Cara Gampang Kerja di Korea, Baca Buku K-Job EPS Topik Dulu


Siapa sih yang nggak mau ke Korea Selatan? Pasti kalau ditanya semua bakal tunjuk tangan, termasuk saya. Apaagi saya punya pengalaman nggak enak, pernah mau ikut trip ke Korea sama temen yang punya tour and travel. Udah bayar DP (uang muka), ngayal dong bakal ketemu 'temen-temen' Kpop, eh nggak taunya temen saya kabur bawa uang DP. Rasanya sakiitttt di sini (hehhe curcol sedikit).

Pupuslah mimpi bisa jelong-jelong (baca: jalan-jalan) ke Korea, negara penghasil drama baper terbesar dan negara yang menjadi salah satu tujuan utama orang Indonesia yang berharap bisa ketemu aktor pujannya.

Orang Indonesia ke Korea bukan cuma jalan-jalan lho, banyak juga yang bekerja di sana dan rata-rata berhasil. Nggak pernahkan kita mendengar TKI ada masalah di Korea? Yang ada malah sukses. Lalu kenapa orang Indonesia tertarik kerja di Korea?

Pasti gajinya yang gede serta segala fasilitas yang diberikan oleh perusahaannya.

"Gaji dasar TKI di Korsel sebesar 1,35 juta won atau kisaran Rp14 juta. Disediakan tempat tinggal plus makan dua kali. Selain itu, terdapat asuransi yang sangat memadai. Jika mereka rajin lembur, apalagi di hari libur, maka gaji yang diterima bisa Rp25 juta—Rp30 juta per bulan. 
Dalam sebuah survei yang dilakukan KBRI pertengahan tahun lalu, rata-rata TKI di Korsel atau sekitar 58 persen berpotensi menabung kisaran Rp15 juta. Sehingga, di atas kertas saya bisa bilang bahwa jika mereka bekerja di sana seperti dalam kontrak, umumnya 4 tahun 10 bulan, uang yang dikantongi setidaknya Rp870 juta.
Hal yang paling disukai pemilik perusahaan di Korea dengan pekerja Indonesia adalah karena mereka rajin bekerja (71 persen). Sayangnya, 59 persen menyatakan TKI kita masih lemah dalam hal bahasa Korea dan itu dikonfirmasi oleh para TKI." (Tempo.co)

Nah, pasti kendala bahasakan. Korea menggunakan tulisan HanGeul, perlu waktu khusus untuk mempelajarinya.

Tapi tenang, jangan galau. Ada solusinya.


Untuk bisa kerja di Korea, kita harus lulur tes EPS Topik. Nah buku ini memberikan jalan dengan berbagai soal serta pertanyaan yang nyaris mirip dengan EPS Topik aslinya.

Ada baiknya untuk mengintip buku yang ditulis Profesor Jeoung-Sun Bae, PhD Pedagogogigs (Profesor Lucy Bae). Buku ini membantu dan memudahkan orang Indonesia untuk kerja di Korea, karena harus melewati tes EPS TOPIK atau Test Employment Permit System Test Of Proficiency Korea,  atau buku untuk belajar lancar bahasa korea.

 Nah buku keluaran Hanijemi, perusahaan edukasi Literasi asal Korea Selatan yang bekerja sama dengan KLC, perusahaan Konsultan Training asal Indonesia ini merasa optimis bisa sangat membantu bagi pekerja Indonesia lolos tes.

"Dengan EPS Topik, kesempatan untuk mendapatkan pekerjan atau beasiswa di Korea terbuka lebarbuku ini dapat membantu masyarakat Indonesia untuk lulus tes EPS Topik," kata Profesor Lucy Bae.


Kehadiran Hanijemi di Indonesia juga didukung oleh KOTRA (Korea Treade Insvestment Promotion Agency) dalam kegiatan promosi produk-produk Korea. "Buku ini sebuah awal untuk merasakan Korea Selatan, Melalui buku ini dapat belajar bahasa dan budaya Korea Selatan," kata Mr Lee Changhyun dari Kotra.

K-JOB EPS Topik Book


Buku K-JOB EPS Topik ini ada dua macam. Terlihat ada yang berwarna hijau dan biru. Buku pertama yakni hijau berisi 30 chapters yng difokuskan pada vocabulary,  practice,  listening dan reading.  Jadi di buku pertama ini lebih ditekankan kepada voabulary.

