(REVIEW) Novel Blue Valley Series, Rasa Kehilangan Pedarkan Asa



Rasanya belum ada lima novel dengan cerita berbeda tapi memberikan satu kesamaan tema dan lokasi. Saya senang juga ketika diundang, Falcon Publishing untuk datang ke peluncuran novel Blue Valley series, sekaligus peluncuran perdana Falcon Publishing.  Falcon selama ini dikenal sebagai production house, penyedia dan pembuat fim-film box office. Kali ini, PH yang membuat Warkop DKI Reborn: Jangkrik Bos itu ingin memiliki pusat konten yang bisa menyediakan naskah bagi PH ke depannya.

Acaranya dihadiri banyak penulis hebat: 

Menarik, novel yang dijadikan series hasil karya dari lima penulis dengan cerita dan penulis yang berbeda. Yang menyamakan mereka semua adalah tokoh utama di dalam novel itu tinggal di sebuah cluster yang bernama Blue Valley. Dan kelimanya pernah mengalami kehilangan yang sangat sehingga mempengaruhi kehidupan mereka.

Yaitu, novel Elegi Rinaldo karya Bernard Batubara,  Asa Ayuni  oleh Dyah Rini,  Senandika Prisma oleh Aditia Yudis,  Lara Miya Karya karya Erlin Natawiria dan  Melankolia Ninna karya Robin Wijaya. Ini  merupakan novel perdana yang diluncurkan oleh Falcon Publishing.

Saya yang telah membaca kelima novel itu merasa tertarik dengan cerita yang mereka tawarkan. Setiap novel memberikan cerita berbeda, gaya penulisan dari si penulis yang mempengaruhi plot cerita hingga akhir.

1. Elegi Rinaldo oleh Bernard Batubara

Elegi Rinaldo, karangan Bernard Batubara. Dia lebih menceritakan kesepian yang dirasakan tokoh utamanya, Aldo yang sulit sekali mendekati wanita karena tragedi yang pernah dialami sehingga menghilangkan nyawa ibu dan kekasihnya. Bernard mencoba mengulik karakter Aldo yang cuek, egois dan pemalas yang tinggal berdua saja dengan tantenya, Tante Fitri.

Tante Fitri adalah seorang janda yang ditinggal suaminya, setiap pagi Aldo dikagetkan dengan lagu-lagu Rihanna.

Aldo yang  menjadi seorang food photography tanpa sengaja bertemu dengan Jenny, seorang chef pastry di Uno. Kafe yang sedang ditanganinya dalam pembuatan foto buat promosi.

Meski mereka sudah dekat, tapi Aldo takut untuk mengungkapkan perasaanya pada Jenny. Hingga dia galau ketika Dipa, mantan pacar Jenny muncul dan mengajak Jenny menikah. Tragedi kehilangan menerpa Aldo lagi ketika Tante Fitri meninggal.

Alur cerita yang dibangun Aldo enak dibaca dan dipahami. Bahasanya lugas, dengan kisah perjalanan kedua anak manusia. Dengan beberapa adegan khas remaja, Bernard berhasil membangun karakter masing-masing tokoh di novel ini. Membaca Elegi Rinaldo, kita tidak perlu mengerutkan kening untuk memahami. Endingnya pun sudah terbaca sejak pertengahan.

2. Lara Miya oleh Erlin Natawiria


Erlin memberikan sosok Miya, seorang gadis berusia 27 tahun yang bekerja menjadi social media officer. Penampilan Miya unik, rambut panjangnya diwarnai ombre paduan biru dan ungu. Tragedi menimpanya ketika rumah kedua orang tuanya terbakar hingga tewas. Miya praktis menjadi yatim pintu dan harus tinggal dengan tantenya, Amaya. Seorang wanita karier pemilik wedding organizer terkenal.

