Saturday, December 17, 2016

Begini Jenis Anak yang Jadi Sasaran Tembak Pornografi, oleh Ibu Elly Risman, Psi

Pada Selasa, 12 Desember 2016, saya diundang sekolah si sulung untuk ikut seminar parenting dengan pembicara psikolog kondang, Ibu Elly Risman. Semua pasti tahu siapa Ibu Elly, psikolog yang sangat konsisten dan concern memberikan penyuluhan dan ilmu soal tumbuh kembang anak, terutama besarnya pengaruh buruk dari internet.

Seminar yang berjudul Mengenali dan Mengatasi Kecanduan anak pada Internet,  Pornografi dan Games online ini sangat bermanfaat sekali. Nyaris semua orang tua yang hadir pada siang itu memasang wajah galau dan khawatir, termasuk saya. Pikiran buruk, deg-degan dengan realita yang ada sekarang ini menakutkan.

Waktu seminar yang dijadwalkan hingga pukul 12.00 siang, molor sampai pukul 13.00 lebih, itupun menurut saya masih sangat kurang. Banyak pertanyaan di kepala, tapi Ibu Elly yang super sibuk itu sudah membuat janji di tempat lain.

Malamnya, sesuai petunjuk dan petuah ibu Elly, saya mengajak 'rapat' dua anak saya, Sulthon (14) dan Rafa (10). 'Rapat' ini juga pernah saya lakukan sehabis mengikuti seminar narkoba di sekolah si sulung juga. Komunikasi dan berdiskusi dengan anak, itu memang penting. Agar anak bisa proteksi diri dan mengerti banyak kejahatan dan orang jahat di luar sana yang siap mengincar kita. Alhamdulillah, kedua anak saya kooperatif, kita jadi diskusi banyak hal dan fokus kepada tema yang dibahas malam itu.

Oke, kita mulai dengan materi dari Ibu Elly yaaa yang dibantu psikolog Ibu Wulansari yang telah 17 tahun berguru pada Bu Elly... siap-siap galau buibuuuu..

Sebelum seminar dimulai, Bu Elly minta untuk 'membuang' dan 'meletakkan' dulu semua jabatan penting orang tua di kantor, agar orang tua bisa menyelami dan mengerti posisinya adalah sebagai orang tua bagi anak-anaknya.

Hal paling penting yang pertama adalah jika ada kumpul keluarga besar, jangan biarkan anak berkumpul sendiri tanpa pantauan orang tua. Sesekali orang tua harus mengecek, apa yang mereka lakukan.

Ada kisah, seorang anak di bis antar jemput sekolah, memperagakan posisi bersodomi ke teman lainnya. Setelah ditanyai, dia tahu hal itu dari sepupunya ketika berkumpul keluarga di rumah nenek. Sepupunya itu juga melakukan ke adiknya yang berusia 5 tahun. Deg-degan bu?

Untuk menghindari kejadian seperti itu, Ibu Elly juga memberikan beberapa Tips:
- Cek handphone sopir antar jemput sekolah atau sopir pribadi.
- Cek handphone pembantu atau suster di rumah.
- Pelan-pelan cek handphone anak (Sebisa mungkin anak jangan diberikan HP sejak kecil)
- Menutup ruang bermain anak-anak di sekolah, jangan sampai keluar sekolah
- Area anak itu (jarak space) 2 meter/anak
- Jangan campur anak sekolah SD dan SMP (Ini jadi catatan sendiri untuk saya)

Untuk menjadi orang tua, memang tidak ada sekolahnya, tidak ada ilmunya. Banyak orang tua yang salah dalam komunikasi dengan anak. Memberikan gadget pada anak balita, merupakan kesalahan besar. Efek negatifnya adalah anak sulit konsentrasi dan bisa merusak mata dari sinar serta radiasinya, serta emosi menjadi tidak stabil.

Ibu Elly mempertontonkan sebuah video. Seorang anak bayi berusia di bawah 1 tahun sedang duduk serius sambil melihat handphone di tangan. Ruangan temaram, hanya bayi itu saja terlihat, sinar dari HP. Lalu sang ayah mengambil handphone itu, si bayi lucu nan montok itu spontan menjatuhkan tubuhnya ke belakang, lalu menangis keras sambil tubuhnya diguncang-guncang. Si bayi ngamuk tak karuan. Lalu ayahnya memberikan handphone itu lagi, ajaib dia terdiam dan anteng dengan handphone di tangan.(nontonnya antara ketawa lucu sama miris sih)


Selain itu, ada beberapa kesalahan orang tua dalam berkomunikasi dengan anak. Kesalahan komunikasi ini bisa memicu anak mencari teman lain di luar, bisa dari game online, internet dan bisa berteman dengan orang yang salah serta pergaulan yang mengarah negatif. Itu pemicu si anak bisa terpengaruh ke dalam lingkran pornografi.

