Bertamu ke Villa Jessica Iskandar di Bali

Instagram
Saya sudah lama nggak menulis soal artis di sini, kangen juga. Tetiba kepingin nulis soal Jessica Iskandar yang sekarang biasa disapa Jedar. Tadi abis baca berita artis yang isunya, Jessica Iskandar lagi musuhan dengan sohibnya, Ayu Ting Ting. Gegaranya, Jessica mewawancarai Nagita Slavina (Gigi) di Youtube, dan ada pertanyaan soal reaksi Gigi ketika gosip Ayu dan Raffi Ahmad menyeruak. Katanya, Ayu nggak suka dengan video itu (ehmm..jadi ngegosipp).

Kalau dengan Ayu Ting Ting saya belum pernah bertemu, karena dia terbilang artis baru. Tapi dengan Jessica saya sudah mengenalnya lama. Menurut saya, Jessica termasuk telat beken. Dia sudah lama banget berkecimpung di dunia artis. Main sinetron, FTV, tapi namanya nggak naik-naik. Main film Dealova jadi pemeran utama, juga mandek. Kalau menurut saya wajahnya tergolong unik, bukan cantik yang selama ini  ada di pikiran orang, meski cantik itu relatif.

Dia mulai terkenal ketika mulai mengubah imej nya, menjadi wanita polos dan lemot. Lalu sering muncul di acara lucu-lucuan yang nggak jelas. Awalnya, Jessica sering muncul di acara musik Dahsyat. Namanya makin dikenal melihat gayanya yang cuek, polos dan kadang nggak tahu malu.

Apalagi, ketika gosip dia berpacaran dengan Olga Syahputra (alm), semakin naiklah namanya.
Tapi, saya akui, Jessica itu orangnya baik banget, pernah bertemu sekitar 6 tahun lalu, sebelum namanya dikenal orang. Kalau sekarang entahlah, apakah sudah berubah, atau masih low profile kayak dulu .


Saya bertemu dengan dia di Soft Launching The Stones, Hotel dan Entertainment di Kuta Bali, milik konglomerat Oesman Sapta Odang. (Tempat ini pernah jadi lokasi mini konser private Justin Bieber beberapa waktu lalu).

Namanya juga di Bali, tempat hiburan , kebayang bagaimana acara itu berlangsung. Wajar, jika wartawan dilarang masuk ke ruang pesta (mungkin takut ke-gep ada yang mabok dan jackpot, hiihi. Pasalnya ada yang tertangkap kamera, salah satu ibu pejabat tinggi yang sekarang di bui, mabok dan goyang sampai ngesot-ngesot di lantai, Lols).

Malam itu, Jessica datang bersama Intan, manajernya penyanyi Rossa. Intan yang memang dekat dengan wartawan, mengaku kalau Jessica masuk ke dalam manajemennya. Saat itu saya berfikir, mungkin supaya nama Jessica lebih naik jadi dihandle si Intan ini.

Saya dan beberapa wartawan infotainment yang dilarang masuk, jadi mati gaya. Ketika  melihat Jessica Iskandar, kita seperti mendapat angin segar. Jessica mau saja diwawancarai oleh wartawan di tengah musik hingar bingar.  Dia bahkan rela pergi dari tempat itu untuk balik ke villanya di Seminyak, demi wartawan yang ingin mewawancarainya. Tubuhnya yang tinggi langsing dibalut dress pendek setali, rambutnya yang panjang digerai.

Jadi si infotainment ini, ingin mengambil angle berita, Jessica tengah berlibur di Bali dengan mengambil setting, villa mewah yang dia tempati. Jadilah kita semua mengekor mobil Jessica ke Seminyak, lokasi vila-vila mewah milik orang tajir dan ekspatriat.

Villanya private, jadi lokasi itu terdapat vila-vila besar yang semuanya tertutup tembok besar dan tinggi. Penjagaanya ketat, bukan orang biasa yang bisa masuk situ. Turun dari mobil, melangkah melewati pintu kaca, langsung disambut dengan kolam renang yang dihiasi lampu-lampu. Terlihat ruang terbuka yang langsung mengarah ke kolam. Di dalam ada dua kamar, pojokan ada mini bar sisanya sofa besar-besar. Jessica datang bersama kawan-kawannya, dan banyak makanan yang teronggok di meja.


