(Review) Film Fantastic Beast Where to Find Them, Kejutan Fantasi dan Imajinasi dari JK Rowling

"Fantastic Beast kayak Harry Potter." Begitu celetukan yang sering didengar, sehingga membawa saya ke bioskop. Saya menonton semua seri Harry Potter, tentu film ini bikin kepo dan penasaran seperti apa filmnya.

Untuk menonton sebuah film yang pertama saya lihat adalah pemainnya, sutradaranya, dan ceritanya. Apalagi kalau box office, itu menambah poin saya untuk ke bioskop. Ketika tahu yang main Eddie Redmayne, saya tertarik untuk menonton.

Eddie, sebagai aktor memang tidak familiar di Indonesia. Wajahnya cupu, penuh bintik di wajah, tapi menurut saya dia aktor Inggris yang sedang naik daun dan bertubi-tubi mendapatkan pujian di beberapa film dan penghargaan, seperti Academy Awards 2015 lewat film The Theory of Everything. Sebagai Stephen Hawking, akting Eddie bener-bener pecah badaayyyy... kereennn banget.

Tapi kesan pertama saya dengan akting Eddy ketika main di film My Week with Marilyn. Bercerita tentang kedekatan seorang pria biasa dengan aktris besar Marilyn Monroe.

Jangan salah juga, dibalik wajah anehnya itu, Eddy jadi model untuk produk Burbery lhoo...


Ok sip! Itu alasan saya yang akhirnya nonton Fantastic Beast, Where to Find Them yang tentunya ada bau-bau Harry Potter karena memang novel bikinan JK Rowling.

Cerita dibuka dengan ketegangan yang tengah melanda dunia sihir di tahun 1926. Penyihir hitam Gellert Grindelwald sedang menjadi buronan di seluruh dunia. Banyak kecelakaan misterius di dunia No-Maj (dibaca “no madge,” seperti “no magic”), sebutan untuk "Muggle" versi Amerika, dan dalam dunia wizard- fobia, yang dicurigai adalah perbuatan penyihir. Hal ini dapat mengakibatkan peperangan dengan kaum No-Maj.

Lalu,muncul dengan wajah malu-malu Newt Scamander (Eddie Redmayne), seorang penyihir dan ahli zoologi,  lengkap dengan rambut jambul ikalnya. Dia tiba di New York untuk perjalanan singkat, menyelamatkan seekor burung besar untuk dibebaskan di Arizona. Tapi Newt harus mengalami petualangan yang menegangkan. Itu juga tanpa sengaja ketika dia harus amprokan dengan seorang No Maj, Jacob Kowalski
 di sebuah bank dan tas kopernya tertukar. 

Newt selalu membawa tas koper lusuh miliknya, yang tak lain tas tersebut sangat ajaib. Isi di dalamnya sangat besar dan luas yang berisi sejumlah hewan-hewan aneh (fantastic beast). JK Rowling memang jagonya dalam menciptakan sebuah mahluk dongeng fantasi yang tidak pernah ada dalam bayangan.


Namanya juga hewan fantastis, bisa ditebak hewan tersebut satu persatu lepas dari dalam koper dan menghebohkan Amerika yang dalam waktu bersamaan sedang ditimpa kekuatan sihir maha dahsyat.
Tanpa diduga, Newt pun terlibat masalah besar yang hampir membuatnya dihukum mati.

Rowling dan sang sutradara, David Yates (Harry Potter series 2006-2011) sepertinya sudah tik tok dalam bekerjasama. Nyambung banget dan ngerti keinginan masing-masing.

Meski di Fantastic Beast: Where to Find Them ini, terlihat lebih realistis dibanding Harry Potter, tapi Rowling tidak lupa memberikan kekuatannya dalam membuat cerita. Mahluk-mahluk aneh,-selain  jenis hewan fantastic tadi- ketika di adegan Newt, Goldstein, Jacob dan Queenie mendatangi sebuah tempat hiburan underground untuk mendapatkan informasi rahasia. Bertebaran manusia dengan wajah aneh, hasil imajinasi Rowling.

