuah foto kopi yang tampak dari atas. "Bisa masukkan elemen yang lebih personal misalnya jurnal, pulpen, hp, majalah, atau laptop. Dan, jangan lupa tunjukkan tangan dalam frame," katanya. Foto ini menunjukkan sisi kepribadian seseorang.

Menurut pengarang buku Go Out There and Explore ini, teknik ini sangat disukai. Ia juga menyarankan agar menanbahkan hashtag #handsinframe pada jenis foto ini.

Selain memberikan kesan personal, teknik hand's in frame juga dapat memberikan kesan kekompakan atau kebersamaan. Ia memberi contoh sebuah foto beberapa tangan sedang memegang cangkir kopi. Angel foto tersebut diambil dari atas.

Kesan artistik
Seorang fotografer amatir juga bisa menciptakan foto yang tetlihat artistik. "Misalnya, foto kopi dengan angle dari atas lalu taburkan bubuk kopi atau gula disekilingnya," kata dia.

Beri sentuhan fesyen
"Aku suka kalau menampilkan sebuah foto, misalnya secangkir kopi, dan menambahkan detail barang fashion," katanya. Sejumlah aksesori seperto kaca mata, dompet, tas bisa ikut ditampilkan dalam foto.

Beri sentuhan warna
Terkadang memotret secangkir kopi bisa tampak membosankan karena warnanya yang monoton yakni hitam atau coklat. "Kalau kopi doanh kan hitam atau coklat, jadi bisa tambah warna di sebelahnya misalnya tambahkan aksen buah-buahan supaya seger," tutup dia.


(REVIEW) Film Spotlight, Ketika Pastur Menjadi 'tuhan'


Menonton film Spotlight jadi bisa melihat bagaimana cara kerja wartawan sesungguhnya. Investigasi mencari nara sumber yang kompeten dengan kasus, digencet orang kuat tapi tetap idealis memberitakan kasus penting.

Film dibuka pada 1976, ketika sekelompok polisi melakukan interogasi kepada seorang pastur, ada dua anak kecil terlihat. Lalu cerita bergulir ke tahun 2001, ketika Koran The Boston Globe memiliki editor baru, Marty Baron yang meminta tim Spotlight, ini sebutan untuk tim investigasi di koran tersebut. Tim SPotlight yang terdiri dari empat orang itu diminta untuk menyelidiki kasus lama yakni tuduhan terhadap Pastur John Geoghan yang menganiaya dan melakukan pelecehan seksual terhadap 80 anak laki-laki.

Dipimpin oleh Editor Walter "Robby" Robinson (Michael Keaton), para timnya, Michael Rezendes (Mark Ruffalo), Matt Carroll dan Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams) yang  mencoba untuk membuka segel dokumen sensitif. Para wartawan membuat misi untuk memberikan bukti jelas jika pelecehan para pastur itu diketahui oleh  Gereja Katolik Roma.

Penyelidikan makin dalam dan membuahkan hasil mengejutkan, ternyata terdapat 90 pastur di Boston yang melakukan pelecehan terhadap anak-anak. Tragisnya, banyak orang yang mengetahui tapi hanya diam tanpa bertindak. Dan kasus tersebut sempat membuat geger dunia tentang kenyataan yang selama ini ditutupi oleh jemaat dan gereja dengan orientasi seksual para pastur.


"Aku jadi malas ke gereja ketika mengetahui hal ini," kata Robby berbicara dengan Michael dan Sacha.

Dialog yang bikin nyess, ketika salah satu korban menceritakan tragedi itu ketika usianya masih 12 tahun. "Bagaimana reaksimu jika seorang pastur datang kepadamu dan menyayangimu serta memberimu perlindungan. Rasanya seperti tuhan yang datang dan tak bisa menolak apa yang diminta tuhan."

Menonton film Spotlight yang keluar sebagai Film Terbaik di Academy Awards 2016 ini yang menarik hanya dari segi cerita. Semua yang menonton pasti tak mengira dengan kenyataan tersebut hingga diangkat ke film.

Di pertengahan film terasa membosankan. Tapi kita ingin terus menonton bagaimana cerita itu bergulir hingga akhir. Bagaimana keterlibatan pengacara yang mengetahui kebenaran tapi lebih membela pastur. Selain itu, ada pola tertentu dari korban, yakni anak-anak miskin yang tidak memiliki ayah.


