Heboh Beras, Konsumen Indonesia Kurang Perduli dengan Gizi di dalam Beras


Isu beras yang melibatkan dua merk beras terkenal yaitu Mak Nyuss dan Ayam Jago sedang ramai ditulis media. Kini, pemberitaan semakin melebar dan dikaitkan dengan permainan orang-orang kelompok ekslusif (baca: politik).

Gue yang nggak ngerti politik dan emoh ngebahasnya di blog, lebih kepada ingin memaparkan hasil ngobrol dengan Prof Dr Ir Hardiansyah MS: Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia. Memang isi wawancaranya nggak banyak, karena bukan wawancara ekslusif yang bisa membahas sampai detil.

Jadi kebetulan, gue ditugasin kantor untuk memenuhi undangan PT Unilever Indonesia, Tbk., yang kembali menyelenggarakan Jakarta Food Editor’s Club (JFEC) Gathering, di Grha Unilever, BSD City, Selasa 25 Juli 2017.

Karena narasumbernya Pak Hardianyah kayaknya pas banget ditanyain soal beras. Pertanyaan gue juga nggak mau yang berat, lebih kepada ingin menyuarakan ketidaktahuan orang awam soal beras yang baik itu seperti apa.

Menurut Pak Hardiansyah, selama ini masyarakat Indonesia nggak terlalu perduli dengan nilai gizi dan kesehatan yang terkandung di dalam beras. Bahkan, tak banyak konsumen yang membaca label pada kemasan beras (termasuk gue, uhuk). Yang dilihat konsumen adalah beras itu terlihat bersih, putih, wangi dan enak dimakan. Padahal, bisa jadi putih dan wangi itu hasil dari zat kimia yang tentunya bisa berdampak kepada kesehatan.

Kata Pak Hardiansyah, konsumen mulai aware dengan gizi ketika kena penyakit, misalnya diebetes. Mereka mulai mencari makanan atau beras yang kandungan serat tinggi sehingga bisa meminimalisir glukosa darah.

"Itu prilaku umum masyarakat Indonesia dalam memilih pangan termasuk beras," kata Hardiansyah di Jakarta Food Editor's Club 2017, Grha Unilever, BSD City Selasa 25 Juli 2017.


Jangan sedih, di Inggris saja, yang masuk kategori negara maju itu, hanya 35 persen rakyatnya yang membaca label pada kemasan. Tapi bukan berarti kita juga jadi cuek, karena dengan membaca label pada kemasan (semua label makanan yegenks), bisa mengukur gizi yang dikonsumsi.

Menurutnya, label dalam kemasan adalah salah satu cara pemerintah untuk mendidik konsumen agar mengetahui kualitas pangan tersebut. Sedangkan jika konsumen ingin menelti zat kimia yang digunakan dalam beras, misalnya pemutih, sangat sulit untuk dibuktikan sendiri.

"Kita percaya sebuah pangan telah terregistrasi oleh dinas kesehatan, BPOM. Masyarakat harus percaya pada label di kemasan, kecuali jika ada tes yang dilakukan oleh badan independen dan terbukti tidak sesuai, BPOM yang disalahkan," katanya.

Tapi Pak Hardiansyah emoh menjawab detil soal beras import yang banyak masuk ke Indonesia. Beras impor tentunya langsung dijual ke masyarakat tanpa lebih dulu melewat Badan Standar Nasional Indonesia (BSNI).

"Beras curah itu nggak ada label. Standar pembeli itu hanyalah warna yang putih, nggak berwarna, nggak ada krikil dan tak banyak pecahan," katanya.

Ini mengingatkan gue beberapa waktu lalu ketika ke pasar dan membeli beras untuk membuat ketupat. Gue membeli beras curah, kalau dari penampakan sih bagus , dan ketika gue masak hasilnya juga tidak mengecewakan. Tadi niatnya jika beras di rumah bermerk dan berlabel yang udah seperempat karung itu habis, gue akan membeli beras curah itu. Tapi ketika mendengar pejelasan Pak Hardianyah sepertinya gue batal. Karena lebih baik beli beras dengan kemasan yang ada labelnya, dan harga memang lebih mahal, karena mutu serta gizi lebih terjamin (yegak genks).


Nih, ada sedikit artikel soal beras.

