Manajer Artis (1), Kenapa Kelihatan Sok Penting?


Jika sudah jadi artis terkenal yang banyak job, biasanya artis juga punya manajer. Tapi ada kok artis ecek-ecek (artis gak beken) yang sok pake manajer, mungkin biar kelihatan mahal dan keliatan jadi artis penting (hiks). Tapi ada juga artis yang handle sendiri kerjaannya karena nggak pakai manajer. Mungkin ini artis pelit yang ogah honornya dipotong (ups).

Nah, resminya, manajer itukan memenej atau mengatur artisnya. Mulai dari cariiin job, promosiin si artis atau mengatur si  artis untuk mendapatkan imej bagus sehingga sampai ke klien yang ingin menyewanya juga ke media yang membantunya untuk memuluskan karir. Manajer juga harus bagus dalam hal public speaking dan pinter negosiasi untuk artisnya ke klien.


Tapi menurut saya yang paling penting itu harus jujur! Hari gini susah cari orang jujur. Coba lihat, berapa banyak artis yang pake manajer itu-itu terus selama bertahun-tahun? Nyaris nggak ada. Cuma Selby, manajer Krisdayanti dan Deni Pete, manajer band GIGI. Mereka jadi manajer sejak awal karir artisnya.

Kalau nggak jujur susah juga. Si manajer yang terima job dan nego honor, otomatis akan masuk ke rekening manajernya semua. Kebanyakan, manajer artis sering kabur dengan membawa uang ratusan juta. Padahal, supaya aman, si artis minta saudaranya untuk jadi manajer. Tapi teetteeeuppp, honor mereka dibawa kabur, seperti kasus penyanyi Shanty yang pernah mencuat.

Lalu kenapa dibilang sok penting? Hmmm..Dari pengalaman saya beberapa kali berurusan dengan manajer artis kadang bikin keki. Mereka merasa sok penting ditelpon setiap saat, misal untuk wawancara. Padahal itu untuk kepentingan karir artisnya yang tentunya berimbas ke penghasilan si manajer dong.

Biasanya, manajer rese begini kalau nyadar artisnya sedang naik daun dan lagi dicari-cari wartawan, mereka langsung pasang badan. Atau jika si artis kena kasus. "Sori mbak, si artis ini lagi sibuk," kata si manajer langsung mematikan hape nya. Atau mereka dengan teganya mematikan panggilan telpon, meski sebelumnya sudah kirim sms. Yang paling nyebelin jika bertemu langsung. Si manajer ini pasang wajah kenceng (pake botox kayaknya), tanpa senyum, jika ditegur hanya melirik sebentar lalu mengamit lengan artisnya untuk menjauh. Padahal, artisnya pasang senyum ke semua wartawan dan siap ditanyai.

Entahlah, apakah ini setingan artis supaya imejnya sebagai artis ramah dan mengorbankan manajernya untuk pasang wajah jutek. Atau memang setelah mendapatkan label manajer artis, mereka jadi merasa sok penting karena tentunya semua orang akan menghubunginya supaya bisa meng-hire artisnya.

Saya punya pengalaman menakjubkan. Saya pernah menghubungi seorang penyanyi lawas yang masih cantik, muda dan bertubuh mungil. Untuk mewawancarai dia, harus melewati berlapis-lapis. Saya sampai bingung, tiga orang ini manajernya semua atau asisten doang yang memang cuma megangin hape si artis?

Waktu itu, manajer pertama bertanya apa tema yang ingin diwawancarai. Setelah saya jelaskan, dia meminta daftar pertanyaan via email. (hhmmmm...REM to the PONG). Oke, saya turuti, demi deadline majalah Tempo. Karena susah ketemu, jadi wawancara by phone untuk halaman Pokok Tokoh di belakang.

Setelah dia setuju, saya harus menghubungi orang lain dan dikasih nomornya. Lalu orang kedua ini, suruh saya telpon orang satunya lagi. What??? "Ini langsung asistennya mbak, dia yang sering ngikutin si A, jadi ada di sampingnya terus."

