Rasanya Jadi Wartawan Gosip (9), Inul Daratista dari Nobody to Somebody

Mbah google



"Fame is vapor, popularity an accident, and riches take wings. Only one thing endures and that is character ," NN

Seperti kebiasaan gue, kalau ada isu artis yang sedang trending langsung gue tulis di blog. Pastinya gue ngarep banyak yang mampir ke blog dan mempengaruhi viewers dan rank blog gue dong, Lol.

Nah, saat ini Inul Daratista lagi nge-hits banget. Dia dihujat di media sosial karena dinilai sudah menghina para ulama akibat postingannya di Instagram. Gue, salah satu wartawan yang terbilang mengiringi di awal karirnya pada 2003 merasa 'kayaknya lucu juga gue tulis di blog' begitu pikiran gue sebagai blogger tebengan trending google.

Apalagi pas heboh-hebohnya kemaren itu, gue menulis status soal Inul di Facebook. Banyak juga teman lain yang isi statusnya nggak enak banget dibaca. Kalau gue masih agak 'cantik' dikitlah. (*ditimpukfansberatinul).

Tapi salah satu temen FB gue (yang gak asik banget, pake ngadu, kesannya gue ghibahin majikannya gitu) status itu di skrinsut dan dilaporin ke Inul. Gue yang tadinya lagi sapa-sapaan 'manja' sama Inul di WA, kaget juga. Dia kirim skrinsut status gue itu di FB lalu nge-block nomor gue.  So baper she is, don't you think?

Padahal, isi status gue (Gue tanya ke beberapa temen wartawan, bahkan ada satu temen yang deket banget sama Inul (sampai tau karakter terdalamnya saking deketnya, mengatakan, "Dia emang gitu, cuekin aja. Status lo biasa aja si"), gak nge-judge. Hanya 'pamer' kalau gue WA-an sama Inul secara wartawan lain susah minta klarifikasi soal masalah itu.

Apa si Isinya?

Biasa, cuma  mau ikutan nyinyir komentarin yang awalnya gue nggak ngeh soal kehebohan di medsos itu.

Jadi gini awalnya, tetiba Inul japri gue di WA dengan icon minta maaf gitu.  Gue bingung, tanpa ada kalimat ko dia kirim icon itu. Asumsi gue saat itu, dia pasti kirim ke semua wartawan yang ada di list WA dia.

Lalu gue brosing dan berselancar di Instagram yang pusatnya haters mencaci maki orang dengan kejam.
Terus, gue sebagai wartawan yang SKSD ke artis, WA ke dese begini kurleb.

 "Tenang mbak, semua akan baik2 aja."

Terus dia balas, "Matur suwun mbak e".

Lalu di hastag gue tulis #jadiartisituhatihati, #jagajariuntukgaknyinyirdimedsos #jangannyinyir #jadipelajaran.

Sepertinya dia gak terima dengan hastag gue itu dan memilih nge-block no HP gue. Lols...
Niat gue sih pake hesteg gitu untuk memperingatkan teman artis lain yang temenan sama gue di FB. Karena mereka public figure yang sedang diincar netizen jika melakukan kesalahan sedikit aja. Hancur sudah.

Sutralah, masih banyak narsum (artis) yang bisa berfikir cemerlang. Mungkin dia sedang lelah.


Kita kembali sedikit ke tahun 2003.

Tahun itu Inul lagi heboh di berbagai media dengan goyang ngebornya. Waktu itu fenomenal banget, badannya kayak karet, lentur banget dia joget. Inul langsung muncul di berbagai televisi swasta. Wartawan langsung ngejar Inul, menurut gue itu salah satu kejadian fenomenal di kalangan wartawan hiburan.

Gue inget banget, sejak Inul dijuluki goyang ngebor- berturut-turut pedangdut baru muncul dengan ciri khas goyangannya. Mulai dari goyang gergaji, goyang dada getar, goyang kayang, goyang macem-macem, ini pemicunya Inul. Dangdut pun mulai dilirik televisi swasta yang saat itu agak-agak males munculin dangdut mungkin karena identik dengan musik kampung.

Munculnya Inul dengan goyangan itu, ternyata dikritisi oleh raja dangdut Rhoma Irama.