Di villa itu, Jessica memberikan kebebasan wartawan untuk wawancara dan duduk semau kita. Ada asistennya yang banci terus mengawasi kegiatan kita (kayak satpam, curiigaaa ajaa). Si Jedar ini tanpa complain dan mengeluh, menurut saja ketika diminta wartawan untuk melakukan apapun. Misal duduk di pinggir kolam, di shoot dari dalam kamar mandi atau berjalan keliling kolam. "Tapi aku nggak mau disuruh nyebur ke kolam ya, dingin," kata Jessica dengan suara kecil dan cemprengnya yang khas.

Setelah di Bali itu, tak berapa lama dia muncul di Dahsyat bersama Olga dan Raffi. Setelah itu namanya makin popular, beken, dan terkenal. Apalagi ketika terbongkar pernikahannya dengan bangsawan asal Jerman. Keep low profile ya jes!

AAL

(Review) Film Captain America: Civil War, Pertarungan Ego dari Superhero


Sepertinya film superhero sekarang bisa dibilang sedang dalam transisi dari protagonis ke antagonis. Para penonton hanya menonton dengan harap-harap cemas, siapa yang menang dari superhero di hadapan mereka. Setelah lelah menonton pertarungan Batman V Superman: Dawn of Justice, kini para superhero dari agent Avengers ikutan bertarung melawan saudaranya sendiri. Mereka bikin kubu sendiri dengan dipimpin oleh Captain America Steve Rogers (Chris Evans) dan Iron Man Tony Stark (Robert Downey).

Film Captain America: Civil War seperti membuka dendam lama dari karakter masing-masing, ini menandakan superhero juga manusia, mereka memiliki dendam dan ego.


Cerita bermula dari banyaknya korban dan kehancuran yang terjadi ketika Avengers beraksi pada film sebelumnya. Kehancuran berbagai kota yang diakibatkan saat perang berlangsung, pemerintah dari seluruh dunia kemudian sepakat untuk mengendalikan aksi para Avengers agar tidak lagi ada korban tak berdosa yang berjatuhan.

Semua negara di seluruh dunia sepakat untuk mengendalikan Avengers agar masuk dalam pengawasan ketika beraksi. Tawaran ini memunculkan dua kubu, Steve Rogers merasa harus tetap mandiri dalam memperjuangkan kebenaran. Terlebih ketika sahabatnya, Bucky Barnes/ Winter Soldier (Sebastian Stan) menjadi tersangka dalam sebuah aksi bom dan pembunuhan.

Sedangkan Tony Stark menerima tawaran pengawasan pemerintah, dia merasa bersalah telah banyak korban yang tak bersalah atas aksi Avengers. Cerita berjalan, dalam film ini muncul superhero baru yang sebelumnya tidak pernah terlihat seperti Black Panther dan Spiderman dengan karakter baru, Tom Holland sebagai Peter Parker. Gambaran Peter Parker di sini masih sangat muda, jauh dari ganteng tapi khas anak remaja yaitu konyol. Lucunya, ketika Tony Stark menawarkannya untuk ke Jerman dan bergabung dengan Avengers lain, Peter malah masih memikirkan tugas sekolah yang belum di selesaikan.


Well, ketika menonton Civil War, saya malah merasa sang sutradara  Joe Russo dan Anthony Russo tidak perlu lagi memunculkan siapa penjahatnya. Karena, Captain Amerika dan Iron Man masing-masing sudah menjadi antagonis dan kadang protagonis. Tapi namanya film superhero, di mana penonton berharap keduanya bersatu, tentu harus ada ending yang memuaskan dan yang harus disalahkan.

Jika ingin dibandingkan dengan Avengers: Age of Ultron yang menurut saya ceritanya aneh dan ada daratan melayang, Civil War lebih mudah dicerna. Marvel sudah bosan dengan kisah gedung pencakar langit, peledakan kawah ke jalanan kota, kini pertarungan tidak lagi di tengah jalan yang mengakibatkan kehancuran.

Untuk adegan pertarungan juga menarik, rasa dendam pada karakter masing-masing muncul. Mereka melawan kawannya sendiri, di sini sutradara ingin memperlihatkan kalau superhero itu juga bisa melakukan hal yang jahat.


Dengan cerdasnya, Civil War memberikan ending yang selalu menggantung. Cerita yang terkait, menjadi sajian utamanya sehingga penonton penasaran untuk menonton film Marvel selanjutnya, baik dari Avengers, Spiderman atau Black Panther.