Ada beberapa kekeliruan ortu dalam berkomunikasi dengan anak:
1. Bicara tergesa-gesa (itu gue! *tunjuktangan)
Pesan yang ingin disampaikan ke anak tidak ketangkep. Otak anak itu ibarat lapangan bola, luas dan bebas melakukan apapun. Kalau  main, gak inget waktu, kalau nonton TV juga begitu. Berbeda dengan ortu yang otaknya disekat-sekat, karena sudah punya rencana akan melakukan apa selanjutnya.
2. Tidak kenal diri sendiri
3. Lupa: kalau anak itu individu yang unik
Tiap anak punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, jangan dibandingkan.
4. Kebutuhan dan kemauan berbeda
5.Tidak membaca bahasa tubuh.
Jika anak menangis, itu tandanya anak sedang mengirim pesan, kita sebagai ortu suka nggak ngeh.
Tips:
- Badan direndahkan sehingga posisi hampir sejajar dengan anak
- Intonasi suara anak harus dimaknai dan intonasi suara ortu harus rendah, jangan ngomel gak karuan.
- Anak diduduki
- Jika anak tidak dimaklumi, dan bahasa tubuh tidak ditangkap, dia akan semakin marah dan ngamuk
- Jika bahasa tubuh anak tidak dikenali, anak akan cuek, nggak nurut, nggak ada empati sehingga banyak kenakalan yang dilakukan anak.
6. Tidak mendengar perasaan
7. Kurang mendengar aktif

Nah, sekarang Bu Elly memaparkan 5 hal perasaan manusia. Ini juga berlaku untuk orang dewasa yang perasaanya juga ingin dipahami:
1. Didengar
2. Dikenali
3. Diterima
4. Dipahami
5. Dihargai

Itu semua akan berdampak kepada kepribadian anak sehingga harus digali sedalam-dalamnya.

Bu Elly memberikan rumus agar bisa memahami anak:
"Letakkan dirimu 5 tahun di atas usia anak. Empati dan komunikasi menjadi lancar sehingga tidak ada jarak."

Misal: Umur si sulung 14 tahun, untuk menghadapi dia saya harus memposisikan diri menjadi usia 19 tahun(ehmmm...*kacamanakaca).

Komunikasi yang salah lainnya adalah bicara menggunakan 12 gaya popular, dan tanpa disadari sering kita lakukann ke anak. Iyakannn, ayo ngakkuuu...

Ini Bicara 12 Gaya Populer

Bicara dengan 12 gaya populer 
itu justru berbahaya, anak merasa tidak dipahami sehingga timbul akibat yang buruk, seperti:
- Emosi negatif                                       
- Susah konsentrasi
- Minder                                                  
- Melawan                                           
- Males                                                    
- Gak Punya empati
- Perasaan gak nyaman
- Gak pede
- Pendendam


Inner Child Orang Tua
Tanpa kita sadari, banyak ortu yang meniru kedua orang tuanya dalam mendidik dan memarahi anak. Kita sebagai ortu terikat dengan masa lalu dan tanpa disadari dilampiaskan ke anak. Ibu Elly menyebutnya itu Inner Child.

"Kita jadi terikat ke masa lalu ketika orang tua melakukannya dan kita lampiaskan ke anak. Sebenarnya yang kita lakukan ke anak itu adalah jiwa orang tua kita yang sudah berlangsung selama puluhan tahun lalu.  jadi itu habbit orang tua. Untuk mengubahnya kita harus mengenali dalam diri sendiri. Dari penerapan orang tua yang lalu nggak bisa lagi diterapkan ke anak sekarang, generasi Z," tutur Bu Elly.

Dalam seminar itu, Bu Elly juga memberikan beberapa action yang harus dilakukan sama-sama. Misalnya tangan dikibaskan ke belakang sambil mengatakan, "bye bye masa lalu.."

Atau kita diminta untuk memegang bahu orang di samping kanan kiri bergantian (untung di samping gue ibu-ibu, kalau bapak-bapak bisa panjang urusan, Lol). Lalu kita menepuknya. "Yang sudah lewat, sudah ya...itu masa lalu."

