Masa Content Writer Dibayar Rp 10 Ribu?


Belum lama seorang teman, yang juga pernah jadi jurnalis mengirim sebuah artikel, kurang lebih judulnya, Benarkah content writer dibayar murah? Dia tag ke beberapa teman yang juga pernah menjadi jurnalis (kita kumpulan wanita ketje yang pernah bekerja di media ternama, kini memilih freelance dan tetap menjadi penulis). Saya yang langsung respon cepat.

"Ini ah gila, masa satu tulisan dibayar cuma 10 ribu. Memangnya, kita nggak pake mikir, googling, mikir angle tuisan yang menarik hingga enak dibaca," gitu kata saya.

Seorang teman yang pernah menjadi jurnalis di koran sore itu ikutan komentar pedih. "Rusak deh pasaran, sangat rendah hak jurnalis?"

Teman saya yang satunya yang pernah bekerja di harian metro ternama dan men-tag tulisan itu mengompori kami berdua untuk menulis balik soal itu. "Lagian perlu dicatat, di artikel ini dia menulis nggak pakai liputan dan riset, dan konten web tidak bisa dijadikan refrensi."

Saya jadi tergelitik untuk menulis soal ini.

Sejak setahun lalu, saya memilih menjadi freelancer dan hanya menjadi kontributor di Tempo.co. Praktis, saya nggak punya gaji tetap yang tentunya jumlahnya sama ketika saya menjadi karyawan di Tempo. Lalu atas saran teman, saya mencoba daftar di berbagai perusahaan freelancer marketing yang kini makin menjamur. Kira-kira saya mendaftar di empat atau lima tempat, sebagai penulis dan blogger. Dan sampai sekarang belum ada yang menawari saya, karena sayanya tidak mengirim pengajuan karena masih melihat kerjaan yang cocok dan honor yang sesuai.

Ngilu saya ketika membaca beberapa lowongan untuk menulis content atau blog dengan hanya menulis 350 hingga 500 kata, dibayar Rp 300 ribu dengan tulisan sampai 20 atau 30. Dan tragisnya, banyak pula nyang mendaftar untuk diterima.

Seorang teman yang mantan jurnalis di koran sore itu mengaku banyak yang menawarinya via email. "Gue banyak kirim pengajuan dan mereka menawari, cuma belum ada yang gue ambil. Masa harganya segitu," katanya sambil cengar-cengir.

Mungkin ego saya dan teman saya ini, sebagai wartawan muncul  ketika melihat beberapa tawaran itu. Kita yang basic nya wartawan tentu harga segitu nggak sesuailah. Wartawan terbiasa menulis dengan mencari data, konfirmasi ke pihak terkait, dan mencari informasi lain apakah yang akan kita tulis itu memang layak diberitakan atau tidak.

Untuk hitung-hitungan tentu juga nggak masuk akal, menurut saya. Kita harus menghitung berapa banyak paket internet yang keluar selama kita menulis 1 artikel. Tentunya lebih dari Rp 10 ribu kan? Belum lagi untuk browsing, terus cari angle yang menarik supaya klien suka dengan tulisan kita. Saya pikir itu nggak worth it.

Saya sudah beberapa kali menjadi kontributor di beberapa media, tapi cetak, tentu berbeda dengan online. Bayarannya menggiurkan, seperti sebuah harian bahasa Inggris yang terkenal, saya hanya menulis kecil soal selebritas mereka mau membayar Rp 150 ribu dan itu diluar honor tambahan setiap bulannya. (Bayangin kalau dalam sehari saya menulis 5 selebritas, berapa sebulan saya dapat? lumayan bingitkan). Beberapa tahun lalu ketika media web belum sebanyak sekarang,  saya juga pernah mengisi halaman selebritas di media web dengan bayaran pertulisan Rp 75 ribu.

Tapi, saya juga nggak mau men-judge orang yang dengan suka rela menerima harga segitu. Itu hak mereka. Itu pilihan mereka sendiri, meski jujur saya suka sebel sama si pemberi kerja dengan memberikan banyak syarat, tapi cuma mau keluar duit Rp 10 ribu untuk satu tulisan.

Aal

Rasanya Jadi Wartawan Gosip

Mbah Google
Mulai dari sini, Insya Allah saya akan konsisten menulis pengalaman saya selama lebih dari 10 tahun menjadi wartawan gosip. Bayangin, 10 tahun kerjaan saya ghibah terus? Padahal muka alim begini, harus wara-wiri urus aib artis bahkan sampai kena omelan beberapa artis karena nggak sesuai dengan penampilan tutup kepala begini, heheheh (*sungkemin satu-satu).

