(Review) Film Warkop DKI Reborn Jangkrik Boss Part 2, Komedi Slapstik Absurd


Nyaris setahun film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Bos Part 2 nongol lagi di bioskop. Gue tadi berharap, part 2 ini akan lebih baik dari yang pertama, ternyata....Bisa baca  resensi yang gue tulis Part 1, di sini.

Cerita di Part 1 berakhir ketika Dono (Abimana), Kasino (Vino Bastian) dan Indro (Tora Sudiro) bersama Sophie (Hannah Al Rashid) berada di bandara Kuala Lumpur dan tasnya tertukar dengan seorang wanita berbaju merah. Akhirnya mereka mendapatkan petunjuk kalau wanita itu bernama Nadia (Fazura) seorang peneliti di sebuah laboratorium di Kuala Lumpur.

Singkat cerita mereka bertemu Nadia di sebuah pantai. Nah, di pantai pasti banyak  perempuan memakai bikini. Sang sutradara, Anggi Umbara sepertinya berusaha keras untuk menyelipkan cewek-cewek seksi, pingin dimiripkan dengan film Warkop DKI yang asli. Tapi gagal sodara-sodara!! Serius gagal! Malah terlihat maksain dan murahan.

Lalu serangkaian petunjuk mengarahkan mereka, ditambah Nadia ke sebuah pulau terpencil yang angker untuk menemukan harta karun.


Tau gak, sebenarnya perasaan gue udah nggak enak ketika film sudah sampai di adegan laboratorium. Mereka bertiga disuntikkan ramuan, lalu masing-masing berubah. Ada yang payudara membesar (Kasino), ada yang tangannya jadi kepiting (Dono) dan lari secepat The Flash (Indro).  Lalu mereka bermimpi menjadi ayam warna kuning terus joget-joget. Melihat itu, gue terkesima sendiri...ini film apa siii??

Ternyata feeling gue benar adanya. Setiap plot yang disajikan nggak jelas arahnya ke mana, yang penting dibikin selucu mungkin, itupun lucu slapstik. Absurd.

Dono, Kasino dan Indro di pulau seram itu berpencar untuk menemukan Sophie dan Nadia yang hilang. Dono harus bertemu dengan kuntilanak yang menggantung di pohon. Terjadilah percakapan antara Dono dan kuntilanak yang yang dialognya diulang-ulang.

Lalu Kasino bertemu dengan pohon-pohon yang bisa bergerak dan Indro harus mengahadapi beberapa pocong yang berbadan bersar serta bertato (apa sihh??).

Menonton part 2 ini seperti dipaksakan. "Pokoknya apapun yang terjadi film warkop DKI part 2 harus jadi! Gue nggak mau tau kisahnya kayak gimana?!" gitu kira-kira film ini akhirnya dibuat.

Sutradara dan Produser seperti kehabisan ide, mau dibikin apa lagi cerita ini? Mereka seperti asal comot dengan menyajikan film cerita nggak jelas begitu. Padahal, dibikin sederhana saja, nggak usah pake embel-embel tekhnik komputer yang teknologinya sangat kedodoran. Kenapa sih harus pake begitu kalau nggak bisa?

Jujur, gue kasihan sama Abimana dan Vino Bastian yang selama ini dikenal bermain film-film berkualitas yang akting serta kualitas filmnya bisa diadu di festival  luar negri. Okelah, mereka memakai nama besar komedian legenda Dono dan Kasino, tapi hasilnya kalau kayak gini, duh kasihan sama track record mereka selama ini. Kasian juga jadi memberikan dampak buruk bagi nama Warkop yang melegenda itu.

Selain itu gue melihat bagian Dono menurut gue pasif. Padahal kekuatan ada di Dono eh Abimana, baik dalam penampilan dan akting. Tapi porsinya sedikit, di sini karakter Dono dibikin lembut, selalu mengalah dan pasrah.


Selain itu, di beberapa adegan mereka selalu mengulang-ulang kalau film Warkop ini lebih baik dari sebelumnya, dan mereka merasa main film ini sebuah paksaan karena memperlihatkan kalau mereka sedang syuting film.