Semua yang hadir tertawa, sambil mengikuti arahan Ibu Elly.
Ibu Elly memberikan seminar dengan berbagai cara dan motivasi agar kita, para orang tua, yang tentunya minim sekali ilmunya sebagai ortu, bisa memberikan didikan yang terbaik ke anak.

Ibu Elly juga memberikan beberapa jenis game online yang memiliki konten pornografi.

Game Online ini banyak sekali dimainkan anak.

Kenapa Anak Laki yang rentan kena sasaran pormografi?
Lelaki, kata Bu Elly, lebih aktif otak kiri sehingga mudah fokus. Testoteron, hormon seks lebih banyak di kepala anak laki-laki, ditambah kemaluan anak laki-laki ada di luar jadi lebih mudah distimulasi.

Lelaki biasanya jarang bisa multitasking seperti wanita, terlihat jelas dari prilakunya, hanya fokus satu masalah. Posisi seorang suami di rumah, cenderung hanya pencari nafkah, sehingga selama ini, pengasuhan anak lebih dipusatkan kepada ibu. Padahal peran ayah sangat penting membentuk karakter anak yang kuat.

Kenapa para suami sangat sedikit bicara dibandingkan perempuan? Konon, (ada penelitiannya juga), lelaki itu hanya mengeluarkan kata-kata sebanyak 77 kata dalam sehari.

Nggak heran, banyak para istri yang kebingungan mengajak suaminya bicara atau diskusi, karena lebih fokus kepada HP, koran atau bahkan televisi. Sedangkan perempuan yang memiliki tipical ceriwis dan suka ngomong, seperti kecapean sendiri dalam mengurus rumah tangga tanpa ada bantuan dari suami. (Itu sudah kodratnya buibuuuu, Lol).

Karakter suami, kata Bu Elly, dipengaruhi dari masa lalunya. "Kenapa suami lebih banyak diam dan nggak ngomong? Mungkin dulu bapaknya nggak pernah ngajak ngomong suami," kata Bu Elly..(hhmmmmm).

Note Bu Elly: "Kalau nanti ibu dan bapak menemukan jodoh untuk anaknya, harus dilihat bibit, bebet, dan bobot. Siapa yang paling besar pengaruhnya di keluarga, ayah atau ibu. Jangan dilihat dari posisi calon mantu hebat dan turunan anak orang kaya." (Noted bu).



Sasaran para penjahat pornografi ini adalah, anak laki yang belum baligh. Sebabnya, karena penjahat ini mengharapkan, pertama kali si anak puber dan mengeluarkan mani itu dari konten pornografi yang  nantinya akan menjadi pelanggan setia konten itu. 'Pengalaman pertama' itu bisa kena ke 'direktur otak' yang bernama Dopamin. Dopamin yang memberikan stimulus kenikmatan yang dirasakan manusia, sehingga akan terus nagih dan nagih. Bahayanya, jika di otak anak telah ada perpustakan porno, dan itu telah berlangsung selama tahunan. "Saya yakin, semua anak bapak dan ibu di sini sudah melihat konten porno." kata Bu Elly.


Dalam survey, sebanyak 95 persen anak telah melihat konten porno, mulai dari video klip, game online, film, sinetron dan lainnya. Reaksi awal anak-anak itu sama, merasa jijik, tapi selanjutnya akan melihat lagi, dan lagi sehingga terbentuk perpustakaan porno di otak anak.

Terapkan ke Anak:
1. Jaga pandangan
2. Jaga kemaluan
Jika melihat yang nggak patut dan nggak pantas, jangan dilihat. Ini juga tertulis dalam Al Quran s.An Nur: 30.

Saran paling cetar dari Bu Elly:
Pertahankan rumah tangga agar terus harmonis, berjuang demi anak. Ciptakan hubungan suami istri terus hangat.

Ada salah satu klien Bu Elly, seorang ibu yang anak-anaknya sudah besar datang berkonsultasi. Si ibu ini bercerita kalau anak-anaknya memarahinya sambil dirinya ditunjuk-tunjuk karena telah menggugat cerai ayahnya. Si ibu mengakui kalau suaminya itu adalah seorang ayah yang sangat baik, sayang dan teladan sehingga dicintai anak-anaknya. Anak-anaknya menyalahkannya karena telah menggugat cerai suaminya.
"Bagaimana saya harus menjelaskan ke anak-anak bu, kalau ayahnya sudah selingkuh. Masih mending selingkuh dengan perempuan, tapi ini dengan laki-laki," kata si ibu menangis di hadapan Bu Elly Risman.
Tragis.

