Tulisan di Blog bisa Dibukukan? Baca Ini dulu


Apakah bisa seorang blogger membuat buku? Bisa banget. Meski sekarang ini banyak orang lebih memilih membaca lewat android atau laptop, tapi masih banyak pula orang yang mencintai lembaran kertas yang dibungkus hingga menjadi buku.

Membaca di internet tidak sama dengan membaca buku. Buku jauh lebih nikmat dibaca, di mana saja, dan kapan saja. Buku tak perlu baterai dan akses internet seperti halnya iphone atau ipad, dan ukuran buku bermacam-macam. Selain itu, sebuah buku rata-rata sudah ditangani oleh tim editor yang membuat tulisan itu menjadi renyah untuk dibaca.

Nah, lantaran itulah, saya semangat untuk datang ketika BloggerCrony membuat event Blogger Hangout7.0 bertema Blog to Book. Workshop gratis #BloggerHangout7.0 kali ini kita menelusuri rahasia menerbitkan buku dari blog.


Pembicaranya kece, blogger, penulis  dan editor buku Ang Tek Khun @angtekkhun1 yang sengaja datang dari Yogyakarta ke Jakarta. Acara yang lokasinya di gedung Cikini Gold Center, lantai 3 Foodcourtnya berjalan menyenangkan dan menambah pengetahuan.

Nah, kalau boleh kritik sedikit, sebaiknya acara seperti itu jangan di foodcourt. Tahu sendiri bagaimana foodcourt, ruangannya lepas karena berbaur dengan pedagang dan counter makanan. Suara nara sumber jadi terdengar kecil karena dicampur kegaduhan orang lain. Selain itu saya lihat banyak peserta tidak fokus mendengarkan narsum, hanya peserta yang duduk di bagian depan saja yang bisa menerima materi secara lengkap. Padahal materi yang disampaikan penting banget ditulis dan disebarkan di blog.


Meski begitu, acara ini berlangsung lancar walau waktunya molor cukup panjang dari jam yang sudah ditentukan.

Ang Tek Khun menjelaskan bagaimana industri perbukuan di Indonesia selama ini berjalan. Menurutnya, sebuah buku akan lancar dan laku itu tergantung tiga orang, yakni: penulis, editor dan marketing (distributor).

Menurutnya, jika sebuah buku sudah diterbitkan, dalam waktu tiga bulan belum terlihat hasilnya, dan penulis harus sabar menunggu kabar apakah bukunya laku atau tidak. Selain itu untuk membuat buku harus disiapkan sejak awal, apa isi buku yang harus ditulis, bagaimana bahasanya, mengincar pembaca usia berapa. Banyak penulis yang gagal menulis sebuah buku karena proses penulisan yang panjang, bisa sampai bertahun-tahun.

"Musuh dari penulis itu adalah diri sendiri," kata Ang Tek Khun.

Menurutnya, ada tiga jenis penerbit yang perlu diketahui penulis jika ingin membuat buku:

1. Penerbit Mayor:  Itu penerbit besar dan sangat sulit menembusnya jika kita punya karya. Banyak penulis yang antri dan kecewa kalau naskahnya ditolak oleh penerbit dan dikembalikan. Contohnya saya, Lol. Saya pernah nekat dan pede mengirim naskah novel ke Gramedia, meski kenal sama editornya, tetap saja naskah saya tidak layak untuk diterbitkan. Hikss.

2. Penerbit indie: Ini penerbit independent. Banyak teman saya yang menerbitkan bukunya sendiri. Misal, buku puisi, novel atau kumpulan cerpen. Biasanya, mereka diminta untuk mengeluarkan uang sendiri untuk mencetak buku. Selain itu, untuk distributor atau pemasaran mereka lakukan sendiri. Teman saya biasanya berjualan di online, di media sosial yang dia miliki. Jika ada yang minat membeli, misal 100 buku, baru dia akan mencetaknya. Rugi, jika kita mencetak lebih dulu baru dijual. Atau pemasaran yang dia lakukan yaitu berjualan di event-event remaja, misal acara sekolah (jika bukunya tentang remaja), festival remaja, dan semacamnya.

Seorang teman pernah cerita, dia mengeluarkan dana Rp 11 juta untuk menerbitkan sebuah buku novel. Jika satu buku hanya mengeluarkan modal Rp 10 ribu dan dia menjual Rp 30 ribu, tentu dia bisa untung. Masalahnya adalah jika buku itu tidak laku, apa yang akan dilakukannya?

3. Percampuran mayor dan indie: Ini biasanya ada perjanjian di antara penerbit dan penulis buku. Penulis diminta untuk membeli buku itu sejumlah eksemplar dan dibantu untuk menjualnya.

Saya mau berbagi pengalaman sedikit ketika menulis dua buku, yang satu indie dan yang satunya dengan penerbit mayor. Pengalaman ini semoga ada manfaatnya dan ada gambaran, jika ada blogger yang kebelet karyanya dibukukan.

Pertama buku pesanan dari Pak Oesman Sapta Odang. Beberapa tahun lalu, anaknya menikah secara mewah dan ditayangkan di channel Fashion TV yang mengudara di 200 negara di dunia. Pak Oso (biasa disapa) meminta saya untuk dibuatkan sebuah buku soal itu.


Nah, ini yang namanya indie. Saya bersama suami yang menulis, mengedit (suami sih bagian edit, heheheh) riset buku tersebut, wawancara semua nara sumber yang terlibat. Ada Anne Avantie, Suryanto, Rina Gunawa, Mien Brutus dan tokoh-tokoh politik yang hadir untuk minta komentarnya seperti alm Taufik Kiemas, Wiranto, Hatta Radjasa, dll. Semua kami lakukan sendiri agar buku bisa sesuai yang diinginkan.