Di seri pertama ini, David mencoba mengenalkan karakter satu persatu dengan jelas, meski di inti cerita ada di keempat pemain tadi. Banyaknya karakter dengan sebutan yang tak biasa, mungkin bisa bikin penonton bingung. Belum lagi, penonton sudah terpukau duluan dengan berbagai bentuk hewan fantastis itu.

Karakter Newt ini menurut saya lumayan tolol (memang harus di plot seperti itu jika film ingin berjalan menegangkan *jawabsendiri hiks). Udah tahu masuk negara orang, dia pake bawa koper yang isinya mahluk bandel yang justru memang menjadi pemancing tawa.

Newt juga dibuat seperti orang linglung, sebagai pemain inti di film ini, dia kebanyakan bingung dan tidak sejago yang dibayangkan. Newt dibuat karakter yang kaku, tapi dia bisa berubah banyak bicara dan santai ketika bersama dengan hewan peliharaanya.
Di dalam film pasti ada satu orang sebagai pengocok perut, yakni si gendut Jacob Kowalski (Dan Fulger). Dengan wajah melongonya, dan celetukan serta teriakannya, membuat film tersebut menjadi lucu. Dua wanita lain yang berbeda karakter, kakak beradik, Goldstein (Katherine Watherston) dan Queenie (Alison Sudol) yang jago membaca hati orang, sebagai pelengkap dalam film. Sedangkan aktor cakep Ezra Miller sebagai anak pemimpin Second Salemers, Credence, bisa tampil dengan wajah yang aneh, pucat dan menyeramkan. Ezra sebelumnya dikenal sebagai The Flash dan akan muncul di Justice League.

Well, Fantastic Beast jelas 'incaran' bagi penggemar Harry Potter yang kangen dengan sosok penyihir muda itu. Film box office ini (meski plot awalnya berjalan lambat) sepertinya diisi oleh penggemar setia Rowling yang berharap bisa menemukan sisa-sisa Harry Potter, karena ceritanya ini 70 tahun sebelum Harry Potter muncul.

Nah, soal ending ini yang nendang. Mau tahu apa? Gue bukannya mau spoiler nih, tapi karena gue sukak. Tetiba muncul Johnny Depp!! Oemji, he's my fav actor ever! Banyak penggemar yang kecewa kenapa tiba-tiba muncul Johnny Depp tanpa ada tanda apapun. David seperti memaksakan penonton untuk penasaran seperti saya, menunggu sekuelnya. 

AAL

Ayo Kumpulkan Cosmic Shell StarWars dari Hypermart


Siapa yang nggak tahu Starwars. Film terkenal fiksi ilmiah antariksa Amerika Serikat besutan sutradara kondang George Lucas. Sejak dirilis pada 1977, film ini langsung menjadi sebuah fenomena dan menghasilkan banyak produksi film, buku, permainan video, serial televisi, dan produk lainnya.

Nah, ketika Blogger Crony menawarkan blogger untuk datang ke Launching #HypermartStawars di Karawaci, Tangerang, saya langsung mengacungkan jari untuk ikutan. Alasannya, jelas Starwars, anak saya sangat suka. Alasan kedua karena dekat dengan rumah, masih dekat dengan Serpong.


Tiba di lokasi, sudah riuh dengan anak-anak TK dan SD yang ikutan lomba mewarnai. Kebetulan, Rafa yang duduk di kelas V SD gemar mewarnai, jadilan dia ikut serta. Yang menyenangkan tentu dia bisa membawa pulang pensil warna, kaos Star Wars dan tentunya cosmic shell!!