Bicara soal para pemainnya , mereka berakting standar, satu pun tidak ada yang menonjol. Wajar jika film yang disutradarai Tom McCarthy hanya mendapatkan dua Oscar untuk Film Terbaik dan Best Orignal Screenplay dari enam nominasi. Dari film ini, dunia bisa tahu bagaimana kisah sebenarnya.

ALIA F





Baby F Mulai Susah Makan


Punya anak susah makan, pasti bikin pusing. Apalagi kalau anak bayi yang belum bisa ngomong, hopeless rasanya. Seperti Baby F yang sekarang sudah berusia 15 bulan. Banyak yang bilang, anak di usia segitu memang sedang susah makan, karena dia sedang explorasi lingkungan dan mulai bisa berjalan.

Tapi seperti yang saya amati, Fatih bukan susah makan, tapi pemilih, terutama soal rasa. Saya juga bingung apa penyebabnya. Pasalnya, makanan Fatih saya berikan perasa (garam) setelah 12 bulan, sebelumnya dia hanya mengenal rasa alami makanannya. Sama seperti kedua abangnya dulu.

Sekitar sejak dua minggu lalu, Fatih nggak mau makan nasi. Jika saya suapin, mulutnya ditutup serapat mungkin dan kepalanya melengos. Dia juga akan melihat bentuk makanannya, kalau dia tidak kenal, dia tak akan mau sambil dahinya berkerut. Sangat susah, saya putar otak,  makanan apa yang dia suka. Tapi lucunya, jika melihat roti dia langsung mengangguk, "mau..mamam.." Dia tak pernah menolak roti. Tapi saya merasa dia harus makan nasi, karbohidrat, meski memang karbo tidak hanya didapat dari nasi, bisa juga kentang, ubi, roti, gandum atau cereal.

Suatu hari saya iseng membuat lontong isi khusus untuk Fatih. Sebelumnya saya tidak pernah membuat lontong isi, kebetulan waktu itu sudah saatnya jam makan. Nasi saya giles jadi lembek dan halus (nasi di alasi plastik lalu dilembekkan dengan botol kaca), lalu saya beri isi campuran wortel dan ikan, (caranya: tumis bawang merah dan putih, lalu saya masukin wortel sampai lembek lalu ikan, beri sedikit kecap, garam dan air). Saya taruh di daun lalu di kukus! Alhamdulillah, Fatih doyan! Kayaknya lega banget.

Tapi itu hanya sementara ibu-ibu, dia mulai bosan, menolak lontong. Lalu saya buat makaroni skotel kukus (kalau panggang keras), sengaja saya beri keju lebih banyak. Dia mau, tapi hanya sedikit lalu bosan lagi. Benar-benar hopeless bukan?

Untungnya Fatih suka tahu. Jadi saya beri tahu dan diselipkan nasi. Kadang, tahu dihaluskan dicampur dengan telor kocok lepas, beri garam dan di orak-arik di teflon, dia suka. Atau saya masak sop, biasanya tanpa kentang. Kini, sengaja sop saya pakai kentang khusus untuk Fatih dan dia suka meski tidak banyak. Uniknya, Fatih mau makan jika disuapi dengan tangan, jika dengan sendok dia emoh makan. Bisa dibayangkan, bayi bontot ini jarang makan diberi kuah.

Anehnya, jika bepergian, misal ke mal, Fatih mau aja makan, apa aja dikasih dia akan menganga. Bikin bingung tingkat dewa emaknya ini. Nggak mungkin saya bawa dia ke mal tiga kali sehari hanya untuk makan. Nanti kayak Tina Toon. (promo buku tulisanku sis, Tina: Metamorfosis seorang Tina Toon). Dia gendut waktu kecil karena dibawa ke mal sehari tiga kali sama oma karena susah makan. 

Agar kebutuhan gizinya terpenuhi, saya beri Fatih madu isi kurma atau vitamin madu. Sedangkan buah bisa dari pisang, buah naga, alpukat, pepaya dan buah lainnya. Selain itu, intesitas menyusui jadi lebih banyak agar dia tidak kelaparan.

Mungkin moms ada masalah yang sama dengan saya, kita bisa sharing di bagian komentar ya. Saya masih bingung, makanan apalagi yang akan diberikan ke Fatih.

Warm Regards
EmakBingung

Blogger v Wartawan, Mana yang Paling Eksis sekarang?


