Thursday, July 27, 2017

Heboh Beras, Konsumen Indonesia Kurang Perduli dengan Gizi di dalam Beras


Isu beras yang melibatkan dua merk beras terkenal yaitu Mak Nyuss dan Ayam Jago sedang ramai ditulis media. Kini, pemberitaan semakin melebar dan dikaitkan dengan permainan orang-orang kelompok ekslusif (baca: politik).

Gue yang nggak ngerti politik dan emoh ngebahasnya di blog, lebih kepada ingin memaparkan hasil ngobrol dengan Prof Dr Ir Hardiansyah MS: Ketua Umum Pergizi Pangan Indonesia. Memang isi wawancaranya nggak banyak, karena bukan wawancara ekslusif yang bisa membahas sampai detil.

Jadi kebetulan, gue ditugasin kantor untuk memenuhi undangan PT Unilever Indonesia, Tbk., yang kembali menyelenggarakan Jakarta Food Editor’s Club (JFEC) Gathering, di Grha Unilever, BSD City, Selasa 25 Juli 2017.

Karena narasumbernya Pak Hardianyah kayaknya pas banget ditanyain soal beras. Pertanyaan gue juga nggak mau yang berat, lebih kepada ingin menyuarakan ketidaktahuan orang awam soal beras yang baik itu seperti apa.

Menurut Pak Hardiansyah, selama ini masyarakat Indonesia nggak terlalu perduli dengan nilai gizi dan kesehatan yang terkandung di dalam beras. Bahkan, tak banyak konsumen yang membaca label pada kemasan beras (termasuk gue, uhuk). Yang dilihat konsumen adalah beras itu terlihat bersih, putih, wangi dan enak dimakan. Padahal, bisa jadi putih dan wangi itu hasil dari zat kimia yang tentunya bisa berdampak kepada kesehatan.

Kata Pak Hardiansyah, konsumen mulai aware dengan gizi ketika kena penyakit, misalnya diebetes. Mereka mulai mencari makanan atau beras yang kandungan serat tinggi sehingga bisa meminimalisir glukosa darah.

"Itu prilaku umum masyarakat Indonesia dalam memilih pangan termasuk beras," kata Hardiansyah di Jakarta Food Editor's Club 2017, Grha Unilever, BSD City Selasa 25 Juli 2017.


Jangan sedih, di Inggris saja, yang masuk kategori negara maju itu, hanya 35 persen rakyatnya yang membaca label pada kemasan. Tapi bukan berarti kita juga jadi cuek, karena dengan membaca label pada kemasan (semua label makanan yegenks), bisa mengukur gizi yang dikonsumsi.

Menurutnya, label dalam kemasan adalah salah satu cara pemerintah untuk mendidik konsumen agar mengetahui kualitas pangan tersebut. Sedangkan jika konsumen ingin menelti zat kimia yang digunakan dalam beras, misalnya pemutih, sangat sulit untuk dibuktikan sendiri.

"Kita percaya sebuah pangan telah terregistrasi oleh dinas kesehatan, BPOM. Masyarakat harus percaya pada label di kemasan, kecuali jika ada tes yang dilakukan oleh badan independen dan terbukti tidak sesuai, BPOM yang disalahkan," katanya.

Tapi Pak Hardiansyah emoh menjawab detil soal beras import yang banyak masuk ke Indonesia. Beras impor tentunya langsung dijual ke masyarakat tanpa lebih dulu melewat Badan Standar Nasional Indonesia (BSNI).

"Beras curah itu nggak ada label. Standar pembeli itu hanyalah warna yang putih, nggak berwarna, nggak ada krikil dan tak banyak pecahan," katanya.

Ini mengingatkan gue beberapa waktu lalu ketika ke pasar dan membeli beras untuk membuat ketupat. Gue membeli beras curah, kalau dari penampakan sih bagus , dan ketika gue masak hasilnya juga tidak mengecewakan. Tadi niatnya jika beras di rumah bermerk dan berlabel yang udah seperempat karung itu habis, gue akan membeli beras curah itu. Tapi ketika mendengar pejelasan Pak Hardianyah sepertinya gue batal. Karena lebih baik beli beras dengan kemasan yang ada labelnya, dan harga memang lebih mahal, karena mutu serta gizi lebih terjamin (yegak genks).


Nih, ada sedikit artikel soal beras.

Dalam bisnis beras, ada beberapa istilah kualitas beras, misalnya untuk premium, super, atau kualitas tinggi.  Bagi Indonesia, beras kualitas standar yang ditetapkan dalam SNI (Standar Nasional Indonesia), dimana diklasifikasikan dalam 5 (lima) kelompok, yaitu kualitas 1 sampai 5. Sebagai contoh untuk mutu ISO 3 sebagai berikut: Komponen derajat penggilingan minimal 95%; kelembaban maksimum 14%, butir kepala minimum 78%; maksimal butir patah 20%, butir menir maksimum 2%, butir merah maksimum 2%, butir kuning / rusak maksimum 2%, kapur butir maksimum 2%, hal asing maksimum 0,02% dan butir gabah maksimal 1.