Apa itu cosmic shell? Memang nggak familiar terdengar ya. Cosmic shell itu adalah kepingan koin tiap tokoh Star Wars yang ada di dalam comic box yang bisa didapat seharga Rp 14900. Untuk mengoleksi cosmic shell, Hypermart juga menyediakan cosmic shell card collectors album yang bisa dibeli seharga Rp 59.900. Tapi jika kita belanja  minimum pembelian Rp 100 ribu dengan salah satu produk termasuk program ini berkesempatan mendapat satu cosmic shell. Cosmic Shell ini memiliki 24 karakter dari para pemain Star Wars. Promonya sendiri berlangsung dari 17 November 2016 sampai 11 Januari 2017.

Acara tersebut juga diselingi dengan pergulatan antara pemain Starwars lengkap dengan pedang serta bunyinya yang menggelegar. Setelah semua rangkaian acara selesai, tiba-tiba pengunjung dan anak-anak dikejutkan dengan kemunculan Darth Vader, Prajurit Strom dan bawahannya. Darth Vader juga mengeluarkan suara-suara khas seperti ada di film. Untuk foto bersama, kita butuh antrian yang cukup panjang.


Sesampai di rumah, Rafa dengan semangat memainkan cosmic shell dan ditunjukkan ke teman-temannya di rumah. Rafa yang biasanya suka main keluar rumah, jadi anteng bergulat dengan cosmic shell yang menjadi favoritnya.

AAL

Terus Ber-Istiqomah di #UsiaCantik


#UsiaCantik itu ketika bisa berkompromi dengan diri sendiri, belajar ikhlas dan terus istiqomah dengan menambah sisi spiritual.

Untuk saya pribadi #UsiaCantik tidak hanya terlihat dari bentuk fisik tapi juga dari dalam, dari jiwa. Saya merasa #UsiaCantik saya sekarang ini, usia yang bulan depan akan memasuki angka 42 tahun. Kaget? Sama. Saya selalu merasa usia saya masih 30-an, mungkin karena lingkungan pekerjaan dan pertemanan saya sehingga saya selalu merasa muda terus. Lol.

Sejak 1999 saya bekerja menjadi seorang jurnalist, untuk desk hiburan. Namanya juga hiburan, lingkungan pekerjaan selalu tempat yang enak. Di hotel, cafe, restoran atau tempat yang bikin tubuh bergoyang diiringi dentuman musik.

Setiap hari bertemu artis, orang cakep, orang penting dan selalu dikejar deadline. Yap! Wartawan itu adalah dunia tanpa koma, tidak ada titik, semua selalu dipenuhi dengan liputan ke lapangan, janjian dengan nara sumber, menulis berita dan biasanya untuk desk hiburan, selalu liputan sampai malam.
Belum lagi jika ada liputan ke luar kota dan daerah dengan fasilitas kelas A, yang tentunya pelayanan maksimal dari si pengundang untuk wartawan. Menjadi wartawan itu yang bikin enak, kita mendapat pelayanan khusus, serasa orang penting dan bikin ketagihan.

Liputan dari satu konser ke konser lainnya
Apalagi jika ada konser, bisa tengah malam saya sampai rumah. Selama belasan tahun menjadi wartawan hiburan, sudah banyak konser artis luar negri saya datangi. Sepertinya ada sensasi berbeda ketika berada di tengah konser, dikelilingi orang yang excited menonton musik sampai berjingkrak bahkan sampai nyanyi bersama. Mau gaya nyanyi kayak artisnya, gaya joget keliling lapangan, semuanya sah! Nggak ada larangan, nggak ada teguran. Truly, I Miss That!

