Friday, November 17, 2017

Kejeblos Jadi Solo Traveler


Pingin rasain jadi solo traveler? Gue sempat ada keinginan, ketika melihat cewek-cewek melakukan traveling sendiri. Tapi agak ragu, apa gue bisa? Apa gue mampu? Pastinya kalau ke luar negri kendalanya bahasa, apalagi bahasa Inggris gue cuma bisa 'yes' or no' , thank you', kacau bangetkan. Belum lagi gue paling oneng kalau baca map alias peta. Gue angkat tangan deh kalau disuruh baca peta. Panggil aja si Dora.

Baca Jugak: Muvon APP, Aplikasi Halal Lifestyle Pertama untuk Umat Islam

Gue mau cerita ketika secara nggak sengaja jadi solo traveler. Selama ini gue nggak pernah pergi sendiri ketika melakukan traveling dengan pesawat. Gue terbiasa tinggal duduk manis manjah.
Maklumlah, perjalanan gue dengan pesawat dimulai ketika gue kerja jadi wartawan. Undangan ke luar kota, pastinya udah diservis semuanya. Gue cuma dateng ke bandara, nenteng koper, terus duduk manis di pesawat. Nggak ribet soal urusan check in, boarding atau semacamnya. Kalaupun traveling di luar tugas kerja, suamik bagian ribet.

Nah, ini kasus spesial menurut gue. Bahkan pengalaman yang deg-degan tapi nagih. Berasa bebas gitu.

Jadi kebetulan guekan ikutan Komunitas Emak-Emak backpacker (EEB). Kan di sana banyak banget penawaran tiket murah, tiket promo atau trip murah. Pada suatu hari di antara semua tawaran trip, gue tertarik sama tawaran tiket ke Kuala Lumpur yang hanya Rp 500 ribu sekian PP. Seorang anggota EEB yang juga punya tour and travel, Mak Indri kasih pengumuman kalau dia mau ke KL dengan harga tiket sekian. Kalau ada yang mau barengan bisa share cost.

Tripnya ke Penang dan Kuala Lumpur. Gue yang emang banci jalan dan udah lama banget nggak traveling sejak hamil si bontot, berasa ada angin segar. Apalagi cuma 2 malam. Bisa lahya si bontot di tinggal sebentar. Untung si suamik selalu mengijinkan, doi paham dah bininya gatel jelong-jelong.

Oke semua fix, gue udah tranfer untuk biaya tiket dan hotel selama di KL dan Penang. Gue tinggal jalan. Agar dapat tiket murah, teman gue ini pilih jam 12.30 malam hari Minggu 5 November 2017. Yang ada dalam bayangan gue, hari Minggu dong, nggak kepikiran harus check in, boarding dan harus ada bandara itu Sabtu malam. Karena di otak gue udah terprogram hari mInggu.

Padahal Mak Indri ini dari Sabtu siang udah bilang, "Kita ketemu entar malam ya di bandara." Dia WA hari Sabtu pagi,  gue mikirnya, dia salah tanggal nih. Nah gue WA teman lain yang satu perjalanan, Mak Ina. "Iya besok," katanya. Jadi gue yakin Mak Indri salah kasih info (gue emang sotoy).

Nggak tahu kenapa, malam itu HP tumben banget gue matiin. Biasanya HP gue selalu menyala lho, sudahlah memang takdir gue harus ditinggal ya bo.

Pas besok subuh, hari minggu jam 5 gue buka HP,  gue langsung loncat disko. Miskol banyak banget dari 2 temen perjalanan gue ini. Dan mereka juga Wa kalau udah boarding, udah masuk pesawat, atau sedang otw ke Penang dari Kuala Lumpur.

Gue panik sejadi-jadinya. "Hah? Gue ditinggal? Gue nggak jadi jelong-jelong? Gue ketinggalan pesawat? Duit gue ilang? Tiket pesawat gue angus?"
Berasa banget saat itu gue sangat memohon sama Sang Pencipta minta dimundurin waktu 8 jam ke belakang. Sangat-sangat memohon. (Dari sini gue jadi sangat sadar, kita nggak boleh melihat ke belakang. Nggak boleh menyesali waktu yang udah lewat. Nggak bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahan. Kita harus maju ke depan, kalau salah, harus tanggung itu resiko. Paling nggak dijadiin pelajaran untuk ke depannya). Noted!