Saya sih berharapnya, tulisan tentang dunia wartawan ini bisa bermanfaat dan menjadi panutan beberapa anak muda yang pingin jadi wartawan gosip seperti saya (phuileesss.....Lols).

Jadi begini, flashback dulu ya, dari kecil saya memang suka banget sama menulis. Kalau liat pulpen atau buku nganggur, tangan ini gatel bawaanya pingin menulis. Menulis apa saja, dan di usia yang masih SD saya sudah punya buku diary. Namanya buku curhatan, takut kebaca orang, jadi tulisannya saya jelekin dan memakai beberapa kode. Dan ketika saya baca ulang, saya ikutan bingung itu maksudnya apa hahahah.

Usia 9 tahun, saya sudah membuat cerpen. Namanya masih anak-anak, saya suka banget baca buku HC Andersen. Tentang pangeran dan putri, dari situ saya jadi membuat cerpen soal putri dan pangeran. Pembacanya? Teman satu kelas saya paksa suruh baca dan harus komentar bagus, Lolss. Nyebelinnya, salah satu dari temen ada yang ngomong begini. "Alia, gue pernah baca cerita kayak begini, elo pasti nyontek." Kayaknya kesel banget, padahal itu pure dari imajinasi saya.

Okeh, beloknya kejauhan.

Kembali lagi keinginan untuk menjadi wartawan gosip. Sejak kecil, saya memang suka hal-hal yang berbau entertainment. Dari bacaan, film dan artis-artis saya ingat kesukaanya, favoritnya, nama aslinya, karyanya. Sejak kecil,  saya juga terbiasa melihat kakek saya menulis dengan mesin tik-nya hingga menghasilkan ratusan buku. Saya juga terbiasa membaca buku detektif seperti Trio Detektif, Pasukan Mau Tahu dan Lima Sekawan. Kayaknya, jadi wartawan pas banget. Investigasi kasus seperti detektif sambil menulis, begitu pikiran saya waktu itu.

Lulus SMU, saya berencana ingin mempatenkan keinginan saya untuk menjadi jurnalis dengan kuliah di IISIP. Sayang disayang, si bokap melarang yang diiringi dengan kalimat sakti mandraguna. "Ngapain jadi wartawan, nggak ada duitnya." Jrengjreng! Maksudnya mungkin, jadi wartawan itu elo nggak bisa kaya, hahahaha, (emang bener sihhh, ehem).

Tapi emang dasarnya jalan hidup saya menjadi jurnalis, usai skripsi sambil menunggu kelulusan, seorang teman memberikan informasi kalau Koran Merdeka (sekarang Rakyat Merdeka) sedang mencari reporter. Saya langsung melamar dan dipanggil untuk tes tulis. Namanya juga baru melamar kerja, datang pakai blazer yang cakep banget. Sempet minder melihat yang lainnya, dandanannya wartawan banget. Kayaknya, garis hidup mereka bakal jadi wartawan gitu, terlihat dari penampilannya. Jeans, kemeja, bahkan ada yang pakai rompi segala.

Ketika tes, di formulir ada pertanyaan, mau ditempatkan di desk mana. Dengan sejujurnya, saya menulis "hiburan." Dan 14 teman saya yang lain, semuanya menjawab politik, ekonomi, olahraga, cuma saya yang hiburan. Dan itu benar terjadi, ketika diterima saya ditempatkan di bagian hiburan, dan perempuan sendiri di desk itu.

Di halaman depan koran, ada tulisan kecil soal artis sebagai pemanis, secara semua berita HL (headline) politik semua. Dan tahukan kalian, itu berita soal apa? Berita soal artis dengan segala keseksiannya, hal-hal yang kayaknya nggak etis harus saya tulis dan saya tanya ke artisnya.

Parahnya, saya mereportase dengan tulisan biasa, tapi oleh redaktur tulisan saya diobok-obok hingga menjadi kalimat ungkapan seperti majalah pria dewasa hingga para pembaca bisa berimajinasi soal artis itu. Dan diakhir tulisan, dimasukkan kode saya AAL. Jadilah seantero pembaca koran dan wartawan lain me-cap saya sebagai wartawan porno. Bahkan beberapa yang tidak kenal mengira saya lelaki, phhuiihhh... (BERSAMBUNG)
(Next: Ketika pertama kali wawancara Krisdayanti...)