Dalam bisnis beras, ada beberapa istilah kualitas beras, misalnya untuk premium, super, atau kualitas tinggi.  Bagi Indonesia, beras kualitas standar yang ditetapkan dalam SNI (Standar Nasional Indonesia), dimana diklasifikasikan dalam 5 (lima) kelompok, yaitu kualitas 1 sampai 5. Sebagai contoh untuk mutu ISO 3 sebagai berikut: Komponen derajat penggilingan minimal 95%; kelembaban maksimum 14%, butir kepala minimum 78%; maksimal butir patah 20%, butir menir maksimum 2%, butir merah maksimum 2%, butir kuning / rusak maksimum 2%, kapur butir maksimum 2%, hal asing maksimum 0,02% dan butir gabah maksimal 1.

Pemerintah Indonesia juga telah menetapkan persyaratan standar untuk stok nasional beras, melalui Instruksi Presiden. Berbasis Instruksi, standar beras yang dibeli pemerintah adalah meliputi minimal 95% tingkat penggilingan; maksimum 20% rusak, butir menir maksimum 2% dan maksimum kadar air 14%. Persyaratan kualitas beras yang ditetapkan oleh pemerintah bertujuan untuk stok pemerintah, sehingga persyaratan kadar air sangat penting. Hal ini disebabkan oleh penyimpanan yang lama, kondisi laboratorium kadar air maksimum 14%. Jika persyaratan kualitas tidak terpenuhi, nasi cepat akan menurun kualitasnya.

Beberapa Jenis Beras yang ada di Masyarakat (Ini gue juga baru ngeh):

Jika ingin memilih beras sesuai dengan jenis yang Anda inginkan, harus diperhatikan ciri-ciri beras sesuai dengan jenisnya. Setiap jenis beras memiliki ciri-ciri khusus yang dapat Anda perhatikan.

a. Pandan Wangi
Ciri khas beras pandan wangi adalah aromanya yang wangi pandan. Namun sering pula terdapat beras yang wangi pandan karena zat pewangi kimia. Namun masih terdapat ciri yang lainnya yang bisa membantu agar Anda tidak salah pilih, yaitu beras pandan wangi tidak panjang, tetapi cenderung bulat. Jika terdapat beras dengan biji yang panjang, tetapi wangi hampir dapat dipastikan beras tersebut telah dicampur dengan pewangi kimia. Selain bulat beras pandan wangi juga berwarna sedikit kekuningan tapi tidak putih namun bening.

b. IR 64 / Setra Ramos
Beras IR 64 atau Setra Ramos adalah beras yang paling banyak beredar di pasaran, karena harganya yang terjangkau dan relatif cocok dengan selera masyarakat perkotaan. Normalnya beras jenis ini pulen jika dimasak menjadi nasi, namun jika telah berumur terlalu lama (lebih dari 3 bulan) maka beras ini menjadi sedikit pera, dan mudah basi ketika menjadi nasi. Beras ini memiliki ciri fisik agak panjang / lonjong, tidak bulat. Beras ini tidak mengeluarkan aroma wangi seperti pandan wangi, namun seringkali pabrik / pedagang beras menambahkan zat kimia pemutih, pelicin dan pewangi pada beras ini. Maka berhati-hatilah jika menemui beras dengan bentuk lonjong, namun mengeluarkan aroma wangi, bisa jadi beras tersebut telah ditambahkan pewangi kimia.

c. Rojolele
Beras Rojolele memiliki ciri fisik cenderung bulat, memiliki sedikit bagian yang berwarna putih susu, dan tidak wangi seperti beras pandan wangi. Nama Rojolele biasanya adalah sebutan dari daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur, namun untuk daerah Jawa Barat dan beberapa daerah lain terkadang beras ini biasanya disebut Beras Muncul.

d. IR 42
Beras IR 42 bentuknya tidak bulat, mirip dengan IR 64 namun ukurannya lebih kecil. Beras ini jika dimasak nasinya tidak pulen, namun pera sehingga cocok untuk keperluan khusus seperti untuk nasi goreng, nasi uduk, lontong, ketupat dan lain sebagainya. Biasanya harganya relatif lebih mahal daripada IR 64 karena beras ini jarang ditanam oleh petani.

e. Beras C4
Ciri fisiknya mirip seperti beras IR42 namun sedikit lebih bulat, seperti IR64 namun lebih kecil. Beras ini masih sangat jarang ditemui di pasaran, karena jarang ditanam oleh petani. Nasinya pulen seperti IR64, namun lebih pulen. (Sumber: tester kadar air.com)

Oke genks, udah ngerti lahya soal beras. Yuk, kita sejahterakan petani Indonesia, daripada pemerintah impor beras terus yang kita nggak tahu kualitas gizinya. Semoga tulisannya bermanfaat yes.

ALIA F

Pengalaman Pijat Syaraf di Haji Zein Ki Santri

Haji Zein in action (google)


Sejak awal 2015, bell's palsy yang menyasar syaraf ketujuh di wajah saya belum sembuh 100 persen.