Gue telpon, Mak Indri. Mereka lagi di bus otw Penang. Dia mau bantu gue cariin hotel dan tiket kalau gue menyusul.

Akhirnya setelah pertimbangan panjang dan tanya suamik, gue buka laptop cari tiket paling murah ke KL. Sedangkan Mak Indri langsung booking hotel yang sama, Hotel Sungai Weng di Jalan Bukit BIntang Kuala Lumpur. Soal Penang harus diikhlaskan. Karena waktunya juga nggak cukup. Perjalanan dari KL ke Penang itu sekitar 4 jam.


The Story has just begin.

Pesawat Lion Air gue dijadwalkan jam 4 sore menuju KL. Dianter suamik dan kiddos, (duh Alhamdulillah para lelaki gue ini pengertian banget emaknya itu doyan jalannnnnn).( Si bontot aja ngerti, diajak ngomong ngangguk-ngangguk yes. Lols, makasih cintaahhhhh )

Gue mengantri untuk check in. Di depan ada seorang ibu dan anak gadisnya, yang ternyata orang Malaysia, (mereka akan terkait cerita gue di bawah. Tungguin)

Setelah check in, gue menunggu untuk boarding. Di bagian ini aja gue udah merasa excited dan happy sendiri ngebayangin bakal ngebolang. alone.

Gue mulai mengatur rencana, akan pergi kemana jika sampai di KL sendiri? Pasalnya, gue bakal ketemu temen gue yang tiga itu keesokan sorenya. Mereka akan eksplore Penang dulu baru sampai KL jam 3 sore by bus.  (Tau gak genks, emang itu yang terbaik, ternyata pas saat itu Penang lagi ada baday. Ketiga temen gue itu langsung naik pesawat balik ke KL, dan kita berkumpulllll Senin paginya).

Dari hasil brosing gue tertarik sama hal-hal yang berbau unik dan beda (bukan mal). Gue tertarik dengan Little India di KL. Pastinya berbeda dengan Little India di Singapura.
okeh.

Pas di bagian check imigrasi ini yang bikin lucu. Kenapa ya bapak-bapak Imigrasi kita ini bawaan curiga aja sama perempuan yang tujuannya ke Malaysia atau negara-negara Timur Tengah. Dikira gue TKW kali di Malaysia, apa muka gue, muka TKW? Iya x yaaa...Hahahah.

Ini bukan pengalaman pertama sebenarnya.

Beberapa tahun lalu ketika gue pulang umrah, pesawat Ijtihad transit dulu di Bandara Abu Dhabi. Itu bandara keren bangettt. Di antara transit di ruang tunggu itu ternyata banyak TKW berkumpul, mereka baru balik dari negara mereka bekerja. Ada yang dari Qatar, Kuwait, Arab dan lainnya akan pulang ke Indonesia. Dan mereka pun satu pesawat sama gue menuju Bandara Soeta.

Jadi nggak salah juga sih ketika gue tiba di Soeta, bapak Imigrasi nyuruh gue lewat jalan yang berbeda, dibarengin sama para TKW itu.  Setelah gue jelaskan gue baru pulang umroh, mereka akhirnya paham. Jaaahhhh..gak bisa bedain apa pak, aura gue abis lihat Ka'bah?

Oke kembali ketika boarding ke KL.

Petugas imigrasi di balik ruang kerjanya yang kotak itu bertanya begini:

Imigrasi: Berapa hari di Malaysia?
Gue: 2 hari
Imigrasi : Coba lihat tiket pulangnya
Gue: Saya ketinggalan pesawat, ini beli tiket baru, tiket pulang sama temen.
Bapak Imigrasi itu pasang wajah curiga kayak satpam. Setelah paspor gue dikasih stempel, dia sambil berdiri mau mengamati tas bawaan gue. Yaelah, gue cuma bawa koper kecil doang sama ransel kecil. Masa gue mau kerja di Malaysia sii,, phhuiless deee paakkk..

Masuk pesawat, ternyata gue satu sejajar kursi sama ibu dan anak gadisnya, yang tadi gue cerita. Si ibu yang namanya Bu Intan menegur ramah. Akhirnya gue tanya-tanyalah sama dia. Nanti sampai KL gue naik apa ke Bukit Bintang, better naik bus atau MRT or Monorail.