Lalu, saya hubungin asisten itu. Tau gak, manajer ketiga ini jawab begini. "Mbak, si A lagi sibuk, nanti kalau mbak saya telpon, langsung telpon ke nomor Mbak A langsung yaa.." (hhgghhhh...%$#@#).

Pada pagi hari, ketika saya otw ke kantor dengan commuterline (yang pernah naek commuterline tau dong, gimana padetnya itu kendaraan yang tak berperikemanusiaan). Si manajer ketiga telpon, secara berdiri cuma kaki satu di commuter, tentu saya kesulitan ambil handphone di tas.

Setelah turun dari commuter, saya telpon manajernya. "Mbak, si Mbak A nya udah pergi, tadi saya telponin susah sih, nggak diangkat. Nanti telpon aja 1 jam lagi," katanya. (hhgghhhhh...%$#@$ babak 2). *sabar,tariknafaspanjang. "Oke mbak," kata saya dengan suara lembut, padahal berasa pengen teriakin itu manajer setelah berdesak-desakan di Commuter.

Oke 1 jam kemudian sudah duduk manis di depan meja di kantor. Lalu telpon si artis mungil itu, dan nyambung! yesss...mulailah wawancara by phone. Baik sihhh. Setelah tayang di majalah, saya kabari dia via WA, dan dia membalasnya dengan mengucapkan terima kasih. Beberapa minggu kemudian, ketika saya mau wawancara by Wa lagi cuma dibaca booo...gak dibalas sama sekali sama si Artis. Jadi, gue kudu lewatin 3 manajer lo lagi gitu??? (hhgghhh%^$##)



Kuliner Asik di Bukittinggi

Ini lapak Cindua Langkok

Masakan Padang paling terkenal seantero dunia. Meski pedas-pedas cyantik, kuliner Padang selalu dicari. Nah, kalau ke Bukittinggi kita akan disajikan makanan Padang yang enak, mantap, asik dan lezat. Ini versi saya.

1. Cindua Langkok
Dibandingkan bubur kampiun, cindua langkok memang tidak setenar itu. Tapi rasanyaaa, endess banget dan bikin ketagihan. Lokasi di Los Lambuang, tempatnya jualan nasi kapau yang juara itu. Di lokasi itu, hanya Uncu Nelli yang berjualan Cindua Langkok.
Cindua Langkok siap disantapp
Ini cendolnya
Ampiang dan lopis

Cindua itu adalah cendol. Ada dua macam cendol warna putih dan kehitaman. Lopis ketan, dicampur cendol, lalu diberi gula merah yang dicampur duren, diberi ampiang (beras ketan yang digongseng)lalu es batu. Wuiihhh lezaattt dan bikin nambah. Kalau di Jakarta terhendus tempatnya, kasih info ke saya yaa

2. Ampiang Dadiah
Ini makanan hasil perkawinan emping beras dengan dadiah, sejenis yoghurt tradisional Minangkabau. Dadiah adalah sejenis kudapan tradisional Minangkabau dari hasil fermentasi susu kerbau. Namun, berbeda dibanding yoghurt yang banyak ditemui di mini market atau pun supermarket. Cara pembuatannya fermentasi susu kerbau yang langsung dikerskan dengan wadah bambu. Ditambah gula merah, hhmmm yummyy
H Minah di Pasar Atas dekat Jualan baju bekas
Ini ampiang dadiah

3. Teh talua (teh telor)
Menurut cerita rakyat masyarakat Padang, konon Teh Talua dikenal dengan teh untuk para kaum berada atau bangsawan.  Teh Talua paling enak dinikmati sambil berkumpul bersama kaawan-kawan atau keluarga di kedai. Sedangkan di rumah, Teh Talua biasa diminum sebelum melakukan kegiatan, karena dipercaya bisa memberikan kebugaran bagi tubuh.
Teh Talua siap dikocok dengan mixer
Teh Talua siap diberi air teh panas dan susu
Nah ini apak-apak mau eksis
Di kedai Teh Talua di depan Pasar Banto, Bukittinggi, jam 6 pagi terlihat sudah ramai bapak-bapak yang minum teh talua. Jadi mengingatkan saya di kedai daerah lain, misalnya Bangka atau Medan, kedai kopi yang paling ramai di pagi hari.