Profesor Lucy Bae mengaku melakukan analisa selama 1 tahun untuk membuat buku ini. Hasil analisanya adalah, buku yang dibuatnya ini merupakan kunci untuk lulus tes. Profesor Lucy Bae mempersiapkan vocabulary dengan semudah mungkin agar dapat dipelajari dan diingat oleh pembaca.

Sedangkan Buku Biru, EPS TOPIK 2 lebih fokus pembahasannya kepada Grammar, practise,  listening, dan reading.  Fokusnya kepada grammar yang berbentuk tipe-tipe pertanyaan. Misalnya jika ingin membeli sebuah barang, harus bisa mengekspresikan dengan sikon barang yang dibeli tentunya dengan bahasa Korea.

Harga bukunya kisaran Rp 100-150 ribu dan bisa didapat di toko buku seperti Gramedia, Gunung Agung, Periplus, dan toko buku online.

See, gampangkan asal ada kemauan dan kerja keras pasti bisa kerja ke Korsel. Gudlak Genks!

Refrensi:

https://bisnis.tempo.co/read/878681/segini-gaji-tki-di-korea-selatan

Alia Fathiyah





Kejeblos Jadi Solo Traveler


Pingin rasain jadi solo traveler? Gue sempat ada keinginan, ketika melihat cewek-cewek melakukan travel sendiri. Tapi agak ragu, apa gue bisa? Apa gue mampu? Pastinya kalau ke luar negri kendalanya bahasa, apalagi bahasa Inggris gue cuma bisa 'yes' or no' , thank you', kacau bangetkan. Belum lagi gue paling oneng kalau baca map alias peta. Gue angkat tangan deh kalau disuruh baca peta. Panggil aja si Dora.

Gue mau cerita ketika secara nggak sengaja jadi solo traveler. Selama ini gue nggak pernah pergi sendiri ketika melakukan traveling dengan pesawat. Gue terbiasa tinggal duduk manis manjah.
Maklumlah, perjalanan gue dengan pesawat dimulai ketika gue kerja jadi wartawan. Undangan ke luar kota, pastinya udah diservis semuanya. Gue cuma dateng ke bandara, nenteng koper, terus duduk manis di pesawat. Nggak ribet soal urusan check in, boarding atau semacamnya. Kalaupun traveling di luar tugas kerja, suamik bagian ribet.

Nah, ini kasus spesial menurut gue. Bahkan pengalaman yang deg-degan tapi nagih. Berasa bebas gitu.

Jadi kebetulan guekan ikutan Komunitas Emak-Emak backpacker (EEB). Kan di sana banyak banget penawaran tiket murah, tiket promo atau trip murah. Pada suatu hari di antara semua tawaran trip, gue tertarik sama tawaran tiket ke Kuala Lumpur yang hanya Rp 500 ribu sekian PP. Seorang anggota EEB yang juga punya tour and travel,  kasih pengumuman kalau dia mau ke KL dengan harga tiket sekian. Kalau ada yang mau barengan bisa share cost.

Tripnya ke Penang dan Kuala Lumpur. Gue yang emang banci jalan dan udah lama banget nggak traveling sejak hamil si bontot, berasa ada angin segar. Apalagi cuma 2 malam. Bisa lahya si bontot di tinggal sebentar. Untung si suamik selalu mengijinkan, doi paham dah bininya gatel jelong-jelong.

Oke semua fix, gue udah tranfer untuk biaya tiket dan hotel selama di KL dan Penang. Gue tinggal jalan. Agar dapat tiket murah, teman gue ini pilih jam 12.30 malam hari Minggu 5 November 2017. Yang ada dalam bayangan gue, hari Minggu dong, nggak kepikiran harus check in, boarding dan harus ada bandara itu Sabtu malam. Karena di otak gue udah terprogram hari mInggu.

Padahal Mak Indri ini dari Sabtu siang udah bilang, "Kita ketemu entar malam ya di bandara." Dia WA hari Sabtu pagi,  gue mikirnya, dia salah tanggal nih. Nah gue WA teman lain yang satu perjalanan, Mak Ina. "Iya besok," katanya. Jadi gue yakin Mak Indri salah kasih info (gue emang sotoy).