Cerita awalnya bisa baca di sini: Hamil Kena Bell's Palsy

Meski udah pengobatan fisioterapi sampai tuntas dari yang disarankan dokter, tapi wajah saya belum normal sepenuhnya. Lama kelamaan, mata kiri lebih sipit dari yang kanan, kantong mata kiri lebih terlihat jelas dibanding kanan, kalau tertawa lebih kecil, pokoknya yang membutuhkan aktivitas wajah, pasti mata kiri merem sebelah.

Saya udah pasrahlah.

Baca Juga:
Ke Semarang: Pertama Kali Naik Kereta Api dengan Anak Kecil
Pengalaman Berobat Tumor di dr Paulus W Halim di BSD City

Lalu beberapa bulan lalu, suami yang kena hamstring sejak 2014 (ada yang bilang itu saraf kejepit, ada yang bilang hamstring. Entahlah, ke beberapa dokter diagnosa beda-beda terus), direkomendasi ke Haji Zein di Padepokan Ki Santri, di kawasan Jatiasih Kota Bekasi Jawa Barat.

Suami yang juga sudah ikhtiar ke beberapa dokter dan tukang urut ternyata merasa cocok di sini. Ada progress membaik setelah diurut Haji Zein. Melihat itu, saya merasa punya harapan baru untuk ngebenerin wajah imut ini supaya normal lagi. Pokoknya yang berhubungan dengan syaraf, katanya Haji Zein jagonya.

Pertama kali ke sana malem jam 19.00 sama suami dan si bontot dibawa. Itu sekitar bulan Desember 2016. Rame banget karena mau musim libur. Masuk ke Ki Satri disambut satpam, lalu diminta parkir di belakang dekat mesjid mewah yang didominasi warna hijau.

Lokasi Ki Santri luas. Ketika dari pintu masuk, ada rumah besar itu tempat untuk diurut. Ruangan sebelahnya ada beberapa pegawai yang siap untuk membantu pasien refleksi sambil menunggu haji Zein, dengan bayar seikhlasnya. Yang datang ke tempat itu beragam, dari kalangan bawah, tengah sampai atas. Terlihat dari penampilan dan kendaraan yang dibawa. Semua punya satu tujuan, pingin sembuh.
google

Pasien diberi nomor antrian oleh satpam di depan ruangan sekaligus ditulis namanya di sebuah buku besar.

Setelah menunggu berjam-jam, Haji Zein nongol juga. Dari jam 19.00, si pak haji muncul almost jam 24.00. Mau kesel? Silahkan. Kita yang butuhkan. Tadinya saya penasaran seperti apa bentuknya Haji Zein yang terkenal itu. Sampai banyak orang yang rela menunggu berjam-jam. Ternyata masih muda, usia sekitar 40 tahun, terlihat tubuhnya tegap kuat, nggak begitu tinggi. Di bagian sisi rumah memang terlihat ada alat nge-gym sama moge alias motor gede.

Haji Zein prioritaskan yang urgent dulu, alias pasien yang nggak bisa jalan, di kursi roda, atau anak-anak yang punya kelainan di tubuhnya. Jadi pasien duduk berjejer membuat shaft. Dari ujung Haji Zein memegang pasien, terlihat mulutnya komat kamit. Hanya memegang hitungan menit, sebentar banget, dia pindah ke pasien satunya.

Setelah pasien urgent selesai baru pasien biasa seperti saya gini. Dipanggil nomor berurutan duduk sesuai nomor. Saya dengan seksama dan sebenar-benarnya memperhatikan bagaimana Haji Zein bekerja. Pasien duduk membelakangi, lalu dari belakang Haji Zein melingkarkan tangannya di sebatas bahu dan ditarik badan ke belakang. Lalu dia mulai memencet bagian yang sakit . Ketika saya bilang bell's palsy, dia meminta saya untuk memonyongkan mulut.

"Sedikit lagi," katanya. Maksudnya sedikit lagi bisa sembuh, yeay.

Lalu dia memencet bawah mata antara dekat hidung, seperti ada yang kesetrum, sakit, mata saya berair. Dia meminta saya datang lagi 3 hari kemudian. Karena waktunya nggak ketemu, alias sibuk alias jauh dari Serpong saya datang lagi setelah dua bulan kemudian (kayak nggak niat mau sembuh ya, lols).

Baca: Begini Suka Duka untuk Jadi Freelancer

Ternyata sudah berubah cara pendaftarannya. Untuk mendapatkan nomor harus membayar Rp 50 ribu, jadi sudah tidak seikhlasnya lagi seperti sebelumnya.

