Ketika Merasa Minder, Lakukan Hal Ini Aja



Kalimat rendah diri, dan menyiksa diri sendiri kadang jadi sugesti sehingga memicu untuk tidak menghargai diri sendiri. Atau bisa jadi, perkataan orang lain yang merendahkan terbawa oleh kita sehingga kita merasa seperti itu (kalau ketemu orang kayak gini mending menjauh).

Kalimat kayak gini pernahkah ada di dalam pikiran kita ketika rasa percaya diri berada di titik nol. Misal, "siapa sih gue? cuma remahan rempeyek." atau "Gue tuh nothing!" "Gue nobody!"

Pernahkan? Ketika kita merasa di posisi berada di paling bawah kasta kehidupan (hahahah..kayak kalimat sinetron).

Kalau gue? Pernah bangeeettt..

Meski dari luar gue terlihat cuek dan tegar (tsaahh lagunya Rosa), tapi yang namanya manusia biasa, pernahlah berfikir tentang diri sendiri yang minder. Menurut gue sih wajar. Yang namanya manusia nggak melulu merasa bahagia dan percaya diri. Bahkan seorang artis kelas atas pun, pernah merasa di posisi itu. Nggak percaya? Percayain aja, gue gitu lochh yang tau kehidupan artis ampe ke dalem-dalemnya (sotoy).



Biasanya, kita merasa di posisi itu ketika melihat kehidupan teman sendiri yang selalu berjaya, selalu hoki, kayaknya hebat banget. Apalagi dengan banyaknya media sosial sekarang, dengan mudahnya kita melihat kehidupan orang lain sampai ke akar-akarnya. Ampe di kamar tidurpun (yang menurut gue itu udah private banget), dipamerin ke medsos.

Lalu setelah melihat kehidupan teman yang hoki, kita melihat ke diri sendiri. Kok gue gini-gini aja sih? Kok kayaknya hidup gue jalan di tempat, nggak kayak si anu yang kemarin baru dari Singapura, hari ini udah di Bangkok. Perasaan minggu lalu baru pulang dari Eropa, kok sekarang ada di Amerika. Kok bisa sih? Kok gue susah banget untuk seperti itu, padahal kurang usaha apa gue? Gue emang nothing!  Tanpa disadari kita jadi terintimidasi dengan kebahagiaan orang lain.

Jujur, gue akan iri melihat orang lain jika bisa traveling keliling dunia (apalagi gratis pulak), mungkin karena passion gue ke sana. Mimpi gue sejak kecil adalah keliling dunia, tapi apa mau dikata nasib berkata lain, gue masih belum kemana-mana (pukpukpuk..).

Gue nggak akan iri dan terintimidasi dengan keberhasilan orang misalnya jika dia punya mobil baru, handphone baru, rumah mewah, anak cantik ganteng, berlian, barang branded, nop! lo bisa pamerin itu semua ke gue, dan gue bergeming!

Eh sama soal kerja deng. Dulu waktu belum nikah gue dibilang seorang teman, workholic. Seneng banget kalau udah kerja, ketemu orang banyak, menulis, pokoknya kerja yang bermanfaat dan menghasilkan.

Apa Pemicu Minder

Pasti ada dong pemicu yang tiba-tiba bikin minder. Kalau saya itu.. entahlah, ini bisa dibilang minder apa nggak ya. Jika saya bertemu seorang teman yang hanya mau berteman karena dia kaya, cantik, punya mobil, banyak kenal orang hebat, tapi dia akan cuek jika bertemu kita, karena kita nggak ada apa-apanya.

Pasti pernah ketemu yang model begini kan? Berasa pengen nabok pake pengki.

Biasanya, sebelum muncul rasa minder, saya berfikir gini aja (boleh diikuti heheh), "Yaelah elo, kalau boker masih sama-sama t**k aja sombong banget. Kalau t**k lo itu emas, berlian, boleh deh sombong."

