Tuesday, October 13, 2015

Ngobrol Sekaligus Mengunjungi Perpustakaan BJ Habibie

Bertemu dengan Presiden ke 3 RI, BJ Habibie menjadi kenangan yang tak terlupakan. Saat itu, saya dengan beberapa teman dari Tempo mendapatkan kehormatan untuk menwawancarai beliau mengenai film Habibie-Ainun yang meledak dan laris manis di bioskop. Saat itu Januari 2013.

Sekitar pukul 11.00 siang saya dan beberapa teman sudah berada di Patra Kuningan, Jakarta Selatan. Sebelum bertemu, kita menunggu di sebuah ruang tamu yang berisi sofa, koleksi cangkir mahal serta beberapa foto beliau dengan ibu Ainun.
Tak lama kemudian, asisten beliau memanggil kita untuk masuk ke dalam perpustakaan. Keluar ruang tamu, kita harus melewati pintu, disambut dengan kolam ikan yang besar di kanan kiri jalan menuju perpustakaan. Pintu besar terbuka, disambut dengan ruangan yang luas semuanya dilapisi dengan kayu dengan dominasi warna keemasan. Dibantu dengan cahaya lampu, ruangan perpustakaan itu begitu indah. Seperti perpusatakaan impian saya. Tapi sepertinya lebih mirip perpustakaan di film Harry Poters, hehehe. Di sebelah kiri pintu masuk ada harimau yang sedang duduk, mirip aslinya. Lalu ada meja berjejer pesawat terbang, di belakang kursi dan meja panjang untuk menerima tamu.
Buku berjejer rapi, disesuaikan dengan bidangnya masing-masing, seperti tentang ekonomi, sastra, biografi dan lainnya. Ada tangga di tengah melingkar ke atas. Langit-langitnya tinggi, dihiasi dengan lampu yang memancarkan warna kuning.

Tak lama Pak Habibie muncul, wangi, sambil mengunyah perment mint. Dia meminta kita memanggilnya eyang. Beliau ramah, sabar dan menjelaskan pertanyaan dengan runut dan detil. Saya yang pecicilan, tak henti-hentinya selfie dengan latar beliau. Tapi pak Habibie tak terganggu, dia cuek saja terus bicara menjawab pertanyaan.

Dia memberikan kita foto ketika masih kuliah di Jerman, dan foto berdua dengan Bu Ainun juga menanandatangani buku Habibie-Ainun yang saya bawa.

Saya sempat bertanya bagaimana jika para ibu ingin mengetahui agar anaknya bisa jenius seperti beliau. Sepertinya pertanyaan itu terjawab untuk buku terbaru Pak Habibie yang berjudul Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner. Selamat ya eyang (SKSD *sokkenalsokdekat)

AAL

0 komentar:

Post a Comment