Lalu Bu Elly memberikan data-data yang bikin perut saya mules dan deg-degan. Terutama soal kasus Emon, yang belum lama diberitakan telah mensodomi puluhan anak-anak di kolam pemandian umum. Yayasan Buah Hati milik Bu Elly memberikan terapi bagi korban si Emon itu. Tapi yang menakutkan, ketika mendapatkan berita kalau korban si Emon telah melakukan hal sama ke anak lain dan muncul korban baru, nauzubillahminzalik.

Agar anak kita tumbuh sehat dalam keluarga yang rukun harmonis, ada tips bagaimana cara musyawarah dengan suami:
Agar pengasuhan anak berjalan dengan lancar, seorang ibu harus musyawarah dengan suaminya. Banyak istri yang mengeluh jika sering dicuekin suami dan perkataanya nggak didengarkan (ehm, ).
"Laki-laki itu diciptakan Allah hanya mengeluarkan kata-kata dalam sehari sebanyak 77 kata. Jika ingin didengar, siapkan maksimal 15 kata ke suami," saran Bu Elly.

Lalu Bu Elly meminta beberapa ibu untuk mencontohkan bagaimana mengeluarkan 15 kata perihal internet dan pornografi ini ( karena yang hadir di seminar itu kebanyakan ibu-ibu, sedangkan bapaknya hanya sedikit banget). Di seminar itu, para bapak diminta tutup kuping.

Ini menurut saya bagian yang lucu, ada beberapa ibu jadi ketahuan panggilan untuk suaminya. Ada 'Ay ', 'say, dan cyin. "Awal kalimat memakai kata anak, jika dibicarakan anaknya, dia akan mendengarkan, jangan bertele-tele," kata Bu Elly.

Setelah 15 kata terucap dan suami mulai mencondongkan tubuhnya tanda antusias, kita sebagai istri tandanya sudah aman bicara sebanyak kata pun, bahkan jika ingin minta perhiasan, bisa jadi dikabulkan (aazzeekkkk). lol.


Tips 3 Hal Jika Bicara ke Suami:
1. Pilih Waktu
Jangan pas dia pulang kerja langsung bicara, tunggu 30 menit. Saat yang tepat itu kata Bu Elly, setelah berhubungan intim.
2. Isu Kritis
Langsung ke pokok masalah, jangan bertele-tele.
3. Kalimat Tidak lebih 15 Kata.

Sebelum selesai, ini ada Tips terakhir:
1. Untuk para ayah, turunkan frekwensi suara jika bicara ke anak.
Saya punya cerita yang menyentuh dan menarik. Pada suatu hari Ibu Elly tak sengaja menonton TV, di situ ada dai kondang, Aa Gym yang menceritakan bagaimana anaknya, Ghaza pernah kecanduan game online dan kini justru menjadi penghafal Al Quran. Ini bermula ketika Aa Gym pernah sangat populer sekitar 10 tahun lalu. Karena banyaknya undangan, Aa Gym jadi tak memperhatikan anak.

Ibu Elly tertarik dengan cerita dai asal Bandung itu lalu kontak Aa Gym dan akhirnya bertemu. Ibu Elly bertanya bagaimana bisa mengubah anaknya yang kecanduan game online kini justru menjadi penghafal Al quran. Aa Gym menjawab, yaitu dengan menurunkan frekwensi suara. Lalu di hadapan Ibu Elly, Aa Gym menelpon Ghaza dengan suaranya yang halus, pelan dan nada rendah.

Nah, usai bercerita itu, Bu Elly meminta kita semua pura-pura berbicara ke anak dengan frekwensi suara yang kecil, tanpa Bu Elly bisa mendengar sama sekali.Menurutnya, perkataan seorang ayah yang sedikit, justru mengena ke anak dan sering diturutin. Berbeda dengan ibu yang ngomel-ngomel tak karuan, justru anaknya tak bergeming, Heeheh gitu tohh.

Latihan-latihan yang diajaran Bu Elly untuk berbicara dengan anak di rumah sangat berguna sekali meski kami sebagai orang tua kadang tertawa cekikikan, kata Bu Elly kita menertawai diri sendiri karena itu cerminan sikap kita di rumah. Bener sih.