Sedangkan untuk lay out dan foto saya pekerjakan teman yang ahli di bidangnya. Lalu, kami mencari percetakan yang bagus untuk mencetak bukunya. Itu semua dilakukan sendiri, karena buku pesanan tentu dananya dari Pak Oso. Sayangnya, buku tersebut hanya dikonsumsi secara pribadi. Buku diberikan kepada saudara, teman dan sahabat saja.

Tapi dari sini saya jadi tahu bagaimana membuat buku secara independent itu ribet bin mumet meski bayarannya lumayan.


Yang kedua dari penerbit mayor yaitu buku Tina Toon, berjudul: Tina: Metamorfosis Seorang Tina Toon.
Awalnya Tina ingin pengalaman dan kisahnya yang mempu menurunkan berat badan secara drastis dibukukan. Dia ingin pengalamannya itu dijadikan motivasi bagi remaja lain yang berambisi kurus seperti artis pujaan.

Kebetulan saya kenal dengan salah satu editor Gramedia, lalu kita bertemu dan meeting beberapa kali untuk membicarakan konsep serta kontent. Lalu saya menulislah. Sisanya, pihak Gramedia yang bekerja, saya hanya tinggal menunggu kabar saja, gak pusing mengurus ini itu. Sedangkan soal bayaran saya tidak mau berhubungan dengan royalti yang jumlahnya kecil banget.  Padahal bukunya sempat masuk di jajaran best seller di Gramedia lho (Alhamdulillah).

Tapi menurut saya, jika kita sudah siap membuat buku, jangan berharap mendapatkan uang besar. Karena royalti yang kita terima sangat kecil, hanya 10 persen. Seorang teman mengaku dia menerima royalti dari satu buku tidak sampai goceng alias Rp 5 ribu. Berbeda jika kita membuat buku yang akhirnya bisa dipakai untuk film. Misal, Dee Lestari, Raditya Dika, Asma Nadia, Alberthne Endah, nah mereka mendapatkan uang itu dari penulisan skenario dan karya kita dijual untuk ke film. Baru deh bisa tajir! Di luar itu, kita membuat buku hanya sebuah prestige, nama kita tertera di buku itu sesuatu yang amazing karena bisa bertahan lama dan kebanggan tersendiri.

Nah, dari sini, jika seorang blogger ingin menulis buku tentu bisa banget, dengan beberapa jalur yang sudah ditulis tadi. Silahkan memilih.

Buku Semakin Tidak Laku

Ang Tek Khun mengakui jika semakin lama buku semakin tidak laku karena zamannya internet. Tapi, mari kita tengok ke toko buku, masih banyak ratusan buku baru muncul setiap harinya. Jadi peluang untuk membuat buku masih besar.

Menurutnya, penerbit memiliki daftar jenis buku apa saja yang laku dan memiliki rating tertinggi.

"Jadi jangan kecil hati jika masih ingin membuat buku, peluang Anda masih besar," katanya.
Lebih lanjut Ang mengatakan, editor penerbit itu tanpa kita ketahui menjadi stalker para blogger. Jika dia menemukan blog yang isinya menarik, bisa jadi editor tersebut akan menghubungi si blogger dan menawarkan untuk membuat buku. Waahhh, silahkan berharap dan berdoa.

Penerbit Moka Media



Penerbit Moka Media ternyata sangat terbuka jika ada blogger yang ingin dibukukan isi blognya.
Penerbit ini hadir dengan beberapa petingginya.

1. Sandy Fahamsyah (Pemimpin Redaksi Bintang Wahyu)
2. Endro Wahyono (Redaktur Pelaksana Wahyu Media)
3. Adeliany Azfar (Editor Moka Media).

Moka Media menawarkan para blogger untuk mengirimkan naskah secara lengkap (jangan nangggung), sekaligus sinopsis. Jadi editor bisa memahami apa isi naskah tersebut. Biasanya, Moka Media akan menunggu maksimal sampai 3 bulan. Jika tidak sesuai, maka naskah akan dikembalikan.

Nah ini cara pengiriman naskahnya, gudlak!

Menariknya, Moka Media juga melibatkan penulis untuk menjadi partner dengan ikutan memasarkan bukunya. Penulis ikut mempromosikan buku tersebut, kemanapun, bahkan keluar kota. Meski penulis tidak dibayar selama promo, tapi Moka Media akan membayar semua transpot dan akomodasi penulis.


ALIA


  

Begini Jenis Anak yang Jadi Sasaran Tembak Pornografi, oleh Ibu Elly Risman, Psi

Pada Selasa, 12 Desember 2016, saya diundang sekolah si sulung untuk ikut seminar parenting dengan pembicara psikolog kondang, Ibu Elly Risman. Semua pasti tahu siapa Ibu Elly, psikolog yang sangat konsisten dan concern memberikan penyuluhan dan ilmu soal tumbuh kembang anak, terutama besarnya pengaruh buruk dari internet.

Seminar yang berjudul Mengenali dan Mengatasi Kecanduan anak pada Internet,  Pornografi dan Games online ini sangat bermanfaat sekali. Nyaris semua orang tua yang hadir pada siang itu memasang wajah galau dan khawatir, termasuk saya. Pikiran buruk, deg-degan dengan realita yang ada sekarang ini menakutkan.

