Sunday, January 1, 2017

Cobain Yuk Kuliner Yogyakarta yang Kekinian


Setelah 3 tahun berselang, akhirnya saya sampai lagi ke kota Yogyakarta jelang akhir tahun kemarin, 25-29 Desember 2016. Mendatangi Yogyakarta, seperti menemui perasaan nyaman, tempatnya yang teduh dan sabar, sesuai karakter orang-orang Yogya yang saya temui.

Selain mengisi liburan sekolah anak-anak, pergi ke Yogya sekaligus saya menemui sahabat saya sejak SMP. Dari dia saya mencoba beberapa kuliner khas Yogya, meski ada beberapa tempat yang sudah pernah saya datangi.

1. Raminten
Yang pernah ke Yogya pasti tahu Raminten. Nama aslinya Hamzah (begitu yang saya baca di tokonya di kawasan Malioboro). Konon, nama Raminten diambil dari tokoh yang dia perankan di atas panggung. Hamzah adalah seorang seniman asal Yogyakarta, dan sepertinya jago menjadi seorang pebisnis. Buktinya, tokonya sangat laku dan selalu ramai. Juga restorannya. Dari tiga tahun lalu, dan sekarang ini saya ke restoran Raminten, sampai harus waiting list. Kita disuruh menunggu di kursi dan akan dipanggil ketika tempatnya siap.

Enakan kalau makan rame begini
Kali ini saya datang ke restoran Raminten di Kali Urang. Untuk yang pertama berkunjung pasti berkomentar, tempatnya agak gelap dan banyak dupa dimana-mana, sehingga membawa hawa mistis (ini menurut saya lho). Selain itu, banyak patung sebesar manusia yang sedang duduk atau berdiri lengkap dengan pakaian khas adat Jawa. Kadang pengunjung suka nggak sadar itu patung, saking besarnya sama. Ada yang duduk bersidekap atau berdiri seperti menyambut tamu.

Yang saya takjub, makanan Raminten itu terbilang biasa, dari rasa dan penampilan. Harga memang terbilang murah (mungkin karena saya bandingkan makanan di Jakarta ya). Entah apa yang membuat restoran ini ramai.

2. Kupat Tahu Pak Slamet

Saya baru tahu ada Kupat Tahu Magelang. Selama ini saya pikir, kupat tahu cuma ada di Bandung. Sebagai penyuka tahu dan ketupat banget, saya mampir di Kupat Tahu Pak Slamet. Lokasinya di pinggir jalan raya dari arah Candi Borobudur.


Tempatnya tidak besar, tapi ramai. Satu porsi hanya Rp 10 ribu. Yang membedakan kupat tahu ini dengan di Bandung adalah, kuahnya lebih encer. Kalau di Bandung lebih mirip ketoprak.

Lucunya di Yogya ini, kalau dibilang pedes, tapi yang disodorkan rasa pedasnya nyaris tak terasa. Tapi hati-hati, suka ada jebakan betmen. Ada cabe rawit pedas yang diulek kasar. Biasanya, makan di Yogya ini hanya menyajikan cabe langsung tanpa menguleknya, Lol.

3. Es Tape

Ketika melihat tulisan es tape, saya kepo pingin nyoba. Yang ada di dalam bayangan, tape singkong di blender sama es dan sirup. Ternyata salah sodara-sodara. Jadi tape ketan hijau dicemplungin ke air es dan sedikit dikasih sirop. Rasa tapenya sih kurang nendang. Tapi karena cuaca panas dan saya haus, lumayan juga melepas dahaga.

4. Kue Putu, onde-onde

Sebenarnya sih ini biasa kita temui di mana-mana. Tapi karena ada di pinggiran jalan Malioboro, dan penampakannya menggoda, apalagi pake ngantri, saya penasaran banget ikutan ngantri rebutan.


Saya beli kue putu, onde-onde, sama klepon. Jujur nih, di antara tiga itu yang saya suka cuma onde-onde. Rasanya enak, sedangkan dua makanan lainnya biasa aja. Di dekat rumah saya jauh lebih enak lho.

5. Kopi Kotok
Nah, ini yang bikin kepo sangat. Jadi hari pertama touchdown Yogya, sohib saya ajak ke sini. Katanya sedang kekinian, di kawasan Kali Urang. Jalan habis magrib, sampai sana sudah habis.

Nah, hari ketiga balik lagi, Alhamdulillah, rejeki anak solehah, masih buka. Dari jalan Kaliurang KM16, belok ke kanan, ada tulisan Kopi Klotok. Ke dalam banyak mobil parkir. Karena gelap, saya nggak bisa komentar suasana di luar.

Langsung masuk sebuah rumah besar dari kayu. Di dalam disambut meja besar dengan kursi kayu yang mengelilingi. Rame, malah satu meja isinya ada bule semua. Di luar (teras) yang juga luas, ramai, di dalam bagian dapur, sama.