Alia Fathiyah



Indahnya, Buka Puasa di Masjid

Pintu masuk ke masjid setelah melewati tangga
Mau merasakan bulan Ramadhan yang berbeda dan nyenengin?
Ramadhan tahun ini saya punya rencana yang berbeda. Sejak belasan tahun jadi wartawan, bulan Ramadhan saya habiskan dari mal to mal, atau hotel ke hotel, mengejar nara sumber yang satu ke satunya. Jadi wartawan benar-benar dunia tanpa koma. Jadi yang dirasakan selama Ramadhan, tak jauh berbeda dari tahun ke tahun. Kayak gitu lagi, kayak gitu lagi. Gampang ketebak.

Nah, tahun ini saya ingin merasakan perbedaan yang signifikan (bahasa berat nih). Sejak memutuskan punya SOHO (Sweet Office Home Office) alias kerja di rumah sambil momong bayi lucu, bulan Ramadhan dirasa berbeda. Di rumah dengan anak, masak, urus baby dan atribut emak-emak lainnya.
                      <img src="http://i.sociabuzz.com/tck_pix/bl_act?_ref=44bcfff0b6376563b470773783949935ee5cf292&_host=surafatih.blogspot.co.id/" width="1" height="1">
                    

Dan untuk tahun ini saya punya rencana yang spektakuler.
Setiap weekend selama Ramadhan (karena kalau weekdays si babeh kerja-red), saya sekeluarga punya rencana untuk buka puasa di masjid. Jadi kita roadshow dari masjid ke masjid di daerah Serpong dan sekitarnya. (Catet, ini bukan modus saya untuk melarikan diri dari kegiatan masak memasak yang membosankan itu ya).

Kegiatan spektakuler ini pernah dilakukan secara tidak sengaja tahun lalu. Jadi ceritanya kita lagi jalan-jalan, terus mendekati maghrib kita cari tempat untuk buka sementara, mengganjel perut. Lantaran masih di kawasan Gading Serpong, kita mampir ke masjid Asmaul Husnah sekalian sholat maghrib, ternyata di sana ada rejeki takjil, Alhamdulillah.

menuju ke atas ruang sholat
takjil di jejerkan di lantai masjid
Ternyata menyenangkan buka puasa di masjid ramai-ramai dengan sesama muslim yang tidak kita kenal. Atmosfernya beda banget. Ada rasa kebersamaan, sama-sama sedang menjalankan kewajiban puasa sesama muslim. Sedikit demi sedikit orang datang ke masjid untuk membatalkan puasa, dan dalam hitungan menit, masjid itu ramai oleh orang yang ingin membatalkan puasanya.

Jadi sejak itu, untuk tahun ini, saya bikin program berjudul roadshow from masjid to masjid (hihihi maksa banget sih). Kebetulan orang rumah pada manut, secara saya manajer dari segala manajer di rumah.  Target saya, memilih masjid-masjid besar di daerah Serpong dan sekitarnya. Misalnya, masjid Islamic, Asmaul Husnah, Mesjid Raya, Al Azhar, mungkin kita akan menjelajahi masjid di sekitar Bintaro. Who knows, namanya juga roadshow.
Nah, ini penampakan bukpus di masjid komplek rumah
 Awal weekend pertama kebetulan ada undangan buka puasa bersama di mesjid Al Muhajirin, mesjid di dalam kompleks rumah. Namanya, masih di dalam kompleks, jadi bisa bolak balik pulang sambil membawa teh manis panas. Makanan yang disediakan Alhamdulillah mencukupi dari takjil hingga makanan berat (Lega, gak harus masak, yes!)
Lalu keesokan harinya, Ahad, saya memboyong orang rumah ke masjid Al Azhar di BSD City (Fyi: Tiap minggu kuliah Dhuha, di masjid ini ada tausiyah lho, pengisinya bagus-bagus seperti Aa Gym, Harry Moekti dan Yuke Semeru). Namanya masjid besar dengan kawasan elit, takjilnya juga nikmat. Terlihat takjil dijejerkan di lantai yang dilapisi plastik. Lalu di lantai bawah masjid tersedia makanan prasmanan.
Ini takjilnya, semua enak-enak lho
Para muslim yang berpuasa sedang menunggu maghrib
Menjelang magrib, tetiba hujan besar. Sambil menanti bedug magrib, panitia kultum sambil berdoa bersama-sama. Satu persatu datang dalam keadaan basah kuyup. Panitia masjid dengan sigap mempersilahkan mereka untuk langsung masuk menuju tempat yang telah disediakan takjil untuk berbuka.

