(Review) Film The Split, Bakal Ada Sekuelnya Lho


Sejak menonton film The Sixt Sense beberapa tahun lampau, gue udah tertarik dengan sutradaranya, Night Shyamalan. Fim yang dimainkan Bruce Willis itu bikin gue jatuh hati dengan gaya bercerita, tema, plot dan banyak kejutan.

Benang  merah kekuatan bercerita yang khas dari Night Shyamalan juga terlihat di Unbreakable (2000), lagi-lagi dimainkan oleh Bruce Willis serta Samuel L Jackson.

Kini, lewat The Split, Shyamalan yang menyukai kisah thriller menegangkan itu memilih aktor kece James McAvoy. Nggak tahu kenapa, gue suka banget sama cerita yang berbau psikologis orang, karakter orang dan kepribadian orang. Mungkin, karena gue mau jadi psikolog gak kesampean, hehehe (abaikan kalimat terakhir).

The Split bercerita tentang seorang pria yang aneh dan terpinggirkan, Kevin Wendell Crumb (James McAvoy). Dia memiliki 23 kepribadian, dan telah bertahun-tahun dirawat oleh psikiater tua Dr Fletcher (Betty Buckley).

Diantara 23 kepribadian, yang paling kuat dan sering muncul adalah sosok Dennis, seorang pria yang terobsesi dengan kebersihan, wajahnya serius, matanya tajam di balik kacamata. Dennis yang mengatur kepribadian lain masuk ke dalam 'tempat terang' (muncul ke permukaan).

Dennis menculik tiga gadis remaja di halaman parkir mobil, Claire, Marcia dan Casey ((seorang foto model Anya Taylor-Joy) si anak penyendiri. Ketiganya dikurung di ruang bawah tempat penyimpanan.


Ketiga gadis itu baru menyadari kelainan Kevin, ketika suatu malam mereka bertemu Kevin dengan pakaian dan gesture layaknya wanita. Dia mengenalkan diri bernama Patricia. Lalu Kevin juga muncul sebagai Hedwig, seorang bocah berusia 9 tahun yang membocorkan rahasia kalau ketiga gadis itu akan dikorbankan untuk The Beast. The Beast adalah kepribadian Kevin yang ke 24 dan selama ini selalu tersimpan karena memiliki kekuatan dan kejahatan layaknya monster.

Di antara ketiga gadis itu hanya Casey  yang cerdas dengan memanfaatkan Hedwig agar bisa keluar dari tempat itu.

Selama film berjalan, Shyamalan memberikan potongan-potongan adegan yang menggambarkan masa kecil dari Kevin dan Casey sehingga penonton mengerti kenapa Kevin bisa memiliki 23 kepribadian. Kedua orang tuanya memperlakukan Kevin dengan sadis sejak usianya masih 3 tahun. Penonton juga jadi meraba, karakter Casey yang tertutup dan penyendiri disebabkan pelecehan yang dilakukan pamannya saat kecil.

Baca Ini Juga Yuk : Film Kong: Skull Island

Shyamalam mencoba memberikan gambaran anak manusia, bagaimana karakter sehat seorang manusia akan tumbuh tergantung dari masa kecilnya, bagaimana orang tua memperlakukan anak-anaknya, itulah dia akan menjalani kehidupan dewasanya. Menjadi pribadi yang berguna atau justru menakutkan seperti Kevin.

James McAvoy yang total berakting hingga bisa berubah cepat dari karakter satu ke karakter lainnya. Dari sosok Barry, seorang desainer busana yang ceria dan luwes, lalu berubah menjadi Dennis, tiba-tiba harus berprilaku seperti anak-anak yakni Hedwig yang cadel dan menjadi Patricia yang anggun.


McAvoy terkenal lewat film X-Men menjadi profesor X yang bijaksana. Yang bikin gue terganggu adalah pemeran Casey. Itu kenapa juga selama dikurung wajahnya kok tetep cantik full make up? Phuuiilleessss, yang real lah, itukan bukan sinetron yang tidur bibir masih merah merekah dan bulu mata palsu cetar membahana masih nempel.

Yang udah nonton film The Split pasti bertanya-tanya, apakah bakal ada sekuelnya mengingat ending film tersebut menggantung. Gue sendiri sih yakin ada ketika pada akhir film muncul Bruce Willis yang menyenggol soal karakter Mr Glass di film Unbreakble.

Dan ternyata benar ada sekuelnya! Di Twitternya, sutradara asal India itu cuit begini. " I have an 11 page outline for my next film in my bag. I can't tell you what it is, but If you've seen #Split.../'

Yes!! Pasti gue tunggu sekuelnya!!

AAL

(Review) Film Kong: Skull Island, Ada yang Berbeda di King Kong Kali Ini


Film yang menampilkan kera raksasa atau King Kong sepertinya tidak pernah bosan diminati sejak pertama kali dibuat pada 1933. Berbagai remake film tersebut selalu laris manis. Remake terakhir pada 2005 bertajuk King Kong yang disutradarai oleh Peter Jackson dan dimainkan Naomi Watss.

