Wednesday, November 16, 2016

Terus Ber-Istiqomah di #UsiaCantik


#UsiaCantik itu ketika bisa berkompromi dengan diri sendiri, belajar ikhlas dan terus istiqomah dengan menambah sisi spiritual.

Untuk saya pribadi #UsiaCantik tidak hanya terlihat dari bentuk fisik tapi juga dari dalam, dari jiwa. Saya merasa #UsiaCantik saya sekarang ini, usia yang bulan depan akan memasuki angka 42 tahun. Kaget? Sama. Saya selalu merasa usia saya masih 30-an, mungkin karena lingkungan pekerjaan dan pertemanan saya sehingga saya selalu merasa muda terus. Lol.

Sejak 1999 saya bekerja menjadi seorang jurnalist, untuk desk hiburan. Namanya juga hiburan, lingkungan pekerjaan selalu tempat yang enak. Di hotel, cafe, restoran atau tempat yang bikin tubuh bergoyang diiringi dentuman musik.

Setiap hari bertemu artis, orang cakep, orang penting dan selalu dikejar deadline. Yap! Wartawan itu adalah dunia tanpa koma, tidak ada titik, semua selalu dipenuhi dengan liputan ke lapangan, janjian dengan nara sumber, menulis berita dan biasanya untuk desk hiburan, selalu liputan sampai malam.
Belum lagi jika ada liputan ke luar kota dan daerah dengan fasilitas kelas A, yang tentunya pelayanan maksimal dari si pengundang untuk wartawan. Menjadi wartawan itu yang bikin enak, kita mendapat pelayanan khusus, serasa orang penting dan bikin ketagihan.

Liputan dari satu konser ke konser lainnya
Apalagi jika ada konser, bisa tengah malam saya sampai rumah. Selama belasan tahun menjadi wartawan hiburan, sudah banyak konser artis luar negri saya datangi. Sepertinya ada sensasi berbeda ketika berada di tengah konser, dikelilingi orang yang excited menonton musik sampai berjingkrak bahkan sampai nyanyi bersama. Mau gaya nyanyi kayak artisnya, gaya joget keliling lapangan, semuanya sah! Nggak ada larangan, nggak ada teguran. Truly, I Miss That!

Dapat kesempatan berbincang dengan Eyang BJ Habibie

Saat itu hidup seperti ngoyo banget. Fokus cuma bekerja, kumpulin uang, cari sidejob dengan menjadi kontributor di beberapa media, membantu teman menjadi media relation, tenaga saya seperti tidak ada habisnya. Suami bilang kalau saya hiperaktif. Teman saya bilang kalau saya seorang workholic. Saya seperti takut jika tidak bekerja. Takut tidak bisa berada di dunia wartawan dan dunia tulis menulis. Kedua anak saya titipkan pengasuh, saya sampai komitmen sama suami ketika akan menikah, saya ingin tetap bekerja meski ada anak!
Ngumpul sesama teman wartawan itu bikin happy
Tapi hidup itu tidak indah jika tidak melewati rintangan dan cobaan. Titik itulah yang membuat saya menjadi lebih bisa memahami diri sendiri. Hidup tidak melulu mencari uang. Hidup itu harus seimbang, apalagi di usia yang udah ubanan ini, harus juga mikirin akhirat, begitu pikiran saya.
Di usia kehamilan 4 bulan meluncurkan buku Tina: Metamorfosis Seorang Tina Toon. Datang dengan kursi roda
Sebutan Life begin at forty itu sepertinya sangat berlaku untuk saya. Fase rintangan dan ujian ini yang sepertinya membuat saya tersadar dan harus memilih, mana yang prioritas. Ujian ini seperti 'memaksa' saya untuk menjadi pribadi yang sabar dan ikhlas.

Fase #1 Hamil di usia 39 tahun.
Hamil itu anugerah, hamil itu rezeki dari Allah. Itu saya sepakat. Usai berulang tahun ke 39 dan memasuki tahun 2014, saya ternyata hami lagi. Itu di luar dugaan, setelah hamil terakhir kalinya delapan tahun lalu.

Hamil ketiga itu ternyata tidak berjalan lancar sesuai harapan. Di usia kehamilan 11 minggu, dokter mendiagnosa janin dalam kandungan saya tidak berkembang. Berhenti tumbuh di usia 6 minggu dan diharuskan kuret.