1.  "Supaya serem kayak film sebelumnya," kata Kasino merujuk pada film Setan Kredit.
2. Atau ketika di hutan, ada seorang kakek yang muncul dan complain soal sinar lampu. "Ini syutingnya udah bener belom?"
3. Lalu Kasino yang pake melirik dan ngomong ke kamera.

Masih adalah beberapa kayak gitu, tadinya menarik lama-lama jadi nggak ngerti maunya apa.

Gue berharap dimasukkan lagi karakter baru, tapi sampai akhir cuma Babe Cabita sebagai big boss. Atau Rhoma Irama, itupun ambil dari penggalan filmnya yang lama. Juga Suzanna dan Barry Prima, hanya cabutan adegan film mereka tahun 70-an yang jadul banget. Parodi dari Suzanna dan Barry Prima bisa ketebak nggak laku karena nggak dikenal remaja jaman sekarang.

Jika Part 2  mengecewakan seperti ini, gue nggak tahu apakah akan dibuat yang ketiga. Melihat banyaknya penonton feeling gue sih bakal dibikin sekuel. Gue barharap sekuelnya sangat-sangat lebih baik dan profesional.  Kalau nggak ngerti teknologi komputer di film, mending nggak usah pake deh. Serius. Garap aja bagian drama dan komedinya dengan layak.

AAL



Raisa-Hamish, The Lovely Couple


Raisa-Hamish menikah, medsos jadi heboh. Nggak cuma di Instagram yang timeline isinya mereka berdua, di Twitter dan Facebook juga banyak. Nah, ketika ada beberapa temen wartawan hiburan yang bikin status di Facebook soal cara peliputan dan pengamanan untuk wartawan, gue jadi tergelitik untuk menulis. Biasalayaaaa, gue ngincer viewers yang mampir ke blog gue. Kebiasaan! *Plak *ditimpukpakedolar

Jadi mohon kesabarannya, jangan ada yang baper, gue cuma mengungkapkan fakta saja yang menarik untuk dibaca. Tolong dibaca dengan hati bersih dan tulus seikhlasnya.


Para wartawan hiburan ini sudah mulai meradang ketika dikirim undangan dan peraturan jumpa pers. Merupakan hal biasa, ketika penyelenggara acara memberikan 'riders' banyak dan ribet. (Perasaan siapa yang butuh dan membutuhkan ya. Yang butuh publikasi supaya terkenal dan banyak duit, siapa coba??? *gayanyaDono).

"Kalau nggak disuruh kantor gue juga nggak mau," kata seorang teman yang jadi wartawan di sebuah tabloid wanita.

Jadi kebanyakan wartawan yang meliput disuruh kantor, karena melihat pembaca yang banyak banget pasangan sweet ini.

Nah, (ini hasil wawancara kecil-kecilan sama temen wartawan yang datang ke jumpa pers bagaimana situasinya), mereka pada KZL ketika nggak boleh melempar pertanyaan.

"Sewaktu preskon, seolah-seolah dia hanya mengajak MC nya ngobrol, ngelihat ke samping arah MC. Begitu diteriakin lihat kamera, HD kayak nggak suka gitu," kata wartawan senior itu.

Temen infotainment malah ada yang ngomong begini: "Mending mereka kawin di Bali atau luar negri jadi nggak dikejar-kejar wartawan gini."

Hhmmmm....tanda-tanda...udah terlihat

Gue sendiri melihat pesta pernikahan mereka kayak nonton film romantis Hollywood yang happy ending, atau baca novel romantis. Kayaknya sweet banget mereka berdua, cucok meong kalau kata Syahrini. Beneran deh, bikin kepo dan baper. So perfect. Ternyata cerita romantis kayak gitu ada juga di dunia nyata. Ketika mereka saling menatap, tssaaahhhh...dunia milik berdua, orang lain cuman nyewa.

Lucunya lagi, di grup WA wartawan seleb dan gaya hidup, pasangan ini jadi trending topic lhooo hahahaha seru bangett.  Mereka sih ijinin gue untuk memposting hasil 'ghibah berjamaah' itu di sini asal di blur (eh gue berasa jadi kayak lambe turah nih, hahahha).