Pemerintah Indonesia juga telah menetapkan persyaratan standar untuk stok nasional beras, melalui Instruksi Presiden. Berbasis Instruksi, standar beras yang dibeli pemerintah adalah meliputi minimal 95% tingkat penggilingan; maksimum 20% rusak, butir menir maksimum 2% dan maksimum kadar air 14%. Persyaratan kualitas beras yang ditetapkan oleh pemerintah bertujuan untuk stok pemerintah, sehingga persyaratan kadar air sangat penting. Hal ini disebabkan oleh penyimpanan yang lama, kondisi laboratorium kadar air maksimum 14%. Jika persyaratan kualitas tidak terpenuhi, nasi cepat akan menurun kualitasnya.

Beberapa Jenis Beras yang ada di Masyarakat (Ini gue juga baru ngeh):

Jika ingin memilih beras sesuai dengan jenis yang Anda inginkan, harus diperhatikan ciri-ciri beras sesuai dengan jenisnya. Setiap jenis beras memiliki ciri-ciri khusus yang dapat Anda perhatikan.

a. Pandan Wangi
Ciri khas beras pandan wangi adalah aromanya yang wangi pandan. Namun sering pula terdapat beras yang wangi pandan karena zat pewangi kimia. Namun masih terdapat ciri yang lainnya yang bisa membantu agar Anda tidak salah pilih, yaitu beras pandan wangi tidak panjang, tetapi cenderung bulat. Jika terdapat beras dengan biji yang panjang, tetapi wangi hampir dapat dipastikan beras tersebut telah dicampur dengan pewangi kimia. Selain bulat beras pandan wangi juga berwarna sedikit kekuningan tapi tidak putih namun bening.

b. IR 64 / Setra Ramos
Beras IR 64 atau Setra Ramos adalah beras yang paling banyak beredar di pasaran, karena harganya yang terjangkau dan relatif cocok dengan selera masyarakat perkotaan. Normalnya beras jenis ini pulen jika dimasak menjadi nasi, namun jika telah berumur terlalu lama (lebih dari 3 bulan) maka beras ini menjadi sedikit pera, dan mudah basi ketika menjadi nasi. Beras ini memiliki ciri fisik agak panjang / lonjong, tidak bulat. Beras ini tidak mengeluarkan aroma wangi seperti pandan wangi, namun seringkali pabrik / pedagang beras menambahkan zat kimia pemutih, pelicin dan pewangi pada beras ini. Maka berhati-hatilah jika menemui beras dengan bentuk lonjong, namun mengeluarkan aroma wangi, bisa jadi beras tersebut telah ditambahkan pewangi kimia.

c. Rojolele
Beras Rojolele memiliki ciri fisik cenderung bulat, memiliki sedikit bagian yang berwarna putih susu, dan tidak wangi seperti beras pandan wangi. Nama Rojolele biasanya adalah sebutan dari daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur, namun untuk daerah Jawa Barat dan beberapa daerah lain terkadang beras ini biasanya disebut Beras Muncul.

d. IR 42
Beras IR 42 bentuknya tidak bulat, mirip dengan IR 64 namun ukurannya lebih kecil. Beras ini jika dimasak nasinya tidak pulen, namun pera sehingga cocok untuk keperluan khusus seperti untuk nasi goreng, nasi uduk, lontong, ketupat dan lain sebagainya. Biasanya harganya relatif lebih mahal daripada IR 64 karena beras ini jarang ditanam oleh petani.

e. Beras C4
Ciri fisiknya mirip seperti beras IR42 namun sedikit lebih bulat, seperti IR64 namun lebih kecil. Beras ini masih sangat jarang ditemui di pasaran, karena jarang ditanam oleh petani. Nasinya pulen seperti IR64, namun lebih pulen. (Sumber: tester kadar air.com)

Oke genks, udah ngerti lahya soal beras. Yuk, kita sejahterakan petani Indonesia, daripada pemerintah impor beras terus yang kita nggak tahu kualitas gizinya. Semoga tulisannya bermanfaat yes.

ALIA F

4 comments:

  1. Aku jg baru2 ini aja mba mencoba makan nasi yg lbh sehat. Dgn beras merah. Beras putih msh makan sih, tp dikurangi.. Kalo dulu kita slalu beli beras curah, tp skr udh ga.. Gpp lah mahal dikit yaa tp terjamin kualitasnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, untuk sehat gak apa-apa mahal ya mbak, keren, aku blm coba beras merah nih hiks

      Delete
  2. Iya sekarang lagi heboh soal beras ya. Kalo aku biasanya beli beras produksi lokal kotaku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalao di luar jakarta kayakna beras masih aman ya, kualitasnya bagus

      Delete