Saya dan suami sampai mendatangi 3 dokter untuk meyakinkan memang ini harus dikuret. Setelah yakin, kuret dilakukan di sebuah rumah sakit swasta.

Allah Maha Baik. Empat bulan kemudian, saya kembali hamil. Dan ini tidak semudah kehamilan pertama dan kedua saya, di mana saya tetap bekerja, liputan sampai malam dan melakukan aktivitas lainnya. Di kehamilan ke empat ini dokter mengharuskan saya bedrest karena adanya flek. Dokter khawatir, kejadian seperti sebelumnya terjadi lagi.

Sepertinya kehidupan saya berubah 180 derajat. Bayangin, saya harus berada di tempat tidur, hanya menonton TV tanpa bisa melakukan apapun, meski mengetik di laptop, dan itu berlangsung selama 9 bulan!

Itu bukan saya! Saya seorang wanta aktif yang senang bekerja. Senang melakukan aktivitas, dan senang jika otak ini terus bekerja.  Tapi, kini harus tertidur manis di tempat tidur.

Fase ke #2 Bleeding

Memasuki usia 4 bulan kehamilan, saya pendarahan hebat sampai harus opname selama lima hari di rumah sakit. Alhamdulillah, bayi di dalam kandungan baik-baik saja, bahkan tetap aktif.
Ternyata pendarahan itu pemicu kondisi bayi ketika dilahirkan.

Fase ke #3 Bayi harus Cepat Dikeluarkan

Ujian tak berhenti sampai di situ. Memasuki kehamilan 34 minggu, dokter melihat keanehan di bayi saya di dalam kandungan. Dari USG terlihat, seperti ada masalah di dalam perut bayi. Lalu saya direkomendasi untuk mendatangi seorang dokter ahli USG 4 dimensi.

Dari dokter tersebut, deg-degan saya semakin menjadi ketika dibilang bayi saya harus cepat dilahirkan dan dilakukan operasi pada perutnya. Si bayi tidak bisa mengeluarkan kotoran dari anus, jadi perutnya semakin membesar dan di dalam ususnya terlihat kotoran yang menumpuk. "Nanti perutnya bisa meletus," begitu kata dokter yang bikin saya parno habis-habisan.

Hingga pada akhirnya usia kehamilan 36 minggu saya harus di cesar, si bayi harus cepat dikeluarkan. Ini pengalaman pertama saya berada di meja operasi. Ternyata benar, bayi saya mengalami atresiasi yeyunustomi. Ada masalah di usus kecilnya, ususnya mampet sehingga kotoran tidak turun ke bawah dan dia tidak bisa pup.

Fase ke #4 Kena Bel Palsy
Tahukan apa itu Bel Palsy? Terlihat memang seperti kena serangan stroke. Karena wajah menjadi tidak bisa berfungsi sebelah. Saraf ketujuh rusak sehingga terjadilah bel palsy. Kalau masih bingung, saya kasih contoh Rano Karno yang belum lama ini wajahnya terlihat miring.

Bangun di pagi hari dan bercermin saya sangat kaget ketika melihat wajah saya menjadi penyok sebelah. Sebelumnya memang terasa mulut sakit, belakang telinga kiri sakit dan jika sholat untuk berwudhu atau kumur-kumur air selalu tumpah.

Mata kiri saya jadi tidak bisa digerakkan, selalu melotot. Saya tidak bisa tertawa dan tersenyum di bagian kiri wajah, mata kiri selalu berair. Wajah saya benar-benar mati sebelah! Tidak berfungsi. Dan itu terjadi menjelang lima hari persalinan sampai bayi berusia 2 minggu. Tak perduli tatapan orang, dokter dan teman yang datang melihat wajah saya aneh begitu.