Baca Juga: Sisi Lain Tamar Djaja, Perintis Kemerdekaan Tanpa Nama

Saya sempat bertanya kenapa sekarang bayar. Katanya agar lebih teratur dan itu peraturan baru. Mungkin karena bayar seikhlasnya orang seenaknya aja masukin duit. Saya pernah liat seorang ibu nggak memasukkan uang di sebuah kotak, dia malah kasih uang ke satpam. Ibarat kondangan, di dalam amplop pas dibuka ada yang kasih seceng, goceng, malah ada yang kosong. Kebangetan bangetkan.

Selain itu, saya juga baru tau ada jam praktek sore hari sampai menjelang  maghrib. Karena saya nggak pernah datang sore, jadi nggak ada bayangan bagaimana situasinya.

Kebanyakan pasien yang saya tanya, mereka ada kemajuan membaik setelah berobat ke Haji Zein Ki Santri itu. Misal, ibunya nggak bisa melihat. Udah beberapa kali ke Haji Zein ada kemajuan matanya bisa bekerja dengan baik. Juga ada anak-anak yang sejak lahir bermasalah sampai susah jalan, dan masih banyak kasus lain. 

Baca: Sempat Tolak Anak Nyantri, Akhirnya Anak Masuk Pesantren

Suami hingga kini masih rutin datang ke Haji Zein ketika kambuh hamstringnya. Walau belum sembuh, paling nggak, sepulang dari haji Zein dia nggak mengeluh dan meng-aduh-aduh lagi. Kata semua dokter si, hamstring nggak bisa sembuh, hanya mengurangi rasa sakit saja. Entahlah, wallahualam.

Kalau saya, sudah ikhlaslah. Untuk saat ini saya absen dulu ke Haji Zein. Selain menunggu lama, tengah malam dan bawa si bontot, mungkin nanti ada waktunya ke sana lagi.

Mentemen yang ingin ke Haji Zein dan ada masalah dengan syaraf, silahkan dicoba. Banyak pula yang berhasil asal sabar dan ihktiar. Artis-artis banyak juga kok yang jadi langganan, tapi tentunya ngga kayak orang bisa menunggu rame-rame.

Untuk pasien istimewa biasanya Haji Zein menyediakan waktu khusus. Atau mendatangi rumahnya di kawasan Prapanca dengan membayar Rp 350 ribu. Di sana kabarnya nggak antri dan menunggu lama. Si Suami awal berobat ke Prapanca, karena merasa enak diapun mendatangi Ki Santri. Insya Allah, ikhtiar aja.

Noted: Saking banyaknya yang japri soal lokasi rumah Haji Zein di Prapanca, info yang didapat dari paksu, lokasinya di pinggir jalan dengan rumah putih, bisa tanya satpam. Beliau hanya weekend praktek.

Semoga tulisan ini bermanfaat ya.

AAL

(Review) Film Spider-Man: Homecoming, Superhero Rasa ABG



Uhuyy.. Spider-Man is Back!!. Gue dapet kesempatan nonton duluan sebelum tayang di bisokop (curang!). Yahh, maklumlah eyke kan wartawan, jadi diundang lebih cepet untuk nulis resensinya boo.

Nggak sah kalau nggak ngebandingin dengan Spider-Man sebelumnya. Seperti si Tobey Maguire (2002) yang culun, dan jauh dari ganteng. Dengan latar pekerja sebagai seorang fotografer. Di sini, Spider-Man Tobey lebih ke kelam, serius, dan penyendiri. Kayaknya susah mulu, di rumahdengan bibinya atau dimaki-maki bosnya.

Lalu si ganteng Andrew Garfield pada 2012 mencoa 'memecahkan' karakter Spider-Man yang culun. Dengan latar anak kuliah, Peter Parker ini kayaknya lebih sering galaunya, karena cintanya pada Gwen. Di sini udah mulai tampil Spider-Man yang lucu, ceriwis dan nyeletuk terus. Mungkin karena cinlok si Garfield dan Emma Stone, jadi film ini lebih ke romantis. Ada beberapa adegan yang bikin penonton baper.

Nah, yang terbaru si Tom Holland, aktor dan penari asal Inggris. Menampilkan Spider-Man  anak ABG di usia 15 tahun. Marvel sepertinya mencoba seperti kembali ke konsep awal dari komik superhero dari laba-laba ini. Film keluaran Marvel ini membawa cerita kembali ke seting sekolah SMA .

Jangan bayangkan ada manusia yang berubah menjadi mosnter, munculnya mutan atau ada kiamat di kota New York  seperti sebelumnya.

