Wednesday, April 20, 2016

(REVIEW) Film Spotlight, Ketika Pastur Menjadi 'tuhan'


Menonton film Spotlight jadi bisa melihat bagaimana cara kerja wartawan sesungguhnya. Investigasi mencari nara sumber yang kompeten dengan kasus, digencet orang kuat tapi tetap idealis memberitakan kasus penting.

Film dibuka pada 1976, ketika sekelompok polisi melakukan interogasi kepada seorang pastur, ada dua anak kecil terlihat. Lalu cerita bergulir ke tahun 2001, ketika Koran The Boston Globe memiliki editor baru, Marty Baron yang meminta tim Spotlight, ini sebutan untuk tim investigasi di koran tersebut. Tim SPotlight yang terdiri dari empat orang itu diminta untuk menyelidiki kasus lama yakni tuduhan terhadap Pastur John Geoghan yang menganiaya dan melakukan pelecehan seksual terhadap 80 anak laki-laki.

Dipimpin oleh Editor Walter "Robby" Robinson (Michael Keaton), para timnya, Michael Rezendes (Mark Ruffalo), Matt Carroll dan Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams) yang  mencoba untuk membuka segel dokumen sensitif. Para wartawan membuat misi untuk memberikan bukti jelas jika pelecehan para pastur itu diketahui oleh  Gereja Katolik Roma.

Penyelidikan makin dalam dan membuahkan hasil mengejutkan, ternyata terdapat 90 pastur di Boston yang melakukan pelecehan terhadap anak-anak. Tragisnya, banyak orang yang mengetahui tapi hanya diam tanpa bertindak. Dan kasus tersebut sempat membuat geger dunia tentang kenyataan yang selama ini ditutupi oleh jemaat dan gereja dengan orientasi seksual para pastur.


"Aku jadi malas ke gereja ketika mengetahui hal ini," kata Robby berbicara dengan Michael dan Sacha.

Dialog yang bikin nyess, ketika salah satu korban menceritakan tragedi itu ketika usianya masih 12 tahun. "Bagaimana reaksimu jika seorang pastur datang kepadamu dan menyayangimu serta memberimu perlindungan. Rasanya seperti tuhan yang datang dan tak bisa menolak apa yang diminta tuhan."

Menonton film Spotlight yang keluar sebagai Film Terbaik di Academy Awards 2016 ini yang menarik hanya dari segi cerita. Semua yang menonton pasti tak mengira dengan kenyataan tersebut hingga diangkat ke film.

Di pertengahan film terasa membosankan. Tapi kita ingin terus menonton bagaimana cerita itu bergulir hingga akhir. Bagaimana keterlibatan pengacara yang mengetahui kebenaran tapi lebih membela pastur. Selain itu, ada pola tertentu dari korban, yakni anak-anak miskin yang tidak memiliki ayah.


Bicara soal para pemainnya , mereka berakting standar, satu pun tidak ada yang menonjol. Wajar jika film yang disutradarai Tom McCarthy hanya mendapatkan dua Oscar untuk Film Terbaik dan Best Orignal Screenplay dari enam nominasi. Dari film ini, dunia bisa tahu bagaimana kisah sebenarnya.

ALIA F





0 komentar:

Post a Comment