   AAL



Tak Semuanya Indah di Pantai Sawarna, Banten


Untuk berlibur long weekend sudah kebayang semua lokasi liburan pasti penuh dan macet. Mau ke Bandung, ngebayanginnya udah capek duluan. Nggak long weekend aja Bandung udah sesak, apalagi sekarang. Sama juga dengan Bogor, bahkan niat mau ke Yogyakarta, kiddoss emoh karena ngebayangin macet di Cipali. Cek kereta, sudah penuh. Lalu saya iseng, browsing. Kebaca ada pantai di Banten yang kece abis. Kalau ke Anyer dan Carita udah khatamlah, rame, macet dan harga digetok mahal.

Lalu tujuan mengarah pada Pantai Sarwana, Desa Bayah Banten. Saya mikir saat itu,  sama-sama Banten pasti nggak jauh nih. Saya di Serpong, Tangerang Selatan dengan provinsi Banten. Tapi setelah dijalani ternyata jauh saudara-saudaraaa...


Berlibur dengan teman-teman, berkonvoi lima mobil, bisa dibayangkan tidak mudah.  Banyak yang ikut, banyakan berhenti, ada yang nyasar, ada yang isi bensin atau ke toilet. Perjalanan dimulai pukul 07.00 pagi melewati  Serang. Menggunakan waze, agar tujuan tidak nyasar dan sampai di lokasi dengan pas. Karena hari Jumat, perjalanan sempat berhenti untuk sholjum.

Usai sholat Jumat, kita mencari tempat makan enak dipinggir pantai. Adalah Pasput Beach, lokasi makanan yang menyediakan ikan bakar dan teman-temannya. Mereka menyediakan saung di pinggir pantai yang terlihat banyak batu karang nan indah.


Harga makanannya standar, Ikan kakap bakar Rp 70 ribu, karedok di piring kecil Rp 6 ribu dan mangkok Rp 10 ribu. Rasanya, lumayan secara lapar sambil menikmati laut dan hembusan anginnya.

Perjalanan kembali dilanjutkan yang ditemani rintikan hujan. Jalanan menuju Sawarna, sejak masuk Serang,  termasuk lancar dengan jalanan mulus. Jalanan dibeton dan tidak macet. Tapi semakin mendekati lokasi, jalanan mulai berbatu, menurun dan menanjak. Tak lama terlihat kanan kiri jalan mobil diparkir dan banyak orang berdiri atau duduk. Rumah-rumah penduduk terisi orang dan mobil. Ternyata itu homestay, rumah penduduk yang disewa.


Lalu kita berbelok masuk ke sebuah hamparan tanah luas, terlihat banyak mobil terparkir. Di pintu masuk gerbang tertulis "Selamat Datang ke Lokasi Wisata Sawarna". Untuk masuk dikenakan biaya Rp 25 ribu.


Ternyata, itu tempat parkir turis yang ingin main di pantai Sawarna. Untuk menuju pantai kita bisa berjalan atau menggunakan ojek ke arah dalam. Belum ada akses mobil untuk sampai ke dalam. Yang mengerikan adalah ketika melewati jembatan gantung, lantai jembatan dibuat dari besi tapi pegangan pinggirnya hanya tali. Saya yang menggendong baby dan menggunakan ojek, tak henti berdoa melewati jembatan itu. Kebayang, habis hujan, licin, jika tukang ojeknya salah menginjak saja, bisa terlempar keluar jembatan.

Sebenarnya ada dua jembatan, dekat Indomart, tapi agak jauh. Jembatannya lebih 'bermartabat' dan nggak bikin jantung copot.

Setelah melewati jembatan, banyak dijumpai rumah penduduk, kontrakan atau kost yang disewa, dan semuanya penuh. Sayangnya, saya mendapatkan penginapan yang memprihatinkan, karena semua tempat sudah penuh. Sebuah rumah kecil yang sederhana dengan kamar yang memprihatinkan dengan harga Rp 200 ribu. Jadi malamnya saya pindah ke tempat sepupu saya yang berhasil mendapatkan satu kamar kost luas dengan harga Rp 450 ribu.


Keesokan subuh saya sudah tiba di Pantai Sawarna yang terletak di desa Bayah, Banten. Dari kejauhan sudah terdengar semburan ombak kencang yang tinggi. Melihat Pantai Sawarna mengingatkan akan Pantai Kuta, Bali. Tapi ini tentunya lebih bersih meski juga ada sampah berserakan. Ombak besar lantaran pantai itu langsung menuju ke Samudera Hindia, dan biasanya dijadikan tujuan surfing bagi para turis bule.