Karakter Amaya tegas, disiplin dan pekerja keras, Miya merasa memiliki ibu tiri yang galak. Amaya hidup sendiri, tanpa anak dan suaminya telah wafat. Amaya berusaha mengubah penampilan Miya untuk bisa bekerja di kantornya. Dalam suasana baru, Miya berkenalan dengan seorang cowok kuno, Raeka yang sangat patuh pada Amaya.

Erlin berhasil membangun karakter Amaya dan Miya dengan baik, tapi tidak dengan Raeka. Erlin seperti bingung, Raeka mau dibuat seperti apa. Karakter tokohnya kurang ditonjolkan. Sebagai mantan napi, Raeka justru tidak terlihat sebagai sosok pria yang macho dan bisa diandalkan, tapi lebih kepada pasif.

3. Senandika Prisma oleh Aditia Yudis

Dibandingkan dengan empat novel lain dari The Blue Valler series, hanya Senandika Prisma yang memberikan sedikit ketegangan dalam cerita. Adit mampu membuat ceritanya menjadi sebuah novel misteri, ala ala detektif.

Di awal novel, Adit sudah memberikan ketegangan dan rasa penasaran pembaca ketika Rory hilang diculik. Mulai dari situ, ketegangan dan rahasia masa lalu dari masing-masing tokoh terungkap.
Banyak karakter baru yang bermunculan sehingga pembaca akan menebak, siapa dalang dibalik penculikan Rory. Tapi karena rasa penasaran yang tinggi, akan nasib Rory, saya merasa di pertengahan cerita novel membosankan.

Selain itu, Adit kurang mengasah karakter Prisma yang digambarkan unik, ceria dan ceriwis. Saya membacanya malah Prisma lebih banyak diam dan nurut apa kata tunangannya, Ian. Tidak terlihat kalau dia wanita cerdas sebagai seorang dokter hewan. Lebih banyak menyalahkan diri sendiri sebagai wanita yang tidak becus menjadi ibu kelak. Ending novel ini menjawab rasa penasaran pembaca.

4. Melankolia Ninna oleh Robin Wijaya

Robin mencoba menggambarkan tokoh utama di novel ini dalam diri dua orang, yakni Ninna dan Gamal. Ketika dalam penggambaran tokoh Gamal, Robin menggunakan kata 'gue'. Jujur, saya sebagai pembaca jadi harus membolak balikkan fokus ketika pergantian karakter itu. Belum lagi, Robin lebih banyak menggunakan kalimat bahasa Inggris di tengah kalimat bahasa Indonesia. Menurut saya sah saja, jika kalimat yang digunakan jangan terlalu panjang.

Enaknya membaca novel adalah kita sebagai pembaca dibuai dengan karakter lelaki sempurna. Seperti tokoh Gamal yang disebut Ninna sebagai project my fantasy perfectly. Ganteng, perawakan tubuh nyaris sempurna, pekerjaan yang baik, juga memperlakukan istrinya dengan istimewa. Semua itu cuma ada di novel, is'n that?

Ninna merasa sedih tidak bisa memberikan anak untuk Gemal, karena rahimnya harus diangkat. Gemal dengan setia dan sabar selalu menuruti apa kata Ninna. "Jangan pernah menjauh dari hidupku," bisik Gemal di kuping Ninna (tssaahhh...so sweettt).

5. Asa Ayuni oleh Dyah Rinni

Cerita novel Asa Ayuni juga dibuat dengan baik oleh Dyah Rinni. Dyah berhasil menampakkan karakter Ayuni yang cantik, tapi sembrono, egois dan manja. Dyah memberikan karakter Elang sejak awal, tapi di pertengahan baru terjawab ada hubungan antara Elang dan Ayuni.

Untuk memasukkan pendekatan keduanya, Dyah berhasil membuat plot cerita menjadi enak dibaca.
Di novel ini, pembaca hanya fokus di karakter Ayuni dan Elang saja.

