Kuliah di PTN Dijamin Sukses, Yakin?

 



Kuliah di PTN Dijamin Sukses, Yakin?, aliaef.com
Bismillah...

Pengumuman SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) sudah keluar, ada yang bersorak lantaran diterima di PTN pilihannya, ada yang kecewa berat lantaran namanya tak ada. SBMPTN bahkan trending nomor 1 di Twitter, dan tak sedikit yang memposting pengumuman yang ditolak PTN, lucu tapi pedih.


Yang menjadi kekecewaan anak-anak remaja serta menambah  beban sepertinya tuntutan dari orang tua, agar anaknya kuliah di PTN tertentu, bisa jadi almameter si ortu. Nyebelinnya dengan embel-embel kalimat,''Masa gak bisa sih, kamu ini fasilitas lengkap, ikut bimbel, dulu ayah (mama) malah nggak pakai bimbel bisa diterima di UI (UGM, ITB)."

Jangan belagu juga bambangggg...liat dong zamannya, persaingannya, sistemnya, dan masih banyak lagi yang perlu dipertimbangkan. Anak saya nggak diterima di PTN, its ok. Emang saya sebagai ortu  nggak target ke PTN melihat persaingan yang ketat. Itu udah kayak gambling, yang waktu sekolah nilainya biasa aja bisa tembus PTN, sedangkan waktu sekolah rangking, malah nggak.

Sharing

Dulu zaman saya, masih pakai UMPTN, memang melihatnya keren banget yang diterima di PTN.  Bangga gitu kalau kuliah di negeri. Tapi apa daya, saya yang memang nggak pintar di akademis so gak diterima di PTN. Akhirnya saya kuliah di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Kampus biasa banget, standar malah, nggak masuk dalam kategori diperebutkan. 

Minder? Nggaklah.

Kuliah 4 tahun, hanya 3 bulan setelah di wisuda saya langsung kerja menjadi wartawan di Koran Rakyat Merdeka. Selama menjadi wartawan saya punya banyak teman dari lulusan universitas bonafid, yang swasta, juga luar negri atau PTN. Ada yang dari IPB, UI, UGM, Unpad, UNDIP, UNIBRAW, semua PTN yang ada coba sebutin, saya berteman.

Rasanya? Biasa aja. Malah saya menikah dengan pria lulusan UI, rasanya ? Biasa aja aja juga, lols.
Saya kerja selama belasan tahun menjadi wartawan, Alhamdulillah nggak pernah nyusahin orang tua, nggak pernah rongrong orang tua, punya penghasilan sendiri, meski kecil, ada rumah sendiri, meski udah kusam dan tua, punya mobil sendiri yang dibeli dari hasil keringat sendiri semuanya.
Wait, ini bukannya mau pamer.

Cuma mau membantu mengubah sedikit mindset anak-anak sekarang yang merasa PTN adalah segalanya. Merasa kuliah di PTN dijamin bakal sukses, nggak juga maemunah.
Semua tergantung dari diri kita sendiri, kerja keras, fokus dan tidak merugikan orang lain serta tetap memperhatikan orang tua.

Saya termasuk workholic dulu jamannya masih kerja, dan aktif menjadi wartawan. Saya bekerja di koran, tapi saya banyak punya sidejob. Saya menjadi kontributor di beberapa media, saya membantu teman menjadi koordinator media, saya anaknya mauan, pekerjaan apapun yang ada duitnya dan halal, semua saya jabanin. Menjaga link, banyak berteman, supel, dan baik sama orang lain.

Karakter dan bagaimana kita memperlakukan orang, itu bisa menjadi jaminan orang percaya sama kita dan memudahkan rejeki datang. Banyak kok teman yang lulusan PTN hidupnya gitu-gitu aja. Memang ada yang bilang kalau kuliah di PTN mempunya pandangan dan cara menganalisan sesuatu berbeda.
Ah kata siapa? Teman-teman saya yang lulusan PTN juga jabatannya masih gitu-gitu aja, gajinya biasa aja, malah banyak yang belum punya rumah dan kendaraan. Saya nggak mengklaim kalau saya sukses, tapi paling nggak kehidupan saya lebih baiklah dibanding waktu belum kerja. Dan yang penting nggak nyusahin orang tua. Ukuran sukses itu tiap orang berbeda geys.

Artinya dari tulisan ini, semua itu tergantung dari diri kita sendiri. Masa depan di tangan kita sendiri, kalau mau sukses, harus kerja keras, kreatif, terus inovatif dan pantang menyerah. Kalau mau sukses nya makin mantap, kuliah S1 di swasta biasa, lulus lalu mengejar beasiswa S2 juga bisa kok, bahkan ke luar negeri.

So... PTN bukan segalanya. Santuy.

Semoga Bermanfaat

Alia Fathiyah


No comments

Alsya Communications

Alsya Communications
Media Consultant untuk press conference, media gathering dan press release. Tim kami terdiri dari para mantan wartawan sehingga memudahkan untuk interaksi dengan media di Indonesia, baik media cetak, media online, atau blogger.