Pantai Sawarna terlihat indah, meski pasirnya bukan berwarna putih. Bisa dilihat dari foto-foto yang saya ambil dengan handphone standar, bukan dengan kamera kece standarnya fotografer. Ombaknya menyeramkan, tapi cocok untuk surfer. Berkali-kali, penjaga pantai meneriakkan pengunjung untuk berhati-hati dan tidak berenang ke tengah karena melihat ombaknya yang tinggi.


Di sepanjang pantai terlihat saung-saung. Sejak hari pertama long weekend, saung itu sudah penuh dengan pengunjung yang menyewanya. Bayangkan serunya jika menginap di saung pinggir pantai.
Jika sedang peak season, saung dibandrol harga Rp 200 ribu, jika sedang sepi, pemiliknya mau saja dibayar Rp 50 ribu. Banyak yang menginap di saung. Di belakangnya juga berjejer warung dan toilet umum. Di sana aman, tidak ada yang aneh-aneh, dan saya amati para pemilik warung di pinggir pantai sadar betul, keuangan mereka didapat dari para pengunjung Pantai Sawarna.


Untuk ukuran lokasi wisata, harga makanan tergolong tidak mahal. Sarapan di pinggir pantai ditemani nasi uduk + telor hanya Rp 10 ribu, teh panas Rp 3000, kelapa muda batok Rp 10 ribu. Air mineral Rp 5 ribu dan ukuran besar Rp 10 ribu..

Tak akan habis-habis menikmati indahnya Pantai Sawarna. Semakin siang, pantai semakin ramai, panas teriknya matahari menyengat, si baby sudah tidak betah lagi dengan panas. Akhirnya saya angkat kaki dari Pantai Sawarna dan siap-siap pulang ke rumah.


Note:
Ini catatan penting untuk saya pribadi, mungkin juga bisa untuk pembaca.
- Mencari penginapan yang lebih 'manusiawi', lebih besar, bersih dan ber- AC. Untung saya diberikan kontak si tukang nasi uduk, yang dipanggil Mama Zahra. Jadi bisa pesan lewat dia soal penginapan, jika suatu saat nanti kembali.
- Tidak peak season lagi
- Menunggu si baby sudah besar, ternyata rempong punya baby jalan jauh-jauh. Adatnya cakep beneerrr.
- Persiapan lebih detil
- Mungkin akan memilih menginap di hotel di luar Kampung Bayah, lalu pagi hari bisa ke Pantai Sawarna hingga sore lalu pulang ke rumah.
- Membawa kaca mata hitam, payung, lotion, dan air minum.

ALIA F

(Review) Film Ada Apa dengan Cinta 2, Masih dengan Cinta dan Rangga


Nasib sebuah sekual film itu bisa laris manis atau jeblok. Tapi euforia bisa membantu sebuah sekuel hingga laku di bioskop. Seperti yang terjadi pada film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC2) yang antusias penonton membludak di bioskop. Saya kebetulan beruntung mendapatkan undangan untuk Nonton Bareng film AADC2 dari Mitsubishi yang mendukung dalam menyediakan kendaraan penumpang Mitsubishi Motors untuk para pemeran yang menghadiri Gala Premier di Yogyakarta dan sponsor konser musik soundtrack film AADC2 yang disiarkan sebuah stasiun televisi swasta.

Menurut saya, euforia film AADC2 dimulai ketika aplikasi kirim pesan, LINE muncul, lengkap dengan semua pemainnya. Cuplikan iklan yang hanya beberapa menit itu, membuat kepo  anak-anak ABG yang tidak ngeh soal film AADC 14 tahun lalu.

Tapi untuk saya pribadi, film AADC 14 tahun lalu itu, salah satu film Indonesia terbaik tema percintaan remaja yang dibuat oleh sineas Indonesia (setelah film Galih dan Ratna akhir tahun 70-an yang dimainkan Rano Karno dan Yessi Gusman). Ceritanya segar, pemainnya baru semua, plotnya enak ditonton dan jalan ceritanya remaja banget. Mereka masih lugu, newbie di dunia perfilman dan asik banget ditonton. Nggak heran, AADC salah satu film yang menjadi pencetus hidupnya film Indonesia lagi setelah mati suri cukup lama.

Saya salah satu yang excited mendengar AADC 2 akan dibuat. Nonton cuplikannya di LINE saja bikin saya seneng banget. Senang lihat gank Cinta dan lihat si cool Rangga, yang katanya 'dulu kalau bingung nyenengin, sekarang nyebelin banget'.