Nggak tahu kenapa, malam itu HP tumben banget gue matiin. Biasanya HP gue selalu menyala lho, sudahlah memang takdir gue harus ditinggal ya bo.

Pas besok subuh, hari minggu jam 5 gue buka HP,  gue langsung loncat disko. Miskol banyak banget dari 2 temen perjalanan gue ini. Dan mereka juga Wa kalau udah boarding, udah masuk pesawat, atau sedang otw ke Penang dari Kuala Lumpur.

Gue panik sejadi-jadinya. "Hah? Gue ditinggal? Gue nggak jadi jelong-jelong? Gue ketinggalan pesawat? Duit gue ilang? Tiket pesawat gue angus?"
Berasa banget saat itu gue sangat memohon sama Sang Pencipta minta dimundurin waktu 8 jam ke belakang. Sangat-sangat memohon. (Dari sini gue jadi sangat sadar, kita nggak boleh melihat ke belakang. Nggak boleh menyesali waktu yang udah lewat. Nggak bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahan. Kita harus maju ke depan, kalau salah, harus tanggung itu resiko. Paling nggak dijadiin pelajaran untuk ke depannya). Noted!

Gue telpon, Mak Indri. Mereka lagi di bus otw Penang. Dia mau bantu gue cariin hotel dan tiket kalau gue menyusul.

Akhirnya setelah pertimbangan panjang dan tanya suamik, gue buka laptop cari tiket paling murah ke KL. Sedangkan Mak Indri langsung booking hotel yang sama, Hotel Sungai Weng di Jalan Bukit BIntang Kuala Lumpur. Soal Penang harus diikhlaskan. Karena waktunya juga nggak cukup. Perjalanan dari KL ke Penang itu sekitar 4 jam.


The Story has just begin.

Pesawat Lion Air gue dijadwalkan jam 4 sore menuju KL. Dianter suamik dan kiddos, (duh Alhamdulillah para lelaki gue ini pengertian banget emaknya itu doyan jalannnnnn).( Si bontot aja ngerti, diajak ngomong ngangguk-ngangguk yes. Lols, makasih cintaahhhhh )

Gue mengantri untuk check in. Di depan ada seorang ibu dan anak gadisnya, yang ternyata orang Malaysia, (mereka akan terkait cerita gue di bawah. Tungguin)

Setelah check in, gue menunggu untuk boarding. Di bagian ini aja gue udah merasa excited dan happy sendiri ngebayangin bakal ngebolang. alone.

Gue mulai mengatur rencana, akan pergi kemana jika sampai di KL sendiri? Pasalnya, gue bakal ketemu temen gue yang tiga itu keesokan sorenya. Mereka akan eksplore Penang dulu baru sampai KL jam 3 sore by bus.  (Tau gak genks, emang itu yang terbaik, ternyata pas saat itu Penang lagi ada baday. Ketiga temen gue itu langsung naik pesawat balik ke KL, dan kita berkumpulllll Senin paginya).

Dari hasil brosing gue tertarik sama hal-hal yang berbau unik dan beda (bukan mal). Gue tertarik dengan Little India di KL. Pastinya berbeda dengan Little India di Singapura.
okeh.

Pas di bagian check imigrasi ini yang bikin lucu. Kenapa ya bapak-bapak Imigrasi kita ini bawaan curiga aja sama perempuan yang tujuannya ke Malaysia atau negara-negara Timur Tengah. Dikira gue TKW kali di Malaysia, apa muka gue, muka TKW? Iya x yaaa...Hahahah.

Ini bukan pengalaman pertama sebenarnya.

Beberapa tahun lalu ketika gue pulang umrah, pesawat Ijtihad transit dulu di Bandara Abu Dhabi. Itu bandara keren bangettt. Di antara transit di ruang tunggu itu ternyata banyak TKW berkumpul, mereka baru balik dari negara mereka bekerja. Ada yang dari Qatar, Kuwait, Arab dan lainnya akan pulang ke Indonesia. Dan mereka pun satu pesawat sama gue menuju Bandara Soeta.

