Tiap Anak Pintarnya Beda, Begini Tahapan Perkembangan Anak Usia 2-5 Tahun

Foto: Dwina

Manusia itu unik. Sama halnya dengan anak, berbeda dan memiliki karakter masing-masing yang unik. Mereka juga memiliki kepintaran yang berbeda. Seperti saya, punya anak tiga dan laki semua. Masing-masing punya berbedaan mencolok, mulai dari kelebihan dan kekurangan.

Seperti si sulung Sulthan (15 tahun), dia anaknya rumahan, lebih seneng di rumah, mulai dari baca buku atau main gadget. Si sulung ini bisa tampil layaknya seorang abang, bisa diandalkan, pengertian, kadang menurut saya dia lebih dewasa dari umurnya, dan yang pasti sering jadi curhatan emaknya (Lho?? hehehe).

Yang tengah, Rafa (11 tahun), anaknya outdoor banget. Sedari kecil suka banget bermain dan bergaul. Dia ramah dengan siapapun, cepat dekat dengan orang, supel, suka bertemu orang baru, dan sering ngilang dari rumah. Ketika emaknya lagi gak 'ngeh' cuma sebentar, tiba-tiba kabur keluar rumah dan berjam-jam nggak pulang. Nah kalau ini, nggak suka baca, nggak suka menulis dan kadang tidak seperti anak seusianya.  Masih bermain mobil-mobilan, topeng dan suka eksplorasi sama barang. Tiba-tiba barang kesayangan saya rusak atau hilang. Misalnya iket pinggang tau-tau udah setengah, dia buat untuk barang, atau hasil kreatif lainnya. Hanya dia di rumah yang 'alergi' dengan buku.

Sedangkan si bontot, Fatih, 2,4 tahun. Meski masih kecil, saya sudah bisa meraba dia akan seperti apa besarnya. Dia itu perpaduan kedua abangnya. Suka membaca, suka buku tapi juga supel dan ramah. Tapi yang paling menonjol dibandingkan dari kedua abangnya adalah Fatih itu berani banget. Dia nggak takut memanjat apapun di depan mata. Suka nyamperin orang yang lagi kumpul padahal nggak kenal, suka bikin emaknya kejet-kejet, karena tiba-tiba ngilang, atau pulang sendiri ketika sedang bermain di luar dengan abangnya. Meski masih kecil dia tergolong bijak jika menghadapi abangnya yang nomor dua kalau udah ngambek, diusap-usap kepala abangnya. Lols.

Nah, dari ketiga karakter anak saya itu bisa dilihat mereka memiliki kepintaran yang beda. Pintarnya beda, sosialnya beda dan akalnya juga beda.

Clozetters Gathering with Wyeth Parenting Club

Herfiza dan Rosdiana
Pada Rabu, 24 Mei 2017, saya diundang untuk menghadiri Clozetters Gathering with Wyeth Parenting Club di Restoran Gastromaquia Jalan Ciniru I No 1, Senopati, Jakarta.

Acara yang dihadari para bloggers kece itu berisi nuansa putih campuran gold. Terlihat elegan tapi juga homy. Acara yang berisi tentang materi parenting yang dibawakan oleh psikolog Rosdiana Setyaningrum dan Herfiza Novianti (seorang model dan juga istri pemain sinetron Ricky Harun), bikin saya excited.

Kenapa?

Karena Rosdiana membahas tipikal anak dengan kepintaran yang beda. Pas bangetkan dengan pembahasan tulisan awal saya tadi.

Saya seneng banget, ketika  Rosdiana secara spesifik membahas soal kepintaran anak dari usia 2-5 tahun, dan itu masuk ke kategori si bontot yang usianya sudah 2,4 tahun.

"Di sini siapa yang punya anak usianya 2 tahun ke atas?" Tanya Mbak Rosdiana.

Saya salah satunya yang angkat tangan.