Terlihat ada teh manis hangat, kurma, cendol, serabi, gorengan, lalu sama-sama kita menyantapnya begitu azan magrib berkumandang. Rasanya sangat berbeda ketika kita hanya berbuka puasa di rumah dengan keluarga.
Ini panita masjid yang hebat, sedang menyediakan makanan berbuka
Usai berbuka, siap di bersihkan
Usai sholat magrib, dengan tertib semua jamaah mengantri untuk mengambil makanan prasmanan.
Saya salut dengan para pengurus mesjid itu, mereka sigap menyediakan makanan, lalu sigap pula membersihkan tempat itu yang dijadikan tempat sholat. Setelah kenyang, kita pulang dan memilih teraweh di masjid rumah (kayak kondangan abis makan pulang heheheh). Next weekend, ikutan roadshow ke masjid yukkkk..

Rasulullah Sallallahu 'alaihi Wasallam bersabda :
Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berbuka puasa maka dia memperoleh pahalanya, dan pahala bagi yang (menerima makanan) berpuasa tidak dikurangi sedikitpun (HR Tirmidzi).

Selamat Berpuasa kawan.

AAL

Begini, Aslinya Aming


Aming menikah, jagat dunia maya langsung gempar. Para netizen langsung mengubek-ubek aib Aming dan istrinya yang bernama Evelyn. Dalam hitungan menit, banyak berita yang menyebar kalau Evelyn yang biasa disapa Kevin itu mengaku terjebak dalam tubuh perempuan, sedangkan Aming terjebak dalam tubuh pria. Harusnya kita mendoakan mereka bisa menjadi keluarga samara , karena mereka menikah sudah sesuai fitrahnya, Aming laki-laki dan si Kevin itu perempuan (heheheh kok jadi panjang begini ngebahasnya).

Saya cuma mau sedikit cerita beberapa kali ketemu Aming dalam rangka liputan. Pertama banget liat Aming itu ketika saya meliput film Eliana-Eliana yang melambungkan nama Rachel Maryam. Saat itu Aming masih cupu (emang sekarang udah kece? heheheh piss Minka). Masih dengan tubuhnya yang ceking, kaus ketat, rambut gondrong, celana ketat membalut kakinya yang kurus dan lengkap dengan kaca mata.

Instagram Aming
Semua tak ada yang perduli dengan kedatangan Aming, karena memang belum terkenal. Tapi dia terlihat akrab dengan Rachel Maryam, tapi menurut saya waktu itu, Aming kelihatan SKSD (sok kenal sok dekat), padahal emang deket beneran sama Rachel ya. "Ini orang sok penting banget sih," begitu pikiran saya waktu itu melihat Aming yang ikutan heboh di antara wartawan mendekati Rachel.

Setelah itu, Aming mulai terkenal ketika muncul di Extravaganza. Namanya makin melambung lewat perannya sebagai banci yang lucu. Berturut-turut Aming muncul di film, menurut saya dia ramah dengan wartawan. Anehnya, meski Aming di televisi terlihat lucu, kocak dan suka asal, kalau bertemu aslinya dia serius lho. Beberapa kali wawancara, wajahnya terlihat serius, jawabannya juga tertata, walau dipancing pertanyaan lucu, dia bergeming, tetap saja menjawab serius. (Katanya sih, semua komedian begitu, aslinya serius ).

Lalu, tak berapa lama ketemu Aming lagi, saat saya masih menjadi jurnalis di Harian Rakyat Merdeka, melihat Aming wara-wari di gedung kantor. Ternyata, di lantai 2 Gedung Graha Pena, Jawa Pos yang letaknya di Pos Pengumben itu ada studio yang disewa. Aming saat itu menjadi co-host nemenin Rina Gunawan yang jadi host-nya (saya lupa nama acaranya).


Melihat ada artis sekaliber Aming, saya minta foto bareng, lumayan menambah koleksi foto-foto dengan artis, begitu pikiran norak saya. Aming welcome dan langsung merangkul bahu saya dan tertawa di dalam foto. Dia ramah, tapi nggak mau basa-basi. Habis foto, ya sudah langsung cao.