Waktu seminar yang dijadwalkan hingga pukul 12.00 siang, molor sampai pukul 13.00 lebih, itupun menurut saya masih sangat kurang. Banyak pertanyaan di kepala, tapi Ibu Elly yang super sibuk itu sudah membuat janji di tempat lain.

Malamnya, sesuai petunjuk dan petuah ibu Elly, saya mengajak 'rapat' dua anak saya, Sulthon (14) dan Rafa (10). 'Rapat' ini juga pernah saya lakukan sehabis mengikuti seminar narkoba di sekolah si sulung juga. Komunikasi dan berdiskusi dengan anak, itu memang penting. Agar anak bisa proteksi diri dan mengerti banyak kejahatan dan orang jahat di luar sana yang siap mengincar kita. Alhamdulillah, kedua anak saya kooperatif, kita jadi diskusi banyak hal dan fokus kepada tema yang dibahas malam itu.

Oke, kita mulai dengan materi dari Ibu Elly yaaa yang dibantu psikolog Ibu Wulansari yang telah 17 tahun berguru pada Bu Elly... siap-siap galau buibuuuu..

Sebelum seminar dimulai, Bu Elly minta untuk 'membuang' dan 'meletakkan' dulu semua jabatan penting orang tua di kantor, agar orang tua bisa menyelami dan mengerti posisinya adalah sebagai orang tua bagi anak-anaknya.

Hal paling penting yang pertama adalah jika ada kumpul keluarga besar, jangan biarkan anak berkumpul sendiri tanpa pantauan orang tua. Sesekali orang tua harus mengecek, apa yang mereka lakukan.

Ada kisah, seorang anak di bis antar jemput sekolah, memperagakan posisi bersodomi ke teman lainnya. Setelah ditanyai, dia tahu hal itu dari sepupunya ketika berkumpul keluarga di rumah nenek. Sepupunya itu juga melakukan ke adiknya yang berusia 5 tahun. Deg-degan bu?

Untuk menghindari kejadian seperti itu, Ibu Elly juga memberikan beberapa Tips:
- Cek handphone sopir antar jemput sekolah atau sopir pribadi.
- Cek handphone pembantu atau suster di rumah.
- Pelan-pelan cek handphone anak (Sebisa mungkin anak jangan diberikan HP sejak kecil)
- Menutup ruang bermain anak-anak di sekolah, jangan sampai keluar sekolah
- Area anak itu (jarak space) 2 meter/anak
- Jangan campur anak sekolah SD dan SMP (Ini jadi catatan sendiri untuk saya)

Untuk menjadi orang tua, memang tidak ada sekolahnya, tidak ada ilmunya. Banyak orang tua yang salah dalam komunikasi dengan anak. Memberikan gadget pada anak balita, merupakan kesalahan besar. Efek negatifnya adalah anak sulit konsentrasi dan bisa merusak mata dari sinar serta radiasinya, serta emosi menjadi tidak stabil.

Ibu Elly mempertontonkan sebuah video. Seorang anak bayi berusia di bawah 1 tahun sedang duduk serius sambil melihat handphone di tangan. Ruangan temaram, hanya bayi itu saja terlihat, sinar dari HP. Lalu sang ayah mengambil handphone itu, si bayi lucu nan montok itu spontan menjatuhkan tubuhnya ke belakang, lalu menangis keras sambil tubuhnya diguncang-guncang. Si bayi ngamuk tak karuan. Lalu ayahnya memberikan handphone itu lagi, ajaib dia terdiam dan anteng dengan handphone di tangan.(nontonnya antara ketawa lucu sama miris sih)


Selain itu, ada beberapa kesalahan orang tua dalam berkomunikasi dengan anak. Kesalahan komunikasi ini bisa memicu anak mencari teman lain di luar, bisa dari game online, internet dan bisa berteman dengan orang yang salah serta pergaulan yang mengarah negatif. Itu pemicu si anak bisa terpengaruh ke dalam lingkran pornografi.

Ada beberapa kekeliruan ortu dalam berkomunikasi dengan anak:
1. Bicara tergesa-gesa (itu gue! *tunjuktangan)
Pesan yang ingin disampaikan ke anak tidak ketangkep. Otak anak itu ibarat lapangan bola, luas dan bebas melakukan apapun. Kalau  main, gak inget waktu, kalau nonton TV juga begitu. Berbeda dengan ortu yang otaknya disekat-sekat, karena sudah punya rencana akan melakukan apa selanjutnya.
2. Tidak kenal diri sendiri
3. Lupa: kalau anak itu individu yang unik
Tiap anak punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, jangan dibandingkan.
4. Kebutuhan dan kemauan berbeda
5.Tidak membaca bahasa tubuh.
Jika anak menangis, itu tandanya anak sedang mengirim pesan, kita sebagai ortu suka nggak ngeh.
Tips:
- Badan direndahkan sehingga posisi hampir sejajar dengan anak
- Intonasi suara anak harus dimaknai dan intonasi suara ortu harus rendah, jangan ngomel gak karuan.
- Anak diduduki
- Jika anak tidak dimaklumi, dan bahasa tubuh tidak ditangkap, dia akan semakin marah dan ngamuk
- Jika bahasa tubuh anak tidak dikenali, anak akan cuek, nggak nurut, nggak ada empati sehingga banyak kenakalan yang dilakukan anak.
6. Tidak mendengar perasaan
7. Kurang mendengar aktif

Nah, sekarang Bu Elly memaparkan 5 hal perasaan manusia. Ini juga berlaku untuk orang dewasa yang perasaanya juga ingin dipahami:
1. Didengar
2. Dikenali
3. Diterima
4. Dipahami
5. Dihargai

Itu semua akan berdampak kepada kepribadian anak sehingga harus digali sedalam-dalamnya.

