Friday, April 7, 2017

Film Labuan Hati, Cinta Lola Amaria untuk Labuan Bajo

Melihat teaser dan poster film Labuan Hati gue langsung penasaran sama filmnya. Kayaknya keren gitu, tiga cewek kece dengan gaya traveler anak pantai, jalan dengan gaya asik.

Pasti ada cerita seru ketika tiga perempuan cantik dan bodinya yang kece, menjulang langsing, seperti Nadine Chandra, Kelly Tandiono dan Ully Triani. Lola pas banget memilih mereka yang memang cinta sama laut dan jago menyelam untuk bermain di film ini.

Keinginan gue itu ternyata diterawang langsung oleh Lola Amaria, sang sutradara dan produser untuk ngajak gue nobar di Plaza Senayan, Kamis 6 April 2017. Gue emang kenal Lola udah lama banget, dari jaman kita masih susah (eh gue sih yang susah, dia mah artis, Lols), dari sering nongkrong bareng di Pondok Indah, nonton bioskop trus dia mau aja gitu nganter gue pulang sampai depan jalanan rumah.

Anyway, Ini pemain asli Labuan Hati (*dikejarKellyTandiono,Lols)
Kembarrr
Beberapa menit sebelum nobar, seruuu

Gue tahu banget ketika awal Lola membuat film Betina, lalu berturut-turut muncul filmnya yang lain, Jingga (2016), Negeri Tanpa Telinga (2014), Kisah 3 Titik (2013), Sanubari Jakarta (2012), Minggu Pagi di Victoria Park (2010) dan film Labuan Hati bisa dibilang langkah baru dari Lola melepaskan sisi idealisnya.

Menurut gue ini film 'komersil' Lola pertama, meski  begitu Lola tetap kritis lewat  beberapa dialog yang menyentil keresahan jaman sekarang. Seperti pulau di Indonesia sudah banyak dimiliki bule-bule, tanpa kita, sebagai rakyat Indonesia menyadarinya.

Labuan Hati bercerita ketika Bia (Kelly Tandiono) seorang ibu satu anak yang kaya raya memilih untuk menyepi di Labuan Bajo. Dia sedang menata hatinya karena sedang ada konflik rumah tangga.

Lalu Indi (Nadine Chandra), seorang wanita yang menyukai alam bebas dan laut. Dia akan menikah dengan pria yang selalu mengikat dan mengaturnya sedemikian rupa.

Lalu ada Maria (Ully Triani) seorang pemandu wisata bagi turis yang datang ke Labuan Bajo. Selama film berjalan Maria seperti seorang wanita misteri yang menyimpan masa lalunya rapat, yakni gagal menikah dengan kekasihnya. Berhadapan dengan Indi dan Bia, Maria terlihat polos khas penduduk daerah setempat. Nah, gue suka nih aktingnya Ully di sini. Menurut gue, di antara ketiga cewek di sini, hanya Ully yang 'dapet' perannya.

Lalu ketiga cewek langsing dengan body sempurna itu (bikin minder ih), berpetualang menghabiskan liburan dengan menyelam, bermain pasir, berenang di laut, dan menikmati indahnya  alam Kepulauan Komodo, termasuk Labuan Bajo, Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).


Ada satu pria di tengah tiga cewek itu, Mahesa (Ramon Y Tungka) yang bertugas menjadi pemandu diving untuk  Indi dan Bia. Sebenarnya Bia dan Indi baru saling kenal, karena merasa akrab, Bia mengajak Indi turut serta ke perjalanan tersebut.

Wanita itu fitrahnya adalah bersaing. Jadi wajar, ketika ketiga cewek sedang 'galau' dengan pasangannya, mereka jauh dari hingar bingar jakata dan merasa kesepian, cuma ada Mahesa di antara mereka. Munculah persaingan.

Bia yang jadi drama queen di film itu tentunya menjadi pemenang, Indi cemburu dan di pertengahan film Indi harus jadi antagonis (di mana-mana film harus ada antagonis dan protagonis, jadi gak flat). Indi nyolot ke Bia, dia jutekin Mahesa lalu menunjuk-nunjuk Maria.

Tapi yang menjadi pertanyaan gue, kenapa Indi segitu menyudutkan Mahesa setelah mencium Bia? Mahesa seperti ketakutan dari wajahnya ketika Indi menyinggung soal ciuman itu. Gue tadi mengira, karena Indi dan Mahesa pernah kenal sebelumnya, ada kisah romantis di antara mereka dulu. Atau Indi tahu bagaimana Mahesa sebenarnya, misal seorang bajingan. Karena ada dialog Indi gini: "Lo apain temen gue semalem?" Tapi sayang, sampai film habis gue nggak menemukan jawaban itu. Cuma cemburu saja sepertinya.