"Sabar ya mom. Untuk para ibu yang punya anak di bawah usia 5 tahun itu merupakan masa yang nggak bahagia. Bukan berarti kita menjadi ibu yang nggak baik, tapi memang anak di usia segitu bikin ibunya capek," tutur Rosdiana sambil dalam hati saya bersyukur karena suka nggak sadar 'cerewetin' si bontot dan jadi merasa bersalah.

Rosdiana juga 'menegur' para ibu yang nggak konsisten dalam mengurus anak. Katanya, jangan menuruti kata mood. Misalnya, hari ini habis marahin anak, karena merasa bersalah kita jadi baik sama anak dengan bebas main gadget atau makanan manis. Besok kalau mood nggak beres kita larang dia main gadget (atas nama hormon, emak-emak emang labil, lols). Atau kalau si anak menangis, supaya diam, kita memberikan apa yang dia minta. Karena tanpa disadari, anak ini pintar dengan 'membaca' karakter orang tua. Dengan menangis dia bisa mendapatkan apapun yang diminta.


Tahap Perkembangan Anak Usia 2-5 Tahun

Stimulasi Otak dengan pola asuh yang tepat
Rosdiana memberikan beberapa contoh bagaimana pola asuh untuk tumbuh kembang anak menjadi lebih baik.

1. Cinta dan perhatian 

- Cinta dan perhatian salah satu kebutuhan pokok agar anak kembang secara optimal.
-  Apresiasi: Jika anak bisa melakukan hal yang baik, beri pujian
-  Perhatian, ketertarikan dan lingkunganyang menyayangi si anak

Hasilnya:
- Ingatan dan recall yang lebih cepat dan lebih baik.
- Berfikir efisien, penalaran dan penyelesaian masalah yang lebih baik
- Tingkah laku yang lebih baik
- Kemampuan belajar yang lebih baik

2. Sarapan dan makanan yang bergizi.
Sarapan sangat penting sebagai asupan nustrisi, dan sarapn itu sebelum pukul 10.00 pagi.

Hasilnya:
- Meningkatkan mengembangkan kemampuan belajar dan pengertian
- Kemampuan kognitf yang lebih baik'
- Kemampuan mengingat spasial yang lebih baik
- Meningkatkan kemampuan logis

mak kece. foto: dwina
Rosdiana juga memaparkan kalau pola asuh yang tepat bisa menstimulasi otak. Bagaimana caranya?

1. Olahraga
- Dari usia 2 tahun hingga 5 tahun anak butuh gerak.
- Teamwork dengan teman sebaya
- Kerja keras
- Fokus
- Percaya Diri

2. Cukup Tidur
Minimal 8 jam sehari

Hasil:
- Emosi lebih terkontrol
- Hasil belajar yang baik
- Mengurangi masalah prilaku

Foto: Dwina
Lebih lanjut Rosdiana juga mengatakan usia anak di bawah 5 tahun tidak perlu untuk diajarkan membaca dan berhitung. Anak di usia itu lebih banyak melakukan olah fisik dibandingkan anak harus duduk diam dengan 'memaksa' untuk membaca dan berhitung. Pasalnya, motorik kasar lebih dulu distimulasi dibandingkan motorik halusnya.

"Kata 'jangan'gak bisa dipergunakan, karena dia bisa melakukan apa yang dilarang. Selain itu, mereka lebih suka dengan mainan sedikit tapi banyak dibandingkan mainan satu tapi mahal," katanya. Rosdiana mencontohkan anak lebih memilih uang receh dibandingkan uang kertas dengan nilai yang besar.

Anak usia di bawah 5 tahun juga egosentris. Yaitu, dia merasa semua orang juga menyukai apa yang dia suka. Seringkan kita melihat seorang anak menyuapi semua orang dewasa dari makanan yang dia makan? Nah dia merasa orang dewasa pasti menyukai apa yang dia suka. Belum masuk nalarnya kalau kita menolak apa yang dia sodorkan, bisa-bisa ngambek guling-guling, hahahah.

Cara Pola Asuh Herfiza Novianti 


Herfiza mengaku awalnya hanya memposting foto dengan anaknya dan sering membagikan tips seputar parenting. Ketika banyak pertanyaan seputar pola asuh anak, Herifiza akan menjawab sesuai pengalaman yang dirasakan.

