Masa Tua Lebih Baik di Panti Jompo atau Tinggal dengan Anak?

 


Masa Tua Lebih Baik di Panti Jompo atau Tinggal dengan Anak?- aliaefcom

Assalamualaikum, 

Belakangan dunia maya riuh dengan tersebarnya surat tiga orang anak yang menitipkan ibunya di panti jompo. Alasanya sepele karena mereka sibuk.

Yang bikin netizen bapper maksimal adalah kalimat jika meninggal diserahkan tanggung jawab seluruhnya kepada panti tersebut. 

Saya bacanya langsung istigfar, lalu mulai berfikir. Mungkin ada alasan lain yang orang lain nggak mengetahui secara jelas. Saat si anak menitipkan orang tua ke panti jompo pastinya ada rentetatan panjang peristiwa sehingga pada akhirnya ketiga anaknya memutuskan menitipkan ibunya ke panti jompo.

Wait..jangan baper dulu. Saya cuma mencoba berfikir positif dan melihat dari sisi : setiap keluarga memiliki pengasuhan dan kehidupan berbeda dengan keluarga lainnya. Kita nggak bisa men-judge langsung,  karena kita berfikir berada di posisi kita bukan di mereka. 

Di wall Facebook saya nyaris semua teman (yang perempuan pastinya) membuat status soal ini. Ada yang menulis mungkin waktu kecilnya si anak nggak diurus oleh ibunya jadi bonding antara orang tua dan anak tidak terasa hingga anak-anaknya dewasa.

Adajuga yang berbagi cerita soal ibunya yang stres lantaran harus mengurus neneknya yang sudah pikun, pup dan pip sembarangan bahkan sampai pup nya sering ditempel ke tembok, atau sering marah-marah.

Nah khan.


Banyak cerita yang kita nggak tahu ada apa sebenarnya dibalik alasan klise 'sibuk.' Mungkin untuk sebagian orang yang memiliki orang tua 'sehat waalafiat' dan selalu melakukan hal 'positif' , menganggap menitipkan orang tua ke panti jompo adalah sebuah kekejaman anak ke orang tuanya.



Tapi berbeda jika si anak yang memiliki orang tua yang sifat dan kepribadian, serta mempunyaj kebiasaan 'jantungan' seperti yang saya sebutkan di atas, tentu butuh bantuan orang ketiga, yaitu panti jompo. Itu juga harus dari kerelaan atau diskusi antara orang tua dan anak.

Itu semua kembali ke bonding dan pengasuhan dari keluarga masing-masing.

Lagi pula, memang di Indonesia menitipkan orang tua ke panti jompo itu semacam sebuah dosa besar anak. Sedangkan di luar negeri, menitipkan orang tua ke panti jompo hal biasa. Bisa jadi pertimbangannya mereka khawatir kalau orang tuanya tidak terurus dengan baik, karena kesibukan anak-anak dan cucunya. Atau orang tuanya ingin berdekatan dengan orang yang seusianya. Bisa nyambung saling bercerita, bersenda gurau atau aktivitas bersama-sama. Kalau tinggal dengan anak malah merasa kesepian karena anak dan cucunya yang sibuk itu.

Masa Tua Sendiri?

Well...belakangan saya sudah mulai berfikir tentang masa tua. Dan ketika saya sharing di grup WA yang isinya teman-teman se-frukensi (maksudnya nyambung, gak nge judge), mereka malah aneh dan heran.

"Al, mau juga masa tua itu dekat anak dan cucu."

"Elu mah aneh, masa mikirnya begitu?"

Saya cuma ketawa sambil menjelaskan alasannya  Tapi memang tiap orang berbeda dalam pemikiran.

Intinya saya nggak mau merepotkan anak atau siapapun.

Saya mulai berfikir masa tua itu ada di panti jompo bonafide atau di rumah sendiri dengan fasilitas praktis (hahahaha). 

Jadi suatu hari saya pernah menonton film yang menceritakan soal wanita usia di atas 60 tahun ada di panti jompo bonafid. Panti jompo ini dibuat seperti apartemen, atau cluster yang isinya tiap rumah itu ada nenek atau kakek yang dititipkan anaknya disitu. Lansia ini sudah dipenuhi semua fasilitasnya, makanan, minuman, kebersihan ruangan, ada dokter yang rutin mengecek, dan kita bebas pergi kemanapun tanpa 'dipenjara'. Lansia ini nggak pusing mikirin listrik mati, rumah bocor, air mampet, piring kotor, cuci baju kotor, big no! Ini yang saya bilang panti jompo bonafid (Lol...). Tapi entah di Indonesia ada atau nggak model panti jompo seperti itu. Kalaupun ada pastinya mahal. 

Selain itu saya tetap bisa hang out dengan teman-teman, saya bisa mulai fokus menulis novel yang selama ini belum terwujud, saya bisa menulis buku, saya bisa fokus beribadah, semua aktivitas positif menjelang masa tua yang ingin merasakan ketenangan, kedamaian tanpa ada drama. Kalau kangen anak dan cucu tinggal dijemput. 

Kita sebagai orang tua nggak usah ribet urusin rumah tangga anak, ngegrecokin sebagai mertua julid, atau menguasai cucu. Karena saya berfikir ketika anak sudah berumah tanga mereka sudah punya kehidupan dan masalah masing-masing. Kita sebagai orang tua hanya mengawasi dan memberikan saran. Apalagi anak saya tiga-tiga laki-laki geysss. Walaupun dalam Islam memang seorang ibu itu masih tanggung jawab anak-anaknya yang laki. 

Sayamah Insya Allah nggak maulah merepotkan anak begitu.

Sejak sekarang saya sudah menekankan ke anak, nggak ada pembagian warisan (lagian emang gak ada sii, hihihi). Kalau mau uang itu harus kerja, harus sekolah yang benar dan serius. Kalianlah bertebaran di muka bumi, buminya Allah ini Mahal Luas. Anak saya laki-laki semuanya dan saya ingin mereka nggak tinggal di rumah masa kecil mereka ketika dewasa. Dan saya sebagai orang tua hanya mengawasi dan mendoakan yang terbaik. Begitu rencana masa tua saya. Bagaimana dengan kalian? Sharing dong

Semoga Bermanfaat

Alia Fathiyah




1 comment

  1. sebaiknya ada kesepakatan sejak dini agar semua pihak merasa aman dan nyaman ya kak :")

    ReplyDelete

Alsya Communications

Alsya Communications
Media Consultant untuk press conference, media gathering dan press release. Tim kami terdiri dari para mantan wartawan sehingga memudahkan untuk interaksi dengan media di Indonesia, baik media cetak, media online, atau blogger.