Teh Talua terdiri dari tiga lapis, yakni lapisan kecoklatan, putih dan busa. Cara Membuat Teh Talua adalah dengan mengaduk kuning telur dengan gula hingga berbusa. Tambahkan seduhan air teh dan susu kental manis.Bisa dicoba dibuat di rumah. Oiya, telurnya bisa memakai telur bebek atau ayam kampung.

4. Itik Lado ijo 
Ini salah satu kuliner yang bikin saya penasaran. Terletak dekat Ngarai Sianok, tempatnya dibuat lesehan, ada juga kursi yang mengelilingi meja. Dengan pemandangan Ngarai, tempatnya asik.
Tapi sayang, pelayanannya kurang memuaskan. Pemesanan lama diantar, dan jika dipanggil pelayannya pura-pura nggak dengar. Belum selesai melayani meja yang satu, mereka sudah melayani pengunjung yang datang.
Ini penampakan itik lado ijo,terlihat lezatkan
Kita juga disuguhi berbagai lauk, mirip di warung Padang

Bagaimana dengan rasa? Tidak begitu spesial, saya membayangkan itik lado hijau yang rasanya nendang nikmat, tapi ternyata tidak.. Malah lebih enak itik di Jakarta yang sering saya makan. Maap ya, I tell the truth about this.

5. Pical Ketupek
Kuliner ini yang sering terbayang-bayang di depan mata sejak di Jakarta. Ini salah satu favorit saya terlebih untuk sarapan. Pagi-pagi saya sudah menyusuri Pasar Bawah, karena sudah lama tidak ke sana, saya nyasar. Setelah tanya sana-sini akhirnya bertemu juga.
Pical Ketupek siap dimakan
Ini lokasinya di Pasar Bawah

Ini ketupat yang dicampur sayuran pakis, kol dan mi kuning. Sebelumnya ketupat disiram dengan gulai nangka, terakhir disiram kuah kacang dan diberi kerupuk. Kenyaanggg...

6. Nasi Kapau
Terletak di Los Lambung, sama dengan lokasi Cindua Langkok. Bisa melewati pasar lereng, dari arah Jam Gadang kita ke arah jalanan yang menurun panjang dan kanan kiri orang berjualan. Macet dan ramai, lalu belok kiri terlihat kapau-kapau bertebaran.

Kita direkomendasi Kapau Ni Lis. Entah, saya merasakannya biasa saja. Mungkin karena sudah ketagihan dengan Cindua Langkok, jadi nasi kapau terasa biasa heheheh.

*Kalau ada rekomendasi lain silahkan tulis di komentar ya

AAL

Yang Menarik di Bukittinggi

Jam Gadang sore hari jelang pergantian tahun 2015

Kota Bukittinggi merupakan kota yang sejuk, tentunya menjadi salah satu kota favorit tujuan wisata. Pernah menjadi ibu kota Indonesia, Bukittinggi makin berkembang pesat. Tapi ada beberapa bagian yang menjadi khas Bukittingi dan untuk saya pribadi sangat menarik.

1. Pasar Atas, Pasar Bawah
Di Bukittingi terkenal dengan pasarnya. Di sebut pasar bawah karena memang berada di bawah, sedangkan untuk pasar atas kita harus menaiki tangga. Sesuai dengan namanya, kota Bukittingi memang berbukit, banyak janjang (tangga) untuk bisa mengelilingi kota yang makin padat itu.
Pasar Bawah
Pasar tersebut sangat menarik, masih tradisional, nggak heran jika hujan jalanan becek. Setiap hari Rabu dan Sabtu, ada hari pakan, banyak pedagang dari luar Bukittinggi datang dan menggelar dagangannya. Mulai dari sayuran, buah, rempah-rempah. Rumah saya yang terletak di depan Pasar Banto, akan ramai tiap hari pakan. Bahkan hingga depan pintu rumah mereka menggelar dagangannya.