Kini 2017, Film King Kong remake kembali muncul dengan tajuk Kong: Skull Island yang disutradarai oleh Jordan Vogt-Roberts.


Kong: Skull Island mengisahkan sekelompok penjelajah dan tentara Amerika yang masuk ke pulau antah-berantah bernama Skull Island pada 1970-an. Penjelajah itu terdiri dari peneliti Bill Randa (John Goodman), serta melibatkan beberapa unit militer yang dipimpin oleh Kolonel Preston Packard (Samuel L Jackson), Mason Weaver si fotografer (Brie Larson) dan tentara bayaran asal Inggris, James Conrad (Tom Hiddleston).


Setelah melewati kabut tebal dan gempuran dahsyat petir menyerang helikopter yang membawa mereka, akhirnya menemukan pulau cantik itu (konon itu adalah Halong Bay yang berisi limes stones yang ada di Vietnam. Yess i've been there baby). 


Sebelum mendarat, para militer ini menurunkan bom sesuai perintah yang diminta Randa dengan dalih untuk mengukur kedalaman tanah.

Bisa ditebak, sekitar 13 helikopter melayang itu harus 'berperang' yang dikejutkan dengan kemunculan King Kong yang merasa terganggu dengan ledakan tersebut. Akibatnya, mereka kocar kacir, banyak yang mati dan heli yang meledak. Anak buah Packard ada yang tewas sehigga meninggalkan dendam untuk membalasnya ke King kong.


Nah, gue baru kali ini menonton aksi Tom Hiddleston setelah melepas karakter Loki di film Thor dan Avengers. Tom yang pernah diisukan bakal menjadi next James Bond, yang ada dalam bayangan gue pastinya bakal keren kalau menjadi one man show, alias jagoan yang paling diandalkan. 



Tapi ternyata tidak. Tom seperti kebingungan apa yang harus dilakukan sebagai seorang jagoan . Vokalnya kurang menggelegar, lebih banyak terdengar logat Inggrisnya yang terkesan santun jadi nggak macho. Bagian Tom jadi jagoan juga kurang diasah oleh sutradara. Hanya ada satu adegan ketika dia harus melewati asap gas beracun untuk menyelamatkan temannya, dia harus melawan burung-burung purba yang sadis siap menggigitnya. Tom melayangkan pedang sambil berlari hingga semuanya mati. udah gitu aja.
Selebihnya Tom kurang greget. Aktingnya sangat lebih baik ketika menjadi Loki, adek Thor yang paling nyebelin dan ngeselin. 


Nggak berbeda jauh dengan Brie Larson yang tahun lalu meraih Oscar untuk Aktris Terbaik lewat film Room. Brie yang di sini menjadi fotografer, sepertinya 'mendalami' sekali perannya. Ketika semua orang memegang senjata, jejaga jika ada musuh yang siap menyergap, Mason (Brie) malah selalu menggengam kamera. Mbok ya, tetap memegang senjata dan kamerakan bisa dicantelin di leher. Gaya kayak cewek tomboy-nya nggak kepake. Gue mengira si Mason akan lincah fighting mengingat di awal cerita gaya dia kayak koboy.


Lalu, Kolonel Pavkrad (Samel L Jackson), karakter yang dimainkan gak jauh berbeda jika ingin dibandingkan film dia sebelumnya. Keras kepala, ngeselin , otoriter dan merasa paling benar. Mungkin dia memang cocok dengan karakter itu sehingga melekat, pas dengan wajahnya yang keras.


Bisa Baca Ini Juga : Ternyata Gue Suka Kerja

Sejak 1933, King Kong selalu diceritakan turun ke kota (New York) dan memanjat empire State demi seorang wanita. Tapi untuk  Kong: Skull Island  tetap (menurut gue lebih menarik dan masuk akal), berada di pulau terpencil yang mereka sebut "ada tempat di mana Tuhan belum menyelesaikan ciptanNYa."

Selain bakal menemukan King Kong, mereka juga menemukan beberapa mahluk aneh dengan bentuk raksasa. Tadinya gue menyangka bakal ada dinosaurus ternyata, bukan. Tapi ada yang kelewat, ketika Kolonel Hank Marlow (John C Reilly), pilot yang sejak 28 tahun terdampar di sana nyeletuk. "Jangan salah itu bukan suara burung, tapi semut raksasa." Tapi sampe film selesai semutnya nggak muncul-muncul. Sutradaranya nggak detil soal beginian.

Tapi untuk pertarungan antara King Kong dan kadal, bolehlah. Seru dan menegangkan, apalagi King Kong dalam kondisi sekarat setelah habis-habisan dibakar. Hubungan King Kong dengan wanita dari semua film kali ini lebih halus. Mason hanya menyentuh wajah King Kong dan keduanya menitikkan air mata. Seperti saling mengerti dan komunikasi dalam diam.


Film ini ada sisi lucu, seram, menegangkan, kasihan, dan menyedihkan (ini komentar anak gue yang katanya seru banget film King Kong).

Happy Watching Guys!


AAL