Dian Sastro dan SGE Live Donasikan Penjualan Tanda Mata Karya Anak Autisme untuk Sekolah Drisana


anak-autisme
CEO SGE Live Mervi Sumali, Pendiri Sekolah Drisana Zavnura Pinkan, Dian Sastro, Ortopedagog & Co founder Drisana Center Nuryanti Yamin .

"Saya kira anak saya kena santet atau guna-guna," begitu kata seorang ibu yang baru menyadari jika anaknya mengidap autisme. Hal ini disampaikan oleh Dian Sastrowardoyo ketika beberapa bulan belakangan mulai terbuka ke masyarakat jika anak sulungnya Shailendra Naryama Sastraguna Sutowo mengidap autisme.
Baca:
Cari Info Kuliah di Malaysia, Katanya Lebih Murah? 1 Semester hanya Rp 10 Juta
Cari Homestay di Dieng, Ada Harga Rp 100 Ribu

Menurut Dian Sastro ketika dia sudah mulai terbuka, banyak ibu-ibu yang 'curhat' kalau memiliki nasib yang sama. Banyak orang tua yang tidak menyadari jika anaknya mengidap autisme.


Apa sih autisme itu?


Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak. Gejala yang tampak adalah gangguan dalam bidang perkembangan: perkembangan interaksi dua arah, perkembangan interaksi timbal balik, dan perkembangan perilaku. Hingga saat ini kepastian mengenai autisme belum juga terpecahkan. Padahal, perkembangan jumlah anak autis sekarang ini kian mengkhawatirkan. Di Amerika Serikat, perbandingan anak autis dengan yang normal 1:150, sementara di Inggris 1:100. Indonesia belum punya data akurat mengenai itu. Para ilmuwan menyebutkan autisme terjadi karena kombinasi berbagai faktor, termasuk faktor genetik yang dipicu faktor lingkungan.


Rentang dan keparahan gejala dapat bervariasi. Gejala umum berupa sulit berkomunikasi, sulit berinteraksi sosial, minat yang obsesif, dan perilaku repetitif.

Pengenalan dini, serta terapi perilaku, pendidikan, dan keluarga dapat mengurangi gejala dan mendukung pengembangan dan pembelajaran.

Baca:
Transaksi dengan QR Code, Belanja untung untuk Para Ibu Indonesia

Para ilmuwan menyebutkan ada faktor kuat sehingga anak bisa mengidap autisme.

1. Genetik.
Ada bukti kuat yang menyatakan perubahan dalam gen berkontribusi pada terjadinya autisme. Menurut National Institute of Health, keluarga yang memiliki satu anak autisme memiliki peluang 1-20 kali lebih besar untuk melahirkan anak yang juga autisme.Penelitian pada anak kembar menemukan, jika salah satu anak autis, kembarannya kemungkinan besar memiliki gangguan yang sama.Secara umum para ahli mengidentifikasi 20 gen yang menyebabkan gangguan spektrum autisme. Gen tersebut berperan penting dalam perkembangan otak, pertumbuhan otak, dan cara sel-sel otak berkomunikasi.

2. Pestisida.
Paparan pestisida yang tinggi juga dihubungkan dengan terjadinya autisme. Beberapa riset menemukan, pestisida akan mengganggu fungsi gen di sistem saraf pusat. Menurut Dr Alice Mao, profesor psikiatri, zat kimia dalam pestisida berdampak pada mereka yang punya bakat autisme.

3. Obat-obatan.
Bayi yang terpapar obat-obatan tertentu ketika dalam kandungan memiliki risiko lebih besar mengalami autisme. Obat-obatan tersebut termasuk valproic dan thalidomide. Thalidomide adalah obat generasi lama yang dipakai untuk mengatasi gejala mual dan muntah selama kehamilan, kecemasan, serta insomnia. Obat thalidomide sendiri di Amerika sudah dilarang beredar karena banyaknya laporan bayi yang lahir cacat. Namun, obat ini kini diresepkan untuk mengatasi gangguan kulit dan terapi kanker. Sementara itu, valproic acid adalah obat yang dipakai untuk penderita gangguan mood dan bipolar disorder.

4. Usia orangtua

Makin tua usia orangtua saat memiliki anak, makin tinggi risiko si anak menderita autisme. Penelitian yang dipublikasikan tahun 2010 menemukan, perempuan usia 40 tahun memiliki risiko 50 persen memiliki anak autisme dibandingkan dengan perempuan berusia 20-29 tahun."Memang belum diketahui dengan pasti hubungan usia orangtua dengan autisme. Namun, hal ini diduga karena terjadinya faktor mutasi gen," kata Alycia Halladay, Direktur Riset Studi Lingkungan Autism Speaks

5. Perkembangan otak.
Area tertentu di otak, termasuk serebal korteks dan cerebellum yang bertanggung jawab pada konsentrasi, pergerakan dan pengaturan mood, berkaitan dengan autisme. Ketidakseimbangan neurotransmiter, seperti dopamin dan serotonin, di otak juga dihubungkan dengan autisme.

(Sumber:  Kompas.com)

Hari Anak Sedunia


Ini tas tanda mata yang dijual untuk didonasikan ke Sekolah Drisana

Pada tanggal 20 November 2019 lalu diperingati sebagai Hari Anak Sedunia. SGE Live berkolaborasi dengan Dian Sastro di TeamLab Future Park and Animals of Flowers, mengedukasi masyarakat bagaimana pentingnya seni bagi tumbuh kembang anak autisme.

Penggalangan dana dilakukan melalui penjualan tanda mata khusus karya Dian dan dua anak autisme yang memiliki bakat seni tinggi, Prinka Dipa serta Nindhita. “Penjualan tanda mata ini 100 persen untuk sekolah Drisana,” kata Chief Executive SGE Live, Mervi Sumali.

