Wednesday, August 2, 2017

Sisi Lain Tamar Djaja, Perintis Kemerdekaan, Penulis, Pejuang dan My First Love

Udah lama pingin menulis tentang kakek sendiri, Tamar Djaja. Kenapa beliau? Karena beliau adalah orang penting banget untuk saya, keluarga, dan tentu saja Indonesia (silahkan searching google ketika nama beliau). Saya mencoba mengupas dari sisi kenangan waktu kecil, mungkin ditulis untuk beberapa seri. Semoga mood ini terus bertahan membaik. Amin, doain.

Bangga. Ketika banyak yang mengapresiasi apak dengan tulisan di berbagai media. Bagaimana nggak, apak (biasa saya memanggil beliau), adalah seorang pahlawan tanpa nama, seorang pejuang dan perintis kemerdekaan Indonesia. Saya malah terkaget-kaget sendiri, ketika membaca tulisan mereka tentang apak, mereka lebih banyak tahu daripada saya, cucu kandungnya sendiri. Sedih. Kadang saya merasa sedih.

Meski sedih, tapi juga bangga. Karena dari semua keturunan apak, hanya saya satu-satunya yang juga menjadi penulis dan wartawan. Meski (tentunya), prestasi dan tulisan saya tidak sebagus beliau. Saya mah sapa atuh, nggak ada apa-apanya dibandingkan kakek tersayang itu.

Apak punya anak delapan, semuanya nggak ada yang menjadi penulis, nggak ada yang menjadi wartawan. Lalu apak punya cucu..(berapa yaa...hmm. ngitung dulu deh. Duh, nggak apal. Soalnya yang ada di Sungai Jariang, Padang belum terlacak radarnya nih, Lols). Semua cucu apak cuma saya yang suka menulis, yess.  


Selain dikenal sebagai penulis, wartawan, pejuang, pimpinan redaksi, sastrawan dan lainnya, apak itu sering banget ceramah agama di mana-mana. Apak seorang alim ulama. Kalau ceramah, dresscodenya kemeja plus jas, sarung, peci dan syal dililitkan di leher.

Saya termasuk sebentar mengenal apak. Apak wafat tahun 1984, ketika usia saya sekitar 9 tahun.
Jadi gini masa kecil saya bersama apak yang masih ada di dalam kenangan.


Jadi apak dan amak tinggal di sebuah rumah di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, rumah itu bisa dibilang rumah induk. Selain apak dan amak, yang tinggal di situ dua om saya yang belum menikah, ibu saya dengan 3 anaknya (termasuk saiah sodara-sodara) dan dua sepupu yang dititipkan di situ.
Kebayang ramainya rumah itukan. Yang saya ingat, hampir setiap hari apak selalu mengetik dengan mesin tiknya yang ditaruh di pojokan ruang tamu. Jadi ruang tamu yang lumayan gede itu, diisi dengan lemari buku, pojokan meja apak yang ada mesin tiknya.


Apak itu orang yang sabaaaaarrrrr bangeettt. Nggak pernah seumur-umur lihat apak marah dan berbicara dengan suara nada kencang dan tinggi. Apak kebanyakan diem, kalau ngomong seperlunya, dia hanya mengamati dari kursi goyangnya di depan TV. Setiap habis maghrib, apak pasti membaca Al Quran yang diberi seorang temannya, yang membuat Al Quran itu. Tebal dan berwarna kuning. Jika sudah khatam, apak akan menulis catatan di akhir lembaran Al Quran (gue jadi ikutan kayak gitu hehehe). Saya waktu kecil sampai berfikir apak itu mirip Nabi Muhammad, saking sabarnya. Dan apak adalah my ‘first love’(biasanya anak perempuan itu first love ke ayahnya sendiri, tapi gue ke kakek gue sendiri. Sorry pap, you are not my first love, Lolss). 

Apak itu suka nyeletuk pakai bahasa Padang yang lucu, bikin kita yang mendengarnya ngikik ketawa. Dan...(tapi sampai detik ini gue belum menemukan orang sesabar apak, entah kemana orang-orang sabar itu di jaman sekarang, udah punah kelles). 
 