"Saat itu ketika Rhoma Irama  menghimpun sejumlah teman-temannya yang tergabung dalam Paguyuban Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI). Tujuannya mengeluarkan imbauan stasiun televisi untuk memboikot artis yang terkenal dengan goyang ngebor-nya, Ainur Rohimah tersebut.
Kala itu, Inul sebagai artis dangdut pendatang baru kerap membuat 'panas' sang raja dangdut karena goyangannya yang dinilai telah melanggar batas kewajaran serta dianggap merusak moral bangsa. Selain itu, goyangan ciri khas wanita asal Pasuruan, Jawa Timur tersebut dianggap Rhoma telah menodai citra dangdut yang selama ini telah ia bangun."
(merdeka.com)

Infotaintment dan wartawan hiburan bolak-balik meliput berita itu. Inul banyak mendapatkan simpati dari artis lain. Bahkan, ada beberapa acara ketika para artis kumpul dan memberikan dukungan ke Inul, salah satunya almarhum Taufik Savalas (gue inget kalimat dia soal Inul dulu waktu pertama kali terkenal. Kalau ditulis nggak enak, alm udah tenang di alam sana *Al Fatehah).

Tapi nggak tahu kenapa, kalau liat Inul sekarang gue suka terngiang-ngiang kalimat almarhum. Karena  terbalik banget dengan keadaan Inul sekarang yang tajirnya ampun-ampunan dan cantiknya ngalahin personil girlband Kpop. Ini serius!

Bukan karena doi baperin gue, terus gue nulis muji-muji, Lolsss.

Saat itu Inul membuat acara khusus untuk wartawan di sebuah kafe di kemang. Judul acaranya gue lupa, "Thanks to Inul atau Inul Thanks to wartawan." Acaranya heboh banget, isinya wartawan semua, teman-teman sesama liputan, jadi mau buat konyol-konyolan ya asik-asik aja, nggak ada yang jaim.


Foto thn 2003 acara inul vs wartawan. Muka gue dicoret, lagi jamah jahiliyah blom ditutup, hehehe
Hadiah berlimpah, tapi sayangnya, wartawan yang menang dorprize konon hadiahnya diminta lagi sama oknum wartawan yang jadi panitia (bukan pihak Inulnya ya). Hahahah...oknum mah ada di mana-mana booo

Dulu ketika baru muncul, penampilan Inul nyaris sama. Kaos ketat sebatas pinggang, celana bahan ketat dan rambutnya selalu dikuncir satu, jarang dilepas kayak sekarang.Inul selalu tampak ceria dan ceplas-ceplos ke wartawan.

Sejak itu sampai sekarang, sebenarnya Inul sama wartawan selalu baik. Gue memang jarang wawancara langsung, lebih sering lewat WA atau telpon. Dan dia selalu welcome menjawab, dengan gayanya yang khas ceria dan sering menyelipkan kalimat Jawa.

Gue pribadi salut sama Inul. Dari nothing jadi something. Dari nobody jadi somebody. Orang kampung yang cuma lulusan SMP terus mengadu nasib ke Jakarta, justru sekarang malah nguasain Jakarta. Lebih tajir dan sukses dari orang Jakarta asli.

Tapi namanya orang, pasti ada kepleset.  Life is not always beautiful beb. Yaahhh, semoga masalah mbak Inul bisa selesai dengan baik. Toh, sebelumnya dia juga pernah kena masalah dan berakhir aman dan damai.

"Being popular with an audience is a very rickety ladder to be on " NN

*Yang baper silahkan komentar dengan santun yaks, jangan kayak haters, Lolss

AAL


(Review) Film The Split, Bakal Ada Sekuelnya Lho


Sejak menonton film The Sixt Sense beberapa tahun lampau, gue udah tertarik dengan sutradaranya, Night Shyamalan. Fim yang dimainkan Bruce Willis itu bikin gue jatuh hati dengan gaya bercerita, tema, plot dan banyak kejutan.

Benang  merah kekuatan bercerita yang khas dari Night Shyamalan juga terlihat di Unbreakable (2000), lagi-lagi dimainkan oleh Bruce Willis serta Samuel L Jackson.

Kini, lewat The Split, Shyamalan yang menyukai kisah thriller menegangkan itu memilih aktor kece James McAvoy. Nggak tahu kenapa, gue suka banget sama cerita yang berbau psikologis orang, karakter orang dan kepribadian orang. Mungkin, karena gue mau jadi psikolog gak kesampean, hehehe (abaikan kalimat terakhir).

The Split bercerita tentang seorang pria yang aneh dan terpinggirkan, Kevin Wendell Crumb (James McAvoy). Dia memiliki 23 kepribadian, dan telah bertahun-tahun dirawat oleh psikiater tua Dr Fletcher (Betty Buckley).