Bu Elly memberikan rumus agar bisa memahami anak:
"Letakkan dirimu 5 tahun di atas usia anak. Empati dan komunikasi menjadi lancar sehingga tidak ada jarak."

Misal: Umur si sulung 14 tahun, untuk menghadapi dia saya harus memposisikan diri menjadi usia 19 tahun(ehmmm...*kacamanakaca).

Komunikasi yang salah lainnya adalah bicara menggunakan 12 gaya popular, dan tanpa disadari sering kita lakukann ke anak. Iyakannn, ayo ngakkuuu...

Ini Bicara 12 Gaya Populer

Bicara dengan 12 gaya populer 
itu justru berbahaya, anak merasa tidak dipahami sehingga timbul akibat yang buruk, seperti:
- Emosi negatif                                       
- Susah konsentrasi
- Minder                                                  
- Melawan                                           
- Males                                                    
- Gak Punya empati
- Perasaan gak nyaman
- Gak pede
- Pendendam


Inner Child Orang Tua
Tanpa kita sadari, banyak ortu yang meniru kedua orang tuanya dalam mendidik dan memarahi anak. Kita sebagai ortu terikat dengan masa lalu dan tanpa disadari dilampiaskan ke anak. Ibu Elly menyebutnya itu Inner Child.

"Kita jadi terikat ke masa lalu ketika orang tua melakukannya dan kita lampiaskan ke anak. Sebenarnya yang kita lakukan ke anak itu adalah jiwa orang tua kita yang sudah berlangsung selama puluhan tahun lalu.  jadi itu habbit orang tua. Untuk mengubahnya kita harus mengenali dalam diri sendiri. Dari penerapan orang tua yang lalu nggak bisa lagi diterapkan ke anak sekarang, generasi Z," tutur Bu Elly.

Dalam seminar itu, Bu Elly juga memberikan beberapa action yang harus dilakukan sama-sama. Misalnya tangan dikibaskan ke belakang sambil mengatakan, "bye bye masa lalu.."

Atau kita diminta untuk memegang bahu orang di samping kanan kiri bergantian (untung di samping gue ibu-ibu, kalau bapak-bapak bisa panjang urusan, Lol). Lalu kita menepuknya. "Yang sudah lewat, sudah ya...itu masa lalu."

Semua yang hadir tertawa, sambil mengikuti arahan Ibu Elly.
Ibu Elly memberikan seminar dengan berbagai cara dan motivasi agar kita, para orang tua, yang tentunya minim sekali ilmunya sebagai ortu, bisa memberikan didikan yang terbaik ke anak.

Ibu Elly juga memberikan beberapa jenis game online yang memiliki konten pornografi.

Game Online ini banyak sekali dimainkan anak.

Kenapa Anak Laki yang rentan kena sasaran pormografi?
Lelaki, kata Bu Elly, lebih aktif otak kiri sehingga mudah fokus. Testoteron, hormon seks lebih banyak di kepala anak laki-laki, ditambah kemaluan anak laki-laki ada di luar jadi lebih mudah distimulasi.

Lelaki biasanya jarang bisa multitasking seperti wanita, terlihat jelas dari prilakunya, hanya fokus satu masalah. Posisi seorang suami di rumah, cenderung hanya pencari nafkah, sehingga selama ini, pengasuhan anak lebih dipusatkan kepada ibu. Padahal peran ayah sangat penting membentuk karakter anak yang kuat.

Kenapa para suami sangat sedikit bicara dibandingkan perempuan? Konon, (ada penelitiannya juga), lelaki itu hanya mengeluarkan kata-kata sebanyak 77 kata dalam sehari.

Nggak heran, banyak para istri yang kebingungan mengajak suaminya bicara atau diskusi, karena lebih fokus kepada HP, koran atau bahkan televisi. Sedangkan perempuan yang memiliki tipical ceriwis dan suka ngomong, seperti kecapean sendiri dalam mengurus rumah tangga tanpa ada bantuan dari suami. (Itu sudah kodratnya buibuuuu, Lol).

Karakter suami, kata Bu Elly, dipengaruhi dari masa lalunya. "Kenapa suami lebih banyak diam dan nggak ngomong? Mungkin dulu bapaknya nggak pernah ngajak ngomong suami," kata Bu Elly..(hhmmmmm).

Note Bu Elly: "Kalau nanti ibu dan bapak menemukan jodoh untuk anaknya, harus dilihat bibit, bebet, dan bobot. Siapa yang paling besar pengaruhnya di keluarga, ayah atau ibu. Jangan dilihat dari posisi calon mantu hebat dan turunan anak orang kaya." (Noted bu).



Sasaran para penjahat pornografi ini adalah, anak laki yang belum baligh. Sebabnya, karena penjahat ini mengharapkan, pertama kali si anak puber dan mengeluarkan mani itu dari konten pornografi yang  nantinya akan menjadi pelanggan setia konten itu. 'Pengalaman pertama' itu bisa kena ke 'direktur otak' yang bernama Dopamin. Dopamin yang memberikan stimulus kenikmatan yang dirasakan manusia, sehingga akan terus nagih dan nagih. Bahayanya, jika di otak anak telah ada perpustakan porno, dan itu telah berlangsung selama tahunan. "Saya yakin, semua anak bapak dan ibu di sini sudah melihat konten porno." kata Bu Elly.