Apak, amak, madang, kakek uban, kakek otista, kakek yan dan nyokap paling kecil dan cantik (kek gue)
Salah satu kesabaran apak itu adalah, ketika ada seekor kucing dengan tidak sopannya beranak di lemari buku apak. Iye benner, beranak itu kucing nggak pake ijin. Jadi buku-buku apak itu penuh dengan darah hasil beranaknya si kucing. Kebetulan kaca lemari bukunya udah ada yang pecah, jadi si kucing sering menyelinap bolak balik ke sana. Tapi reaksi apak biasa aja, nggak marah, nggak emosi. Dibersiin itu buku-buku yang ada darahnya sendiri tanpa nyuruh anaknya.

Kesabaran apak yang kedua adalah. Apak lagi serius ngetik di meja kerja. Gue yang waktu itu pengen banget jajan (namanya anak-anak boo), maksa dan merengek minta jajan.

Gue: Pak minta duit mau jajan. Cepek aja (kayak Pak Ogah minta cepek duluuu hehehe. Jaman dulu tahun 80-an, cepek itu gede lhooo.)

Apak: Nggak ada uang kecil

Gue: (maksa banget) Ada pak ntar kembalian.

Karena gue maksa, apak merogoh kantong dan keluarin duit seribuan, selembar. Gue jajan ngider warung di sekitar rumah, beneran nggak ada kembalian. Akhirnya pulang dibalikin duit seribu ke apak. Apak diem aja sambil terus ngetik, nggak bilang: “Benerkan nggak ada kembalian.” Hebatkan kakek gue.


Kesabaran apak ketiga:
Di rumah ada 5 anak kecil yang tengil bin bandel. Gue, abang dan adek gue yang laki serta dua sepupu gue yang cewek. Namanya kakek-kakek kalau tidur mulut menganga dong, apalagi kalau udah kecapean. Kita nih, berlima, emang bener-bener deh jadi anak kecil. U know what, itu mulut apak kita masukin garem dan gula plus kopi sodara-sodara. Yes, garem, gula dan kopi ke dalam mulut apak yang menganga, sambil cekikikan. Pas udah dimasukin gula garem kopi, kita kabur lari keluar rumah. Tetep sambil cekikikan. Pas pulang nggak dimarahin tuh.  Itu anak 80-an lhooo, kalah anak jaman sekarangkan.. Lolss

Apalagi ya, banyak banget sih kesabaran apak yang gue rasain.  Bersambung yess...

Sedikit Profil Tamar Djaja:



Lahir di Sungai Jariang, Padang Sumatera Barat tahun 1913 dan wafat tahun 1984. Buku Rohana Kudus, pahlawan wanita asal Minang adalah buku pertama kali yang dibuat beliau. Juga ada buku Soekarno-Hatta, buku cerpen, buku-buku agama, buku politik dan kisah-kisah Nabi bahkan juga ada buku psikologis dan konsultasi: Tanya  Jawab Perkawinan dan Tuntutan Perkawinan& Rumah Tangga Islam.

Tulisan beliau sering muncul di majalah seperti Sabili, dll. 

Sejak 1930 mulai kegiatan menulis. Beliau aktif di gerakan pemuda dan partai politik. Gerakan pemuda Himpunan Pemuda Islam Indonesia (HPII), partai politik Persatuan Muslim Indonesia (PERMI), juga pernah menjadi anggota pengurus besar di keduanya. 

Tamar Djaja pernah menjadi pemimpin majalah HPII Pahlawan Muda dan majalah PERMI "Keris'' di Bukitinggi. Pada 1939-1949 mendirikan penerbit Penyiaran Ilmu di Bukitinggi. 1950-Memimpin majalah "Kursus Politik" bersama M Dalyono di Jakarta 1950-1953 Memimpin "Suara partai Masyumi" 1953-Memimpin "Mimbar Agama" Depatrtemen Agama 1954- Memimpim "Penuntun" Dep Agama 1957-Memimpin Daulah Islamiyah Ketua Umum Himpunan Pengarang Islam 1968 Perintis Kemerdekaan. Telah menulis buku hingga 155 buah.

*Makasih yang udah baca dan komentar.

Alia Fathiyah atau Aal, cucu apak di urutan ke 5 apa 6 gitu.
 


2 comments:

  1. Alhamdulillah ya mbak masih punya kenangan bersama kakek tercinta. Udah usia 9 tahun pasti emang banyak yg masih terkenang smpai sekarang. Bagus dituangkan di blog biar semua orang makin mengenal beliau ��

    ReplyDelete
  2. Bangga banget emang mempunyai orangtua yang dulunya pejuang.

    ReplyDelete