Pembelian tanda mata khusus ini bisa dilakukan teamLab Future Park yang berada di mal Gandaria City Jakarta.  Pengunjung dapat berpartisipasi memberikan donasi, serta memperoleh 2 tanda mata tapi dengan syarat membeli minimal 2 tiket ’teamLab Future Park and Animals of Flowers, Symbiotic Lives’. Adapun tanda mata ini dijual seharga Rp199.000 per buah mulai dari 20 November hingga 20 Desember mendatang. Keuntungan dari penjualan tanda mata tersebut akan didonasikan seluruhnya kepada Sekolah Drisana.

Sekolah Drisana


Dian Sastro memakai gambar dan video untuk komunikasi dengan anaknya

Sekolah Drisana bagi Dian sangat berguna sekali. Ketika pertama kali anaknya didiagnosa terkena sindrom autisme, sekolah Drisana yang membantunya dalam memberikan terapi hingga kini si sulung sudah bebas dari terapi apapun.

"Di sekolah Drisana ada orang-orang yang saya kenal dengan baik. Anak saya bisa mendapatkan terapi dari mereka. Mereka orang -orang yang ahli di bidangnya dengan metode tertetentu sehingga terjadi improvemen besar-besaran, sosial besar-besaran sehingga perlu sekali di dukung," tutur Dian. Donasi ini diperuntukkan bagi orang yang tidak mampu, yang memiliki anak autisme tapi tidak memiliki dana untuk memberikan anaknya terapi yang tepat.

Sekolah Drisana berdiri sejak 2014 dengan nama sekolah Keana, sebagian besar muridnya adalah berasal dari keluarga yang tidak mampu. Lantaran keterbatasan biaya, Sekolah Keana mengalami penggusuran pada awal 2019 dan berubah menjadi nama Drisana. Saat ini Skeolah Drisana beroperasi dengan fasilitas belajar mengajar yang sangat terbatas. Sekolah Drisana memiliki 9 orang murid dan 4 orang guru yang harus bergiliran menggunakan ruangan kelas setiap harinya.

"Kami berharap dengan donasi ini bisa meningkatkan sarana dan prasarana belajar, sehingga anak-anak bisa belajar dengan lebih nyaman dan menyenangkan.." kata Zavnura Pingkan, Pendiri Sekolah Drisana.
Blogger menikmati wahana yang ada di Teamlab Future Park, Gancit Jakarta

Semoga Bermanfaat

Alia Fathiyah

15 comments

  1. Jadi lebih tau mengenai autism ini dan juga ada sekolah Drisana ini ya untuk supporting teman-teman autism

    ReplyDelete
  2. Sejak kemarin, saya sudah beberapa kali menbaca postingan soal acara keren ini, Mbak Alia. Dan sangat keren sekali. Jadi anak-anak berkebutuhan khusus juga merasa diperhatikan dan karyanya diapresiasi. Ini bagus untuk membantu perkembangan mereka. Dan memang hasil karya-karya mereka keren-keren ya, Mbak.

    ReplyDelete
  3. Aku juga baru tahu kalau dian anaknya penderita autisme. Semoga makin banyak ibu kuat dan semangat untuk membesarkan anak bagaimanapun keadaaanya, anak adalah anugerah.

    ReplyDelete
  4. suka dengan konsepnya. hasil karya tasnya cakep2 semua.
    ponakanku jg autis, tapi bakat dia senengnya pengen jadi pendakwah. semoga anak2 autis bisa berkembang dan berprestasi sesuai dengan bakat mereka ya :)

    ReplyDelete
  5. kaka idola aku ini Dian Sastro hihi
    Keren banget acaranyaa yaa kak, jadi pengen ikutan juga.

    ReplyDelete
  6. Dari kemarin baca-baca BW, beberapa kali juga baca tulisan keren semacam ini. Jadi lebih tahu tentang autisme. Semoga terus berkembang.

    Karya-karyanya juga gak kalah bagusnya, keren. Kalau bisa langsung kesitu lebih seru..he

    ReplyDelete
  7. Pastinya butuh proses supaya Dian Sastro mau terbuka seperti ini, ya. Saya berharap dengan terbukanya Dian Sastro akan semakin banyak yang tau tentang autis.

    ReplyDelete
  8. Cuma orang tua pilihan yg bs betkesempatan mengasuh anak dengan autis. Salut buat ide dian utk menggalang donasi di sekolah drisana. Semoga lancar ya aamiin 😘

    ReplyDelete
  9. AKu baru tau kalau makin tua usia ibu melahirkan berpengaruh terjadi Autis pada anak. Makasih infonya mbak :)

    ReplyDelete
  10. Jadi banyak tahu tentang autism jadinya setelah baca artikel ini
    Anak-anak autis itu istimewa, mereka pasti punya sesuatu yang luar biasa. Dengan terapi dan pendampingan yang tepat, mereka akan tumbuh luar biasa

    ReplyDelete
  11. Seni bisa membantu anak dengan autis untuk lebih berkembang dengan keterampilan nya

    ReplyDelete
  12. Awareness soal Autisme memang harus ditingkatkan lagi , supaya orang jadi lebih paham. Salut sama Mbak Dian and teamnya deh

    ReplyDelete
  13. Waduh ibu dengan kehamilan di atas 40 tahun justru 50% beresiko melahirkan anak yang autis ya Mbak? Saya padahal sedang peogram nih sementara usia sudah 40 tahun.

    ReplyDelete
  14. Ternyata dari faktor genetik pun juga bisa ya

    ReplyDelete
  15. Sekolah yang seperti ini yang memang harus mendapatkan perhatian. Karena anak autis juga butuh pendidikan yang layak.

    ReplyDelete