Diantara 23 kepribadian, yang paling kuat dan sering muncul adalah sosok Dennis, seorang pria yang terobsesi dengan kebersihan, wajahnya serius, matanya tajam di balik kacamata. Dennis yang mengatur kepribadian lain masuk ke dalam 'tempat terang' (muncul ke permukaan).

Dennis menculik tiga gadis remaja di halaman parkir mobil, Claire, Marcia dan Casey ((seorang foto model Anya Taylor-Joy) si anak penyendiri. Ketiganya dikurung di ruang bawah tempat penyimpanan.


Ketiga gadis itu baru menyadari kelainan Kevin, ketika suatu malam mereka bertemu Kevin dengan pakaian dan gesture layaknya wanita. Dia mengenalkan diri bernama Patricia. Lalu Kevin juga muncul sebagai Hedwig, seorang bocah berusia 9 tahun yang membocorkan rahasia kalau ketiga gadis itu akan dikorbankan untuk The Beast. The Beast adalah kepribadian Kevin yang ke 24 dan selama ini selalu tersimpan karena memiliki kekuatan dan kejahatan layaknya monster.

Di antara ketiga gadis itu hanya Casey  yang cerdas dengan memanfaatkan Hedwig agar bisa keluar dari tempat itu.

Selama film berjalan, Shyamalan memberikan potongan-potongan adegan yang menggambarkan masa kecil dari Kevin dan Casey sehingga penonton mengerti kenapa Kevin bisa memiliki 23 kepribadian. Kedua orang tuanya memperlakukan Kevin dengan sadis sejak usianya masih 3 tahun. Penonton juga jadi meraba, karakter Casey yang tertutup dan penyendiri disebabkan pelecehan yang dilakukan pamannya saat kecil.

Baca Ini Juga Yuk : Film Kong: Skull Island

Shyamalam mencoba memberikan gambaran anak manusia, bagaimana karakter sehat seorang manusia akan tumbuh tergantung dari masa kecilnya, bagaimana orang tua memperlakukan anak-anaknya, itulah dia akan menjalani kehidupan dewasanya. Menjadi pribadi yang berguna atau justru menakutkan seperti Kevin.

James McAvoy yang total berakting hingga bisa berubah cepat dari karakter satu ke karakter lainnya. Dari sosok Barry, seorang desainer busana yang ceria dan luwes, lalu berubah menjadi Dennis, tiba-tiba harus berprilaku seperti anak-anak yakni Hedwig yang cadel dan menjadi Patricia yang anggun.


McAvoy terkenal lewat film X-Men menjadi profesor X yang bijaksana. Yang bikin gue terganggu adalah pemeran Casey. Itu kenapa juga selama dikurung wajahnya kok tetep cantik full make up? Phuuiilleessss, yang real lah, itukan bukan sinetron yang tidur bibir masih merah merekah dan bulu mata palsu cetar membahana masih nempel.

Yang udah nonton film The Split pasti bertanya-tanya, apakah bakal ada sekuelnya mengingat ending film tersebut menggantung. Gue sendiri sih yakin ada ketika pada akhir film muncul Bruce Willis yang menyenggol soal karakter Mr Glass di film Unbreakble.

Dan ternyata benar ada sekuelnya! Di Twitternya, sutradara asal India itu cuit begini. " I have an 11 page outline for my next film in my bag. I can't tell you what it is, but If you've seen #Split.../'

Yes!! Pasti gue tunggu sekuelnya!!

AAL

(Review) Film Kong: Skull Island, Ada yang Berbeda di King Kong Kali Ini


Film yang menampilkan kera raksasa atau King Kong sepertinya tidak pernah bosan diminati sejak pertama kali dibuat pada 1933. Berbagai remake film tersebut selalu laris manis. Remake terakhir pada 2005 bertajuk King Kong yang disutradarai oleh Peter Jackson dan dimainkan Naomi Watss.

Kini 2017, Film King Kong remake kembali muncul dengan tajuk Kong: Skull Island yang disutradarai oleh Jordan Vogt-Roberts.


Kong: Skull Island mengisahkan sekelompok penjelajah dan tentara Amerika yang masuk ke pulau antah-berantah bernama Skull Island pada 1970-an. Penjelajah itu terdiri dari peneliti Bill Randa (John Goodman), serta melibatkan beberapa unit militer yang dipimpin oleh Kolonel Preston Packard (Samuel L Jackson), Mason Weaver si fotografer (Brie Larson) dan tentara bayaran asal Inggris, James Conrad (Tom Hiddleston).


