Ada yang Nyebelin? Ini Cara Berdamai dengan Diri Sendiri ala Aal

foto: Google
Assalamualaikum..

Ini hari perdana saya ikutan ODOP018 (one day one post) yang diadakan oleh komunitas Indonesian Social Blogpreneur (ISB). Tantangan banget dan saya serasa dipecut supaya jadi rajin isi blog. Selama 2 minggu saya mencoba konsisten untuk mengisinya, di blog yang ini dan satunya lagi (www.aliafathiyah.wordpress.com)

Lalu temanya adalah,

Bagaimana caranya berdamai dengan diri sendiri ketika kesal dengan seseorang dan tidak terjadi kebencian?

Baca juga: Cara Daftar Haji di Kabupaten Tangerang

Saya selalu berusaha melihat tiap manusia itu unik. Bisa dibilang saya tipe orang yang bisa (semoga) menerima pandangan, pikiran dan kritik serta saran orang lain yang berbeda. Bebaslah orang mau ngapain aja, yang penting jangan rese sama gue, begitu prinsip saya. Hehehehe

Yang namanya bersosialisasi, tentu kita menemukan banyak karakter orang yang suka seenaknya. Biasanya, jika saya menemukan karakter orang yang nggak cocok, saya langsung deh ambil jarak. Itu terjadi setelah beberapa kali ketemu, jalan bareng atau komunikasi. Alhamdulilah, saya dikasih Allah insting yang lumayan ketika interaksi dengan seseorang. Jika perasaan ini bawaan nggak nyaman aja deket orang itu, itu tandanya dia ada 'perasaan' beda ke saya. Dan benar saja, nggak lama masuk ke kuping kalau dia ngomongin saya di belakang.

Saya mah sebenarnya nggak mau perduli, soal orang ngomongin saya di belakang. Itu urusan dia sendiri, dia ini yang dosa ngomongin gue, malah dosa gue makin berkurang karena diomongin, hihihihi. ( kesannya egp banget yakss).

Yup. Nggak sedikit yang bilang saya orangnya cuek. Dalam artian bukan cuek nggak ada empati sama orang. Wah, saya mah malah paling nggak tega kalau ada orang yang susah, biasanya yang tau 'aslinya' saya ini sahabat yang kenal saya belasan tahun.

Saya cuek sama orang yang rese.

Dari berberapa pengalaman yang nyebelin, dan akhirnya ada yang jadi putus pertemanan atau nggak bicara samsek (baca: sama sekali), saya pilih cerita satu ini.

Jadi gini, yang namanya di lingkungan kerja, ada aja yang sirik kan. Apalagi saya, kerja sebagai wartawan yang selalu menghabiskan waktu di lapangan ketemu banyak wartawan lain dari media berbeda. Di antara mereka tentu ada yang merasa cocok dan berteman ikrib. Sama yang ikrib ini pada akhirnya berteman yang menjurus sahabat. (saya akan bilang sahabat ketika kita konsisten berteman secara baik, kontinyu komunikasi dan sudah saling curhat selama bertahun-tahun. Alhamdulillah sampai sekarang sahabat dari SD, SMP, SMA dan kuliah masih ada).

Nah, ada nih satu wartawan cewek. Menurut saya sih orangnya asik, kalau cerita seru, link nya menakjubkan. Nyaris semua artis musik dan film dia kenal, produser, sutradara, petinggi terkait dengan liputan, dia akrab. Cerdas, pinter, alhasil kerja jadi bos terus di kantornya. Selalu mendapatkan kesempatan liputan ke luar negri terus, karena link nya bagus.

Awalnya saya ikrib dengan dia. Liputan bareng, sering ngobrol, entah kenapa lama kelamaan berasa nggak nyaman. Dia nge-bossy, nyuruh-nyuruh kesannya saya orang bagian disuruh, dan dia mengatur saya ini dan itu. Ketika alarm di badan gue berbunyi tanda ketidaknyamanan, itu artinya saya harus menjauh.

Perlahan tapi pasti saya menjauh. Entah salah apa, tetiba banyak aja masuk ke kuping kalau dia ngomongin saya di belakang. Kalau saya bikin status di Facebook, komentarnya sering nyelekit. Kesannya dia yang paling pintar, paling bener (manusia itu tempatnya salah, yang benar dan sempurna itu hanya Allah SWT) lalu membandingkan dengan yang lain. Saya itu nggak mau bikin hati ini rusak karena satu orang, akhirnya saya unfriend dia dari list FB. Males bangetkan hari-hari jadi bete gegara baca komen dia di FB. Yegak.

Buat saya, kita sebagai manusia, sangat punya pilihan, hidup seperti apa yang kita inginkan. Teman seperti apa yang ada di lingkungan kita. Jangan karena nggak enak, atau takut nggak ada teman lagi, kita tersiksa berteman dengan dia. Wah, kasian banget kalau ada yang kayak gitu. Masih banyak orang lain yang baik dan mau berteman dengan kita di luar sana. Setuju yes?

Pandangan saya itu mungkin terkait dengan masa kecil saya yang bisa dibilang mandiri ya, prinsip nggak mau tergantung orang lain. Jadi ketika besar, saya nggak mau tuh ada di lingkungan pertemanan yang nge-gank, kesannya kita paling baik, genk lainnya nggak. Semua orang punya kelebihan, jadi jangan remehkan kemampuan orang lain. (Udah kayak motivator belom?).

Balik ke sini.

Nah, saya masih sering sih ketemu dia di liputan, dia udah dapet temen genk baru, pokoke paling happening karena bisa dekat dengan artis terkenal, (sekarang justru mantan temen-temen dia menjauh dan semua buka kartu soal dia dulu hohohoh).