"Ikut saye saje sampai KL Center, nanti naik bus." (bahasa Upin Ipin yaa heheheh)

Okeh fix.

Perjalanan ke KL itu makan waktu 2 jam, dan waktu Malaysia lebih cepat 1 jam dari Indonesia.

Bandara Kuala Lumpur
Mendarat di KL rame. (Cuma info: Nggak tau ya kenapa, gue suka suara-suara dan kesibukan di dalam pesawat pas landing. Semua penumpang serentak berdiri dan buka kabin siap-siap keluar dan antri di lorong).

Masuk bandara KL jangan bayangin kayak Soeta ya booo..Bandaranya luas dan besar, banyak mal, banner iklan, semua serba modern. Untuk mengambil bagasi, kita harus turun ke bawah dengan eskalator. (Nanti gue uplot di Youtube Channel gue ya, don't miss it.)



Gue mah ngintilin si ibu Intan dan anaknya aja. Lalu di tengah gedung itu kita menunggu di jalur kereta. (Jangan bayangin jalur kereta kayak di Gambir yegenks). Nggak lama kereta datang. Keretanya gak gitu panjang, karena memang beroperasi hanya di sekitar bandara saja.

Keluar kereta langsung menuju bagian imigrasi sebelum mengambil bagasi. Nah, di sini gue terpisah sama Bu Intan. Karena jalur guekan di bagian orang asing, jadi lama dan antri.  (Kenapa ya di Malaysia dan Singapura itu banyak banget orang India.)

Mulailah di situ gue sendirian. Menuju bagian bagasi, udah sepi. Gue SMS bu Intan yang ternyata udah di dalam bus menuju KL Center, karena anaknya sakit perut sampai muntah. Dia kasih petunjuk gue ke arah bus yang ke Center KL.

Untung banget solo traveler perdana gue ini ke Malaysia yang bahasanya nggak jauh beda sama Indonesia. Kalaupun campuran sama Inggris juga yang standar. Beberapa kali bertanya arah bus ke KL Center. Gue diarahkan menggunakan lift ke bawah. Sampe bawah  malah lebih sepi. Toko-toko siap mau tutup. Nggak ada satpam atau petugas yang berkeliaran (lo kira Soeta apa).

Akhirnya gue tanya petugas toko yang mengarahkan gue harus keluar gedung. Emang sih di luar gedung banyak bus parkir, tapi untungnya mereka pada sopan lho. Para supir bus yang rata-rata orang India itu kasih gue petunjuk yang benar, di mana gue harus naik bus menuju KL Center.

Gue nggak kebayang kalau di situasi begitu gue ada di di salah satu terminal di Jakarta. Tau dong, berapa banyak preman dan pengangguran yang nongkrong di terminal, apalagi kalau udah jelang tengah malam.

Dari pengalaman, jika gue di beberapa terminal di Jakarta itu sampai malam, mereka yang tadinya nggak kepikiran jahat, karena iseng, ada peluang untuk berbuat jahat. Apalagi jika lihat seorang wanita muda (jaahhh) sendiri kebingungan. Di otaknya terlintas untuk berbuat jahat. tul gak.

okeh.

Ternyata, untuk ke bus menuju KL Center itu di gedung yang berbeda. Gue menyebrang lalu masuk  ke gedung yang nggak ramai. Di paling belakang banyak loket bus ke arah KL Center, Penang, Malaka dan tempat lainnya. Juga ada kayak food court tempat orang dagang makanan. Gue beli tiket seharga RM 10, dan naik bus yang lagi nge-tem.  Alhamdulillah di dalam bus ada bu Intan dan anaknya.

Ternyata perjalanan lumayan jauh juga ke KL Center. Jalanannya lancar jaya, nggak pakai macet.
Waktu sudah pukul 22.30 ketika gue sampai KL Center. Bu Intan pun dengan baik hatinya mencarikan gue taksi.

"Aliya, harus cari taksi yang pakai mite tak."
Artinya: Alia harus cari taksi yang gak pakai argo.
Katanya, kalau pakai argo cuma RM 15. Sedangkan yang nggak pakai argo bisa ditembak sampai RM 40-50.