Seiring waktu, akun Instagram Herfiza malah dijadikan patokan beberapa ibu soal tumbuh kembang anak. Jadilah Herfiza sering menerima undangan untuk berbagi tips bagaimana pola asuh yang tepat untuk anak.

"Aku biasanya bercerita dari apa yang aku rasakan dan kejadian," katanya.




Dalam acara tersebut, ibu dua anak itu juga memberikan beberapa tips dan pengalamannya dalam mengasuh anak. Misalnya soal gadget yang kini seperti menjadi sebuah kebutuhan bagi anak-anak.

Herfza mengaku sebisa mungkin membawa anaknya untuk eksplorasi ke luar ruangan. Untuk menghindari kontak mata anak dengan smartphone, Herfiza akan mendownload game yang disukai anaknya lalu di save di USB kemudian bisa ditonton di televisi. Dia juga bisa tegas menolak jika anaknya ngambek karena dilarang main gadget. "Kalau dia nggak mau makan, saya biarkan saja. Nanti juga laper minta makan," katanya santai.


Alia Fathiyah






Sensasi Seru di Transera Waterpark Bekasi

Anak kecil mana yang tidak suka main air atau renang. Lantaran alasan itulah, saya menerima undangan untuk renang di Transera Park, yang letaknya di Kawasan Kota Harapan Indah Bekasi. Lokasinya tentu jauh dari rumah saya di Serpong, (Lols), tapi atas nama kebahagiaan Trio Mamat (sebutan untuk ketiga anak lelaki saya), saya siap menjalaninya meski macet dan pake nyasar segala, sutralah, pasti akan begitu jika pergi ke tempat baru, ehehehe.

Pada Sabtu, 29 April 2017 kita sampai di lokasi. Tempatnya luas, 6,3 hektar, dan lokasinya paling ujung dari perumahan Kota Harapan Indah Bekasi. Area parkir ke pintu masuk, nggak terlalu jauh. Harga tiket masuk Senin-Jumat Rp 85 ribu. Sabtu-Minggu dan Hari Libur, harga tiket masuk Rp 125 ribu. Sedangkan saat high season mahalan jadi Rp 150 ribu.

Tapi jangan sedih, Transera Waterpark ada harga promo periode 3 Mei – 31 Mei 2017 yaitu pembelian tiket yang dipakai Senin-Jumat untuk dua orang hanya Rp 100 ribu!. Sedangkan untuk harga Sabtu-Minggu/libur Rp 87 ribu per orang dan mendapatkan free 2x pemakaian gari-gari dan 1x permainan Dunky Dunk.

Untuk membeli makanan dan minuman atau penyewaan ban, harus memakai Gelang Smart. Jadi kita beli dulu gelangnya dengan deposit Rp 20 ribu, ditambah jumlah lain untuk melakukan pembelian atau penyewaan. Nah kalau kurang bisa isi ulang, dan sisa saldo bisa di refund kalau akan pulang.


Saya lihat di maps yang ada di pintu masuk, Transera Waterpark memiliki 23 wahana.  Ada  Turkana Pool (kolam arus) untuk anak-anak, Gowle Pool (kolam ombak) untuk orang dewasa. Wahana menarik lainnya seperti: Cango Slide, Crazy Zone, Mosi-Oa Tunya, Zambezi River, Timbutu Garden, Gari-Gari, Obus, Ducky Dunks, Bumper Boat, Vilakazi Stage, dan Cowboy Town.

Keseruan di Transera Park.


Zambezi River
Seperti biasa, jika kita pergi ke waterpark, Trio Mamat pergi bersama ayahnya, dan si emak bagian nungguin tas atau tinggal duduk cantik sambil selfie. Tapi untuk kali ini tidak sodara-sodara. Setelah lumayan lama mati gaya cuma duduk doang, saya pun pergi mencari Trio Mamat yang ternyata sedang asik-asik seru menikmati Zambezi River.

