Liburan Murah ke 3 Pulau hanya Dibawah Rp 100 Ribu, Pengalaman ke Pulau Kelor

 

Assalamualaikum,

Liburan Murah ke 3 Pulau hanya Dibawah Rp 100 Ribu, Pengalaman ke Pulau Kelor- aliaef.com

Pandemi sudah berubah menjadi endemi. Setelah selama 2 tahun 'terpenjara' di rumah tentu yang sudah gatel mau jalan-jalan pingin sekali menikmati alam luar. Sama seperti saya yang kepingin banget melanglang buana. Niatnya sih mau pergi yang pake pesawat, apa daya keuangan lagi menipis. 

Belum lagi kalau ke luar negeri sepertinya butuh budget lebih besar, harus memakai asuransi covid, dan kita nggak tahu bagaimana kondisi yang sebenarnya di negara yang dituju. Belum lagi maskapai sepertinya sedang 'balas dendam' menaruh harga tiket gila-gilaan.

Daripada manyun doang di rumah, saya ikutan dengan komunitas Bunda Ngebolang pergi ke tiga pulau yaitu, Pulau Kelor, Pulau Onrust dan Pulau Cipir hanya Rp 85 ribu. Dan jika sekalian memesan makan siang ada tambahan Rp 25 ribu (ayam goreng, nasi, sambal dan timun). Lumayanlah ganjel perut.

Baca:
- Pulau Onrust dan Pulau Cipir yang Suram dan Eksotis, Ada Penampakkan Pria Bumi Terbakar

Meeting Point di Dermaga Kamal


Dermaga Kamal. Foto: Aal


Mepo di Dermaga Kamal,  8 RT.8, RW.1, Kamal Muara, Kec. Penjaringan, Kota Jkt Utara, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 14470. Sudah harus sampai di Masjid Nurul Bahar pukul 07.00 pagi. Ini memang tempat mepo yang popular dan terbaikk.

Ini pertama kalinya saya ke sana dari BSD dengan menyetir sendiri. Berbekal gmaps, Alhamdulillah sampai hanya 30 menit tanpa drama macet. Jadi diarahkan ke arah bandara Soeta, dan keluar tol Kamal. Tidak begitu sulit.

Tak jauh berbeda dengan dermaga jika ingin ke pulau, di Kamal ini terbilang ramai dan semrawut juga tentunya becek. Sebelum masuk ke arah lebih dalam, sebelum pasar mobil sudah diberhentikan karena tidak boleh masuk lebih dalam. Alhasil parki di pinggir jalan. Sudah banyak mobil yang terparkir di sana.

Lalu diarahkan berjalan ke arah Masjid Nurul Bahar lewat jembatan (atas), kalau lewat bawah lebih semrawut karena menjadi tempat berjualan makanan laut, becek dan bau pula. Dari kejauhan sudah terlihat keramaian, banyak juga yang ingin ke pulau.



Indonesia cantik ya

Setelah berkumpul kita diarahkan naik ke kapal kayu sederhana, duduk pun di kursi kayu panjang. Jangan mengira kapal kayu yang besar dan mevvah geys.


Untung hari itu ombak tidak terlalu besar, selama perjalanan 30 menit dari kejauhan sudah terlihat bangunan bulat dari batu bata, yup! itu Benteng Martelo yang terkenal. 




Setelah kapal menepi kita disambut dengan putihnya pasir laut. Nah, spoiler nih dibanding 2 pulau lain yang akan saya tulis (Pulau Onrust dan Pulau Cipir), di sini sangat lebih baik untuk pasir dan kondisinya lingkungan tempatnya. Lebih bersih, kalau mau berenang dan stay agak lama mending di Pulau Kelor.


Tapi pulau ini memang lebih kecil dibandingkan dengan yang lain. Selain main pasir dan berenang, foto-foto untuk Instagram cakep banget.

Sejarah Pulau Kelor (Dikutip dari Kompas.com)



Sebagai peninggalan masa kolonial Belanda, tentu pulau yang luasnya diibaratkan ‘sebesar daun kelor’ yakni 28 hektar memiliki nilai sejarah yang tinggi.Benteng ini juga memiliki nama lain Benteng Menara. Belanda membangun benteng berbentuk bundar dan tinggi itu pada tahun 1850 sebagai bagian dari sistem pertahanan laut Kota Batavia. Menurut pemandu wisata Taman Arkeologi Onrust Rosadi, Benteng Martello dibangun oleh para pekerja Indonesia yang merupakan tahanan Belanda.

Pembangunan benteng bukan tanpa alasan, kolonial Belanda pada rentang waktu 1840-1880 tengah mengembangkan sistem pertahanan Nieuwe Hollandsc Waterlinie. Salah satu pengembangan sistem ini yaitu Benteng Martello, yang berfungsi sebagai benteng pertahanan dan sekaligus menara pengintai. Batu bata merah yang terlihat mencolok di benteng menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Benteng ini memang terbuat dari bata merah yang membentuk melingkar.


Pada masa kolonial, di tengah Benteng ini terdapat meriam besar yang digunakan Belanda sebagai pertahanan kawasan maritim Hindia Belanda, khususnya Batavia. Benteng yang melingkar disertai pintu-pintu besar di sekitarnya, turut mendukung kerja meriam yang dapat bermanuver 360 derajat. Kisah menarik lainnya dari pulau ini adalah kisah penguburan para tahanan Belanda yang dieksekusi. Pulau Kelor dulu dinamakan Pemerintah Hindia Belanda sebagai Pulau Kerkhof yang artinya kuburan.



kisah kelam lagi datang dari tahun 1883 ketika gunung Krakatau meletus. Terjangan tsunami yang dihasilkan dari letusan tersebut membuat Benteng Martello rusak parah. Untungnya, tak semua struktur bangunan rusak, sehingga masih bisa kita pelajari sejarahnya hingga masa kini.


Letusan Krakatau nan dahsyat tersebut ikut andil dalam meruntuhkan beberapa bagian bangunan dalam benteng tersebut. “Dulu ini ada tiga lapis sebenarnya, ini tinggal lapisan dalamnya aja yang kelihatan kokoh, dari tepi laut itu satu, sini dua, dan di dalam itu lapisan ketiganya, karena tsunami Krakatau dulu jadi sisa satu saja,” cerita Rosadi. Sebagian besar Benteng kemudian runtuh dan terendam air karena abrasi yang mengikis pulau. Pengikisan karena gelombang air laut juga membuat bagian luar benteng terendam air.





Tips:

1. Memakai sepatu praktis (sendal gunung)

2. Membawa topi dan kaca mata hitam

3. Pastinya membawa kamera

4. Membawa minum secukupnya. Karena agak mahal jadi saya membawa air mineral agak banyakan

5. Memakai baju nyaman dan praktis

6. Jangan membawa anak kecil atau lansia

7. Jika ingin berbelanja ikan atau makanan laut pagi itu, sebaiknya langsung beli sambil menunggu. Karena pasarnya hanya sampai jam 9.00 pagi lalu bisa dititipkan di warung dekat masjid. Mereka biasa menerima titipan itu.




Setelah puas keliling Pulau Kelor serta berfoto, dilanjutkan dengan perjalanan menuju ke Pulau Onrust yang kabarnya banyak menyimpan misteri. Dan ada beberapa pengunjung yang bisa 'melihat' dan merasakan mahluk lain. Ke Tulisan selanjutnya yaaa..


Semoga Bermanfaat

Alia F




No comments