Dalam survey, sebanyak 95 persen anak telah melihat konten porno, mulai dari video klip, game online, film, sinetron dan lainnya. Reaksi awal anak-anak itu sama, merasa jijik, tapi selanjutnya akan melihat lagi, dan lagi sehingga terbentuk perpustakaan porno di otak anak.

Terapkan ke Anak:
1. Jaga pandangan
2. Jaga kemaluan
Jika melihat yang nggak patut dan nggak pantas, jangan dilihat. Ini juga tertulis dalam Al Quran s.An Nur: 30.

Saran paling cetar dari Bu Elly:
Pertahankan rumah tangga agar terus harmonis, berjuang demi anak. Ciptakan hubungan suami istri terus hangat.

Ada salah satu klien Bu Elly, seorang ibu yang anak-anaknya sudah besar datang berkonsultasi. Si ibu ini bercerita kalau anak-anaknya memarahinya sambil dirinya ditunjuk-tunjuk karena telah menggugat cerai ayahnya. Si ibu mengakui kalau suaminya itu adalah seorang ayah yang sangat baik, sayang dan teladan sehingga dicintai anak-anaknya. Anak-anaknya menyalahkannya karena telah menggugat cerai suaminya.
"Bagaimana saya harus menjelaskan ke anak-anak bu, kalau ayahnya sudah selingkuh. Masih mending selingkuh dengan perempuan, tapi ini dengan laki-laki," kata si ibu menangis di hadapan Bu Elly Risman.
Tragis.

Lalu Bu Elly memberikan data-data yang bikin perut saya mules dan deg-degan. Terutama soal kasus Emon, yang belum lama diberitakan telah mensodomi puluhan anak-anak di kolam pemandian umum. Yayasan Buah Hati milik Bu Elly memberikan terapi bagi korban si Emon itu. Tapi yang menakutkan, ketika mendapatkan berita kalau korban si Emon telah melakukan hal sama ke anak lain dan muncul korban baru, nauzubillahminzalik.

Agar anak kita tumbuh sehat dalam keluarga yang rukun harmonis, ada tips bagaimana cara musyawarah dengan suami:
Agar pengasuhan anak berjalan dengan lancar, seorang ibu harus musyawarah dengan suaminya. Banyak istri yang mengeluh jika sering dicuekin suami dan perkataanya nggak didengarkan (ehm, ).
"Laki-laki itu diciptakan Allah hanya mengeluarkan kata-kata dalam sehari sebanyak 77 kata. Jika ingin didengar, siapkan maksimal 15 kata ke suami," saran Bu Elly.

Lalu Bu Elly meminta beberapa ibu untuk mencontohkan bagaimana mengeluarkan 15 kata perihal internet dan pornografi ini ( karena yang hadir di seminar itu kebanyakan ibu-ibu, sedangkan bapaknya hanya sedikit banget). Di seminar itu, para bapak diminta tutup kuping.

Ini menurut saya bagian yang lucu, ada beberapa ibu jadi ketahuan panggilan untuk suaminya. Ada 'Ay ', 'say, dan cyin. "Awal kalimat memakai kata anak, jika dibicarakan anaknya, dia akan mendengarkan, jangan bertele-tele," kata Bu Elly.

Setelah 15 kata terucap dan suami mulai mencondongkan tubuhnya tanda antusias, kita sebagai istri tandanya sudah aman bicara sebanyak kata pun, bahkan jika ingin minta perhiasan, bisa jadi dikabulkan (aazzeekkkk). lol.


Tips 3 Hal Jika Bicara ke Suami:
1. Pilih Waktu
Jangan pas dia pulang kerja langsung bicara, tunggu 30 menit. Saat yang tepat itu kata Bu Elly, setelah berhubungan intim.
2. Isu Kritis
Langsung ke pokok masalah, jangan bertele-tele.
3. Kalimat Tidak lebih 15 Kata.

Sebelum selesai, ini ada Tips terakhir:
1. Untuk para ayah, turunkan frekwensi suara jika bicara ke anak.
Saya punya cerita yang menyentuh dan menarik. Pada suatu hari Ibu Elly tak sengaja menonton TV, di situ ada dai kondang, Aa Gym yang menceritakan bagaimana anaknya, Ghaza pernah kecanduan game online dan kini justru menjadi penghafal Al Quran. Ini bermula ketika Aa Gym pernah sangat populer sekitar 10 tahun lalu. Karena banyaknya undangan, Aa Gym jadi tak memperhatikan anak.

Ibu Elly tertarik dengan cerita dai asal Bandung itu lalu kontak Aa Gym dan akhirnya bertemu. Ibu Elly bertanya bagaimana bisa mengubah anaknya yang kecanduan game online kini justru menjadi penghafal Al quran. Aa Gym menjawab, yaitu dengan menurunkan frekwensi suara. Lalu di hadapan Ibu Elly, Aa Gym menelpon Ghaza dengan suaranya yang halus, pelan dan nada rendah.

Nah, usai bercerita itu, Bu Elly meminta kita semua pura-pura berbicara ke anak dengan frekwensi suara yang kecil, tanpa Bu Elly bisa mendengar sama sekali.Menurutnya, perkataan seorang ayah yang sedikit, justru mengena ke anak dan sering diturutin. Berbeda dengan ibu yang ngomel-ngomel tak karuan, justru anaknya tak bergeming, Heeheh gitu tohh.

Latihan-latihan yang diajaran Bu Elly untuk berbicara dengan anak di rumah sangat berguna sekali meski kami sebagai orang tua kadang tertawa cekikikan, kata Bu Elly kita menertawai diri sendiri karena itu cerminan sikap kita di rumah. Bener sih.