Tapi kayaknya nggak etis juga kalau dipublikasikan, soalnya sangat banyak untold story alias cerita soal mereka di belakang layar. Aib euy, gak boleh buka aib. Sudahlah hanya orang tertentu saja yang tahu.

Soal Raisa-Hamish dipending dulu.

Gue cuma mau cerita lain (biar panjang tulisan di blog ini), soal para artis yang karirnya sampai sekarang masih menjulang ke angkasa. Kenapa? yang pasti karena hubungan baik mereka ke wartawan, meski wartawan udah berganti orang beberapa dekade. Si artis bukan saja melihat orangnya, tapi melihat profesinya. Para artis itu tetap banyak job, tetap berkarya dan tetap banyak penggemar.

Karena para artis itu tahu soal ini:

1. Wartawan harus bertanya ke narasumber yaitu si artis (kalau nggak tanya apa yang mau ditulis?)

2. Adanya interaksi antara wartawan dan narasumber (jadi ada hubungan yang harmonis, karena dunia wartawan dan narasumber itu adalah simbiosis mutualisme. Karena pasti, suatu waktu narsum sangat butuh wartawan. Nggak percaya? Let's see and wait).

3. Jika terganggu dengan pertanyaan wartawan, bisa dijawab dengan ramah, santun dan sabar. Karena kerja wartawan itu ya bertanya, bukan menjawab. Mereka juga akan paham kalau gak dijawab.

4. Seberapapun banyak media sosial sekarang ini, narsum atau artis paham kalau wartawan itu bisa memberikan karir mereka terus panjang. Karena ketika mempublikasikan sebuah berita, sudah melewati beberapa editan yang dasarnya dipertanggung jawabkan. Bukan netizen di medsos yang
asal cablak tanpa di rem.
5.....(mikir dulu)

Kalau ini hasil dari pengamatan, pengalaman dan masukan temen-temen wartawan, artis siapa aja yang memiliki attitude menyenangkan dan enak jadi narasumber kece:

1. Krisdayanti: Dari masih ABG sampai sekarang KD itu the truly diva of Indonesia. Humble, baik, ramah dan asik banget.

2. Titi DJ: Salah satu artis favorit gue. Apa adanya, humble, apapun pertanyannya dijawab santai sambil tertawa. She's also the truly of diva, suka bangettt sama mbak titi....kayaknya mengerti keinginannya dalam hidup, meski udah 3 kali menikah, dia nggak pernah malu menghadapi wartawan ketika ditanya. Sukaaakk

3. Alm Julia Perez: Biar udah tenar, tetep tuh kasih wartawan telpon yang direct. Serepot apapun selalu dijawab, bahkan SMS dibales. Al Fatihah untuk Jupe.

4. Giring Nidji: Kalau ketem wartawan pasti salaman sambil nunduk gitu. Ternyata alm bokapnya giring wartawan, dan dia pernah ngomong kalau dia sangat menghormati profesi wartawan. Dari alm bokapnya dia tahu bagaimana kerja wartawan. See?? Ini Giring Nidji yang kondang dan karyanya hebat itu lho.

5. Armand Maulana. Gue sukak sama lagu-lagunya GIGI yang tentu hasil dari suaranya Armand juga ciptaanya dia. Kalau liputan dan gue ke mushola, pas jam sholat selalu ada Armand. Dia juga menjawab semua pertanyaan dengan santai, wartawan udah kayak temen broh!

6. Anang Hermansyah. Gue sih beberapa kali telpon dan BBM (dulu) selalu djawab, wawancara langsung jarang. Tapi ada temen infotainmen yang berbagi cerita soal Mas Anang ini. Dulu, waktu masih baru divorce sama KD, Aurel ngomongnya agak gak sopan gitu ke wartawan. Trs saat itu juga, Anang 'memerintahkan' (jah bahasanya drama), Aurel untuk minta maaf. Gudjob!