Lalu, saya bertemu lagi di Soft Launching The Stones, Entertainment dan Hotel di Kuta Bali. Dari sekian selebritas yang hadir, hanya Aming salah satunya yang mau diwawancara, yang lainnya terlihat emoh melihat wartawan. Mungkin mereka pikir, lagi liburan di Bali dan pesta pora, ngapain pake ngobrol sama wartawan. Gak penting!

Well, Aming, selamat ya, semoga bisa membangun keluarga sakinah mawadah dan warahmah. Akhirnya jadi pejantan tangguh juga, heheheh piss ah.


AAL

Sahara-Aerotravel, Buka Peluang Bisnis Tiket Online untuk Masyarakat

sahara travel
Berlibur hemat dengan harga murah, tentu semua orang mau, apalagi saya yang memang senang banget traveling. Makin banyak saja tour travel yang menawarkan harga paket tiket dan hotel dengan harga murah, mulai liburan domestik atau liburan ke luar negri.

Dari data yang dirilis BPS, sepanjang Januari-Oktober 2015, jumlah penumpang angkutan udara tercatat mencapai 67,5 juta orang atau naik 12,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 59,83 juta orang. Selama periode tersebut jumlah penumpang domestik mencapai 56,1 juta orang atau melonjak 15,64 persen dan jumlah penumpang internasional mencapai 11,4 juta orang atau tumbuh 0,4 persen. Kenaikan jumlah penumpang ini juga didongkrak karena jumlah rute penerbangan yang terus bertambah dan dibarengi dengan infrastruktur yang terus dibangun Pemerintah.


Peningkatan ini membuat bisnis penjualan tiket semakin bergairah dan memiliki potensi yang sangat besar. Apalagi harga tiket yang semakin terjangkau dan akses pembelian yang semakin mudah dengan bantuan teknologi.  Prospek bisnis dan peluang besar di bidang penjualan tour travel inilah yang melahirkan kerja sama Komunitas Sahara dan Aero Travel (anak usaha PT Garuda Indonesia) yang diluncurkan pada hari Rabu, 1 Juni 2016, di Galeri Indonesia Wow, Gedung Smesco.


Dengan kerjasama ini, Garuda Indonesia melalui anak perusahaannya yaitu PT. Aero Globe Indonesia akan memfasilitasi penjualan tiket Garuda Indonesia dan Citilink melalui system penjualan tiket online yang akan tersedia di website www.sahara-aerotravel.com yang dapat diakses oleh seluruh anggota Komunitas Sahara yang ada di Indonesia. Kerjasama ini adalah bukti komitmen PT Garuda Indonesia Group untuk ikut berperan aktif mendukung kegiatan UMKM dan Koperasi di dan Koperasi di seluruh Indonesia.

“Program kemitraan antara Komunitas Sahara dan Aero Travel ini akan membuka peluang usaha baru bagi pelaku UMKM dan anggota Koperasi di seluruh Indonesia untuk meningkatkan pendapatannya melalui penjualan tiket penerbangan dan produk wisata lainnya secara online,” ungkap Founder Komunitas SAHARA, Ir. Sharmila, Msi.


Pasalnya, sebagai mitra usaha Garuda Indonesia dan Citilink, anggota komunitas Sahara akan mendapatkan potongan harga dan dan komisi penjualan dari setiap transaksi yang dilakukan. SAHARA atau Sahabat Usaha Rakyat adalah komunitas para pengusaha yang beranggotakan para pelaku UMKM dan anggota Koperasi yang berasal dari berbagai organisasi dan masyarakat umum yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan anggotanya.

Saat ini Komunitas Sahara telah memiliki 3 juta database anggota yang akan digerakkan untuk mensukseskan usaha travel ini.


Dalam peluncuran itu hadir  mantan Menteri Koperasi Adi Sasono yang memberikan apresiasi agar travel tersebut bisa memberikan pekerjaan bagi pengangguran yang semakin banyak. Program ini terbuka seluas-luasnya untuk masyarakat umum, termasuk para pensiunan, para ibu rumah tangga, para calon wirausaha, yang berkeinginan menambah pendapatan. Kepada anggota yang berminat dapat mendaftar melalui perwakilan Sahara di masing-masing kota/kabupaten atau pendaftaran online yang telah disedikan di web www.sahara-aerotravel.com. Setelah memenuhi persyaratan administrasi maka anggota koperasi akan mendapatkan username dan password untuk melakukan transaksi online melalui website.



Alia Fathiyah