Dan biasanya sih berhasil hhahahaha, jadi gue melihat orang itu timbul rasa kasihan. Dia mungkin sudah merasa jadi orang penting sedunia, dan jadi merendahkan orang yang tidak selevel dia. And you know what, orang model begini buuaannyyaakkk banget gue temui di dunia entertainment, dunia artis yang sepertinya wajib untuk jadi sok.

Untuk lingkungan pertemanan juga banyak. Saya sering tuh ngalamin ketemu orang model begitu, dia akan baik-baik kalau ada maunya, kalau gue lagi butuh bantuan, dikontak susah banget.

Yang kayak gini, pelan-pelan gue tinggalkan. Dan berdoa semoga suatu waktu gue bisa lebih di atas dia (yang ada malah orang itu si yang semakin sukses hahahah).

Kalau pengalaman di dunia wartawan begini,

Dulu, sayakan sering jadi koordinator media. Sering banget, sampai satu bulan itu ada beberapa press conference yang saya tangani. Para wartawan banyak dong yang mendekati, istilah ada gula ada semut kepake banget. Mereka manis, baik, dan lain sebagainya. Tapi banyak pula teman yang murni ingin berteman.

Pada suatu ketika, saya resign dari kantor saya Koran Rakyat Merdeka. Otomatis semua job koordinator lepas. Saat itu saya bukan wartawan dong, karena nggak kerja di institusi manapun. Berasa lho, dicuekin, bener! Dari sana saya tau, mana yang temen beneran, mana yang nggak.

Nggak lama saya diterima di Tempo. Tau dong, bagaimana media Tempo, bagaimana kualitasnya. Susah bisa masuk Tempo, karena harus melalui serangkaian test. Pas tau saya diterima di Tempo, (meski jarang jadi koordinator karena dilarang mendua), teman-teman mulai berbaik hati lagi.

"Dia anak Tempo nihh..." kata teman. Jaahhh...gue mah bukannya bangga malah tengsin sendiri. Woy apa kabar lo kemarennnn

Begitulah kehidupan, manusia hanya melihat seseorang dari sebuah label atau hal-hal yang berbau materi.

Lalu bagaimana sekarang setelah saya menjadi freelancer? Nggak berada di institusi manapun?

BOMAT! (BODO AMAT!)

Semakin ke sini, umur semakin bertambah,  kedewasaan mental dan cara berfikir tentu juga semakin matang. Sekarang saya sudah nggak begitu perduli sama semua itu. Apalagi setelah saya gali semakin dalam soal hadist ini.


"Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia), dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu," (HR Bukhari dan Muslim).


See? jadi sekarang mending banyak-banyak aja berbuat baik, bermanfaat ke orang lain, dekatin sama Sang Pencipta, kalau semua itu udah dilakukan, urusan dunia akan mengikuti bahkan akan kita tolakin tawaran-tawaran dunia, (begitu kata ustad)

Semoga Bermanfaat

AAL

6 comments

  1. Aku kadang minder kalau SM orang2 yang belum aku kenal mbak. Untuk nutupi. Minder aku, aku kenalan aja satu2. Klo udah kenal kan ga grogi dan minder lagi heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah enak ituu kalau udah ketemu kuncinya, sksd aja kalo ketemu orang baru heheheh

      Delete
  2. betul mb org melihat dari label yang kita punya si A kerja diintitusi pastinbakal dikerubutin bdgin sama si B kerja di pabrik elah paling2 cmn dilirik doang hahaha ini yg bikin bisanya minder 😂

    tp jurus bomat emang bagus si mb ketemu dg mereka ygbbegitu

    ReplyDelete
  3. wah bomat , memamg betul , emang gue pikirin juga, lebih baik vcari hal positif dari diri sendiri

    ReplyDelete
  4. Aku juga pernah tuh ngerasain minder kalau bertemu dengan temen yang keberadaannya orng berada. tpi sekarang alhamdulillah rsa minder itu perlahan bisa teratasi hhe

    ReplyDelete

Alsya Communications

Alsya Communications
Media Consultant untuk press conference, media gathering dan press release. Tim kami terdiri dari para mantan wartawan sehingga memudahkan untuk interaksi dengan media di Indonesia, baik media cetak, media online, atau blogger.