2. Sebelum bicara ke anak, sholat taubat dulu

3. Harus mengerti dan paham dengan bahasa tubuh anak.

Bu Elly kasih contoh begini.
Seorang anak SD pulang sekolah dengan cemberut (ini ceritanya Bu Elly yang menjadi anak, dan kita semua menjadi orang tuanya, Lol). Raut wajah si anak kesal, marah dan ingin menangis. Dia merengek ke ibunya.
Anak: "Aku kesaaall..aku benciii."
Ibu: (Jangan bilang kenapa?, tapi) "oooo...benciii" menunggu kelanjutan si anak cerita
Anak: Iya PR ku ketinggalan....
Ibu: (Jangan..Ooo ketinggalannn *disentil entar sama bu elly, hihihi) Ibu berusaha mengungkapkan perasaan si anak.
Anak: "Aku di setrap"
Ibu: "Capek ya nak berdiri di strap.."
Anak: (anak mulai bercerita panjang ketika si ibu mengerti perasaanya. Ketika si anak mulai bercerita, sebagai ortu diam menjadi pendengar). Jika anak sedang capek karena pulang sekolah, banyak PR, dll, ortu muncul sebagai pendamping.

3. Jangan biarkan anak mengunci pintu kamar.
Ada kisah seperti itu, tau-tau anaknya masturbasi di kamar tanpa ortunya tahu. Astagfirullah.

Selama seminar Bu Elly selalu katakan, "Jangan tuntut anak untuk rangking! rangking!"(setuju bu!).


(selama ikut seminar ini tak henti-henti saya istigfar dengan wajah pias melihat banyaknya data yang dipaparkan Bu Elly. Semoga kita semua, dan anak-anak kita selalu dilindungi Allah SWT, dan mendapatkan teman serta lingkungan yang sehat walafiat ya, Amin Yra). Semoga tulisan ini bermanfaat ya, kalau ada yang lewat, maafkeuunnn..

ALIA F








Selfie Jadi Sempurna dengan Vivo V5


Semua orang suka selfie, mulai dari anak batita sampai lansia. Selfie atau swa foto memang sekarang sedang tren. Pose foto narsis yang mengagumi diri sendiri ini biasanya langsung diunggah ke media sosial, dan sering dipandang-pandangi sendiri. Lalu tersenyum, karena merasa diri sudah keren. Itulah narsisme.

Saya yakin, semua orang narsis, tak terkecuali saya juga, Lol.

Dulu saya suka selfie, tapi setelah wajah saya kena bels palsy, sehingga terlihat wajah gak simetris, jadi agak gak pede untuk sefie. Padahal, banyak yang bilang wajah saya fine, baik-baik saja.


Tapi sepertinya saya mulai lagi memberanikan diri untuk selfie lagi setelah menjadi blogger. Sering melakukan blogwalking atau berkunjung ke blog orang lain, saya baru sadar, blogger itu wajib selfie, Lol.

Ini buktinya:

Ketika saya mendapatkan undangan untuk datang ke peluncuran Vivo V5, pada 23 November 2016 di Ballroom, hotel Ritz Carlton, terlihat bertebaran spot-spot kece untuk tempat selfie.

And you know what? Kebanyakan yang selfie di acara itu para blogger yang heboh dan cekakak cekikik sehingga acara jadi seru. Bahkan, kita sempet bikin Manequin Challenge di lokasi spot selfie Vivo V5.

Pokoknya nggak rugi kalau undang blogger ke sebuah event, acara jadi berlangsung cerah ceria, mirip hasil foto selfie dari Vivo V5. Lol

Acara tersebut semakin seru karena brand ambassadornya, Agnezmo muncul dengan gayanya yang khas. Agnez di tengah acara kadang bercanda saling lempar celetukan ke MC nya. Mantan artis cilik itu memang terkenal humble dan gampang tertawa.

Tapi sayangnya, Agnez tidak banyak bicara. Tadinya saya berharap, Agnez menceritakan beberapa pengalamannya yang seru ketika ber-selfie-ria menggunakan HP Vivo V5. Atau dia membawa Vivo V5 ke pertunjukkannya di atas panggung dan dia selfie dengan latar penonton.

Tapi ternyata tidak. Agnez hanya menjawab sapaan seseorang yang nfe-fans. Agnez membalasnya sambil tertawa. Tapi saya senang melihat iklan Agnez di Vivo V5 ini, cerminan kerja kerasnya menjadi seorang entertainer hingga bisa go internasinal. Go Agnezmo!

Sekarang mari kita belah ada apa aja di handphone Vivo V5 ini:

Kelebihan di kamera
Vivo V5 menyuguhkan sebuah kelebihan dari segi kamera terutama kamera pada bagian depannya yang memiliki lensa beresolusi 20 MP. Yah bisa dibayangkan  seperti apa hasil selfie dari kamera Vivo V5 karena bekalan kamera 20 MP memang pada umumnya dipakai oleh vendor smartphone untuk diletakkan pada bagian kamera belakang. Sedangkan kamera utama Vivo V5 membawa sensor 13 MP lengkap dengan fitur Phase Detection Autofocus.  Kamera belakangnya tersebut mampu merekam video beresolusi Full HD.

Vivo V5 membawa sensor berkualitas tinggi juga yakni Sony IMX376, 1/2.78”, f/2.0 pada bagian belakangnya. Ada juga fitur LED Flash pada bagian kamera depan, sehingga masih bisa menggunakan ponsel ini untuk berselfie di kondisi minim cahaya. Ini merupakan sebuah teroboson baru bagi Vivo karena menghadirkan Vivo V5 dengan harga yang tergolong murah.

