Ngobrol Sekaligus Mengunjungi Perpustakaan BJ Habibie

Bertemu dengan Presiden ke 3 RI, BJ Habibie menjadi kenangan yang tak terlupakan. Saat itu, saya dengan beberapa teman dari Tempo mendapatkan kehormatan untuk menwawancarai beliau mengenai film Habibie-Ainun yang meledak dan laris manis di bioskop. Saat itu Januari 2013.

Sekitar pukul 11.00 siang saya dan beberapa teman sudah berada di Patra Kuningan, Jakarta Selatan. Sebelum bertemu, kita menunggu di sebuah ruang tamu yang berisi sofa, koleksi cangkir mahal serta beberapa foto beliau dengan ibu Ainun.
Tak lama kemudian, asisten beliau memanggil kita untuk masuk ke dalam perpustakaan. Keluar ruang tamu, kita harus melewati pintu, disambut dengan kolam ikan yang besar di kanan kiri jalan menuju perpustakaan. Pintu besar terbuka, disambut dengan ruangan yang luas semuanya dilapisi dengan kayu dengan dominasi warna keemasan. Dibantu dengan cahaya lampu, ruangan perpustakaan itu begitu indah. Seperti perpusatakaan impian saya. Tapi sepertinya lebih mirip perpustakaan di film Harry Poters, hehehe. Di sebelah kiri pintu masuk ada harimau yang sedang duduk, mirip aslinya. Lalu ada meja berjejer pesawat terbang, di belakang kursi dan meja panjang untuk menerima tamu.
Buku berjejer rapi, disesuaikan dengan bidangnya masing-masing, seperti tentang ekonomi, sastra, biografi dan lainnya. Ada tangga di tengah melingkar ke atas. Langit-langitnya tinggi, dihiasi dengan lampu yang memancarkan warna kuning.

Tak lama Pak Habibie muncul, wangi, sambil mengunyah perment mint. Dia meminta kita memanggilnya eyang. Beliau ramah, sabar dan menjelaskan pertanyaan dengan runut dan detil. Saya yang pecicilan, tak henti-hentinya selfie dengan latar beliau. Tapi pak Habibie tak terganggu, dia cuek saja terus bicara menjawab pertanyaan.

Dia memberikan kita foto ketika masih kuliah di Jerman, dan foto berdua dengan Bu Ainun juga menanandatangani buku Habibie-Ainun yang saya bawa.

Saya sempat bertanya bagaimana jika para ibu ingin mengetahui agar anaknya bisa jenius seperti beliau. Sepertinya pertanyaan itu terjawab untuk buku terbaru Pak Habibie yang berjudul Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner. Selamat ya eyang (SKSD *sokkenalsokdekat)

AAL

Buku Rudy, Sejak Bayi BJ Habibie Sudah Jenius

Presiden ketiga Republik Indonesia BJ Habibie terkenal akan kejeniusannya dan membeberkan rahasia menjadi pintar seperti dirinya pada peluncuran biografi-nya "Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner" di Perpustakaan Habibie Ainun di kediamannya, Jalan Patra Kuningan XIII, Jakarta Selatan, Senin 12 Oktober 2015.

"Saya dari lahir, cuma butuh tidur empat jam, selebihnya yang 20 jam, pancaindera saya menyerap lingkungan sekitar dan bertanya-tanya. Mungkin karena pancaindera saya sangat aktif itulah saat kecil saya sudah mulai bertanya-tanya dan kalau tidak bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan saya menangis," kata Habibie yang lebih suka dipanggil eyang.
                                         Ketika berada di perpustakaan eyang Habibie

Sejak bayi, kata Habibie, ayahnya sering membacakan satu hingga dua juz Alquran untuk menenangkannya. "Mendengar ayah saya baca Quran saya diam, tapi saya rasa saya diam bukan karena mengerti bahwa itu ayat suci tapi indera pendengaran saya bertanya-tanya suara apa itu. Lalu kakak saya cerita, sejak usia tiga tahun saya sudah pandai baca Quran," kata pria berdarah Bugis itu.

Selain itu, rahasia menjadi orang pintar versi Habibie adalah selalu berserah diri kepada Tuhan dan menggantungkan cita-cita setinggi langit. "Saya tidak pernah bermimpi karena kalau mimpi biasanya ya cuma berakhir jadi mimpi-mimpi aja dan tidak bangun-bangun. Saya lebih memilih bercita-cita," kata dia.

Buku biografi Rudy yang diterbitkan Bentang Pustaka ditulis oleh penulis skenario Gina S. Noer yang pernah mengadaptasi buku karangan Habibie, "Habibie & Ainun", ke dalam layar lebar.
Berkisah seputar perjalanan Rudy menjadi B.J. Habibie, buku ini diharapkan Habibie bisa mengilhami generasi muda Indoneia untuk terus maju mengharumkan Indonesia Raya seperti yang dilakukannya.

"Saya optimistis tentang masa depan Indonesia karena pemudanya mau menjadi pintar dan mau belajar. Mari kita beri kesempatan mereka, asuh mereka sebaiknya," kata Habibie yang kini berusia 79 tahun.

AAL