Gak jauh berbeda dari waterpark lainnya, yaitu kolam panjang lalu kita berada di atas ban sambil kelilingi dengan dibawa arus. Dan mereka akan seseruan jika melewati kucuran air.


Turkana Pool
Nah untuk nemenin si bontot bermain air, saya memilih Turkana Pool. Kolam air yang memang khusus untuk anak-anak kedalamannya hanya sekitar 30 cm saja. Lalu ada ember air yang menggantung dan akan tumpah jika sudah penuh. Lalu anak-anak yang di kolam akan jejeritan.


Mosi Oa tunya
Nah ini yang paling disukai duo mamat kecuali bontot tentunya. Perosotan tiga warna yang bentuknya bergelombang. Untuk meluncur ke bawah harus menggunakan matras.

Crazy Zone

Pertama kali sampai di Transera Park, Duo Mamat sudah langsung mencari wahana begini, dinamai Crazy Zone. Memiliki perosotan bergelombang dan memutar lalu aka memberikan sensasi seru ketika meluncur.

Tangalooma
Ini juga yang dicoba duo mamat, meluncur dari ketinggian puluhan meter yang menggunakan ban. Berkali-kali mereka naik ke sini sambil tertawa-tawa gembira.

Selain permainan air, masih banyak lagi wahana yang ada di Transera Park.


Sambil bermain air, saya juga iseng-iseng bertanya ke beberapa pengunjung mengenai kesannya dengan Transera Waterpark. Ini hasilnya: (ini bukan wawancara imajiner lho.)

Bagaimana kesannya renang di Transera Park?

Pak Sya (43 tahun): Tempatnya jauh, sepi dan kurang terawat. Sayangnya, airnya kurang bersih, juga ada beberapa ubin lantai yang sudah copot. So far sih lumayan.

Sul (15 tahun): Seru, aku suka yang meluncur dari atas itu, menegangkan. Tapi di bagian Zambez River ombaknya kurang kenceng.

Rahmat (11 tahun): Suka banget dan seru. Pas di bagian meluncurnya ini, aku suka. Coba kalau wahana airnya lebih banyak, pasti tambah asik.


Untuk lebih detilnya, silahkan buka akun media sosial Transera Waterpark:

http://transerawaterpark.net/
 Facebook : Transera Waterpark
Twitter : @transera_bekasi
Instagram: @transerawaterpark.bekasi



Alia Fathiyah

Mau Tanya, Blogger itu Wartawan bukan yaa??


Sekitar sebulan lalu seorang teman wartawan senior menulis di status Facebooknya begini: 

“Mau tanya aza blogger itu wartawan bukan ya, #tanya doangcui”

Langsung beragam komentar muncul yang kebanyakan curhat dari beberapa wartawan dan pandangannya soal blogger. 

Well, sekarang ini memang jika ada acara jumpa pers atau press conference atau media gathering pasti terselip blogger. Dulu, sebelum blogger booming, wartawan yang sudah saling mengenal satu sama lain, pasti akan memandang blogger aneh dan menganggap mereka wartawan bodrex (wartawan gak punya media).

Tapi sekarang, blogger sudah diakui menjadi sebuah profesi penting (yeay), membantu brand atau produk untuk promosi dan publikasi.

Nih, gue tulis di sini beberapa komentar dari wartawan dari status FB itu. Yang kebaca jelek, jangan baper ya hey blogger.. tolong jadikan kritikan untuk perbaikan ke depannya.

Akun Z : Gayanya kadang melebihi wartawan senior, kalau nanya suka nggak nyambung.

Akun B : Kadang kalo nanya oon, kelakuan dan attitudenya mempriatinkan.

Akun DS: Kalo di Barat blogger juga punya pengaruh layaknya jurnalis mainstream. Mereka bekerja utk blognya sendiri dan hidup dari iklan. Ada blogger fashion, film, traveling, kuliner, entertainment. Nah kalo di indonesia sudah seperti di Barat, itu gue belum tau. Di kalangan blogger travel dan kuliner di Indonesia banyak lho pelaku nya yang eksis dan hidup dari blog tsb. Salah satunya Mariska Prudence, mantan reporter news Metro TV yang kini sukses sebagai blogger travel. Blog nya disponsori oleh Garuda Indonesia.