Fase ke #5 Di Usia 3 Hari Bayi harus di operasi
Melihat bayi sendiri di usia 3 hari berada di meja operasi, seperti jiwa dicabik-cabik. Tubuhnya masih sangat mungil, berat dan panjang tubuhnya kecil, berbeda dengan kedua abangnya yang lahir sesuai umur. Sebagai orang tua, saya tidak bisa melakukan apapun untuk menolongnya. Hanya banyak berdoa dan berdoa.
My Happy Life

Setelah operasi, bayi saya harus berada di Nicu selama tiga minggu tanpa makan apapun. Bayi sekecil itu harus berpuasa. Banyak selang di seluruh tubuhnya, dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Fase ke #6 Resign dari Kantor

Setelah bayi pulang ke rumah saya memutuskan untuk berhenti kerja. Dua anak sebelumnya saya selalu memakai pengasuh, tapi untuk anak ketiga ini semua saya lakukan sendiri tanpa ada pembantu.

Namanya juga terbiasa bekerja, setelah bayi berusia 5 bulan, saya memutuskan untuk serius menjadi blogger. Toh, cara kerjanya tidak jauh berbeda dengan wartawan, dan yang pasti saya masih bisa menulis. Itu yang paling penting. Berkenalan dengan teman sesama blogger itu menyenangkan, mungkin karena sesama wanita, jadi obrolannya nyambung yang berhubungan dengan anak, suami, masak memasak dan atribut wanita lainnya.

Setelah melewati fase itu, saya mulai intropeksi dan meyakinkan diri, meski menjadi seorang freelancer, kita masih bisa bekerja dan aktualisasi diri. Bahkan, kini saya merasa nyaman, banyak hal positif yang bisa saya lakukan tanpa harus diribetkan dengan jadwal deadline dan penugasan.

Kini, saya bebas bisa bersilaturahmi dengan siapapun. Sering berkumpul dengan teman-teman sekolah. Saya bisa melakukan yoga, sehingga bisa lebih fokus, badan lentur dan merasa happy juga bugar. Saya juga mengikuti majlis ta'lim untuk memperkaya jiwa. Mengisi batin ini supaya lebih ikhlas dan istiqomah. Meski masih newbie menjadi seorang blogger, saya mencoba menyebarkan virus nge-blog ke orang lain. Ke kakak ipar, ke anak saya yang sulung dan belum lama ke sekolah SMAN1 Boedoet, Jakarta. Hidup terasa bermanfaat jika bisa berbagi ilmu yang masih sedikit ini.

Berbagi Nge-Blog Yuk dengan anak SMA
Dan yang paling membahagiakan adalah, saya bisa bertemu ketiga anak saya setiap saat, ngobrol, tertawa, bercanda dan jalan-jalan kapanpun mereka mau. Bagi saya anak itu adalah aset, masa depan, jangan sampai penyesalan datang ketika sudah terlambat hanya karena sibuk bekerja mencari uang.  Dan nggak tahu kenapa, saya sepertinya nggak ada keinginan lagi bekerja di kantor, capek punya bos yang cerewet menyuruh ini itu. Sekarang saya jadi bos untuk diri sendiri. Self Employee!

Here's my Family


#UsiaCantik dengan perawatan dari Produk  Revitalift Dermalift dari L’Oreal Paris Skin Expert.

Selama ini saya merawat tubuh dan wajah simple saja. Saya bukan tipe wanita yang nyalon banget. Ke salon paling hanya potong rambut atau pijat. Menjelang tidur hanya cuci wajah, jika pergi hanya menggunakan pelembab dan bedak. Bahkan, saya suka iseng melumuri wajah dengan susu UHT bekas sarapan anak saya. Bisa dibilang itu cara maskeran murah meriah, bikin wajah jadi lembab dan halus terlihat.

Tapi seiring bertambahnya usia saya direkomendasikan oleh seorang teman. Katanya  cara saya dalam merawat wajah selama ini kurang tepat. Dibutuhkan produk kecantikan untuk menjaga kelenturan kulit wajah agar tidak kendor.

Mata saya sudah terlihat berkerut di pinggirnya jika tertawa. Lingkaran di mata juga semakin jelas, terutama di mata kiri bekas bels palsy yang tak bisa hilang. Lengkungan di antara pipi dan hidung juga semakin jelas, apalagi di bagian garis senyum. Jika bercermin, baru sadar kalau usia sudah di atas 40 tahun.

Teman kuliah saya yang memang jago dandan ini menyarankan memakai  produk L'Oreal Revitalift Day Cream untuk kegiatan sehari-hari.  Gunanya mampu merawat kekencangan kulit dan anti kerut secara efektif. Selain itu, bisa mencegah penuaan dini serta bisa membuat kulit kencang.