Sudah lama saya punya blog, tepatnya sejak ada Friendster, saya termasuk rajin mengisi blog. Curhat apa saja, sebagai pengganti diary yang biasa saya tulis sejak SD. Friendster wafat, saya tak hilang minat untuk terus curhat di dunia maya. Saya membuat blog lagi, di blogspot pada 2009 (www.aalfree.blogspot.com. Tapi terhenti sejak 2012, karena sibuk liputan dan deadline. Isinya nggak jauh berbeda dengan blog ini tentang dunia artis, karena memang, saya terus berkecimpung di dunia entertainment. Lalu merasa perlu eksis di dunia maya, saya iseng punya blog lagi di Kompasiana (www.kompasiana.com/aliafathiyah dan juga punya blog di wordpress (www.aliafathiyah.wordpress.com

Nah, saya mulai serius mau jadi blogger beneran pas setahun lalu, ketika saya punya baby lagi dan ingin jadi freelancer ajah. Sebenarnya, udah serius mau kelola yang wordpress, tapi ada seorang teman yang bikin saya jadi labil, kalau blogspot itu punya google, jadi lebih 'ramah' untuk ditemu di mesin pencari. Alhasil, saya punya www.surafatih.blogspot.com (yang diambil dari ketiga nama kiddos) ini, dan wordpress sudah jarang saya sentuh, meski pengunjungnya tetap banyak dan setia.

Saya baru sadar beberapa bulan ini kalau jadi blogger itu bisa menghasilkan uang. Sekarang banyak perusahaan yang mengundang blogger untuk minta ditulis event dan produknya. Tapi sayang, blogger sepertinya belum terdengar familiar oleh banyak orang. Terbukti, di beberapa event yang pernah saya datangi, kebanyakan ditulis, pressconference atau jumpa pers. Bukan bloggerconference atau jumpa blogger. Jadi blogger ini nebeng acara sama wartawan, tidak punya event sendiri tanpa embel-embel wartawan. Padahal, jaman sekarang, yang semuanya serba internet, blogger itu banyak memiliki peran penting untuk sebuah produk makin dikenal masyarakat.

Nih, sedikit saya rangkum perbedaan wartawan dengan blogger.

1. Wartawan datang ke sebuah acara karena diundang dan ditugaskan oleh kantornya. Sedangkan blogger datang, karena menilai event itu penting dan bermanfaat untuk ditulis dalam blog nya.

2. Wartawan menulis sebuah event bukan produknya. Belajar dari pengalaman saya yang menjadi jurnalis selama belasan tahun, kantor akan mengedit tulisan reporternya jika menulis soal produknya.
"Kalau mau ditulis produk, suruh mereka beriklan di sini," kata bos saya waktu itu. Tau dong, iklan harganya berapa kalau dimuat di media, puluhan, ratusan juta bahkan bisa miliaran.
Sedangkan blogger, dengan sukacita dan senang hati (ini tentu diharapkan bisa menjalin kerjasama jangka panjang dengan blogger dan pemilik produk itu) menulisnya. Sampai foto dan keterangan dengan jelas sekali.

3. Di beberapa media, wartawan diharamkan menerima amplop alias uang transport. Karena biasanya, mereka transport akan diganti oleh kantor. Sedangkan blogger 'wajib dan harus' menerima transport. Bukannya mata duitan, kita sebagai blogger mencoba realistis. Untuk datang ke sebuah acara butuh uang transport yang nggak sedikit, belum luangkan waktu. Jadi, untuk para penyelenggara acara yang mengundang blogger, lebih baik memberikan transpot dengan jumlah yang masuk akal deh. Coba bayangkan, jika beriklan di media, mau habis ratusan juta?

4. Wartawan memiliki kaidah jurnalistik, kode etik dan undang-undang press. Meski blogger tidak punya itu, dari blogger pribadi, tentu ada tanggung jawab moral dan sosial dalam menyiarkan sebuah tulisan atau artikel. Kebanyakan blogger yang saya kenal, isinya sangat bermanfaat kok.

5. Wartawan dilarang copy paste berita, atau wawancara imajiner. Artinya, wartawan tidak boleh menulis sebuah berita tanpa cover both side. Tanpa ada konfirmasi dari kedua belah pihak. Ujung-ujungnya bisa ada laporan ke polisi. Kalau blogger sepertinya sah-sah saja mengambil berita dari copy paste. Apalagi kalau blog itu bukan berisi curhatan, tapi lebih kepada tips.