Cerita dibuka dengan tiga gank Cinta lagi berkumpul dengan suami-suaminya. Cinta (Dian Satro) akan menikah dengan Trian (Ario Bayu), lalu ada Maura (Titi Kamal) si centil yang suka dandan dengan suaminya beneran, Christian Sugiono, serta si lemot Milly (Sissy Priscilia) yang lagi hamil. Milly yang lemotnya nggak ilang-ilang itu (tapi dia yang menjadi pencetus tawa selama film) ternyata menikah dengan Mamet, yang dulunya cinta banget sama Cinta. Sedangkan Alya, telah meninggal karena kecelakaan.


Mereka memutuskan berlibur ke Yogyakarta sekaligus menemani Cinta menghadiri pameran sebuah karya seni, tanpa suami. Di belahan dunia lain, New York, si Rangga (Nicholas Saputra) khas dengan wajah cool, sinis dan juteknya itu memiliki cofee shop dan menjadi penulis kolom di sebuah surat kabar.

Dalam perjalanan film, penonton jadi mengetahui, kalau Cinta diputusin Rangga 9 tahun lalu hanya lewat sepucuk surat. Kemunculan adik tiri Rangga di New York, membawa Rangga ke Yogyakarta untuk menemui ibu kandungnya yang sudah 25 tahun menghilang.

Bisa ditebak, di sini Rangga dan Cinta akhirnya bertemu. Sayangnya saya tidak melihat chemistry Dian Sastro dan Nicholas Saputra ketika mereka dalam scene berdua. Terlihat datar, tak ada sinyal-cinyal cinta, secara mereka tak bertemu selama 9 tahun. Yang justru mengena, ketika keduanya berjauhan dan film hanya mempertontokan narasi puisi-puisi Rangga dan gambar sosok pasangan itu dalam siluet.

Sayangnya lagi, Mira dan Prisma Rusdi, seperti terpaku pada cerita Rangga dan Cinta saja. Scene mereka berdua menyusuri Yogya semalaman, terasa membosankan. Itu hanya diselingi ketiga temannya, Maura, Milly dan Carmen yang resah menunggu Cinta. Itu saja. Konfliknya kurang kompleks. Wajah Cinta setelah semalaman tidak tidur, tetap terlihat cantik, pipinya memerah serta bibirnya yang sumringah. Meski hal kecil, harusnya Riri sebagai sutradara memperhatikan detil itu.

Saya mungkin salah satu dari barisan penggemar AADC yang kecewa melihat garapan Riri Riza ini. Pertama, tidak munculnya Alya dari barisan gank Cinta. Sosok Alya yang pendiam, menjadi tempat curahan dari segala kegalauan Cinta. Tapi peran itu digantikan Carmen yang diperankan Adinia Wirasti, yang lebih banyak memainkan mimik wajah dalam film.

Untuk masing-masing karakter, well..Dian Sastro masih mampu menjadi Indonesian Sweet Heart. Meski ada beberapa yang 'bocor' di tengah film, Dian kurang konsisten dengan sosok Cinta yang agak galak, to the point dan menjadi leader di gank-nya. Sissy masih lucu dengan peran Milly, dia yang membuat film menjadi hidup. Titi Kamal  masih pas dengan karakter Maura yang paling cantik, paling bersih dan perempuan banget, meski sepertinya saltum waktu ke pasar mengenakan topi lebar (Lols), dan Adinia Wirasti masih dengan tatapannya yang galak, dan karakternya menurut saya tak jauh berbeda dengan film-film dia yang lain. Lalu bagaimana dengan Nicholas Saputra? Dia masih cool, dan sinis, sayang, make up wajahnya tidak dibuat 'cakep', seakan-akan dia lama di New York (mungkin ini penilaian subjektif saya, gregetan Nicho gak seganteng AADC 1, hiks).  Tapi saya suka aktingnya dapet banget ketika dia bertemu dengan ibunya setelah 25 tahun berpisah.


Film AADC2 sepertinya hanya ingin mengabulkan desakan penggemar yang sudah kadung cinta dengan video di LINE, belum lagi banyak sponsor iklan yang masuk. Tapi saya salut, Mira Lesmana nekat pasang badan dengan Captain America: Civil War di bioskop, dan mampu menarik penonton yang fantastis.

Bisa ketebak endingnya, Cinta masih milik Rangga. "Hidup itu hanya sekali, dan saya tidak bisa membayangkan, jika hidup saya tanpa kamu," kata Cinta di bawah hujan salju di New York yang romantis sambil memeluk Rangga.

ALIA F