Teknologi Baru Dermalift meningkatkan produksi 8 natural lifters yang merawat kekencangan kulit dari dalam, dikombinasikan dengan Pro-Retinol A bahan anti-wrinkle yang megoptimalkan regenerasi kulit.
Sedangkan untuk malam hari, setelah membersihkan wajah dengan Milky Cleasing Foam, wajah saya harus dioleskan Revitalift Night Cream. Jujur, hingga menjelang usia 42 tahun ini saya sekalipun tidak pernah memakai cream malam. Dan sekarang waktu yang pas untuk memakainya.

Cream ini berfungsi kece banget. Saat malam, kulit beregenerasi 2 kali lebih cepat, krim dengan formula innovatif yang menstimulasi 8 natural lifters pada kulit wajah untuk mengoptimalkan regenerasi kulit wajah. Saat bangun tidur, kulit terasa lembab, lembut dan nyaman. Kulit terasa lebih halus dan elastis, kerut tersamarkan.

Inilah #UsiaCantik saya. Isi kehidupan dengan terus istiqomah, selalu memperbaiki diri dan tampilan fisik juga harus terus menarik dengan produk Revitalift Dermalift dari L’Oreal Paris Skin Expert.

Jika kamu memiliki cerita tentang #UsiaCantik orang-orang disekitarmu, silahkan cek di sini persyaratan dan hadiahnya. http://bloggerperempuan.com/usiacantik/

“Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift.”

Alia Fathiyah

14 comments:

  1. Kemrin udh ngeliat produk ini di foodhall. Tp msh ragu beli :D. Umurku jg udh 34 mba, udh wktnya lbh lagi perawatan soal wajah. Sbnrnya dr jaman smu aku udh rutin pake skin care yg sesuai umur waktu itu.. Produk trakhir yg aku pake skr udh dr umurku 25. Jd aku udh niat mw ganti krn sprtinya udh kelamaan. Dgr2 kalo udh trlalu lama dgn suatu produk efeknya jg ga trlalu terasa lagi.. Kalo skr ini aku bnr2 fokus ama produk yg bisa ngurangin kantung hitam di mata mbak.. Moga2 loreal ini bisa ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya semoga, memang memakai produk harus sesuai umur karena kandungan yang terkandung sudah melewati serangkaian penelitian, jadi cocok. Makasih udah mampir ya

      Delete
  2. Semoga selalu sehat, Mbak. Seru ya kerja jadi jurnalis hiburan. Saya selalu baca postingan Mbak. Semangat!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aminnn, waaa makasih Mbak Haya sering mampir ke sini, senangnyaaaa.. jangan bosan ya mbak hehehe

      Delete
  3. ngilu sendiri mendengar cerita tentang bel palsy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, memang si orang liatnya pada aneh gitu, tapi bisa cepet sembuh kalau kita rutin fisioterapi...makasih udah mampir, jangan bosan ya

      Delete
  4. Berbagai peristiwa yang Ibu alami selama menjalani kehidupan membuat Ibu menjadi lebih kuat dan lebih cantik di usia matang. Saya salut sama Ibu ;).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heheheh makasih mbak Dina, tapi jangan panggil ibu donggg hahahah *teteeupppgakmautuaa. Makasih udah mampir

      Delete
  5. Wah..si sulung di Boedoet Mba? Saya jadi ingat iklannya.. Budi Utomo our SMA, i'm sure i can't forget you..hehehe.. Padahal itu iklan lustrum entah tahun kapan..dan saya anak daerah yg ngga tau Boedoet..

    Betewe..si bungsu hebat Mba..kuat.. Mewarisi kekuatan mamanya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe sulungku msh kelas 9 mbak, di budut aku diajak temen yang alumni sana. Makasih ya udah mampir, jangan bosann

      Delete
  6. Bener ya Mak tempaan hidup itu justru membuat kita lebih matang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe iya, semoga yang baca tulisan ini terus sehat, amin. Makasih udah mampir mak

      Delete
  7. Mbak, aku juga memutuskan untuk meninggalkan dunia jurnalis setelah punya anak. Kamu menginspirasiku. Seru dan terharu deh baca kisahmu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah jika bisa menginspirasi, makasih ya sudah mampir, salam kenal

      Delete