"Kami yakin bahwa produk unggulan terbaru kami ini akan menciptakan standard baru di pasar smartphone Indonesia dan dapat diterima luas oleh konsumen, serta mampu mendefinisikan ulang pengalaman mereka berfoto selfie," papar Kenny Chandra, juru bicara Vivo Mobile Indonesia.

Harga
Biasanya orang kalau menulis review gadget akan menaruh harga di paling akhir, kalau saya di atas. Pasti, semua orang jika naksir sebuah barang yang dipertanyakan, berapa harganya?

Saya kaget juga ketika mengetahui bahwa harga Vivo V5 cuma Rp 3, 49 juta saja. Tadinya saya mengira harga handphone itu sampai di atas Rp 5 juta.

Vivo V5 rencananya akan dipasarkan dalam 3 warna yaitu gold, rosegold dan grey. Namun, saat ini ponsel yang memiliki chip audio AK4346 Hi-Fi  baru tersedia dalam versi gold.


Desain

Desain tubuh Vivo V5 ini tampak keren. Terlihat dari sisi depan dan belakang dilapisi oleh logam dan agak mirip dengan O**o F1s dan A**s Ze**one 3 Max. Untuk desain depan, ditutupi dengan versi pelindung layar seperti Gorilla Glass. Vivo V5  memiliki tombol home yang menampilkan salah satu scanner sidik jari tercepat dan telah terekam.

Memiliki ukuran 153.8 x 75.5 x 7.6 mm dengan berat 154 gram, yang relative nyaman untuk dioperasikan menggunakan satu tangan. Untuk bagian konektivitasnya, Hp ini sudah mendukung jaringan 4G LTE, Dual SIM, Wifi, USB, GPS, Bluetooth dan Radio.

Sound
Vivo V5 memiliki pengeras suara yang baik.  Vivo V5 menggunakan teknologi Hi-Fi untuk pendukung audionya. Dengan V5, pecinta musik akan dapat menikmati setiap nada yang dimainkan dengan Hi-Fi chip khusus AK4376 yang menyuguhkan kualitas suara yang tak tertandingi.


Baterai
Untuk menjaga daya tahan hidupnya, Vivo V5 membawa baterai berkapasitas 3000 mAh. Terbilang bisa bertahan cukup lama apalagi  resolusi layarnya tidak tergolong boros ditambah sudah berjalan pada sistem operasi Android Marshmallow. Wuiihhh kecekan..


Alia Fathiyah

















#SwitchableMe: Acer Switch Alpha 12, Pilihan Tepat untuk Seorang Freelancer


Menjadi wartawan, tentu tak jauh hidupnya dari dunia tulis menulis. Percaya nggak percaya, saya punya laptop itu baru tiga tahun belakangan. Padahal saya sudah menjadi wartawan sejak 1999, dan keinginan punya laptop itu sudah lama sekali. Selama ini saya menulis berita di kantor, yang tentunya mengandalkan fasilitas yang sudah disediakan kantor.

Jadi memang takdirnya begitu, saya terima saja ketika akhirnya bisa membeli laptop sendiri meski dengan jenis yang standar.

Hampir 2 tahun ini saya memutuskan untuk menjadi freelancer. Selain menjadi blogger, saya juga masih menjadi kontributor jurnalis di Tempo.co, tempat kantor saya yang lama. Tanggung jawab saya tak jauh berbeda ketika masih menjadi karyawan di Tempo Inti Media. Yaitu, menulis berita, mengedit berita dan meng-upload berita hingga naik ke Tempo.co. Bahkan sesekali saya masih meliput.

Bersama teman Tempo ketika mendapat kesempatan wawancara Pak BJ Habibie di kediamannya


Bersama dengan teman-teman wartawan
Tapi namanya kontributor, tentu penghasilan yang diterima sesuai  dengan berita yang saya upload hari itu.
Banyak yang mempertanyakan kenapa saya memutuskan untuk menjadi kontributor, padahal sudah enak kerja di media sebesar Tempo.

Well, saya memutuskan memilih menjadi kontributor dan freelancer setelah saya melahirkan di usia yang sudah tidak muda ini (Lol).  Hidup ini tidak indah jika tidak diberi cobaan.

Ujian dan cobaan yang diberikan yakni ketika  baby terkena atresiasi yeyunum, yakni usus kecilnya tersumbat sehingga sulit membuang kotoran sejak di dalam kandungan. Di usia 3 hari, baby harus berada di meja operasi, lalu harus membuang kotoran lewat perut. Dan operasi kedua dilakukan ketika usianya 4 bulan, ketika usus yang keluar dan dijadikan pembuang kotoran itu harus ditutup.

Dengan baby bontot
Tentu saya tidak bisa meninggalkan baby dengan kondisi seperti itu, dan dititipkan ke pengasuh. Kayaknya tega banget, selain itu saya nggak bisa membayangkan harus jauh dari si bontot.

Dengan segala ikhlas, akhirnya saya bekerja dari rumah, mengandalkan koneksi Wifi dan laptop yang kadang ngambek karena jenisnya yang standar itu. Si laptop sering bolak balik masuk 'dokter laptop'. Namanya juga laptop standar, jadi fasilitas yang ada juga pas-pasan.