Setelah melewati kabut tebal dan gempuran dahsyat petir menyerang helikopter yang membawa mereka, akhirnya menemukan pulau cantik itu (konon itu adalah Halong Bay yang berisi limes stones yang ada di Vietnam. Yess i've been there baby). 


Sebelum mendarat, para militer ini menurunkan bom sesuai perintah yang diminta Randa dengan dalih untuk mengukur kedalaman tanah.

Bisa ditebak, sekitar 13 helikopter melayang itu harus 'berperang' yang dikejutkan dengan kemunculan King Kong yang merasa terganggu dengan ledakan tersebut. Akibatnya, mereka kocar kacir, banyak yang mati dan heli yang meledak. Anak buah Packard ada yang tewas sehigga meninggalkan dendam untuk membalasnya ke King kong.


Nah, gue baru kali ini menonton aksi Tom Hiddleston setelah melepas karakter Loki di film Thor dan Avengers. Tom yang pernah diisukan bakal menjadi next James Bond, yang ada dalam bayangan gue pastinya bakal keren kalau menjadi one man show, alias jagoan yang paling diandalkan. 



Tapi ternyata tidak. Tom seperti kebingungan apa yang harus dilakukan sebagai seorang jagoan . Vokalnya kurang menggelegar, lebih banyak terdengar logat Inggrisnya yang terkesan santun jadi nggak macho. Bagian Tom jadi jagoan juga kurang diasah oleh sutradara. Hanya ada satu adegan ketika dia harus melewati asap gas beracun untuk menyelamatkan temannya, dia harus melawan burung-burung purba yang sadis siap menggigitnya. Tom melayangkan pedang sambil berlari hingga semuanya mati. udah gitu aja.
Selebihnya Tom kurang greget. Aktingnya sangat lebih baik ketika menjadi Loki, adek Thor yang paling nyebelin dan ngeselin. 


Nggak berbeda jauh dengan Brie Larson yang tahun lalu meraih Oscar untuk Aktris Terbaik lewat film Room. Brie yang di sini menjadi fotografer, sepertinya 'mendalami' sekali perannya. Ketika semua orang memegang senjata, jejaga jika ada musuh yang siap menyergap, Mason (Brie) malah selalu menggengam kamera. Mbok ya, tetap memegang senjata dan kamerakan bisa dicantelin di leher. Gaya kayak cewek tomboy-nya nggak kepake. Gue mengira si Mason akan lincah fighting mengingat di awal cerita gaya dia kayak koboy.


Lalu, Kolonel Pavkrad (Samel L Jackson), karakter yang dimainkan gak jauh berbeda jika ingin dibandingkan film dia sebelumnya. Keras kepala, ngeselin , otoriter dan merasa paling benar. Mungkin dia memang cocok dengan karakter itu sehingga melekat, pas dengan wajahnya yang keras.


Bisa Baca Ini Juga : Ternyata Gue Suka Kerja

Sejak 1933, King Kong selalu diceritakan turun ke kota (New York) dan memanjat empire State demi seorang wanita. Tapi untuk  Kong: Skull Island  tetap (menurut gue lebih menarik dan masuk akal), berada di pulau terpencil yang mereka sebut "ada tempat di mana Tuhan belum menyelesaikan ciptanNYa."

Selain bakal menemukan King Kong, mereka juga menemukan beberapa mahluk aneh dengan bentuk raksasa. Tadinya gue menyangka bakal ada dinosaurus ternyata, bukan. Tapi ada yang kelewat, ketika Kolonel Hank Marlow (John C Reilly), pilot yang sejak 28 tahun terdampar di sana nyeletuk. "Jangan salah itu bukan suara burung, tapi semut raksasa." Tapi sampe film selesai semutnya nggak muncul-muncul. Sutradaranya nggak detil soal beginian.

Tapi untuk pertarungan antara King Kong dan kadal, bolehlah. Seru dan menegangkan, apalagi King Kong dalam kondisi sekarat setelah habis-habisan dibakar. Hubungan King Kong dengan wanita dari semua film kali ini lebih halus. Mason hanya menyentuh wajah King Kong dan keduanya menitikkan air mata. Seperti saling mengerti dan komunikasi dalam diam.


Film ini ada sisi lucu, seram, menegangkan, kasihan, dan menyedihkan (ini komentar anak gue yang katanya seru banget film King Kong).

Happy Watching Guys!


AAL