Genks, sebenarnya saya mau lupain ini lho. Tapi nggak apalah untuk jadi pelajaran, siapa tahu ada yang senasib sama saya yes.

Dunia wartawan itukan kecil ya. 4L: lo lagi lo lagi. Mau pindah desk liputan, mau pindah arah liputan, tetap aja ketemu itu lagi-lagi. Nah, pada suatu ketika, seorang produser musik yang kondang menggelar pengajian khusus untuk wartawan dan artis.

Tiap jumat malam, semua wartawan hiburan kumpul, juga banyak musisi terkenal macam Ahmad Dhani, Armand Maulana, Maia Estianty (dulu blom cerai), Ikang Fauzi, Ussy Sulistyawati, Ari Lasso, dan masih banyak lagi.

Setelah ngaji berjalan lama, produser itu memberikan 15 wartawan untuk umroh gratis (hebat ya, sayangnya sekarang nggak ada lagi pengajian). Nah, dia nih yang memang dekat banget sama si produser kebagian memilih wartawan untuk umroh. Dan sudah bisa ditebak, dia melewati saya. Padahal, banyak yang ngomong, tadinya saya masuk list.

Sudahlah, itukan tergantung dari rejeki dan amal solehah masing-masing orang. Hahahaha, jadi amal saya masih belum cukup.

Itu baru kasus pertama. Ada lagi nih kasus kedua.

Sebuah production house (PH) ternama kerjasama dengan sebuah film religi besar. Saat itu si PH membuat kuis di mana pemenangnya akan pergi umroh gratis. Untuk acara tersebut tersebar ke masyarakat, tentunya harus ada wartawan yang ikut umroh sekalian meliput serta dimuat di medianya. Lalu keluarlah dua nama, saya dan teman saya lainnya.

Entah kenapa humas PH malah diskusi sama dia, dan bertanya siapa yang enak diajak umroh. Bisa ketebak kan jawabannya apa?

Saya dapat info ini langsung dari temen saya yang akan diajak umroh itu. Saya cuma tertawa dan kasiah sih, kenapa dia segitu bencinya sama gue? Dosa gue apa coba sama dia? Yang bikin kesel, dia pakai ngejelekin saya di depan humas PH itu. "Aal gini orangnya..aal tuh suka begitu lho.. bla bla blaaa..."

Tapi Allah Maha Adil sodara-sodaraku sebangsa dan setanah air.

Pada suatu hari yang cerah, Alhamdulillah nama saya keluar sebagai penerima umroh gratis dari kantor. Masya Allah saya bersyukur, impact orang dizolimi. Selain umroh, saya juga dapat uang saku dari seseorang yang jumlahnya fantastis. Bersyukur berkali-kali.

Semoga teman saya ini bisa menemukan seorang sahabat, yang benar-benar sahabat, yang bisa membuatnya intropeksi.

Dia tetap dengan kehidupannya yang menyenangkan, banyak link, banyak uang, kerjaan beres, tapi gue yakin di dalam hatinya yang paling dalam dia kesepian. Nggak ada sahabat dan nggak ada keluarga.

Tips :
1. Jika tidak nyaman dengan seseorang dan telah melihat kebanyakan ruginya, mending menjauh dari orang itu.
2. Jangan terperangkap dengan seseorang yang merugikan diri kita sendiri.
3. Jika ada yang menzolimi, doakan kalau orang itu bakal mendapatkan yang dia inginkan
4. Sendiri itu bukan berarti tidak ada teman
5. Doa orang dizolimi itu langsung diijabah lho sama Allah SWT.

Note: Maaf ya yang berasa sama tulisan gue ini, nggak ada maksud apa-apa, ini sebagai share pengalaman aja ke orang lain.  No hard feeling to anyone. Peace.

Semoga bermanfaat

AAL


18 comments

  1. alhamdulillaaah rejeki gak kemanaaaa

    ReplyDelete
  2. Mbak Alia berani banget, mengunfriends rekan sekerja. Klo aku cemen mbak,paling banter unfol Huahahahaha. Tapi bener ya mbak klo rejeki ga akan kemana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe, daripada bawaan kita kesel terus, mending unfriend aja sekalian, sebagai tanda kalau kita emoh berteman sama dia, hahahah makasih udah mampir

      Delete
  3. Keren niy, banyak hikmahnya ya dari kejadian di atas, toh rezeki mah ga akan kemana dedh.

    Btw Mba ALia, salam kenaal..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, rezeki udah Allah yang atur ya, salam kenal juga mak

      Delete
  4. Yup Mba, sekarang saya juga sedang rajin mengeliminasi hal-hal yang bisa merugikan diri sendiri demi kesehatan jiwa raga.
    Dari kesabaran memunculkan banyak hikmah ya Mba :)

    ReplyDelete
  5. Iyup, saya juga pilih-pilih nich dalam bersikap dengan orang yang kemungkinan memiliki potensi meletupkan masalah. Bakal hati-hati dan lebih baik menghindar kalau ada hal yang berbeda pendapat, cari amanlah saya

    ReplyDelete
  6. Iya yah Mbak, antara orang yang suka beneran ama pura-pura sama kita itu berasa bedaa yah... kadang aku mikir, apa aku yang suudzon, tapi lambat laun bukti-bukti bakalan kelihatan

    ReplyDelete
  7. ini jadinya berdamai dengan diri sendiri atau menceritakan sosok yang di zholimi oleh orang yang populer ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehehe, dua-duanya boleh. Ralat mas, diamah gak populer, cuma pinter aja ngelobi hihihih

      Delete