Sebenarnya masih banyak sih, tapi ini tulisan udah kebanyakan, takut pada bosen.

Yang mau komen silahkan yang santun, jangan baper broh! No hard feeling, just peace ah.

AAL

Selain dapat Klien Baru, Kerja di Coworking Space Bisa juga Ketemu Jodoh #evhiveday #newwaytowork


Apa sih coworking space? Jaman sekarang orang udah mulai ngeh apa itu coworking space, yaitu tempat kerja dimana kita berbagi area kantor dengan orang lain dari perusahaan yang berbeda. Awalnya, tempat bekerja ini berlaku bagi para pelaku startup. Tapi belakangan jadi kepake juga untuk para pekerja freelancer seperti saya, seorang blogger dan penulis lepas.

Sebelum coworking space sedang nge-hitz, sempat beredar nama SOHO (small office home office). Yakni orang yang bekerja dari rumah. Mereka membuat kantor sendiri di rumah dengan segala fasilitas yang dibutuhkan.

Nah, soal coworking space ini udah sering saya baca di koran dan majalah. Tapi kebanyakan mereka membahasnya yang ada di luar negri. Atau ada beberapa di Jakarta, bukan di kawasan Serpong, tempat domisil saya. Ketika saya mendapatkan info kalau coworking space Ev Hive ada di kawasan Serpong yakni The Breeze, BSD City yang nggak jauh dari rumah, saya semangat mendatanginya.

Mbak Tammy dan Mbak Jesslyn

Setelah janjian sama Mbak Jesslyn Darmadi bagian facility manager, sayapun datang ke The Breeze. Kebetulan juga udah sering datang ke The Breeze, lokasi Ev Hive gampang dicari kok. Gak jauh dari area panggung, dekat dengan foodcourt.

Ruang Ev Hive di The Breeze didominasi tembok kaca. Jadi dari luar pendatang The Breeze bisa melihat aktifitas orang di dalamnya. Terlihat menarik bangunannya didesain miring, belum lagi The Breeze memang didominasi dengan ruang terbuka yang banyak tumbuh pepohonan. Jadi suasananya adem, nyaman, cozy dan bisa banget fokus kerja tapi santai.


Masuk ke dalam ada meja penerima tamu, di sana ada Mbak Tammy Benjamin bagian community manager yang menyambut dengan ramah. Di belakang ruangan penerima tamu ada ruangan lebih luas yang terdiri dari beberapa meja panjang yang disusun rapi dan terdapat 8 kursi di tiap meja. Di sebelah kiri ada beberapa meja bulat serta kursi. Sedangkan sebelah kanan ada beberapa ruang kecil tertutup, itu adalah private office. Para pelaku start up yang baru berdiri dan memiliki karyawan sedikit biasanya menyewa tempat itu untuk hitungan bulan.

Ujung ruang itu ada dua sofa menempel di tembok, nah saya duduk di situ, sambil memantau kondisi ruangan dan mengamati penduduknya yang sibuk beraktifitas. Di sebelah kanan gak jauh dari sofa ada kantin Ev Hive atau dapur kopi. Ini bisa dibilang dapur mini. Yang datang bisa minum sepuasnya gratis. Ada kopi, teh dan sirup.


Di sebelah kantin ada tembok (mirip mading) isinya informasi dan event di Ev Hive serta para anggota di Ev Hive yang biasanya menempati private office.

Keuntungan Kerja di Ev Hive 
Lagi ada acara komunitas, makanannya menggodakan

1. Komunitas
Banyak banget keuntungan kerja di coworking space, dalam hal ini Ev Hive. Pas saya datang kebetulan lagi ada acara komunitasnya. Itu keren banget, satu persatu anggota komunitas muncul menenteng makanan.

Menurut Mbak Tammy, hari itu pas lagi ada pertemuan rutin para anggota komunitas dengan sistem potluck (masing-masing membawa makanan). Komunitas itu memiliki grup di WA untuk memudahkan komunikasi satu sama lain.