2.Janjang 40 (ampek puluah)
Adalah jenjang atau leretan anak tangga yang menghubungkan Pasar Atas dengan Pasar Bawah dan Pasar Banto. Sebenarnya Janjang 40 memiliki lebih dari 40 anak tangga yang terbagi dalam beberapa bagian. Jumlah anak tangga keseluruhan dari anak tangga paling bawah di trotoar Jalan Pemuda, Bukittinggi sampai ke anak tangga paling atas adalah 100 anak tangga. Namun, pada bagian teratas anak tangga yang ada berukuran lebih kecil dan curam. Angka 40 adalah jumlah anak tangga yang terdapat pada bagian paling atas.

Janjang 40
Di ujung Janjang 40 terlihat pasar banto
Untuk cepat ke pasar atas, jam gadang atau kebun binatang, kita lebih mudah lewat janjang 40,hitung-hitung olahraga. Sayangnya, janjang 40 ini tidak dirawat, banyak sampah berserakan. Padahal janjang ini paling hapening di Bukittinggi.

3.Jam Gadang
Kenapa jam gadang saya letakkan tidak diurutan pertama? Karena semua orang sudah mengenalnya, jadi saya pikir di urutan ketiga lebih menarik.  Menara jam ini memiliki jam dengan ukuran besar di empat sisinya sehingga dinamakan Jam Gadang. Jam Gadang jadi ikon kota Bukittinggi, tapi sayang pedagang yang di sekitarnya tidak menjaga kebersihan. Jam Gadang terlihat semrawut, ramai, banyak sampah dan orang berjualan. Meski terletak dekat pasar atas, apakah lebih baik di kawasan ini disebut pasar jam gadang?

Jam Gadang dari arah Kampung Cina
Bendi nge-tem di Jam Gadang

4. Ayam Potong tanpa Kulit
Jika ke Bukittinggi pasti saya akan ke pasar atas dan bawah. Yang membuat saya tertarik, para pedangan ayam potong menjual ayam tanpa kulit. Mereka memotongnya masih dengan manual, bulu ayam dicabut dengan tangan, lalu kulitnya dibuang.

"Pembeli di sini tidak ada yang suka dengan kulit ayam. Tapi jika ada yang mau memakai kulit, bisa juga," kata seorang pedagang ketika saya bertanya.

5. Para Pedagang Pasar banyak Mamak Gaek
Datanglah ke pasar atas dan pasar bawah di Bukittinggi akan banyak melihat para pedagang di pasar wanita-wanita tua (mamak gaek)  yang membalutkan sarung dipinggang dan memakai kerudung. Mereka dengan sabar dan telaten akan menjual dagangannya. Wanita Minang memang terkenal ulet, kuat, tekun dan mandiri (gue bangeettt).


Konon, pada jaman dahulu kala, para pria Minang merantau ke kota, sehingga di rumah wanita yang menguasai sampai-sampai warisan jatuh ke wanita (ehem). Masyarakat minang itu juga menganut sistim matriakat yang mana kekuasaan terletak ditangan Ibu atau wanita. Jadi jangan heran jika wanita Minang banyak yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

6.Ulek Cabe Manual
Bila ke pasar di Jakarta, di kios bumbu sudah tersedia bumbu halus dan cabai halus, tanpa melihat prosesnya yang pasti menggunakan alat. Waktu keliling pasar bawah, saya kaget juga di salah satu kios seorang ibu sedang mengulek cabe hijau dan bawang bombay, banyak banget. Ketika saya minta izin untuk foto, dia pasrah saja karena sudah kepedasan. Matanya terlihat terus mengerjab dan hidungnya seperti kepedesan berair. Katanya, rasa lado (cabai) lebih enak digiling sendiri tanpa menggunakan alat.