Uniknya tempat ini dibuat sesederhana mungkin. Dapur besar dibiarkan lowong dicampur dengan meja dan kursi, jadi orang merasa sedang makan di dapur tradisional.  pengunjung bebas mengambil makanan sendiri. Yang bikin heran, makanannya sederhana tapi kenapa sampai antri ya.

Ambil nasi bebas seberapa banyak yang kita suka, nambah boleh dan nasi itu gratis. Lalu piring diisi nasi, dicampurkan sayur (sayur asam atau lodeh), telor dadar yang membulat lebar. Kadang ada jengkol, atau gorengan tempe dan tahu (tapi udah habis). Dan di antrian lainnya, tak kalah panjang, adalah antrian pisang goreng.

Setelah mengambil makanan, kita balik ke meja dan makan deh. Harga? Murah. Nasi dan sayur Rp 11.500. Telor Rp 4500. Pisang goreng Rp 6500 (dapat dua). Rasa? Telornya enak, garing-garing kriuk. Pisang gorengnya lebih enak, renyah dan legit. Kopinya enak lho, kopi item.

Tapi yang bikin saya bingung (bingung mulu dah), kenapa dinamai kopi klotok? Padahal isinya makanan berat, Lol. Tapi mantep banget kalau ngopi di sana ditemenin pisang goreng. Hmmmm seddaappp..

6. Gudeg Yu Jum
Waaaa, soal Gudeg Yu Jum pasti semua sudah tahulah. Saya kalau ke Yogya nggak ke Yu Jum kayaknya nggak sah. Pasti saya beli bungkus untuk dibawa pulang ke rumah. Dibandingkan dengan gudeg lainnya, Yu Jum menurutnya saya yang cocok di lidah.

Belinya ada harga paketan. Bisa campuran gudeg, krecek dengan telor, atau ayam ataupun ati ampela. Semuanya enak.




Yang ada komentar soal kuliner di Yogyakarta, silahkan sharing di bagian komentar yaaa



AAL

25 comments:

  1. Pas ke yogya nyoba Raminten ngantri dan rame tapi suka mumer dan enak :) next time harus coba gudeg Yu Jum ni 😊 dan kue ondenya itu loh menarik banget. Baca tulisannya mbak Alia aja sudah bikin laper hehe

    ReplyDelete
  2. Gudeg Yu Jum yang paling sering saya dengar. Mungkin karena sering dengar dari kakak saya yang suka gudeg itu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. IYa, gudeg yujum sepertinya paling hits ya, pdhal banyak gudeg lain di jogja

      Delete
  3. Pengen nongkrong di kopi klotok ah... 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah wah direcomend banget ituu, palagi malem, duduk di teras, rame2 sama temen, mantaappp

      Delete
  4. kue putu yang sudah jarang ditemukan lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, yang pakai kayu gitu ya. Deket rumah saya ada lho, dan lebih enak hehehe

      Delete
  5. Entah kenapa kalo ke jogja tu hawanya beda.. Lebih adem dan nyaman.. Jadi nagih untuk jogjes lagi...

    Aku kurang suka mbak ama gudegnya yu jum.. Terlalu manis menurutku..
    Onde2nya menggoda syekalii...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener, yogya ngangenin ya. Memang selera beda-beda ya, onde2nya endesss

      Delete
  6. Kalau ke Medan cobain kue putunya, Mbak. Beda sama yang di Jawa. Ini gudeg Yu Jum memang terkenal banget ya. Pernah lihat diliput di teve. Kapan2 pengin coba ah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari dulu waktu masih rajin liputan, sering bnget ngarep dapet undangan liputan ke medan, tapi ampe sekarang belum terpenuh hihhihi. Medan mmg terkenal makanannya enak2 yaa

      Delete
  7. kalau mau ke Bondowoso , mbak coba coba tape ngambeng dijamin maknyos

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mas Gus rekomendasinya, jadi penasaran heheheh

      Delete
  8. udh nyobain kopi josh belum mbak ? ahaha , enak tuh. tp nanti arengnya jgn di gigit yak haha.
    mampir jg ke Pariwisata siapa tau butuh info tmpt wisata lainnya. makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maap baru respon, udah dongg, yang dimasukin areng ke kopi kan? enak bgt ya, ok aku mampir nihh

      Delete
  9. Saya tertarik dengan tulisan anda. Saya juga mempunyai tulisan serupa yang anda bisa lihat di www.pariwisata.gunadarma.ac.id

    ReplyDelete
  10. Omong2 soal kupat tahu, enakan yang di Bandung atau yang di Yogya, Mbak? Iya, itu di foto keliatan berkuah ya, nggak berbumbu kacang yang cenderung kental seperti di Bandung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kalau aku si sukanya yang di bandung, agak kental dan gak terlalu manis, soalnya aku udah maniss, eeaaaaa

      Delete
  11. Jogja memang selalu ngangenin deh~ Gudegnya itu loh..

    ReplyDelete
  12. Baca ini jadi kangen untuk kembali mengunjungi Yogya...

    Salam,

    ReplyDelete