Friday, January 15, 2016

Yang Menarik di Bukittinggi

Jam Gadang sore hari jelang pergantian tahun 2015

Kota Bukittinggi merupakan kota yang sejuk, tentunya menjadi salah satu kota favorit tujuan wisata. Pernah menjadi ibu kota Indonesia, Bukittinggi makin berkembang pesat. Tapi ada beberapa bagian yang menjadi khas Bukittingi dan untuk saya pribadi sangat menarik.

1. Pasar Atas, Pasar Bawah
Di Bukittingi terkenal dengan pasarnya. Di sebut pasar bawah karena memang berada di bawah, sedangkan untuk pasar atas kita harus menaiki tangga. Sesuai dengan namanya, kota Bukittingi memang berbukit, banyak janjang (tangga) untuk bisa mengelilingi kota yang makin padat itu.
Pasar Bawah
Pasar tersebut sangat menarik, masih tradisional, nggak heran jika hujan jalanan becek. Setiap hari Rabu dan Sabtu, ada hari pakan, banyak pedagang dari luar Bukittinggi datang dan menggelar dagangannya. Mulai dari sayuran, buah, rempah-rempah. Rumah saya yang terletak di depan Pasar Banto, akan ramai tiap hari pakan. Bahkan hingga depan pintu rumah mereka menggelar dagangannya.

2.Janjang 40 (ampek puluah)
Adalah jenjang atau leretan anak tangga yang menghubungkan Pasar Atas dengan Pasar Bawah dan Pasar Banto. Sebenarnya Janjang 40 memiliki lebih dari 40 anak tangga yang terbagi dalam beberapa bagian. Jumlah anak tangga keseluruhan dari anak tangga paling bawah di trotoar Jalan Pemuda, Bukittinggi sampai ke anak tangga paling atas adalah 100 anak tangga. Namun, pada bagian teratas anak tangga yang ada berukuran lebih kecil dan curam. Angka 40 adalah jumlah anak tangga yang terdapat pada bagian paling atas.

Janjang 40
Di ujung Janjang 40 terlihat pasar banto
Untuk cepat ke pasar atas, jam gadang atau kebun binatang, kita lebih mudah lewat janjang 40,hitung-hitung olahraga. Sayangnya, janjang 40 ini tidak dirawat, banyak sampah berserakan. Padahal janjang ini paling hapening di Bukittinggi.

3.Jam Gadang
Kenapa jam gadang saya letakkan tidak diurutan pertama? Karena semua orang sudah mengenalnya, jadi saya pikir di urutan ketiga lebih menarik.  Menara jam ini memiliki jam dengan ukuran besar di empat sisinya sehingga dinamakan Jam Gadang. Jam Gadang jadi ikon kota Bukittinggi, tapi sayang pedagang yang di sekitarnya tidak menjaga kebersihan. Jam Gadang terlihat semrawut, ramai, banyak sampah dan orang berjualan. Meski terletak dekat pasar atas, apakah lebih baik di kawasan ini disebut pasar jam gadang?

Jam Gadang dari arah Kampung Cina
Bendi nge-tem di Jam Gadang

4. Ayam Potong tanpa Kulit
Jika ke Bukittinggi pasti saya akan ke pasar atas dan bawah. Yang membuat saya tertarik, para pedangan ayam potong menjual ayam tanpa kulit. Mereka memotongnya masih dengan manual, bulu ayam dicabut dengan tangan, lalu kulitnya dibuang.

"Pembeli di sini tidak ada yang suka dengan kulit ayam. Tapi jika ada yang mau memakai kulit, bisa juga," kata seorang pedagang ketika saya bertanya.

5. Para Pedagang Pasar banyak Mamak Gaek
Datanglah ke pasar atas dan pasar bawah di Bukittinggi akan banyak melihat para pedagang di pasar wanita-wanita tua (mamak gaek)  yang membalutkan sarung dipinggang dan memakai kerudung. Mereka dengan sabar dan telaten akan menjual dagangannya. Wanita Minang memang terkenal ulet, kuat, tekun dan mandiri (gue bangeettt).


Konon, pada jaman dahulu kala, para pria Minang merantau ke kota, sehingga di rumah wanita yang menguasai sampai-sampai warisan jatuh ke wanita (ehem). Masyarakat minang itu juga menganut sistim matriakat yang mana kekuasaan terletak ditangan Ibu atau wanita. Jadi jangan heran jika wanita Minang banyak yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

6.Ulek Cabe Manual
Bila ke pasar di Jakarta, di kios bumbu sudah tersedia bumbu halus dan cabai halus, tanpa melihat prosesnya yang pasti menggunakan alat. Waktu keliling pasar bawah, saya kaget juga di salah satu kios seorang ibu sedang mengulek cabe hijau dan bawang bombay, banyak banget. Ketika saya minta izin untuk foto, dia pasrah saja karena sudah kepedasan. Matanya terlihat terus mengerjab dan hidungnya seperti kepedesan berair. Katanya, rasa lado (cabai) lebih enak digiling sendiri tanpa menggunakan alat.


7. Great Wall
Tertulis Janjang Koto Gadang. Sekilas mirip dengan great wall di Beijing Cina. Terlihat bagus dan keren, tapi maap saya tidak menyusurinya hingga berujung di Ngarai Sianok. Capek booo


8. Ngarai Sianok
Ini salah satu yang sangat hapening di Bukittinggi. Pemandangan di Ngarai Sianok sangat cantik dan bagus. Terletak di perbatasan Kabupaten Agam dan Sungai Jariang (jengkol). Tapi sayang, pemandangannya sudah berubah sejak terakhir kali saya ke sana pada 2009. Sekarang lokasi tersebut dibuat kawasan wisata renang dan dibeberapa bagian di beton Sudah tidak asli dan banyak sampah berserakan.

9.Kelok ampek-ampek (44)
Kelok ini merupakan jalan menurun yang berkelok-kelok tajam, dari Bukittinggi menuju Danau Maninjau. Jalanan yang kecil dan dua arah, termasuk rawan kecelakaan. Jadi yang tidak ahli menyetir, jangan mencoba ya.

Kelokan ampek ampek
Pasalnya, di sisinya jurang dan pepohonan. Dari kelok 1 hingga 44 akan disuguhkan pemandangan yang dahsyat. Danau Maninjau yang besar terlihat seperti laut, dipadukan dengan gunung dan pepohonan juga awan. Menuju kelok 44, akan terlihat monyet-monyet berdiri di pinggir pembatas sambil meminta makanan. Mereka berani lho minta makanan dan menghampiri mobil. Jadi lebih baik, kaca mobil jangan terlalu dibuka.

10. Danau Maninjau
Nah ini yang paling ditunggu setelah pusing melewati kelok 44. Di setiap kelokan ada tulisan dan angka, sayangnya kenapa ditempeli oleh iklan rokok sih? Nggak mau rugi ini pemdanya, kelok yang paling terkenal di Sumatera Barat itu dijejali iklan rokok.

Danau Maninjau adalah sebuah danau vulkanik yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Pemandangannya yang indah dan bikin segar mata. Di sini terkenal dengan ikan bilih, ikan kecil-kecil. Ikan itu bisa enak banget kalau dilado lalu dicampur kentang dan pete, yyuummmyy.



  • Alia Fathiyah


0 komentar:

Post a Comment