7. Great Wall
Tertulis Janjang Koto Gadang. Sekilas mirip dengan great wall di Beijing Cina. Terlihat bagus dan keren, tapi maap saya tidak menyusurinya hingga berujung di Ngarai Sianok. Capek booo


8. Ngarai Sianok
Ini salah satu yang sangat hapening di Bukittinggi. Pemandangan di Ngarai Sianok sangat cantik dan bagus. Terletak di perbatasan Kabupaten Agam dan Sungai Jariang (jengkol). Tapi sayang, pemandangannya sudah berubah sejak terakhir kali saya ke sana pada 2009. Sekarang lokasi tersebut dibuat kawasan wisata renang dan dibeberapa bagian di beton Sudah tidak asli dan banyak sampah berserakan.

9.Kelok ampek-ampek (44)
Kelok ini merupakan jalan menurun yang berkelok-kelok tajam, dari Bukittinggi menuju Danau Maninjau. Jalanan yang kecil dan dua arah, termasuk rawan kecelakaan. Jadi yang tidak ahli menyetir, jangan mencoba ya.

Kelokan ampek ampek
Pasalnya, di sisinya jurang dan pepohonan. Dari kelok 1 hingga 44 akan disuguhkan pemandangan yang dahsyat. Danau Maninjau yang besar terlihat seperti laut, dipadukan dengan gunung dan pepohonan juga awan. Menuju kelok 44, akan terlihat monyet-monyet berdiri di pinggir pembatas sambil meminta makanan. Mereka berani lho minta makanan dan menghampiri mobil. Jadi lebih baik, kaca mobil jangan terlalu dibuka.

10. Danau Maninjau
Nah ini yang paling ditunggu setelah pusing melewati kelok 44. Di setiap kelokan ada tulisan dan angka, sayangnya kenapa ditempeli oleh iklan rokok sih? Nggak mau rugi ini pemdanya, kelok yang paling terkenal di Sumatera Barat itu dijejali iklan rokok.

Danau Maninjau adalah sebuah danau vulkanik yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Pemandangannya yang indah dan bikin segar mata. Di sini terkenal dengan ikan bilih, ikan kecil-kecil. Ikan itu bisa enak banget kalau dilado lalu dicampur kentang dan pete, yyuummmyy.



  • Alia Fathiyah


Film The Big Short, Krisis AS dalam Sudut Pandang Adam McKay


Pada 2008, negara adidaya Amerika Serikat menjadi sorotan dunia karena perekonomiannya yang ambruk sehingga menyebabkan banyak perusahaan bangkrut, hilangnya lapangan pekerjaan dan hangusnya dana pensiun jutaan orang. Banyak yang menilai, itu tahun terburuk di AS setelah tahun 1930.

Film The Big Short mengangkat kisah dari beberapa orang yang mendapatkan keuntungan dari masa krisis tersebut. Sang sutradara, Adam McKay mencoba mengambi dari sudut pandang yang berbeda. Serius, dengan penuturan yang unik.

Bercerita tentang seorang manajer keuangan , Dr Michael Burry (Christian Bale)- selama film berjalan, penampilan Burry hanya dengan kaos dan celana pendek yang sama lengkap tanpa alas kaki serta rambut awut-awutan. Dia memiliki hitung-hitungan matematika yang diyakininya benar kalau Amerika akan mengalami krisis besar.


Dia berteori bahwa pasar perumahan AS sangat tidak stabil, yang berbasis pada pinjaman subprime dengan risiko tinggi karena memberikan keuntungan sedikit, sehingga bisa terjadi kredit macet. Dia menyadari bahwa ia dapat keuntungan dari situasi tersebut dengan menciptakan pasar credit default swap, memungkinkan dia untuk bertaruh melawan pasar perumahan.