2. Sebelum bicara ke anak, sholat taubat dulu

3. Harus mengerti dan paham dengan bahasa tubuh anak.

Bu Elly kasih contoh begini.
Seorang anak SD pulang sekolah dengan cemberut (ini ceritanya Bu Elly yang menjadi anak, dan kita semua menjadi orang tuanya, Lol). Raut wajah si anak kesal, marah dan ingin menangis. Dia merengek ke ibunya.
Anak: "Aku kesaaall..aku benciii."
Ibu: (Jangan bilang kenapa?, tapi) "oooo...benciii" menunggu kelanjutan si anak cerita
Anak: Iya PR ku ketinggalan....
Ibu: (Jangan..Ooo ketinggalannn *disentil entar sama bu elly, hihihi) Ibu berusaha mengungkapkan perasaan si anak.
Anak: "Aku di setrap"
Ibu: "Capek ya nak berdiri di strap.."
Anak: (anak mulai bercerita panjang ketika si ibu mengerti perasaanya. Ketika si anak mulai bercerita, sebagai ortu diam menjadi pendengar). Jika anak sedang capek karena pulang sekolah, banyak PR, dll, ortu muncul sebagai pendamping.

3. Jangan biarkan anak mengunci pintu kamar.
Ada kisah seperti itu, tau-tau anaknya masturbasi di kamar tanpa ortunya tahu. Astagfirullah.

Selama seminar Bu Elly selalu katakan, "Jangan tuntut anak untuk rangking! rangking!"(setuju bu!).


(selama ikut seminar ini tak henti-henti saya istigfar dengan wajah pias melihat banyaknya data yang dipaparkan Bu Elly. Semoga kita semua, dan anak-anak kita selalu dilindungi Allah SWT, dan mendapatkan teman serta lingkungan yang sehat walafiat ya, Amin Yra). Semoga tulisan ini bermanfaat ya, kalau ada yang lewat, maafkeuunnn..

ALIA F








25 comments:

  1. Makasih sharenya mbak.. selalu suka dg nasehat bu elli risman

    ReplyDelete
  2. Sukkaaa banget sama seminar Bu Elly.
    Saya pernah dan ketagihaaan pingin lagi dan lagi.
    Berasa dicubit sama Bu Elly.


    Ijin save yaa, mba..
    Haturnuhun sudah berbagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, silahkan, alhamdulillah jika bermanfaat, makasih

      Delete
  3. Makasih share nya mba. Ibu eli jg favorite psikolog saya. Mari sama2 belajar jd ortu yg baik untuk anak2 kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mari kita lindungi anak2 dari penjahat porno internet

      Delete
  4. Membaca tulisan ini berasa mengikuti seminar ibu elly secara langsung. Terima kasih sudah membagi tulisan ini ke khalayak

    ReplyDelete
  5. terima kasih sharenya, jadi ikut belajar juga walaupun masih single hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Macama, nanti diterapkan jika sudah jadi ibu ya heheheh

      Delete
  6. Senangnya saya baca ini.
    Iya ya, suami saya memang sebal kalau saya bicara panjang-panjang. Iya deh, sebelum ngomong, saya akan ngitung jumlah kata saya dulu dengan kalkulator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, kemarin bu Elly juga ngitung sudah brapa kata

      Delete
  7. Makasih mbak Alia sharingnya, miris banget ya, anak kecil sekarang temennya gadget, akupun merasakan begitu ke anak-anakku. Tapi, mereka masih mau ngobrol sama aku. MUngkin ke depan harus lebih dikurangi bersentuhan dengan gadget,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, kata bu Elly dipantau dan diberikan waktu sama usia kapan diberikan gadget

      Delete
  8. Betapa banyak pelajaran yg bisa kita petik disini. Izin share

    ReplyDelete
  9. Suka banget dgn seminar share ini. Makasih udah bagi2 reminder, mbak.

    Btw, itu menurunkan frekuensi atau volume suara, ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, bu Elly sih ngomong frekwensi, mungkin maksudnya sama juga dengan volume dan intonasi ya

      Delete
  10. Ngeri-ngeri sedap bacanya tapi banyak banget pelajaran yang didapat, thanks for sharing Mbak..

    ReplyDelete
  11. Terimakasih sharenya mbak..saya jadi merinding nih..

    ReplyDelete
  12. Nice reminder mba, mesti siaga jadi ortu jaman sekrang :)

    ReplyDelete
  13. Makasih mbk lubena, mba ratna dan mbak herva komennya, maap baru liat komentar hehehe

    ReplyDelete
  14. Makasih sharingnya, jadi dapat ilmu lagi nih.
    Kadang cemas juga ya sebagai ortu, anak-anak banyak pegang gadget.

    ReplyDelete