Dapat kesempatan berbincang dengan Eyang BJ Habibie

Saat itu hidup seperti ngoyo banget. Fokus cuma bekerja, kumpulin uang, cari sidejob dengan menjadi kontributor di beberapa media, membantu teman menjadi media relation, tenaga saya seperti tidak ada habisnya. Suami bilang kalau saya hiperaktif. Teman saya bilang kalau saya seorang workholic. Saya seperti takut jika tidak bekerja. Takut tidak bisa berada di dunia wartawan dan dunia tulis menulis. Kedua anak saya titipkan pengasuh, saya sampai komitmen sama suami ketika akan menikah, saya ingin tetap bekerja meski ada anak!
Ngumpul sesama teman wartawan itu bikin happy
Tapi hidup itu tidak indah jika tidak melewati rintangan dan cobaan. Titik itulah yang membuat saya menjadi lebih bisa memahami diri sendiri. Hidup tidak melulu mencari uang. Hidup itu harus seimbang, apalagi di usia yang udah ubanan ini, harus juga mikirin akhirat, begitu pikiran saya.
Di usia kehamilan 4 bulan meluncurkan buku Tina: Metamorfosis Seorang Tina Toon. Datang dengan kursi roda
Sebutan Life begin at forty itu sepertinya sangat berlaku untuk saya. Fase rintangan dan ujian ini yang sepertinya membuat saya tersadar dan harus memilih, mana yang prioritas. Ujian ini seperti 'memaksa' saya untuk menjadi pribadi yang sabar dan ikhlas.

Fase #1 Hamil di usia 39 tahun.
Hamil itu anugerah, hamil itu rezeki dari Allah. Itu saya sepakat. Usai berulang tahun ke 39 dan memasuki tahun 2014, saya ternyata hami lagi. Itu di luar dugaan, setelah hamil terakhir kalinya delapan tahun lalu.

Hamil ketiga itu ternyata tidak berjalan lancar sesuai harapan. Di usia kehamilan 11 minggu, dokter mendiagnosa janin dalam kandungan saya tidak berkembang. Berhenti tumbuh di usia 6 minggu dan diharuskan kuret.

Saya dan suami sampai mendatangi 3 dokter untuk meyakinkan memang ini harus dikuret. Setelah yakin, kuret dilakukan di sebuah rumah sakit swasta.

Allah Maha Baik. Empat bulan kemudian, saya kembali hamil. Dan ini tidak semudah kehamilan pertama dan kedua saya, di mana saya tetap bekerja, liputan sampai malam dan melakukan aktivitas lainnya. Di kehamilan ke empat ini dokter mengharuskan saya bedrest karena adanya flek. Dokter khawatir, kejadian seperti sebelumnya terjadi lagi.

Sepertinya kehidupan saya berubah 180 derajat. Bayangin, saya harus berada di tempat tidur, hanya menonton TV tanpa bisa melakukan apapun, meski mengetik di laptop, dan itu berlangsung selama 9 bulan!

Itu bukan saya! Saya seorang wanta aktif yang senang bekerja. Senang melakukan aktivitas, dan senang jika otak ini terus bekerja.  Tapi, kini harus tertidur manis di tempat tidur.

Fase ke #2 Bleeding

Memasuki usia 4 bulan kehamilan, saya pendarahan hebat sampai harus opname selama lima hari di rumah sakit. Alhamdulillah, bayi di dalam kandungan baik-baik saja, bahkan tetap aktif.
Ternyata pendarahan itu pemicu kondisi bayi ketika dilahirkan.

Fase ke #3 Bayi harus Cepat Dikeluarkan

Ujian tak berhenti sampai di situ. Memasuki kehamilan 34 minggu, dokter melihat keanehan di bayi saya di dalam kandungan. Dari USG terlihat, seperti ada masalah di dalam perut bayi. Lalu saya direkomendasi untuk mendatangi seorang dokter ahli USG 4 dimensi.

Dari dokter tersebut, deg-degan saya semakin menjadi ketika dibilang bayi saya harus cepat dilahirkan dan dilakukan operasi pada perutnya. Si bayi tidak bisa mengeluarkan kotoran dari anus, jadi perutnya semakin membesar dan di dalam ususnya terlihat kotoran yang menumpuk. "Nanti perutnya bisa meletus," begitu kata dokter yang bikin saya parno habis-habisan.

Hingga pada akhirnya usia kehamilan 36 minggu saya harus di cesar, si bayi harus cepat dikeluarkan. Ini pengalaman pertama saya berada di meja operasi. Ternyata benar, bayi saya mengalami atresiasi yeyunustomi. Ada masalah di usus kecilnya, ususnya mampet sehingga kotoran tidak turun ke bawah dan dia tidak bisa pup.