Akun ABS, wartawan senior dan ageny: kalo cara kerjanya sama, apakah itu wartawan, jurnalis, reporter, pewarta atau blogger sekalipun. hanya yg membedaka antara saya sebut saja dgn bahasa pewarta dan blogger, begitu hail tulian di publish di medianya. disinilah ada yg membedakan.

Akun DM yang dikenal juga sebagai pengamat musik: Hmmm...gw sekarang bs dibilang blogger. Tetap ckp aktif menulis, sembari memotret. Ga bs hilang dan ga mgkn gw tinggalin dunia itu. Semua gw tumpahin, mksdnya, apa yg mau gw tulis ya, ke website gw itu. 

Akun SB, wartawan senior: Ada ajang awarding yang jurinya mengatas namakan wartawan. Tapi juga di isi kalangan bloger dan lucuntya si bloger nggak bisa nulis brita. Pintere ngemeng sebakul, jd gw kasih julukan bloger media cangkem.  kalau bloger bisa nulis ga papa...ini pintere ngemeng doang.

DM komentar lagi: Keprihatinan gw, alaaaah sok prihatin gitu, hahahaha. Iya, blogger emang tergantung isi tulisannya. Bisa nulis apa ga? Ade "isi"nye kagak tulisannye? Tapi sebagai sebuah "bidang baru", yang lantas menjadi sebuah "profesi", dg segala perllaku "khas"nya ...

Akun ES, wartawan senior: Lha, untuk menghidupi Blog-nya ya seorang blogger harus nulis, kalau perlu setiap hari sebagaimana koran harian; kalau tidak blog-nya akan terisi tulisan lama yang tidak diganti-ganti.

Akun CML: Blogger itu menyibukkan diri sendiri.. Wartawan itu profesi..jiahhhahaaa

DS komen lagi: Dan menghasilkan...

Akun MS, wartawan senior yang sekarang punya agency manajemen artis: Blog muncul, beken dan mulai dibutuhkan seiring perkembangan jaman. Tp ya tetep hrs bs menulis yg baik dan benar.


Komentar ditutup oleh KY:  Bisa juga dibilang wartawan sebab mereka juga memberikan pemberitaan kejadian apapun itu yang masyarakat sebelumnya tidak tau jadi tau.



Jika di sebuah event, wartawan dan blogger memang menyatu. Tapi jika ada yang jeli dan mengerti seluk beluk kedua profesi itu, pasti sudah bisa membedakan mana wartawan, mana blogger.

Ini coba gue rangkum dari pengamatan gue ketika mengikuti beberapa acara, terlepas gue  saat itu menjadi blogger atau wartawan:

1.     1. Blogger gemar banget potret sana sini, terutama selfie dan foto bareng-bareng, Hahaha. Pas jadi blogger, gue jadi ikutan lenjeh foto-foto terus dengan wajah dipasang seimut mungkin. Lolss..

Wajar, itu kebutuhan mereka untuk menunjang tulisan dan sebagai barang bukti kepada pembaca, “nih gue beneran datang ke event itu.” Jadi pembaca tahu, kalau blogger menulis dan memberikan refrensi sebuah produk dengan jujur dan sesuai pengalaman.

Sedangkan wartawan, lebih ke foto produk atau narasumber. Dalam penulisan wartawan lebih kepada memberikan informasi, bukan hanya dari produk tapi dari orang di belakang produk itu sendiri.

2.    2.  Coba perhatiin deh, jika sedang jumpa pers, blogger serius banget fokus ke gadget  (autis) (maaf ya, aku nulis autis akhirnya dicoret karena banyak complain. Maklum terbiasa becanda sama temen jadi kebawa ke sini, piss euy),  Karena mereka menulis kutipan dan omongan narsum lewat gadget. Atau mereka sibuk nge-buzz di akun medsos seperti Twitter dan Instagram, terkesan mereka lagi cuekin narsum yang sedang ngomong panjang kali lebar.