Dia mendapatkan cemooh dan tertawaan dari banyak pihak. Namun, prediksinya benar, Burry menghasilkan keuntungan hingga 489 persen.

Pialang saham Jared Vennett (Ryan Gosling)  dari Deustche Bank mendengar tindakan Burry dan segera menyadari bahwa prediksi Burry adalah benar. Dia memutuskan untuk menempatkan sahamnya sendiri di pasar credit default swap.

Lalu dia mempresentasikan kepada banyak pihak, dan hanya  Mark Baum (Steve Carell), dan tim nya yang menerima tawaran itu. Hal serupa juga dilakukan oleh investor muda Charlie Geller (John Magaro) dan Jamie Shipley (Finn Wittrock) menemukan selebaran oleh Vennett. Mereka memutuskan untuk bergabung, dan  meminta bantuan dari pensiunan bankir Ben Ricky (Brad Pitt).

Film yang diadatasi dari buku karya Michael Lewis, The Big Short: Inside the Doomsday Machine, yang diadaptasi menjadi skenario oleh Charles Randolph dan dilanjutkan Adam McKay sang sutradara.

Berbicara tentang Adam McKay, orang langsung mengingat komedian Will Ferrell. Keduanya memang dikenal sebagai pasangan komedian, baik ketika menjadi pemain, atau penulis ceri ta bahkan sutradara dan produser (Anchorman, The Other Guys, dan Step Brothers). Lewat film The Big Short, McKay mencoba pede mengarahkan sendiri tanpa ada Ferrell di sampingnya. Bagaimana hasilnya? Menakjubkan.

Dalam hal penuturan, McKay telah memberikan ciri khas gayanya sendiri. Film The Big Short yang dalam hal inti cerita terkesan serius, karena menceritakan tentang runtuhnya ekonomi secara global di Amerika Serikat, tapi McKay mampu mengemasnya dengan kocak dan segar.


Film ini merupakan versi naratif tentang perbankan dari novel tersebut,  bisa membuat bingung penonton yang tidak berpengalaman dalam dunia keuangan. Narator datar serta beberapa istilah dalam dunia perbankan, bikin bingung. Tapi McKay cerdas, dia meminta 'bantuan' beberapa tokoh terkenal untuk menjelaskan beberapa istilah ekonomi sehingga penonton mengerti. Seperti Margot Elise Robbie,  chef Anthony Bourdain dan Selena Gomez.

Dua bintang besar, Christian Bale dan Brad Pitt, tampil berbeda dibandingkan film sebelumnya. Bale mempresentasikan kalau karakter Burry seakan sebagai pria autis yang tidak pintar bersosialisasi karena sejak kecil ada masalah pada mata kirinya. Sedangkan Brad Pitt, tampil lebih tua dengan wajah dipenuhi bulu, serta karater datar tanpa emosi.

Film The Big Short dinominasikan untuk Best Screenplay dalam ajang bergengsi Golden Globe 2016. Film ini juga meraih nominasi di ajang bergengsi, seperti AFI Awards, Screen Actors Guild (SAG) Awards, Producers Guild of America (PGA) Awards, Writers Guild Awards, hingga British Academy Film Awards


ALIA FATHIYAH

Begini Jika Bertemu Rhoma Irama



Kaget, ketika melihat google trend ada tulisan Rhoma Irama meninggal dunia. Ketika di cek dan ricek, ternyata bukan Rhoma si raja dangdut, tapi seorang mahasiswa dari Nusa Tenggara Barat. Hahahia sampai ketawa nggak berhenti ketika menulis ini.