Rangkuman:

Novel Blue Valley series memberikan cerita yang berbeda, dan di masing-masing novel diselipkan karakter lain dari novel lainnya, agar ada kaitannya dengan Blue Valley. Hanya di novel Elegi Rinaldo, tidak terlalu diperlihatkan kalau Aldo danTante Fitri ada kaitannya dengan penghuni Blue Valley lain.

Tapi saya melihat, entah disengaja atau tidak, kebanyakan karakter yang ditonjolkan adalah wanita karir yang ogah menikah. Usia yang sama, 27 tahun, dan alergi dengan pernikahan. Seperti Jenny dan Miya.  Selain itu, mereka kompak menggambarkan para wanita di kelima novel ini sebagai wanita kesepian tanpa pendamping. Seperti Amaya, Tante Fitri dan akhirnya Ayuni.

Apakah memang diseragamkan jika penghuni Blue Valley sebagai orang-orang kesepian tanpa pendamping? Entah.

Tapi menurut saya kelima novel ini patut dibaca dan asik sekali berimajinasi mengulik karakter mereka di dalam pikiran. Selamat Membaca!

Alia Fathiyah




Cobain Yuk Kuliner Yogyakarta yang Kekinian


Setelah 3 tahun berselang, akhirnya saya sampai lagi ke kota Yogyakarta jelang akhir tahun kemarin, 25-29 Desember 2016. Mendatangi Yogyakarta, seperti menemui perasaan nyaman, tempatnya yang teduh dan sabar, sesuai karakter orang-orang Yogya yang saya temui.

Selain mengisi liburan sekolah anak-anak, pergi ke Yogya sekaligus saya menemui sahabat saya sejak SMP. Dari dia saya mencoba beberapa kuliner khas Yogya, meski ada beberapa tempat yang sudah pernah saya datangi.

1. Raminten
Yang pernah ke Yogya pasti tahu Raminten. Nama aslinya Hamzah (begitu yang saya baca di tokonya di kawasan Malioboro). Konon, nama Raminten diambil dari tokoh yang dia perankan di atas panggung. Hamzah adalah seorang seniman asal Yogyakarta, dan sepertinya jago menjadi seorang pebisnis. Buktinya, tokonya sangat laku dan selalu ramai. Juga restorannya. Dari tiga tahun lalu, dan sekarang ini saya ke restoran Raminten, sampai harus waiting list. Kita disuruh menunggu di kursi dan akan dipanggil ketika tempatnya siap.

Enakan kalau makan rame begini
Kali ini saya datang ke restoran Raminten di Kali Urang. Untuk yang pertama berkunjung pasti berkomentar, tempatnya agak gelap dan banyak dupa dimana-mana, sehingga membawa hawa mistis (ini menurut saya lho). Selain itu, banyak patung sebesar manusia yang sedang duduk atau berdiri lengkap dengan pakaian khas adat Jawa. Kadang pengunjung suka nggak sadar itu patung, saking besarnya sama. Ada yang duduk bersidekap atau berdiri seperti menyambut tamu.

Yang saya takjub, makanan Raminten itu terbilang biasa, dari rasa dan penampilan. Harga memang terbilang murah (mungkin karena saya bandingkan makanan di Jakarta ya). Entah apa yang membuat restoran ini ramai.

2. Kupat Tahu Pak Slamet

Saya baru tahu ada Kupat Tahu Magelang. Selama ini saya pikir, kupat tahu cuma ada di Bandung. Sebagai penyuka tahu dan ketupat banget, saya mampir di Kupat Tahu Pak Slamet. Lokasinya di pinggir jalan raya dari arah Candi Borobudur.


Tempatnya tidak besar, tapi ramai. Satu porsi hanya Rp 10 ribu. Yang membedakan kupat tahu ini dengan di Bandung adalah, kuahnya lebih encer. Kalau di Bandung lebih mirip ketoprak.

Lucunya di Yogya ini, kalau dibilang pedes, tapi yang disodorkan rasa pedasnya nyaris tak terasa. Tapi hati-hati, suka ada jebakan betmen. Ada cabe rawit pedas yang diulek kasar. Biasanya, makan di Yogya ini hanya menyajikan cabe langsung tanpa menguleknya, Lol.