Cerita masih nyambung dengan kisah Avengers terakhir di mana Peter Parker (Tom Holland)  direkrut Tony Stark (Robert Downey Jr) untuk bergabung dengan tim Avengers. Sejak itu, Starks merasa Peter adalah tanggung jawabnya dengan menyuruh asisten pribadinya  Happy Hogan (Jon Favreau) untuk mengawasi. Kostum Spider-Man yang diberikan Tony diberikan alat pengawas.

Bersamaan dengan itu, Adrian Toomes (Michael Keaton) seorang kontraktor merasa kesal dengan sekelompok elit yang melarangnya melanjutkan pekerjaan dengan membersihkan alat-alat paska perang Avengers itu. Kemarahannya itu dilampiaskan dengan membuat senjata mematikan dari barang-barang aliens yang sempat dibawanya.

Toomes juga membuat kostum dari alat tersebut yang bisa terbang dengan kekuatan mumpuni, yang disebutnya Vulture.

Pertemuan Spidey dengan kelompok Vulture ini juga tidak sengaja. Peter yang 'mati gaya' menunggu 'panggilan dari Happy untuk bergabung di misi selanjutnya, bertemu dengan anak buah Vulture yang sedang merampok uang di ATM. Dari sana, Peter menyadari ada senjata mematikan yang sedang beredar.

Untuk Spider-Man kali ini, Peter diberikan seorang sahabat setia Ned (Jacob Batalon), seorang anak cowok gendut yang setia dengan Peter. Hanya Ned yang tahu identitas asli Peter Parker sebagai Spider-Man.

Beberapa adegan lucu dengan dialog lucu pula, sehingga film ini 'enteng' ditonton. Bukan saja dari konsep anak remaja, untuk musuh, konflik serta tampilan kerusuhan di film dibuat tidak bombastis.
Sang sutradara 'main aman' dengan memberikan konflik yang mudah. Bahkan ketika Spider-Man harus berhadapan dengan Vulture, kerusakan yang terjadi terbilang minim. Jon Watts, si sutradara hanya menampilkan khas karakter anak remaja yang menggunakan emosi tanpa berfikir panjang. Suka-sukaan sama cewek, dibully, merasa udah hebat karena ikutan misi Avengers atau ikutan lomba 'Cerdas' Cermat'.

Konflik 'aman' nya bisa dilihat seperti di adegan di kapal laut yang terpotong dua. Spider-Man kebingungan apa yang harus dilakukannya agar tak ada korban jiwa. Tiba-tiba... terettereettt...muncul sang penyalamat yang tak lain Iron Man. Seperti anak yang selalu dilindungi bapaknya.

Mungkin untuk ukuran anak-anak remaja film ini terbilang baik, cerminan mereka, tapi untuk pecinta Spider-Man dan superhero lainnya masuk kategori dewasa, film ini kurang greget dan tidak menaikkan adrenalin.

Hanya banyak bagian-bagian lucu, ketika Spider-Man terperangkap di dalam gudang. Ketika dia interaksi dengan Ned dan teman-temannya di sekolah, ketika dia gagal melakukan interogasi ke penjahat, ketika dia mencoba menjadi superhero dengan banyak membantu orang tapi justru dicela. Sepertinya bagian itu yang bikin penonton tertawa.

Jon Watts juga menampilan multi kultural di film ini. Tengok saja, teman-teman Peter dipilih dari berbagai budaya. Mulai Ned dari Hawaii, Michelle dari Meksiko, Liz dari perpaduang Afro Amerika, Manuel yang sering mem-bully-nya dari India.

Selain itu, penjahat dan cerita yang diberikan mampu dicerna penonton remaja yang memang seusianya. Tidak perlu ada monster kadal, atau manusia pasir atau profesor yang berubah menjadi robot kepiting.
Tom Hollad terbilang berhasil menjadi Spider-Man jika ingin dibandingkan dengan dua karakter sebelumnya. Sedangkan Michael Keaton, yang pernah menjadi Batmann itu mampu menjadi Vulture yang membahayakan . Michael Keaton lagi-lagi mampu menampilkan sosok penjahat yang santai tapi mematikan.

Yang bikin gue ikut deg-degan (baper), ketika Peter di dalam mobil bersama Liz untuk pergi ke pesta dansa sekolah. Udah ah, bagian ini yang spoiler. Anyway, film Spider-Man homecoming terbilang lumayan, pas untuk tontonan anak-anak remaja. Judulnya mungkin bukan Spider-Man doang, tapi Spider-Man dan Iron Man, Lolss.

ALIA F