Jadi nggak salah juga sih ketika gue tiba di Soeta, bapak Imigrasi nyuruh gue lewat jalan yang berbeda, dibarengin sama para TKW itu.  Setelah gue jelaskan gue baru pulang umroh, mereka akhirnya paham. Jaaahhhh..gak bisa bedain apa pak, aura gue abis lihat Ka'bah?

Oke kembali ketika boarding ke KL.

Petugas imigrasi di balik ruang kerjanya yang kotak itu bertanya begini:

Imigrasi: Berapa hari di Malaysia?
Gue: 2 hari
Imigrasi : Coba lihat tiket pulangnya
Gue: Saya ketinggalan pesawat, ini beli tiket baru, tiket pulang sama temen.
Bapak Imigrasi itu pasang wajah curiga kayak satpam. Setelah paspor gue dikasih stempel, dia sambil berdiri mau mengamati tas bawaan gue. Yaelah, gue cuma bawa koper kecil doang sama ransel kecil. Masa gue mau kerja di Malaysia sii,, phhuiless deee paakkk..

Masuk pesawat, ternyata gue satu sejajar kursi sama ibu dan anak gadisnya, yang tadi gue cerita. Si ibu yang namanya Bu Intan menegur ramah. Akhirnya gue tanya-tanyalah sama dia. Nanti sampai KL gue naik apa ke Bukit Bintang, better naik bus atau MRT or Monorail.

"Ikut saye saje sampai KL Center, nanti naik bus." (bahasa Upin Ipin yaa heheheh)

Okeh fix.

Perjalanan ke KL itu makan waktu 2 jam, dan waktu Malaysia lebih cepat 1 jam dari Indonesia.

Bandara Kuala Lumpur
Mendarat di KL rame. (Cuma info: Nggak tau ya kenapa, gue suka suara-suara dan kesibukan di dalam pesawat pas landing. Semua penumpang serentak berdiri dan buka kabin siap-siap keluar dan antri di lorong).

Masuk bandara KL jangan bayangin kayak Soeta ya booo..Bandaranya luas dan besar, banyak mal, banner iklan, semua serba modern. Untuk mengambil bagasi, kita harus turun ke bawah dengan eskalator. (Nanti gue uplot di Youtube Channel gue ya, don't miss it.)



Gue mah ngintilin si ibu Intan dan anaknya aja. Lalu di tengah gedung itu kita menunggu di jalur kereta. (Jangan bayangin jalur kereta kayak di Gambir yegenks). Nggak lama kereta datang. Keretanya gak gitu panjang, karena memang beroperasi hanya di sekitar bandara saja.

Keluar kereta langsung menuju bagian imigrasi sebelum mengambil bagasi. Nah, di sini gue terpisah sama Bu Intan. Karena jalur guekan di bagian orang asing, jadi lama dan antri.  (Kenapa ya di Malaysia dan Singapura itu banyak banget orang India.)

Mulailah di situ gue sendirian. Menuju bagian bagasi, udah sepi. Gue SMS bu Intan yang ternyata udah di dalam bus menuju KL Center, karena anaknya sakit perut sampai muntah. Dia kasih petunjuk gue ke arah bus yang ke Center KL.

Untung banget solo traveler perdana gue ini ke Malaysia yang bahasanya nggak jauh beda sama Indonesia. Kalaupun campuran sama Inggris juga yang standar. Beberapa kali bertanya arah bus ke KL Center. Gue diarahkan menggunakan lift ke bawah. Sampe bawah  malah lebih sepi. Toko-toko siap mau tutup. Nggak ada satpam atau petugas yang berkeliaran (lo kira Soeta apa).

Akhirnya gue tanya petugas toko yang mengarahkan gue harus keluar gedung. Emang sih di luar gedung banyak bus parkir, tapi untungnya mereka pada sopan lho. Para supir bus yang rata-rata orang India itu kasih gue petunjuk yang benar, di mana gue harus naik bus menuju KL Center.

Gue nggak kebayang kalau di situasi begitu gue ada di di salah satu terminal di Jakarta. Tau dong, berapa banyak preman dan pengangguran yang nongkrong di terminal, apalagi kalau udah jelang tengah malam.

Dari pengalaman, jika gue di beberapa terminal di Jakarta itu sampai malam, mereka yang tadinya nggak kepikiran jahat, karena iseng, ada peluang untuk berbuat jahat. Apalagi jika lihat seorang wanita muda (jaahhh) sendiri kebingungan. Di otaknya terlintas untuk berbuat jahat. tul gak.

okeh.