Jadi kegiatan saya itu setiap pagi, -jika baby sudah tidur-, saya duduk manis di depan laptop. Saya bekerja untuk Tempo.co, sekaligus menulis 'curhatan' di blog. Tapi itu hanya bertahan tidak lama. Satu jam kemudian, saya tidak bisa menyentuh laptop karena harus mengurus baby dan mempersiapkan makanan malam harinya untuk kedua abangnya si bontot. Bekerja kembali di depan laptop, jika baby sudah tidur, itupun jika saya  tidak tepar kelelahan, Lol. Kebetulan di rumah, hanya dibantu oleh asisten rumah tangga pulang pergi yang kerjanya hanya 3 jam.

Bersama dengan teman-teman blogger
Bekerja yang tidak jelas waktunya itu, tentu sangat mempengaruhi penghasilan setiap bulannya, karena berita yang di upload tidak sesuai target. Kini ketika baby semakin besar, saya mulai mencari kesempatan agar bisa bekerja sesuai target.  Baby dititipkan ke bibi yang cuma bisa menjaga sampai jam 2 siang. What? Ya begitulah, namanya kita butuh jadi saya terima saja persyaratan dia, meski saya suka pulang sampai jam 4 dengan alasan tipu-tipu sedikit, Lol.

Jadi kebayang bagaimana repotnya saya bepergian sambil membawa laptop. Rumah saya di Serpong, sedangkan area liputan, event dan meeting lebih banyak di Jakarta. Dengan menggunakan kereta api dan ojek online, laptop saya tenteng ke manapun.

Jadi jika ada waktu keluar rumah itu, saya maksimalkan dengan membuka laptop untuk mengedit dan mengupload berita. Atau menyelesaikan tulisan deadline yang harus cepat dikirim.

Belum lagi, mengingat si baby cuma bisa dititip sampai jam 2 siang. Benar-benar harus multitasking, kerjaan rumah beres, kita sebagai perempuan juga masih bisa aktualisasi diri sekaligus mendapatkan penghasilan.

Beberapa minggu belakangan, saya memang sudah berfikir akan mengganti laptop berat saya itu dengan yang ringan dan mendukung untuk dibawa ke manapun.

Acer Switch Alpha 12

Jujur, saya naksir dengan notebook Acer Swicth Alpha 12. Ketika peluncurannya pada Agustus lalu, saya sudah membaca beberapa review di media tentang perangkat 2-in 1 ini.

Switch Alpha 12 diklaim sebagai laptop 2-in-1 pertama di dunia yang memadukan teknologi pendingin tanpa kipas dengan prosesor berkinerja tinggi dari seri Intel Core i5 dan Core i7.

Tertarik?

Jadi begini. Bagian unit yang berbentuk tablet dengan berbagai komponen (motherboard, prosesor, memory, storage, battery dan lain sebagainya) di dalamnya dan sebuah slave yang dilengkapi dengan keyboard.

Itu kenapa disebut switch, karena bisa diubah menjadi tablet atau notebook, sesuai keinginan dan kebutuhan. Kita hanya perlu melepas dan memasang kembali keyboard docking yang telah dilengkapi engsel magnet. Ada juga keyboard yang menempel dengan engsel magnetik ke sisi bawah Switch Alpha 12 dan bisa dilipat seperti aksesori cover pada perangkat tablet.


Dengan engsel magnet ini, melepas keyboard Switch Alpha 12 dapat dilakukan dengan cepat dan aman, pas banget dengan saya yang gaptek maksimal. Lol.

Lalu tampilan kece keyboard docking itu bukan sekadar aksesoris semata, melainkan berfungsi sebagai screen protection. Acer bahkan mendesainnya super tipis dan membekalinya lampu backlit agar bisa tetap mengetik meski sedang berada di ruangan dengan pencahayaan redup. Tidak lupa dilengkapi kickstand yang bisa diatur sudutnya hingga 165 derajat untuk memberikan sudut pandang yang diinginkan. Dengan begini, spAcer bisa mengetik, mencatat hingga menggambar lebih nyaman.


Yang paling menarik, adalah produk notebook Switch Alpha 12, ini menjadi yang pertama di dunia yang hadir dengan sistem pendinginan bernama Acer LiquidLoop™. Sistem pendingin yang baik sangat dibutuhkan sebuah notebook untuk mencegah terjadi penurunan performa perangkat akibat overheating.

Sayangnya, kebanyakan sistem pendingin notebook masih mengandalkan kipas konvensional yang ketika berputar mengeluarkan suara yang cukup mengganggu ketika bekerja. Apalagi saya kadang suka mencari tempat di luar rumah untuk bekerja, tentu akan berisik terdengar ke yang lain jika memakai notebook yang masih menggunakan kipas konvensional.

Sebagai produk 2-in-1 yang simple dan tipis dengan dimensi 292 x 201 x 15 mm dan berat hanya 1.25kg dengan slave, Acer Switch Alpha 12 mengusung spesifikasi yang cukup tinggi. Acer menawarkan dua varian dengan spesifikasi yang berbeda.

Pertama menggunakan prosesor Intel Core i7 6500U dengan storage SSD 512 GB dan memory 8GB. Sedangkan varian lainnya menggunakan prosesor Intel Core i5 6200U dengan storage SSD 256 GB dan memory 4 GB.

Acer Switch Alpha 12 menggunakan layar berukuran 12″ dengan panel IPS dan resolusi qHD 2160 x 1440 dan telah didukung mode pengoperasian layar sentuh. Tidak lupa Acer juga turut membenamkan beberapa fitur konektivitas berupa 802.11 AC dan Bluetooth v4.

Soal harga, Acer Switch Alpha 12 dengan spesifikasi Intel Core i7 dibanderol harga Rp. 19.999.000,- dan untuk varian prosesor Intel Core i5, dilepas dengan harga Rp. 13.799.000.

Alia Fathiyah