3. Es Tape

Ketika melihat tulisan es tape, saya kepo pingin nyoba. Yang ada di dalam bayangan, tape singkong di blender sama es dan sirup. Ternyata salah sodara-sodara. Jadi tape ketan hijau dicemplungin ke air es dan sedikit dikasih sirop. Rasa tapenya sih kurang nendang. Tapi karena cuaca panas dan saya haus, lumayan juga melepas dahaga.

4. Kue Putu, onde-onde

Sebenarnya sih ini biasa kita temui di mana-mana. Tapi karena ada di pinggiran jalan Malioboro, dan penampakannya menggoda, apalagi pake ngantri, saya penasaran banget ikutan ngantri rebutan.


Saya beli kue putu, onde-onde, sama klepon. Jujur nih, di antara tiga itu yang saya suka cuma onde-onde. Rasanya enak, sedangkan dua makanan lainnya biasa aja. Di dekat rumah saya jauh lebih enak lho.

5. Kopi Kotok
Nah, ini yang bikin kepo sangat. Jadi hari pertama touchdown Yogya, sohib saya ajak ke sini. Katanya sedang kekinian, di kawasan Kali Urang. Jalan habis magrib, sampai sana sudah habis.

Nah, hari ketiga balik lagi, Alhamdulillah, rejeki anak solehah, masih buka. Dari jalan Kaliurang KM16, belok ke kanan, ada tulisan Kopi Klotok. Ke dalam banyak mobil parkir. Karena gelap, saya nggak bisa komentar suasana di luar.

Langsung masuk sebuah rumah besar dari kayu. Di dalam disambut meja besar dengan kursi kayu yang mengelilingi. Rame, malah satu meja isinya ada bule semua. Di luar (teras) yang juga luas, ramai, di dalam bagian dapur, sama.

Uniknya tempat ini dibuat sesederhana mungkin. Dapur besar dibiarkan lowong dicampur dengan meja dan kursi, jadi orang merasa sedang makan di dapur tradisional.  pengunjung bebas mengambil makanan sendiri. Yang bikin heran, makanannya sederhana tapi kenapa sampai antri ya.

Ambil nasi bebas seberapa banyak yang kita suka, nambah boleh dan nasi itu gratis. Lalu piring diisi nasi, dicampurkan sayur (sayur asam atau lodeh), telor dadar yang membulat lebar. Kadang ada jengkol, atau gorengan tempe dan tahu (tapi udah habis). Dan di antrian lainnya, tak kalah panjang, adalah antrian pisang goreng.

Setelah mengambil makanan, kita balik ke meja dan makan deh. Harga? Murah. Nasi dan sayur Rp 11.500. Telor Rp 4500. Pisang goreng Rp 6500 (dapat dua). Rasa? Telornya enak, garing-garing kriuk. Pisang gorengnya lebih enak, renyah dan legit. Kopinya enak lho, kopi item.

Tapi yang bikin saya bingung (bingung mulu dah), kenapa dinamai kopi klotok? Padahal isinya makanan berat, Lol. Tapi mantep banget kalau ngopi di sana ditemenin pisang goreng. Hmmmm seddaappp..

6. Gudeg Yu Jum
Waaaa, soal Gudeg Yu Jum pasti semua sudah tahulah. Saya kalau ke Yogya nggak ke Yu Jum kayaknya nggak sah. Pasti saya beli bungkus untuk dibawa pulang ke rumah. Dibandingkan dengan gudeg lainnya, Yu Jum menurutnya saya yang cocok di lidah.

Belinya ada harga paketan. Bisa campuran gudeg, krecek dengan telor, atau ayam ataupun ati ampela. Semuanya enak.




Yang ada komentar soal kuliner di Yogyakarta, silahkan sharing di bagian komentar yaaa



AAL