Ketika PR Kebingungan Perlakukan Wartawan


Public Relation (PR/humas) itu bisa dibilang pasangannya wartawan. Kerjaan mereka nggak mungkin sukses dan berhasil tanpa wartawan bukan? Namanya sepasang, takdirnya begitu pasti saling membutuhkan satu sama lain.

PR membutuhkan wartawan untuk mempublikasikan informasi dari kliennya ke masyarakat. Nah wartawan butuh berita lewat tangannya PR (walaupun nggak semua berita wartawan dari PR jugak).

Bisa kebayangkan nasibnya PR jika keinginannya kliennya tidak terpenuhi, alias tak ada wartawan yang mau mempublikasikan informasi kliennya. Yang ada kantor PR itu metong tong, alias bangkrut. Udah banyak kantor PR yang tetiba namanya hilang ditelan hembusan angin.

Nah, pada suatu hari di grup WA wartawan yang isinya wartawan kritis, ngomongin soal PR yang rese dan asik. Kita lebih fokusin ke PR rese yang mau enaknya sendiri tanpa melihat kebutuhan wartawan.

Awalnya, ada seorang teman yang skrinsut keluhan wartawan dari Twitter dan dilempar ke grup. Ramailah itu grup dengan curhatan masing-masing. Jangan sedih, wartawan kalau udah ghibah berjamaah itu kejam-kejam jendral! itu aib diubek-ubek, sampai dibeberin kelakuan masing-masing.

Saking sadisnya, PR rese itu sampe ditelusuri dan foto serta kantornya di skrinsut ke grup lho. Hahahaha. Jadi kalau ada PR yang merasa  kupingnya panas karena kita ghibahin, tolong komen di bawah yes?

Baca Yuk: Bandara Balikpapan Bikin Betah Jadi Berharap Delay

Nah ini keluhan wartawan yang diskrinsut itu:

"Launching sukses, influelancer top di medsos, kesannya glamour, dan premium. Tapiiiii preskon utk wartawan aja cuma ngasih aqua botol kecil dan harus menahan lapar. Padahal acara dari pagi sampai jam 12.30"

Gue sih nulis ini supaya para PR itu ngerti bagaimana memperlakukan wartawan semestinya, bagaimana  'approach' to media, bagaimana 'treat' media. Jangan bingung ketika udah bikin 2-3 event, trs event ke empat wartawannya sedikit, malah diisi sama wartawan bodrek alias gak punya media. Mau situ begitu?


Ini dia curhatan wartawan soal PR : (tolong disimak ya PR, jangan baper)

"Ada yang merasakan pertemanan jadi nggak usahlah dibaikin nanti ngelunjak," ini kata seorang wartawan senior.

"Ada yang musuhan sama media, sampai-sampai karena harus mengundang media disuruh nunggu di luar kayak pembantu. Pembantu gue aja, gue suruh duduk manis."

"Ada PR yang sehat ada yang sarap. Selama 15 tahun jadi wartawan, belakangan jadi makin sarap."

"PR banyak meraup duit dari kita yang susah dateng ke acara dia. Dia yang untung, kita keringetan doang. Emang nggak ada acara lain apa?"

"Ada PR yang undang ke luar kota pulangnya cuma dibungkusin sambel. Kayaknya itu PR udah nggak kedengeran lagi tuh." (ini contoh PR yang bangkrut broh).

"Kalau gue salut sama PR yang sibuk telpon dan tanyain, kapan terbit? Bahkan tanya halaman berapa? Kerjaanya ngapain coba? Emang nggak punya tim news track?" (ini langsung di blacklist tebel, di bold, matanya dikasih spidol item).

Ada lagi temen wartawan yang curhat panjang banget, ini gue edit yes:

"Gue diundang ke Singapura untuk launching acara TV. Malemnya disuruh kumpul di lobi untuk jalan dan menikmati Singapura. Jalan kaki keliling, tau-tau udah jam 10. Si PR gak menawarkan untuk makan malam, akhirnya para wartawan makan sendiri, pake uang sendiri. Ketika ditanya jawaban PR: Kan udah dikasih makan waktu presconf (itu jam 4 sore cuy).

Besoknya pulang ke Jakarta. Rombongan naik pesawat jam 3 sore dan sudah di bandara jam 11. Lalu setelah wartawan dianter ke bandara (PR gak ikut pulang bareng), mereka balik ke hotel. Ketika ditanya wartawan soal jadwal makan siang, jawaban PR: Kan di pesawat di kasih makanan."