Saya jadi mau cerita tentang raja dangdut yang fenomenal dan hebat ini. Tapi saya boleh jujur ya (gak bakal dituntut sebagai pencemaran nama baikkan?? hihihih), kalau saya nggak nge-fans  sama dia. Ketika masih aktif menjadi wartawan hiburan ke lapangan untuk meliput selebritas, saya beberapa kali bertemu bang haji ini (dia biasa disapa begitu katanya). Sebelumnya, saya hanya membaca dan mendengarkan lagu-lagunya yang bagus (buat dangduters lhoo), dan pencetus musik dangdut di Indonesia.

Tentu, tak lupa dengan sepak terjangnya yang sudah sering diulas media. Banyak banget wanita yang kepincut, jumlah istrinya dan yang paling kesohor soal menikah siri dengan Angel Lelga. Oiya satu lagi, perseteruannya dengan Inul Daratista. Ini menguasa hedaline media hiburan pada 2003 lalu ckckckc.

Lalu, pada suatu hari, beberapa tahun lalu dalam sebuah acara saya datang. Ternyata salah satu nara sumbernya si bang haji ini. Saya penasaran, apa yang membuat dia istimewa sehingga banyak dipuja-puja wanita (Lol, kepo). Untuk ukuran pria, tidak tinggi, cambangnya memang panjang ya, itu juga jadi fenomenal dan ditiru banyak orang. Selebihnya, biasa saja, yang memang ciri khasnya cara bicara yang sering ditiru banyak orang. Judiii...tet!!

Lalu usai acara banyak wartawan yang menghampiri untuk wawancara lebih lanjut. Tahu gak, saya ikutan maju ke depan cuma untuk melihat dia dari dekat, bukan untuk wawancara saking kepo-nya. Di hadapan dia, saya perhatikan dari ujung rambut sampai kaki. (Saya melakukan ini hanya dengan dua orang saja seumur hidup saya, Rhoma Irama dan Ariel! (hiks, nanti one day saya tulis soal dese yang fenomenal itu yaaa).

Sepertinya bang haji sadar saya perhatikan dengan khidmat dan sebenar-benarnya. Dia lalu menoleh ke saya, jadi saya yang nggak enak, lalu mundur teratur dari kerumunan itu.

Beberapa tahun kemudian, banyak muncul pemberitaan tentang penyanyi asal Inggris Joss Stone yang kebelet ingin bertemu bang haji sebagai raja dangdut Indonesia. Majalah Tempo tertarik untuk menulis dalam Pokok Tokoh. Jadilah saya yang diminta untuk menghubungi beliau. Karena sudah mendekati deadline dan sulitnya bertemu, akhirnya saya mewawancarai dia lewat telpon.


Hebatnya, bang haji yang udah kesohor ini tidak menggunakan manajer. Dia bebas memberikan kontak direct nya ke wartawan. Saya beberapa kali telpon nggak diangkat, lalu saya kirim SMS. Akhirnya saya lupakan dia, karena sulitnya untuk diwawancarai.

Ketika sedang asik dengan tuts komputer di kantor, tetiba handphone saya berdering. Suprise juga di monitor tertulis nama Rhoma Irama. Lagi-lagi saya ngikik tertawa. Entah, jika berhubungan dengan Rhoma Irama saya pasti tertawa geli dan ngikik.

Ternyata, ayah Ridho Rhoma ini menelpon karena sudah saya kirim SMS perihal wawancara tentang Joss Stone. Dan dia welcome sekali menjawab semua pertanyaan saya. Dia mengaku emoh ketika Joss Stone memintanya untuk bernyanyi. "Saya kalau bernyanyi itu sesuai mood. Kalau ada acara TV yang minta saya show, tapi sayanya nggak mood, saya tolak," kata Bang Haji dengan suaranya yang khas.

