Friday, January 6, 2017

(REVIEW) Novel Blue Valley Series, Rasa Kehilangan Pedarkan Asa



Rasanya belum ada lima novel dengan cerita berbeda tapi memberikan satu kesamaan tema dan lokasi. Saya senang juga ketika diundang, Falcon Publishing untuk datang ke peluncuran novel Blue Valley series, sekaligus peluncuran perdana Falcon Publishing.  Falcon selama ini dikenal sebagai production house, penyedia dan pembuat fim-film box office. Kali ini, PH yang membuat Warkop DKI Reborn: Jangkrik Bos itu ingin memiliki pusat konten yang bisa menyediakan naskah bagi PH ke depannya.

Acaranya dihadiri banyak penulis hebat: 

Menarik, novel yang dijadikan series hasil karya dari lima penulis dengan cerita dan penulis yang berbeda. Yang menyamakan mereka semua adalah tokoh utama di dalam novel itu tinggal di sebuah cluster yang bernama Blue Valley. Dan kelimanya pernah mengalami kehilangan yang sangat sehingga mempengaruhi kehidupan mereka.

Yaitu, novel Elegi Rinaldo karya Bernard Batubara,  Asa Ayuni  oleh Dyah Rini,  Senandika Prisma oleh Aditia Yudis,  Lara Miya Karya karya Erlin Natawiria dan  Melankolia Ninna karya Robin Wijaya. Ini  merupakan novel perdana yang diluncurkan oleh Falcon Publishing.

Saya yang telah membaca kelima novel itu merasa tertarik dengan cerita yang mereka tawarkan. Setiap novel memberikan cerita berbeda, gaya penulisan dari si penulis yang mempengaruhi plot cerita hingga akhir.

1. Elegi Rinaldo oleh Bernard Batubara

Elegi Rinaldo, karangan Bernard Batubara. Dia lebih menceritakan kesepian yang dirasakan tokoh utamanya, Aldo yang sulit sekali mendekati wanita karena tragedi yang pernah dialami sehingga menghilangkan nyawa ibu dan kekasihnya. Bernard mencoba mengulik karakter Aldo yang cuek, egois dan pemalas yang tinggal berdua saja dengan tantenya, Tante Fitri.

Tante Fitri adalah seorang janda yang ditinggal suaminya, setiap pagi Aldo dikagetkan dengan lagu-lagu Rihanna.

Aldo yang  menjadi seorang food photography tanpa sengaja bertemu dengan Jenny, seorang chef pastry di Uno. Kafe yang sedang ditanganinya dalam pembuatan foto buat promosi.

Meski mereka sudah dekat, tapi Aldo takut untuk mengungkapkan perasaanya pada Jenny. Hingga dia galau ketika Dipa, mantan pacar Jenny muncul dan mengajak Jenny menikah. Tragedi kehilangan menerpa Aldo lagi ketika Tante Fitri meninggal.

Alur cerita yang dibangun Aldo enak dibaca dan dipahami. Bahasanya lugas, dengan kisah perjalanan kedua anak manusia. Dengan beberapa adegan khas remaja, Bernard berhasil membangun karakter masing-masing tokoh di novel ini. Membaca Elegi Rinaldo, kita tidak perlu mengerutkan kening untuk memahami. Endingnya pun sudah terbaca sejak pertengahan.

2. Lara Miya oleh Erlin Natawiria


Erlin memberikan sosok Miya, seorang gadis berusia 27 tahun yang bekerja menjadi social media officer. Penampilan Miya unik, rambut panjangnya diwarnai ombre paduan biru dan ungu. Tragedi menimpanya ketika rumah kedua orang tuanya terbakar hingga tewas. Miya praktis menjadi yatim pintu dan harus tinggal dengan tantenya, Amaya. Seorang wanita karier pemilik wedding organizer terkenal.

Karakter Amaya tegas, disiplin dan pekerja keras, Miya merasa memiliki ibu tiri yang galak. Amaya hidup sendiri, tanpa anak dan suaminya telah wafat. Amaya berusaha mengubah penampilan Miya untuk bisa bekerja di kantornya. Dalam suasana baru, Miya berkenalan dengan seorang cowok kuno, Raeka yang sangat patuh pada Amaya.

Erlin berhasil membangun karakter Amaya dan Miya dengan baik, tapi tidak dengan Raeka. Erlin seperti bingung, Raeka mau dibuat seperti apa. Karakter tokohnya kurang ditonjolkan. Sebagai mantan napi, Raeka justru tidak terlihat sebagai sosok pria yang macho dan bisa diandalkan, tapi lebih kepada pasif.

3. Senandika Prisma oleh Aditia Yudis

Dibandingkan dengan empat novel lain dari The Blue Valler series, hanya Senandika Prisma yang memberikan sedikit ketegangan dalam cerita. Adit mampu membuat ceritanya menjadi sebuah novel misteri, ala ala detektif.