Fase ke #4 Kena Bel Palsy
Tahukan apa itu Bel Palsy? Terlihat memang seperti kena serangan stroke. Karena wajah menjadi tidak bisa berfungsi sebelah. Saraf ketujuh rusak sehingga terjadilah bel palsy. Kalau masih bingung, saya kasih contoh Rano Karno yang belum lama ini wajahnya terlihat miring.

Bangun di pagi hari dan bercermin saya sangat kaget ketika melihat wajah saya menjadi penyok sebelah. Sebelumnya memang terasa mulut sakit, belakang telinga kiri sakit dan jika sholat untuk berwudhu atau kumur-kumur air selalu tumpah.

Mata kiri saya jadi tidak bisa digerakkan, selalu melotot. Saya tidak bisa tertawa dan tersenyum di bagian kiri wajah, mata kiri selalu berair. Wajah saya benar-benar mati sebelah! Tidak berfungsi. Dan itu terjadi menjelang lima hari persalinan sampai bayi berusia 2 minggu. Tak perduli tatapan orang, dokter dan teman yang datang melihat wajah saya aneh begitu.

Fase ke #5 Di Usia 3 Hari Bayi harus di operasi
Melihat bayi sendiri di usia 3 hari berada di meja operasi, seperti jiwa dicabik-cabik. Tubuhnya masih sangat mungil, berat dan panjang tubuhnya kecil, berbeda dengan kedua abangnya yang lahir sesuai umur. Sebagai orang tua, saya tidak bisa melakukan apapun untuk menolongnya. Hanya banyak berdoa dan berdoa.
My Happy Life

Setelah operasi, bayi saya harus berada di Nicu selama tiga minggu tanpa makan apapun. Bayi sekecil itu harus berpuasa. Banyak selang di seluruh tubuhnya, dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Fase ke #6 Resign dari Kantor

Setelah bayi pulang ke rumah saya memutuskan untuk berhenti kerja. Dua anak sebelumnya saya selalu memakai pengasuh, tapi untuk anak ketiga ini semua saya lakukan sendiri tanpa ada pembantu.

Namanya juga terbiasa bekerja, setelah bayi berusia 5 bulan, saya memutuskan untuk serius menjadi blogger. Toh, cara kerjanya tidak jauh berbeda dengan wartawan, dan yang pasti saya masih bisa menulis. Itu yang paling penting. Berkenalan dengan teman sesama blogger itu menyenangkan, mungkin karena sesama wanita, jadi obrolannya nyambung yang berhubungan dengan anak, suami, masak memasak dan atribut wanita lainnya.

Setelah melewati fase itu, saya mulai intropeksi dan meyakinkan diri, meski menjadi seorang freelancer, kita masih bisa bekerja dan aktualisasi diri. Bahkan, kini saya merasa nyaman, banyak hal positif yang bisa saya lakukan tanpa harus diribetkan dengan jadwal deadline dan penugasan.

Kini, saya bebas bisa bersilaturahmi dengan siapapun. Sering berkumpul dengan teman-teman sekolah. Saya bisa melakukan yoga, sehingga bisa lebih fokus, badan lentur dan merasa happy juga bugar. Saya juga mengikuti majlis ta'lim untuk memperkaya jiwa. Mengisi batin ini supaya lebih ikhlas dan istiqomah. Meski masih newbie menjadi seorang blogger, saya mencoba menyebarkan virus nge-blog ke orang lain. Ke kakak ipar, ke anak saya yang sulung dan belum lama ke sekolah SMAN1 Boedoet, Jakarta. Hidup terasa bermanfaat jika bisa berbagi ilmu yang masih sedikit ini.