Konon, kabarnya, sekarang Bang Haji sudah buat partai untuk siap maju pada 2019 ya. Selamet ye bang haji! Gudlak dah! Hidup dangdut! (%&$#@!*)





Kota Bukittinggi Tak Seindah di Foto

janjang ampek puluah (40)
Jam Gadang dikelilingi penjual kaos dan asesoris
Liburan akhir tahun kali ini, kami rencanakan ke Bukitinggi, kampung nenek moyang dari pihak nyokap (kalau bokap Pare-pare, Sulawesi Selatan). Semua keluarga besar ternyata punya niat yang sama. Mulai dari abang dengan anak istrinya, adik dengan anak istrinya, nyokap, madang (kakak perempuan tertua dari nyokap) dan sepupu dengan keluarganya. Jadilah sejak dua bulan lalu, kita pesan tiket pesawat ke Padang dengan Sriwijya Air.

Pasar Wisata, terlihat tumpukan sampah
Pada 27 Desember 2015, siang kita mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, Padang. Menuju Bukitinggi memakan waktu sekitar 2 jam. Karena sudah jam makan siang, supir mengantar ke warung ni evi yang terkenal dengan ikan bakarnya. Berasa gak makan berhari-hari, kayaknya nikmaatt banget. Apalagi ada cabe ijo yang terselip jengkol kecil, rasanya mantaapp..

Warung Makan Uni Evi
Warung yang berada di pinggir jalan raya itu termasuk laris, biasanya supir travel membawa pelangganya ke sana dari Bandara. Harganya tergolong mahal, mungkin karena ikannya.Tapi sepadan dengan rasanya, apa karena gue yang kelaperan? hihihii

Beberapa samba (lauk) di warung Uni Evi
Tiba di Bukitinggi siang hari. Kebetulan rumah nenek berada di pasar Banto, ini kawasan yang sangat ramai. Lokasi berada di pasar bawah, di depan Banto Trade Center (BTC). Jangan bayangkan BTC seperti mal di Jakarta, sangat jauh. Malah terlihat terbengkalai dan kosong, juga kotor dan jorok. Di sepanjang jalan Pasar Banto yang tentunya berdekatan dengan pasar bawah itu tak terurus.

Pasar Banto, ujung jalan janjang 40

Motor berjejer parkir di pinggir jalan, penjual berjualan di trotoar. Dari pedagang sayur, buah, cabe, dan lainnya berkumpul di sepanjang jalan. Belum lagi genangan air yang bekas hujan, jadi becek. Kalau pun ada mobil, parkir di pinggir seenak udelnya. Jalanan jadi macet.

Pasar Wisata, pasar atas
Di pertigaan ada janjang 40 (tangga 40), ini paling hapening di Bukitinggi. Karena menghubungkan pasar bawah dengan pasar atas, juga dengan kebun binatang, masjid raya dan Jam Gadang.

Tapi lagi-lagi, tidak terawat. Di pinggir jalan sepanjang tangga itu banyak sampah, tak seindah ketika saya mudik beberapa tahun lalu. Yang mengangetkan, di penghujung janjang, tengoklah sebelah kiri. Tertulis Pasar Wisata, kalau ada tulisan wisata, seharusnya pihak penanggung jawab akan memberikan pemandangan yang indah. Karena tentunya berhubungan dengan turis yang mengunjungi Bukittinggi dan menambah pundi-pundi pemda setempat. Terlihat tumpukan sampah pada sebelah kiri.


Dari janjang 40, sebelah kanan ke arah masjid raya
 Lalu dari janjang 40 tengok ke kanan, sama juga, sampah berserakan. Banyak kios yang masih tutup, jalanan becek. Apa di Bukittinggi semua orang memilih berjualan dan emoh menjadi penyapu jalan?
Pemandangan serupa juga terlihat di ikon Bukitinggi, yaitu Jam Gadang. Jam besar yang konon mengalahkan Big Band di London itu, semakin semrawut. Pedagang seperti tak diatur, berdagang di depan Jam Gadang. Di belakangnya terdapat taman, juga tak seindah diharapkan.

Banto Trade Center, kumuh
Dari arah Jam Gadang ke Panorama
Selain sampah, parkir kendaraan sembarangan juga menjadi alasan kota yang pernah menjadi Ibu Kota Indonesia itu menjadi macet dan terlihat semrawut.