Di awal novel, Adit sudah memberikan ketegangan dan rasa penasaran pembaca ketika Rory hilang diculik. Mulai dari situ, ketegangan dan rahasia masa lalu dari masing-masing tokoh terungkap.
Banyak karakter baru yang bermunculan sehingga pembaca akan menebak, siapa dalang dibalik penculikan Rory. Tapi karena rasa penasaran yang tinggi, akan nasib Rory, saya merasa di pertengahan cerita novel membosankan.

Selain itu, Adit kurang mengasah karakter Prisma yang digambarkan unik, ceria dan ceriwis. Saya membacanya malah Prisma lebih banyak diam dan nurut apa kata tunangannya, Ian. Tidak terlihat kalau dia wanita cerdas sebagai seorang dokter hewan. Lebih banyak menyalahkan diri sendiri sebagai wanita yang tidak becus menjadi ibu kelak. Ending novel ini menjawab rasa penasaran pembaca.

4. Melankolia Ninna oleh Robin Wijaya

Robin mencoba menggambarkan tokoh utama di novel ini dalam diri dua orang, yakni Ninna dan Gamal. Ketika dalam penggambaran tokoh Gamal, Robin menggunakan kata 'gue'. Jujur, saya sebagai pembaca jadi harus membolak balikkan fokus ketika pergantian karakter itu. Belum lagi, Robin lebih banyak menggunakan kalimat bahasa Inggris di tengah kalimat bahasa Indonesia. Menurut saya sah saja, jika kalimat yang digunakan jangan terlalu panjang.

Enaknya membaca novel adalah kita sebagai pembaca dibuai dengan karakter lelaki sempurna. Seperti tokoh Gamal yang disebut Ninna sebagai project my fantasy perfectly. Ganteng, perawakan tubuh nyaris sempurna, pekerjaan yang baik, juga memperlakukan istrinya dengan istimewa. Semua itu cuma ada di novel, is'n that?

Ninna merasa sedih tidak bisa memberikan anak untuk Gemal, karena rahimnya harus diangkat. Gemal dengan setia dan sabar selalu menuruti apa kata Ninna. "Jangan pernah menjauh dari hidupku," bisik Gemal di kuping Ninna (tssaahhh...so sweettt).

5. Asa Ayuni oleh Dyah Rinni

Cerita novel Asa Ayuni juga dibuat dengan baik oleh Dyah Rinni. Dyah berhasil menampakkan karakter Ayuni yang cantik, tapi sembrono, egois dan manja. Dyah memberikan karakter Elang sejak awal, tapi di pertengahan baru terjawab ada hubungan antara Elang dan Ayuni.

Untuk memasukkan pendekatan keduanya, Dyah berhasil membuat plot cerita menjadi enak dibaca.
Di novel ini, pembaca hanya fokus di karakter Ayuni dan Elang saja.

Rangkuman:

Novel Blue Valley series memberikan cerita yang berbeda, dan di masing-masing novel diselipkan karakter lain dari novel lainnya, agar ada kaitannya dengan Blue Valley. Hanya di novel Elegi Rinaldo, tidak terlalu diperlihatkan kalau Aldo danTante Fitri ada kaitannya dengan penghuni Blue Valley lain.

Tapi saya melihat, entah disengaja atau tidak, kebanyakan karakter yang ditonjolkan adalah wanita karir yang ogah menikah. Usia yang sama, 27 tahun, dan alergi dengan pernikahan. Seperti Jenny dan Miya.  Selain itu, mereka kompak menggambarkan para wanita di kelima novel ini sebagai wanita kesepian tanpa pendamping. Seperti Amaya, Tante Fitri dan akhirnya Ayuni.

Apakah memang diseragamkan jika penghuni Blue Valley sebagai orang-orang kesepian tanpa pendamping? Entah.

Tapi menurut saya kelima novel ini patut dibaca dan asik sekali berimajinasi mengulik karakter mereka di dalam pikiran. Selamat Membaca!

Alia Fathiyah




2 comments:

  1. Aduh, Alia, gimana ya memacu lagi semngat buat baca novel dan menamatkan membacanya, hiks, hiks.. Ini Aia hebat banget sampe 5 novel dibaca tuntas. Salut. Mau ikutan mulai semangat baca novel, ah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe iya bunda, sy sebenarnya udh bertahun tahun gak baca novel lg,habis kayak autis,kerjaan lain gk kepegang. Ini pas ada yang minta review mau gk mau aku baca, eh malah nagih, jd kagen sama semua karakter di novel2 ini, bukunya enak dibaca bun. Makasih bunda yati udah mampir ya

      Delete