Berbagi Nge-Blog Yuk dengan anak SMA
Dan yang paling membahagiakan adalah, saya bisa bertemu ketiga anak saya setiap saat, ngobrol, tertawa, bercanda dan jalan-jalan kapanpun mereka mau. Bagi saya anak itu adalah aset, masa depan, jangan sampai penyesalan datang ketika sudah terlambat hanya karena sibuk bekerja mencari uang.  Dan nggak tahu kenapa, saya sepertinya nggak ada keinginan lagi bekerja di kantor, capek punya bos yang cerewet menyuruh ini itu. Sekarang saya jadi bos untuk diri sendiri. Self Employee!

Here's my Family


#UsiaCantik dengan perawatan dari Produk  Revitalift Dermalift dari L’Oreal Paris Skin Expert.

Selama ini saya merawat tubuh dan wajah simple saja. Saya bukan tipe wanita yang nyalon banget. Ke salon paling hanya potong rambut atau pijat. Menjelang tidur hanya cuci wajah, jika pergi hanya menggunakan pelembab dan bedak. Bahkan, saya suka iseng melumuri wajah dengan susu UHT bekas sarapan anak saya. Bisa dibilang itu cara maskeran murah meriah, bikin wajah jadi lembab dan halus terlihat.

Tapi seiring bertambahnya usia saya direkomendasikan oleh seorang teman. Katanya  cara saya dalam merawat wajah selama ini kurang tepat. Dibutuhkan produk kecantikan untuk menjaga kelenturan kulit wajah agar tidak kendor.

Mata saya sudah terlihat berkerut di pinggirnya jika tertawa. Lingkaran di mata juga semakin jelas, terutama di mata kiri bekas bels palsy yang tak bisa hilang. Lengkungan di antara pipi dan hidung juga semakin jelas, apalagi di bagian garis senyum. Jika bercermin, baru sadar kalau usia sudah di atas 40 tahun.

Teman kuliah saya yang memang jago dandan ini menyarankan memakai  produk L'Oreal Revitalift Day Cream untuk kegiatan sehari-hari.  Gunanya mampu merawat kekencangan kulit dan anti kerut secara efektif. Selain itu, bisa mencegah penuaan dini serta bisa membuat kulit kencang.

Teknologi Baru Dermalift meningkatkan produksi 8 natural lifters yang merawat kekencangan kulit dari dalam, dikombinasikan dengan Pro-Retinol A bahan anti-wrinkle yang megoptimalkan regenerasi kulit.
Sedangkan untuk malam hari, setelah membersihkan wajah dengan Milky Cleasing Foam, wajah saya harus dioleskan Revitalift Night Cream. Jujur, hingga menjelang usia 42 tahun ini saya sekalipun tidak pernah memakai cream malam. Dan sekarang waktu yang pas untuk memakainya.

Cream ini berfungsi kece banget. Saat malam, kulit beregenerasi 2 kali lebih cepat, krim dengan formula innovatif yang menstimulasi 8 natural lifters pada kulit wajah untuk mengoptimalkan regenerasi kulit wajah. Saat bangun tidur, kulit terasa lembab, lembut dan nyaman. Kulit terasa lebih halus dan elastis, kerut tersamarkan.

Inilah #UsiaCantik saya. Isi kehidupan dengan terus istiqomah, selalu memperbaiki diri dan tampilan fisik juga harus terus menarik dengan produk Revitalift Dermalift dari L’Oreal Paris Skin Expert.

Jika kamu memiliki cerita tentang #UsiaCantik orang-orang disekitarmu, silahkan cek di sini persyaratan dan hadiahnya. http://bloggerperempuan.com/usiacantik/

“Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.”

Alia Fathiyah

Simpati Telkomsel, Cinta Pertamaku


Kartu Simpati Telkomsel bisa dibilang 'cinta pertama' saya. Pertama kali mempunyai handphone, saya menggunakan nomor Simpati Telkomsel, dan itu sudah berlangsung belasan tahun lamanya. Jadi begini ceritanya.

Pada 1999, tepatnya 17 tahun lalu, saya sedang berada di gedung DPR untuk tugas liputan. Terlihat Telkomsel sedang membuka booth untuk mensosialisasikan dengan menjual kartu perdana Simpati seharga Rp 75 ribu.

