Thursday, May 19, 2016

(Review) Film Captain America: Civil War, Pertarungan Ego dari Superhero


Sepertinya film superhero sekarang bisa dibilang sedang dalam transisi dari protagonis ke antagonis. Para penonton hanya menonton dengan harap-harap cemas, siapa yang menang dari superhero di hadapan mereka. Setelah lelah menonton pertarungan Batman V Superman: Dawn of Justice, kini para superhero dari agent Avengers ikutan bertarung melawan saudaranya sendiri. Mereka bikin kubu sendiri dengan dipimpin oleh Captain America Steve Rogers (Chris Evans) dan Iron Man Tony Stark (Robert Downey).

Film Captain America: Civil War seperti membuka dendam lama dari karakter masing-masing, ini menandakan superhero juga manusia, mereka memiliki dendam dan ego.


Cerita bermula dari banyaknya korban dan kehancuran yang terjadi ketika Avengers beraksi pada film sebelumnya. Kehancuran berbagai kota yang diakibatkan saat perang berlangsung, pemerintah dari seluruh dunia kemudian sepakat untuk mengendalikan aksi para Avengers agar tidak lagi ada korban tak berdosa yang berjatuhan.

Semua negara di seluruh dunia sepakat untuk mengendalikan Avengers agar masuk dalam pengawasan ketika beraksi. Tawaran ini memunculkan dua kubu, Steve Rogers merasa harus tetap mandiri dalam memperjuangkan kebenaran. Terlebih ketika sahabatnya, Bucky Barnes/ Winter Soldier (Sebastian Stan) menjadi tersangka dalam sebuah aksi bom dan pembunuhan.

Sedangkan Tony Stark menerima tawaran pengawasan pemerintah, dia merasa bersalah telah banyak korban yang tak bersalah atas aksi Avengers. Cerita berjalan, dalam film ini muncul superhero baru yang sebelumnya tidak pernah terlihat seperti Black Panther dan Spiderman dengan karakter baru, Tom Holland sebagai Peter Parker. Gambaran Peter Parker di sini masih sangat muda, jauh dari ganteng tapi khas anak remaja yaitu konyol. Lucunya, ketika Tony Stark menawarkannya untuk ke Jerman dan bergabung dengan Avengers lain, Peter malah masih memikirkan tugas sekolah yang belum di selesaikan.


Well, ketika menonton Civil War, saya malah merasa sang sutradara  Joe Russo dan Anthony Russo tidak perlu lagi memunculkan siapa penjahatnya. Karena, Captain Amerika dan Iron Man masing-masing sudah menjadi antagonis dan kadang protagonis. Tapi namanya film superhero, di mana penonton berharap keduanya bersatu, tentu harus ada ending yang memuaskan dan yang harus disalahkan.

Jika ingin dibandingkan dengan Avengers: Age of Ultron yang menurut saya ceritanya aneh dan ada daratan melayang, Civil War lebih mudah dicerna. Marvel sudah bosan dengan kisah gedung pencakar langit, peledakan kawah ke jalanan kota, kini pertarungan tidak lagi di tengah jalan yang mengakibatkan kehancuran.

Untuk adegan pertarungan juga menarik, rasa dendam pada karakter masing-masing muncul. Mereka melawan kawannya sendiri, di sini sutradara ingin memperlihatkan kalau superhero itu juga bisa melakukan hal yang jahat.


Dengan cerdasnya, Civil War memberikan ending yang selalu menggantung. Cerita yang terkait, menjadi sajian utamanya sehingga penonton penasaran untuk menonton film Marvel selanjutnya, baik dari Avengers, Spiderman atau Black Panther.

   AAL



0 komentar:

Post a Comment