Waktu itu, gue yang datang sebagai blogger berasa jadi ‘beda’ sendiri karena masih setia menulis di notebook. Lagian jari gue pegel bo kalo ketak ketik, belom lagi kalau android,,...hadeuhh bikin pengen gigitin pinggiran korsi.

Kalo wartawan terbiasa dibekeli notebook atau alat rekam. Nah ini bedanya, buat wartawan, mengutip , mendengarkan narsum bicara hal yang sangat penting. Karena ketika mendengar dan mencerna, otak wartawan lagi muter, angle tulisan apa yang menarik dari acara itu, tentunya yang bikin berbeda dari media lain. Wartawan harus jeli mencari tulisan berita dari event tersebut.

Sedangkan blogger, gak perlu itu. Yang membedakan mereka adalah gaya penulisan, yang tentu sesuai karakter masing-masing. Gak perlu menggunakan kalimat bahasa Indonesia baku.


3.   3.Narasumber terlihat lebih dekat, lebih nyaman dan lebih kayak temen ke wartawan dibanding blogger. Kenapa?

Usai jumpa pers, wartawan pasti akan melanjutkan wawancara face to face ke narsum. Mereka akan menggali informasi dari narasumber sehingga akan ketemu angle yang menarik. 

Nah, di sini narsum harus hati-hati bicara, karena kalau keceplosan, akan dikutip wartawan dan bisa menjelekkan nama dia atau brand. Kecuali jika dia ngomong, “off the record.

Seringnya bertemu dan bicara face to face tentunya makin mendekatkan wartawan dengan narasumber. Apalagi jika di luar event, wartawan akan minta konfirmasi dan klarifikasi soal sebuah isu, dan tentunya akan kontak narsum itu demi kepentingan isu yang sedang berkembang.

Sedangkan blogger, terbilang pasif. Mereka akan menulis jika diundang, diminta job review atau content placement. Blogger gak perlu menggali isu, nggak perlu mencari angle tulisan berbeda, mereka hanya perlu menulis produk atau brand saja, sesuai gaya penulisan mereka.

Menurut gue, blogger bisa dibilang ‘pengadopsi awal’ sebuah produk yang mampu mempengaruhi netizen untuk membeli atau tidak  sebuah produk. Setuju gak?


4. Agency, narsum, perusahaan, pengusaha, pemilik produk atau brand tidak perlu ‘sok kenal sok dekat’ dengan blogger. 

Karena jika ada blogger yang ‘pasang tarif tinggi, mereka bisa mencari blogger lain. Blogger sekarang jumlahnya ribuan cuy , meski memang ada beberapa alasan blogger itu memasang tarif tinggi karena mereka memiliki follower, viewers, rating dan alexa yang baik. 

Tapi menurut gue, agency bisa mencari blogger lain dengan alexa dkk yang kualitasnya tak jauh berbeda tapi dengan harga sedikit lebih murah. Toh, gak menjamin juga kalau blogger mahal itu bisa mempengaruhi pembacanya untuk membeli produk yang dia tulis.

Sedangkan jika dengan wartawan, sebuah perusahaan atau seorang narsum perlu SKSD dengan media tertentu. Kayak Kompas, Tempo, Media Indonesia, The Jakarta Post, dan lainnya itu bisa dibilang media ‘kelas atas’ yang banyak sekali masyarakat percaya dengan tulisan wartawannya. 

Karena media itu  memiliki standar sendiri ketika merekrut seorang wartawan. Wartawan di media tersebut harus melalui beberapa uji coba sehingga layak diterima. Nggak asal-asalan, jadi wajar jika perusahaan SKSD dan perlu banget jika ditulis oleh media itu. Gicccuuu...

5.      5. Hhhhmmmm....apalagi yaaa, udah itu dulu deh. Jadi blogger itu wartawan bukan?
J

Silahkan mentemen blogger dan lainnya yang  mau komentar dan nambahin. Santun yakss, Maacihh

Alia Fathiyah