Ternyata, untuk ke bus menuju KL Center itu di gedung yang berbeda. Gue menyebrang lalu masuk  ke gedung yang nggak ramai. Di paling belakang banyak loket bus ke arah KL Center, Penang, Malaka dan tempat lainnya. Juga ada kayak food court tempat orang dagang makanan. Gue beli tiket seharga RM 10, dan naik bus yang lagi nge-tem.  Alhamdulillah di dalam bus ada bu Intan dan anaknya.

Ternyata perjalanan lumayan jauh juga ke KL Center. Jalanannya lancar jaya, nggak pakai macet.
Waktu sudah pukul 22.30 ketika gue sampai KL Center. Bu Intan pun dengan baik hatinya mencarikan gue taksi.

"Aliya, harus cari taksi yang pakai mite tak."
Artinya: Alia harus cari taksi yang gak pakai argo.
Katanya, kalau pakai argo cuma RM 15. Sedangkan yang nggak pakai argo bisa ditembak sampai RM 40-50.

Awalnya kalau nggak kemalaman, gue disarankan naik monorail ke Bukit Bintang. Lebih murah dan cepat. Turun langsung di Bukit Bintang dan jalan sedikit ke hotel. Tapi karena sudah menjelang tengah malam dan sepi, akhirnya gue putuskan naik taksi ke hotel.

Lama juga tuh temuin taksi yang gak pake argo. Padahal banyak taksi, dan taksi gelap (mobil pribadi) ngetem, dan nggak mau pake argo. SI Ibu Intan ini baik banget, dia nungguin gue dan cariin gue taksi sampai dapet. Padahal anaknya belum makan dan sakit perut (makasih ya bu, sejak itu gue jadi aktif WA sama Bu Intan. Alhamdulillah kan dapat teman baru).

Bukit Bintang So Excited

Bukit Bintang di malam hari
Bukit Bintang di pagi hari
Hotel Sungai Weng

Jam 11 malam, fix gue nyampe Bukit Bintang. Pemandangan yang berbeda yang gue  dapatkan dibandingkan kesepian tadi. Sangat ramai, macet, hingar bingar musik, jalan Bukit Bintang seperti tak pernah hening. On 24 jam.

Gue sukak!

Masuk ke dalam Hotel Sungai Weng, minta kunci, taro koper di front office dan gue pun ikut berbaur di jalanan. Asik banget. Nggak berasa capek, gue eksplore aja sendiri. Wisata malam yang mendebarkan.

Note: sekarang ada peraturan baru di Malaysia sejak September, menginap di hotel ada pajaknya semalam itu RM 10.

Happy Traveling genks!

#Liputan6


AAL

Review QL Cosmetic Lipcream Matte, Murah dan Bikin Cakep


Akhirnya pecah telor juga bisa review lipstik. Kayaknya happy bangeeettt, ini tantangan banget, bisa menulis review lipstik mengingat masa lalu saya 'musuhan' sama produk kosmetik. Maklum, masa ABG diwarnai dengan naik gunung, panjat tebing dan kerjaan kelaki-lakian lainnya, heheheh.

Selain itu, manfaat review lipstik ini untuk menghilangkan ketidak pedean foto selfie. Udah beberapa tahun belakangan berasa maluuu bangeett kalo liat foto sendiri yang close up segede gaban gitu ada di medsos. Siapa sih gue? Artis kagak, seleb kagak, sok kece banget. Begitu sih yang ada dipikiran,  Lol.

Nah , dengan review lipstik mau gak mau harus banyak foto selfie dong dengan memakai lipstik yang warnanya cerah ceria. Tau gak genks, buat saya lipstik itu adalah senjata ampuh supaya cantik manjah. Selalu dibawa kemana-mana dan punya banyak.  Satu ada di dalam tas, taronya di pouch, setia menemani kemanapun pergi. Juga ada di mobil, ada di kamar, ada di ruangan bawah. Jadi kalau dadakan pergi, itu lipstik yang jaraknya terdekat, mampir dulu di bibir. Soalnya, bibir saya gelap genks, wajah jadi bluwek kalau nggak pake lipstik.