Awalnya kalau nggak kemalaman, gue disarankan naik monorail ke Bukit Bintang. Lebih murah dan cepat. Turun langsung di Bukit Bintang dan jalan sedikit ke hotel. Tapi karena sudah menjelang tengah malam dan sepi, akhirnya gue putuskan naik taksi ke hotel.

Lama juga tuh temuin taksi yang gak pake argo. Padahal banyak taksi, dan taksi gelap (mobil pribadi) ngetem, dan nggak mau pake argo. SI Ibu Intan ini baik banget, dia nungguin gue dan cariin gue taksi sampai dapet. Padahal anaknya belum makan dan sakit perut (makasih ya bu, sejak itu gue jadi aktif WA sama Bu Intan. Alhamdulillah kan dapat teman baru).

Bukit Bintang So Excited

Bukit Bintang di malam hari
Bukit Bintang di pagi hari
Hotel Sungai Weng

Jam 11 malam, fix gue nyampe Bukit Bintang. Pemandangan yang berbeda yang gue  dapatkan dibandingkan kesepian tadi. Sangat ramai, macet, hingar bingar musik, jalan Bukit Bintang seperti tak pernah hening. On 24 jam.

Gue sukak!

Masuk ke dalam Hotel Sungai Weng, minta kunci, taro koper di front office dan gue pun ikut berbaur di jalanan. Asik banget. Nggak berasa capek, gue eksplore aja sendiri.

Note: sekarang ada peraturan baru di Malaysia sejak September, menginap di hotel ada pajaknya semalam itu RM 10.

Happy Traveling genks!

AAL

24 comments:

  1. Mbak Aliya, ya ampun, kok bisa sih ketinggalan pesawaat? :)

    Mbak foto-fotonya cakep-cakep, pake kamera apa ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe lagi apesss. Alhamdulillah akhirnya ada yang muji foto akuu hahahah maacihhh

      Delete
  2. Yah gue kaga diajak, wkwkwk. Mbak al atulah dirimu pake ketinggalan pesawat segala dah.

    ReplyDelete
  3. Seruuu ya mbaa. Tiap pagi ga lupa telpom si kecil kan kaya di jogja duluu, hihii

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha iya bener mi, di hotel wifinya kenceng jadi telponan terus

      Delete
  4. aku juga pengen sekali2 solo traveler soalnya tiap liburan selalu sama keluarga, pengen nyoba sensasinya ajah sih sebenernya hahahaa kayaknya seru :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha iyaa sensasinya ituuuu yang bikin nagihh

      Delete
  5. Huwaaawww aku pingin lagi solo traveling.. hihi.. Aduh gak kebayang itu ketinggalan pesawat mba Al.. :D Ah, tapi seru kan yah jadi ada cerita di blog.. haha

    ReplyDelete
  6. perjalanannya seru banget ini. ayahblogger aja masih mikir mikir bisa ndak ya jalan jalan sendiri, apalagi sampai keluar negeri

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehehe untung cuma malaysiye yah hihihi

      Delete
  7. Deposit kali ya mba maksudnya itu yg 10RM, aku juga gitu soalnya waktu ke Malaysia. Dan di sana mah ramah-ramah, tenang sih sebenrnya traveling disana hehehe... Bahkan pengen balik lagi saya, makanannya bikin kangen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak, kalo deposito itu RM 50 dan dibalikin pas check out. Kalo ini pajak RM 10 dan hangus, gak balik

      Delete
  8. Traveling kalo nggak ada drama nya gak seru mak :))

    ReplyDelete
  9. Semua orang pasti punya pengalaman pertama kali solo travelling yang seru dan berkesan, salah satunya punya Mbak Alia ini. Nice, simple, and fun story :)!

    ReplyDelete
  10. Seru ya mbak perjalanannya, kl saya kayaknya msh pikir lagi kalau sendirian

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe coba aja domestik dulu, misal jogja atau bali

      Delete
  11. kayaknya kebiasaan pas masih jadi wartawan kebawa2 ya mbak, dikira ga perlu boarding n check in, makanya santai aja, eh tau2 udah ditinggal , itu tiketnya murah banget kebrangkatan dari jkt apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehhe bennerrr, ngegampangin jadi ketinggalan. Pake AA mas, sering promo tapi maleem

      Delete
  12. Seru dan cukup punya keberanian juga untuk solo travel ke luar negeri.
    Bagi saya ini hal yg luar biasa...

    Salam,

    ReplyDelete