Para blogger yang datang ke acara press conference biasanya dicurigai sebagai bodrek. Taukan bodrek, itu obat sakit kepala. Hehehe, bodrek itu sebutan orang yang ngaku jadi wartawan tapi nggak ada media, cuma mau duit transpotnya atau gudibeknya.

Biasanya, di lingkup wartawan itu, satu sama lain sudah saling mengenal. Coba perhatikan jika blogger datang ke sebuah event, mereka , para wartawan, biasanya mengusai acara (wkwkwkw yaiyalaaa namanya aja pressconferen bukan blogger conference). Jadi jika ada wajah baru, yang ternyata itu blogger, mereka akan mengira blogger itu bodrek. Tapi sepertinya, belakangan blogger sudah diakui dan diterima di acara-acara wartawan ya.

Jadi Blogger
Sejak jadi blogger, saya senang masuk ke dunia baru meski sedikit tak jauh berbeda dengan wartawan. Saya juga masuk ke beberapa komunitas blogger, untuk mengetahui bagaimana cara kerja mereka, pertemanan dan lainnya. Saya kagum juga, banyak blogger yang tulisannya sangat bagus dan tertata, belum lagi hadiah yang sering mereka terima. Menang lomba blog, dapat review atau endorse produk atau jadi buzzer.

Sejak dikenal jadi blogger, ada juga yang minta ditulis produknya di blog saya. Kalau ada teman yang minta tolong, saya biasanya suka nggak tega. Toh, isinya juga berupa informasi yang bermanfaat. Nggak ada salahnya saya tulis. Saya mencoba menjadi blogger yang supel, santai, luwes, nggak kotak-kotakin sebuah produk. Jadi siapa saja bisa saya tulis, selama memang produk itu bermanfaat dan informatif.

Saya nggak mau dibilang blog saya khusus gadget misalnya, atau khusus fashion, atau makanan, nggak. Saya ingin blog saya warna warni. Toh, dengan banyaknya produk dan tema bebas, saya jadi tahu lebih banyak. Wawasan jadi bertambah.

Saya pernah masuk ke sebuah komunitas. Langsung di terima komunitas terbatas untuk blogger itu. Nyaris tiap hari ada undangan untuk blogger, dan saya selalu nggak pernah kepilih karena telat daftar. Tiba-tiba, tanpa konfirmasi atau teguran, saya di banned, blog saya di block. Saya pikir gini, "elo baru juga jadi blogger belagu amat pake banned orang, nggak pake teguran lagi." Ego wartawan saya muncul saat itu.

Mungkin karena terbawa pekerjaan, saya penasaran untuk mengetahui sebab musabab sebuah kasus, saya cari informasi kenapa di banned. Saya complain di web mereka, saya tanya ke blogger di komunitas itu, siapa adminnya dan nggak lama pertanyaan saya dibalas via email. Alasannya, nggak jelas.  Mereka janji mau masukin saya ke komunitas lagi meski sampai sekarang tidak ada. I don't give a shit. Toh, bukan mereka doang yang punya komunitas blogger, maaf-maaf saja kalau saya sampai begging untuk masuk ke komunitas mereka. Nggak profesional itu, padahal tagline nya kelihatan banget ngemong sesama blogger.

Lomba Blog
Saya mungkin tergolong orang yang tidak suka bersaing. Saya baru sekali ikut kompetisi blog, soal sepatu anak JD Kids dengan Blibli.com. Itu karena baby saya memang sedang baru bisa jalan, jadi itu berdasarkan pengalaman sendiri. Saya nggak menang, heheheh.

Untuk ikut lomba blog biasanya saya lihat dulu apa hadiahnya, worth it gak, gede gak, atau cuma vocer belanja ratusan ribu rupiah. Bukannya belagu. selama jadi wartawan saya kenyang dapat dorprize vocher, televisi atau gadget atau liburan ke luar kota. Jadi, jika ingin ikut lomba saya melihat dulu, apakah persaingan itu pantas saya perjuangkan atau tidak dari hadiahnya. Sebagai seorang banci jalan, saya lebih tertarik ikut lomba blog  jika hadiahnya jalan-jalan keliling Eropa misalnya, hhihihi ngimmppiiii.

Oke sekian dulu, jika ada tambahan, monngo di bagian komentar.

Salam
AAL