Kosmetik QL Lipcream Matte

Melihat banyaknya produk QL Lipcream Matte ini wara-wiri di medsos, saya jadi kepo mau coba untuk review juga. Shadesnya berjumlah delapan, dan semua warnanya kece-kece banget dan bikin jatuh cintrong.

Ini saya jabarin apa aja ya:
#21 Peach Angel,
#22 Pink Me
#24 Nudy Classic
#25 Nude Brown
#26 Flaming Rose
# 27 Erotic Rose
#28 Apple Berry
#Sugar Plum



Entah kenapa nggak ada nomor 23, nanti saya coba cari info ya genks.

Semua shades udah dicoba, dan ada beberapa yang saya suka dan yang nggak, ini dia:

Yang nggak suka:
#21 Peach Angel dan #22 Pin Me. Kenapa?

Kedua warna tersebut cenderung ke merah muda, sedangkan kulit saya itu sawo  matang. Jadi nggak pas banget di wajah, berasa dari jauh orang hanya melihat lipstik saja.Karena kedua warna ini jatoh di bibir saya nggak menyatu. Lantaran QL Lipcream Matte ini cepat kering, dan seperti menggumpal di bibir. Seperti ada campuran bedak.

Yang disuka:
#24 Nudy Classic #25 Nude Brown #26 Flaming Rose
# 27 Erotic Rose  #28 Apple Berry #29 Sugar Plum

Shades tersebut pas banget di bibir. Seperti Nudy Classic dan Nude Brown itu cenderung coklat. Jadi ketika dipakai nggak terlalu nge-jreng, lebih kalem dan lembut. Biasanya saya pakai ke mal atau jalan manjah yang santai.

Sedangkan 26 Flaming Rose dan  27 Erotic Rose  cenderung ke merah cerah ceria. Tetiba wajah terlihat lebih kinclong dan cakep banget pokoknya.

Sisanya, 28 Apple Berry dan 29 Sugar Plum cenderung ada unsur ungunya. Sukak banget, bibir saya yang gelap jadi gak terlihat. Ini biasanya dipakai untuk acara formal, kayak kondangan atau miting.

Bagaimana dengan packagingnya?
Dari kesingnya aja, lipstiknya udah menarik. Lihat deh, pas banget sama era milenial sekarang kan.
Bentuknya sekilas mirip tabung, dengan ukiran serta lekukan yang feminin (maksudnya emang pas banget untuk perempuan), berbeda jika pingin dibandingkan dengan lipcream lainnya.

Aplikatornya di ujung agak miring untuk memudahkan memoles lipstik di bibir, terutama di ujung. Packagingnya dari plastik, disitu tertulis ingredients, BPOM, serta expired produk.

Dengan bungkusan warna bening bisa terlihat dari luar warna dari lipstik.

Kalau dilihat dari kemasannya, bakalan nggak nyangka kalau lipstik ini adalah produk lokal. Dan harganya murah banget, cuma Rp 36 ribu.

Bagaimana soal tekstur?

Tekstur QL Lipcream Matte ini cair, ketika ditarik aplikatornya terlihat lipstik yang menempel, bukan cream. Dan ketika dipakai di bibir cepat langsung kering.

Lalu ketika minum atau makan, warna lipstik akan menempel dan terbilang cepat hilang jika saya bandingkan dengan lipcream matte lainnya. Karena nggak waterproof. Tapi kalau lagi puasa, alias nggak makan dan minum, warna lipstiknya tetap kinclong laya, Lols.

Kekurangan:
1. Gak waterproof
2. Warna tertentu terlihat menggumpal di bibir, gak menyatu seperti ada bedak menempel.
3. Cepat hilang kalau habis makan dan minum
4. Warna satu sama lain nyaris mirip, kurang eksplore warna lain

Kelebihan:
1. Murah
2. Packaging bagus dan menarik
3. Produk lokal, gak kalah dengan produk luar
4. Warna-warna merah tua bikin jatuh cintrong

Well genks, murah bangetkan lipstiknya. Yuk ah dicoba, dengan harga murah bisa membeli beberapa warna. Untuk lebih lengkap produk QL silahkan diintip di sini genks website www.qlcosmetic.com
Nah ini reviewnya di vlog eyke. Subscribe yess:

https://www.youtube.com/watch?v=B-AIp1wa020&t=16s