Yap! Dulu, kartu perdana memang masih mahal, malah ada harga Rp 1 juta. Handphone saja, belum semua memakainya, saya waktu itu hanya punya pager, hehehe. Karena telah punya kartu perdana dari Telkomsel, alhasil saya harus membeli telpon genggam yang saat itu masih sangat mahal. Akhirnya, saya membeli hanpdhone Nokia Pisang yang bekas. Maklum, baru kerja dan gaji wartawan sangat kecil, Lol.

Nah, sejak saat itu, kartu Simpati yang hingga kini masih saya pakai dengan baik, sangat membantu. Ketika orang kebingungan cari sinyal karena pakai operator lain, saya sih anteng-anteng saja karena sinyal selalu kencang. Bahkan jika saya liputan ke daerah, seperti ke Kupang, Batam atau Madura, teman-teman saya kesulitan mencari sinyal untuk kirim berita, saya bebas ditelpon dan menelpon untuk laporan berita.

Saya termasuk orang yang nggak mau ribet. Menurut saya menggunakan produk Telkom di era #IndonesiaMakinDigital ini sangat membantu dan mempermudah. Setelah puas memakai kartu Simpati selama belasan tahun, saya mencoba memakai produk Telkomsel lainnya, yaitu Kartu Halo. Bayangin, saking cintanya dengan produk Telkom, saya jadi menggunakan dua kartu keluaran Telkomsel.

Banyak yang mengatakan, dengan menggunakan Kartu Halo, paket internet yang digunakan sangat murah. Saya pun penasaran dan mendatangi GraPari, ternyata memang benar. Selama satu bulan saya hanya membayar Rp 60 ribu dengan gratisan internet, bebas telpon dan SMS sesama Telkomsel. Ketika saya menceritakan hal ini, adik saya pun ikutan daftar Kartu Halo, hahahha.

Yang mempermudah lainnya adalah semua keluarga besar saya menggunakan nomor dari Telkomsel. Dengan Kartu Simpati saja,  saya bisa murah bersilaturahmi ke semua keluarga dengan mengaktifkan TM ON, hanya Rp 2500 hingga sore hari. Bukan saja keluarga, sahabat saya yang ada di Yogyakarta, Depok dan Pamulang (sahabat saya ada 3 heheh) juga menggunakan nomor Telkomsel.  Lebih murah dan tentunya silaturahmi juga terus jalan tanpa putus.

Nah, bukan produk Telkom itu saja yang saya gunakan. Ketika saya mendaftar Kartu Halo, saya tertarik untuk mendaftar Telkomsel TCash. Saya melihat banyak restoran yang memberikan diskon besar jika menggunakan TCash. Namanya emak-emak, kayaknya nggak sah kalau nggak cari yang diskonan.

Pakai Tcash dan IndiHome

Hidup saya memang dikelilingi oleh produk Telkom. Seiring waktu sekarang ini, saya  sudah menjadi seorang freelancer dan blogger, tentu saya sangat membutuhkan koneksi internet di rumah. Akhirnya, suami memasang paket IndiHOME. Dan paket ini sangat menakjubkan dan bikin nagih. Bagaimana tidak. Sebelum memakai IndiHOME, saya sudah menggunakan TV Kabel lainnya selama bertahun-tahun.
Tapi ketika menggunakan produk Telkom satu ini, kami satu keluarga yang memang sangat suka menonton film, terbantukan sekali jika ada film terlewat tak bisa ditonton. Saya hanya memencet On Demand, baik untuk channel televisi atau pun untuk channel film. Dan kita nggak akan ketinggalan film ataupun info terbaru.

Ckckckck...memang sangat dimanjakan sekali ini. Harganya pun tergolong murah jika saya bandingkan dengan TV Kabel yang saya gunakan sebelumnya.

Oke, Telkom, saya menunggu inovasi barunya lagi. Pasti saya akan coba.

Alia Fathiyah