"Nanti ikutan aja makan siang mbak, makanannya banyak kok," kata Mbak Tammy. Untung Mbak Tammy nggak melihat mata saya berbinar-binar bahagia ketika mendengar kata makan. Ah tau aja perut saya bunyi-bunyi pas waktunya makan siang. Lols.

Ternyata penduduk Ev Hive banyak juga, tanpa diduga mereka muncul satu persatu, keluar dari 'sarangnya' taaraaaaa.  Gaya mereka kayak orang ngantor beneran aja, maksudnya meski kerja di coworking space, mereka juga tampil profesional.

Mengamati anggota komunitas Ev Hive seperti mengingat masa muda (heheh). Terlihat heboh, penuh tawa dan canda. Menariknya, meski dari perusahaan berbeda, saya lihat mereka ikrib (baca: akrab) satu sama lain. Saling lempar ledekan lalu dibarengi tawa. Ih, asik bangettt, suwer deh. Seneng liatnya.

2. Dapet temen dari keahlian dan latar belakang berbeda

Melihat suasana yang asik itu, saya iseng 'ngegerecokin' salah satu penghuni Ev Hive yang sedang asik kerja sendiri. Untung dia bersedia ngobrol dan berbagi cerita bagaimana menghabiskan waktu bekerja Ev Hive.
Kayes, pemalu ketika difoto

Adalah Kayes, seorang cowok 29 tahun yang nyaman dengan penampilannya khas seorang freelancer. Rambut agak kriwil, pake kaos dan jeans. Dia bekerja sebagai graphic desainer yang statusnya freelancer.

Dia mengaku sudah 9 bulan ngantor di Ev Hive BSD. Selama itu pula, dia sudah memiliki banyak teman dari bidang yang berbeda yang tentunya banyak mendapatkan ilmu baru.

"Biasanya, menjelang mau selesai di malam hari, kita suka saling sharing dan diskusi. Dari sana jadi kayak kebangun link dan temen baru," kata Kayes.

3. Dapet klien baru
Kayes juga mengaku selama bekerja di Ev Hive dia sudah mendapatkan tiga tawaran kerja, wow! Dia sangat bersyukur bisa berada di EV Hive karena untuk mendapatkan klien tidak semudah dibayangkan. Dengan banyak ngobrol serta sharing kerjaan, ternyata bisa mendapatkan tawaran kerja  dari tempat yang tak terduga.

"Dari sharing kerjaan dan ngobrol jadi bisa dapet kerjaan. Karena yang ada di sini punya keahlian berbeda-beda, kita bisa saling kolaborasi dan berbagi ilmu," kata Kayes.

Dari bekerja di coworking space, selain bisa mendapatkan wawasan dari bidang berbeda, serta bisa mendapatkan teman baru. Bahkan kita bisa pula jadi tahu kesalahan yang kita lakukan misal dari marketing, manajemen proyek dan soal pendanaan.

Sebelum nongkrong Ev Hive untuk bekerja, Kayes biasanya kerja dari rumah atau coffe shop. Menurutnya jika bekerja di rumah justru nggak fokus. "Waktunya kerja malah tidur, pas waktunya tidur malah kerja terus," katanya tertawa.

Sedangkan kerja di coffe shop membutuhkan uang yang tidak sedikit. Selain itu, dengan kondisi cafe yang ramai, Kayes mengaku kurang bisa fokus. Waktu yang dibutuhkan di coffe shop juga tidak bisa selama ketika bekerja di coworking space.

Ada satu masukan Kayes untuk Ev Hive di The Breeze BSD. "Adain shower. Soalnya saya kalau datang pakai sepeda, apalagi The Breeze enak buat sepedaan. Jadikan keringetan, sebelum kerja bisa shower dulu," kata Kayes. Oke noted!

4. Bisa dapet jodoh
Nggak percaya kalau kerja di coworking space bisa dapet jodoh? Hasil dari pengamatan saya selama nangkring di Ev Hive, mungkin banget bisa ketemu jodoh dari perusahaan yang berbeda.

Bagaimana nggak. Meski berada di ruangan yang berbeda, tentunya setiap hari bertemu karena adanya interaksi di flexi desk atau dapur kopi atau acara komunitas yang tentunya bisa menumbuhkan benih-benih cinta (eeaaa).

