Wednesday, January 6, 2016

Kota Bukittinggi Tak Seindah di Foto

janjang ampek puluah (40)
Jam Gadang dikelilingi penjual kaos dan asesoris
Liburan akhir tahun kali ini, kami rencanakan ke Bukitinggi, kampung nenek moyang dari pihak nyokap (kalau bokap Pare-pare, Sulawesi Selatan). Semua keluarga besar ternyata punya niat yang sama. Mulai dari abang dengan anak istrinya, adik dengan anak istrinya, nyokap, madang (kakak perempuan tertua dari nyokap) dan sepupu dengan keluarganya. Jadilah sejak dua bulan lalu, kita pesan tiket pesawat ke Padang dengan Sriwijya Air.

Pasar Wisata, terlihat tumpukan sampah
Pada 27 Desember 2015, siang kita mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, Padang. Menuju Bukitinggi memakan waktu sekitar 2 jam. Karena sudah jam makan siang, supir mengantar ke warung ni evi yang terkenal dengan ikan bakarnya. Berasa gak makan berhari-hari, kayaknya nikmaatt banget. Apalagi ada cabe ijo yang terselip jengkol kecil, rasanya mantaapp..

Warung Makan Uni Evi
Warung yang berada di pinggir jalan raya itu termasuk laris, biasanya supir travel membawa pelangganya ke sana dari Bandara. Harganya tergolong mahal, mungkin karena ikannya.Tapi sepadan dengan rasanya, apa karena gue yang kelaperan? hihihii

Beberapa samba (lauk) di warung Uni Evi
Tiba di Bukitinggi siang hari. Kebetulan rumah nenek berada di pasar Banto, ini kawasan yang sangat ramai. Lokasi berada di pasar bawah, di depan Banto Trade Center (BTC). Jangan bayangkan BTC seperti mal di Jakarta, sangat jauh. Malah terlihat terbengkalai dan kosong, juga kotor dan jorok. Di sepanjang jalan Pasar Banto yang tentunya berdekatan dengan pasar bawah itu tak terurus.

Pasar Banto, ujung jalan janjang 40

Motor berjejer parkir di pinggir jalan, penjual berjualan di trotoar. Dari pedagang sayur, buah, cabe, dan lainnya berkumpul di sepanjang jalan. Belum lagi genangan air yang bekas hujan, jadi becek. Kalau pun ada mobil, parkir di pinggir seenak udelnya. Jalanan jadi macet.

Pasar Wisata, pasar atas
Di pertigaan ada janjang 40 (tangga 40), ini paling hapening di Bukitinggi. Karena menghubungkan pasar bawah dengan pasar atas, juga dengan kebun binatang, masjid raya dan Jam Gadang.

Tapi lagi-lagi, tidak terawat. Di pinggir jalan sepanjang tangga itu banyak sampah, tak seindah ketika saya mudik beberapa tahun lalu. Yang mengangetkan, di penghujung janjang, tengoklah sebelah kiri. Tertulis Pasar Wisata, kalau ada tulisan wisata, seharusnya pihak penanggung jawab akan memberikan pemandangan yang indah. Karena tentunya berhubungan dengan turis yang mengunjungi Bukittinggi dan menambah pundi-pundi pemda setempat. Terlihat tumpukan sampah pada sebelah kiri.


Dari janjang 40, sebelah kanan ke arah masjid raya
 Lalu dari janjang 40 tengok ke kanan, sama juga, sampah berserakan. Banyak kios yang masih tutup, jalanan becek. Apa di Bukittinggi semua orang memilih berjualan dan emoh menjadi penyapu jalan?
Pemandangan serupa juga terlihat di ikon Bukitinggi, yaitu Jam Gadang. Jam besar yang konon mengalahkan Big Band di London itu, semakin semrawut. Pedagang seperti tak diatur, berdagang di depan Jam Gadang. Di belakangnya terdapat taman, juga tak seindah diharapkan.

Banto Trade Center, kumuh
Dari arah Jam Gadang ke Panorama
Selain sampah, parkir kendaraan sembarangan juga menjadi alasan kota yang pernah menjadi Ibu Kota Indonesia itu menjadi macet dan terlihat semrawut.

0 komentar:

Post a Comment