Sampai Jakarta wartawan yang ikut ke Singapura bertanya ke brand (klien) yang punya acara soal cara kerja PR itu. Akhirnya perusahaan besar dan PR nya mengundang kita makan malam, dan ditolak wartawan. "Kita butuh makannya waktu di Singapura."


See? Gue yakin PR itu langsung gak dipake lagi sama kliennya setelah wartawan complain. Imej penting bro!

Gue beberapa kali bantuin PR untuk koordinator di lapangan. Alhamdulillah selama ini baik-baik saja. Perusahaan itu mengerti dan welcome ketika gue kasih masukan dan saran.

Memang banyak perusahaan yang hire wartawan atau mantan wartawan untuk menjadi bagian dari PR. Karena sesama wartawan itu mengerti bagaimana psikolognya wartawan, ngerti otaknya wartawan, ngerti harus diperlakukan seperti apa.

Bahkan, hasil browsing gue menemukan artikel di Forbes.com berjudul: How to approach journalist. Dia lebih sadis menulisnya, begini: kalau journalist itu sekelompok orang yang egois, journalist itu miskin waktu dan memiliki ego tinggi. Jangan sedih jika email-email PR itu dicuekin. Ada beberapa aturan untuk mendekati journalist agar PR 'dicintai' wartawan. (catet tuh).

Kesimpulan dan Saran:


Dari beberapa curhatan wartawan di atas gue cuma memberikan saran, ini juga berdasarkan pengalaman gue bertahun-tahun magang kerja PR di beberapa tempat. Dan pengalaman ketika ketemu PR yang rese dan menyenangkan selama jadi wartawan:

1. Komunikasi.
Kalau undang wartawan, menyapa, ngobrol dan basa basilah biar ikrib.

2. Bikin press release sepadet mungkin. Jangan bertele-tele, intinya menggambarkan acara yang berlangsung saat itu dan sebutkan siapa narsumnya.

3. Gue tau, ketika PR mendapatkan klien pasti mereka udah prepare budget yang diajukan. Include untuk makanan dan goodie bag. Hey, jangan pelit. Sediain makanan sesuai waktunya, kalau pagi sarapan, kopi, teh, makanan kecil. Kalau pas jam makan siang, sediain makanan berat, nasi dan teman-temannya. Jangan mau dapet untung gede, tapi lo pelit keluarin duit. Coba kalo lo pasang iklan di satu media? Berapa uang yang dikeluarin? Lebih gede dari biaya press conference yang bisa mencakup 10 media atau lebih.

4. Jika wartawan diundang ke luar kota atau luar negri, pastikan wartawan diservis sesuai kebutuhan. Wartawan cuma duduk manis di pesawat, nyampe di lokasi dan meliput serta mengirim berita. Mereka nggak perlu diribetin harus check in tiket sendiri, cari transpotasi dan akomodasi sendiri. Lalu pulangnya bekelin wartawan oleh-oleh khas makanan daerah itu.

*Alhamdulillah selama ini gue selalu dapet PR kece jika ada undangan ke luar kota. Fasilitas mumpuni, malah malemnya suka kuliner khas daerah itu.

5. Kalau mengundang media dan mereka hadir di sebuah acara, jangan pernah berharap media akan memuatnya. Jika lo undang 20 media, yang muat 10 media aja lo udah bersyukur banget. Jangan berharap 20 wartawan itu akan menulis. Kenapa? Tiap media mempunyai standar berita sendiri. Jika undangan itu memang layak diberitakan, pasti kantor akan memintanya. Jika ternyata hasil presconference gak bagus, itu hak wartawan untuk nggak manulisnya dan memuatnya.

Jadi jangan pernah bolak balik tanya, "kapan turun?" Sekali atau dua kali bertanya juga cukup, kalau keseringan pake ngancem segala, karir lo diujung tanduk broh.

Ngeselinya pas udah turun pake ngeluh, "kok kecil sih, kok sedikit sih?" Coba kalo lo pasang iklan kecil begitu, berapa nilanya? Cek sendiri deh.

6. Jangan pernah berfikir semua wartawan ngarepin duit, nop! Jika isu yang ditawarkan bagus dan menarik untuk diberitakan, pasti wartawan akan datang. Apalagi jika narsumnya punya nama, udah deh, itu PR bisa dipuji-puji kliennya karena berhasil memberitakan gede-gede meski cantelan si narsum.

Sepertiya segitu dulu. Gue belum bisa menulis terkait blogger, karena masih newbie dan interaksi dengan event blogger masih sedikit (gue lebih banyak curhat di blog booo).

Semoga tulisan ini bermanfaat yes.

AAL