Ternyata dugaan saya itu benar adanya yang diperkuat dengan pernyataan Mbak Jesslyn. "Di sini yang cinlok banyak. Bahkan ada ketika masing-masing mau keluar (kontrak ruangan kerja selesai), mereka jadian," katanya. Waaahh... ayo yang berasa jomblo datang ke Ev Hive, Lols.

Fasilitas dan Biaya di Ev Hive


Nah, setelah membaca di atas tentu kepingin tahu berapa biayanya. Ev Hive ternyata juga memiliki banyak cabang. Selain di The Breeze BSD, Ev Hive juga ada di:

1. EV Hive Tower @IFC Building, di Jalan Sudirman, Jakarta.
2. EV Hive Satellite @Equity Tower di SCBD, Jakarta Selatan.
3. The Maja, di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
4. D.Lab, di Menteng, Gondangdia, Jakarta Pusat.
5. Dimo, di Sarinah, Jakarta Pusat.
6. Jakarta Smart City (JSC) Hive, di Karet Kuningan, Jakarta Selatan. (Bekerja sama dengan Pemprov DKI).

Nah ini harga dan fasilitasnya:
1. Daily Pass.
Ini untuk harian hanya cukup membayar Rp 50 ribu/hari. Fasilitasnya bisa mendapatkan koneksi internet yang kece, juga dapur kopi.

2. Flexi Desk
Ini ruang kerja yang suka bekerja dengan tim. Ruangan ini terdiri dari beberapa meja panjang yang disusun rapi dan terdapat 8 kursi di tiap meja. Cukup dengan membayar Rp.1.000.000/bulan bisa mendapatkan fasilitas koneksi internet, dapur kopi, gratis akses ke semua lokasi EV Hive di Jakarta serta gratis mengikuti semua event EV Hive. Jadi misalnya, saya mendaftar di BSD City, suatu hari butuh bekerja di Jakarta, nah saya bisa datang ke Ev Hive di The Maja atau Sudirman tanpa perlu membayar lagi.

3. Dedicated Space
Ruangan kerja Dedicated Desk sangat cocok untuk yang mengerjakan proyek jangka panjang bersama tim. Suasana ruangan ini didesain seperti nuansa alam yang damai sehingga dapat bekerja tanpa gangguan bising dari luar. Untuk menikmati ruangan ini hanya membayar Rp.2.000.000/bulan dan dapatkan fasilitas seperti, koneksi Internet, dapur kopi, lemari arsip, gratis menggunakan fasilitas ruang meeting, gratis mengakses printing dan gratis mengikuti semua event EV Hive.

Selain di atas, Ev Hive juga menyediakan sebuah ruangan kerja khusus untuk tim besar yang menginginkan kerahasiaan kantor yang aman. Untuk mendapatkan servis ruangan ini, hanya cukup membayar Rp.4.000.000/bulan dengan beragam fasilitas di dalamnya yang tentunya akan meningkatkan kinerja tim.

Fasilitasnya: Koneksi internet yang cepat, dapur kopi, gratis menggunakan fasilitas ruang meeting, gratis menggunakan fasilitas event space untuk agenda event, gratis mengakses printing, dan gratis mengikuti semua event EV Hive.

Oiya, Ev Hive buka selama hari kerja saja, Senin-Jumat. Mulai pukul 09.00 pagi sampai 20.00 malam. Tapi jika daftar untuk dedicated space bisa mendapatkan kunci sendiri jika ingin bekerja di hari libur.

Nah, ada lagi yang istimewa nih. Taukan hari gini parkir mahal banget, perjam Rp 3000 atau 4000. Kebayang jika di Ev Hive selama 10 jam saja sudah keluarkan biaya parkir Rp 30 ribu jika perjam Rp 3000. Nah, jika sudah daftar di Ev Hive The Breeze BSD City, bisa mendapatkan biaya parkir murah. Selama 1 bulan hanya membayar Rp 180 ribu. Asik kan.

Alia Fathiyah