Baca ini Juga: Lomba Blog Ayam Dingin Segar

Namanya film pasti ada yang bikin nggak srek. Meski gue kenal sama Lola, gue merasa harus objektif mengulas film ini.  Bagian yang gak srek bagi gue ketika dialog, sayangnya, ada keheningan yang seharusnya bisa diatasi di dalam film. Dan itu terjadi di beberapa adegan.

Misal ketika obrolan Indi dan Bia yang seharusnya menjadi obrolan seru dua cewek, tapi kok terasa kaku dan dipaksakan. Nggak tiktok, lalu ada jeda beberapa detik. Coba jika diselingkan dengan extra (pemain tambahan) atau kesibukan di latar mereka.

Sayangnya, cerita hanya fokus kepada konflik empat orang ini. Tanpa ada tambahan pemain atau cameo agar film semakin berwarna dan konflik semakin banyak sehingga penonton akan merasakan penasaran, adrenalin naik (karena menurut gue sebuah film laku atau nggak itu ketika pelaku film bisa membuat penonton deg-degan), jadi nggak main aman, meski sebuah film drama.

Gue menunggu klimaks film, mungkin tiba-tiba pacar Indi muncul sambil ngomel-ngomel dengan menggandeng cewek baru dan membatalkan pertunangan. Atau suami Bia muncul dengan anaknya, atau ada masalah besar lain sehingga film ini menegangkan, misal dikejar komodo (Lols gue terlalu thriller yaks).

Lola seperti fokus menggarap film ini kepada alam Labuan Bajo yang indah banget, layaknya lukisan di layar lebar.  Lola juga menggambarkan alam bawah laut yang cantik. Malah menurut gue ini film cenderung ke 'jualan' pariwisata Indonesia dengan polesan drama. Film ini seperti menggambarkan hobi dan ketertarikan Lola akan petualangan, alam, laut dan perjalanan.

Satu hal yang menurut gue yang menjadi kas Lola adalah dengan quotes bersayap. Seperti dulu di film Betina, gue suka sama quote: Burn..burn.. all memories so i come back to you"

Dan di Labuan Hati ada adegan begini. Indi, Maria dan Bia duduk di atas kapal di tengah laut. Mereka melihat ke atas, sekelompok kelelawar terbang, terlihat indah.

"Mereka akan kembali lagi esok pagi di jam yang sama," kata Maria.

"Kalau bisa bebas pergi kenapa harus kembali di jam yang sama," kata Indi seperti bicara kepada dirinya sendiri.

Dari serangkaian cerita di film, Lola tak lupa menyelipkan adegan lucu yang memicu tawa penonton. Ketika pahanya Bia digigit jellyfish yang beracun. Jalan satu-satunya adalah harus dikasih air kencing. Karena semua sudah kencing terpaksa Mahesa yang harus mengencingi kaki Bia yang tereak-tereak, entah kegelian jijik entah sakit (hahaha ini lucu nih). Tapi sayang nggak dijelaskan kenapa harus dikasih air kecing, penonton awam kayak gue kan kudet soal begituan.

Kelly menjadi Bia lumayan, tapi akan lebih bagus jika wajah 'keras' Bia agak dilembutkan dan dibuat manja, jadi masuk ke dalam karakter film. Sedangkan Indi adalah Nadine. Nggak ada yang berbeda menurut gue, seorang Indi yang memang suka laut, menyelam dan alam, semua itu adalah sosok Nadine. Hanya Ully yang menjadi Maria pas sebagai gadis daerah yang memiliki masa lalu dan minder dengan keadaanya. Sedangkan Mahesa menurut gue kurang terlihat macho jika direbut oleh tiga cewek cantik itu. Sayang banget gitu, (hahaha piss yo, jangan baper). 

Anyway, Lola cukup berhasil mengemas film ini dengan baik yang mempertotonkan keindahan alam dan tentu keindahan para pemainnya, hehehe yang cowok-cowok pada serbu bioskop nih. Congrats Lola!!

AAL

17 comments:

  1. Lebih punya bobot dibanding Nekad Traveler, imho. :))

    Nice sharing Mba....
    www.iamandyna.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hay makasih udh mampir, aku blom nonton nekad traveler, gak diajak nobar si, hihihi cari gratisan

      Delete
    2. Aku suka tipe film kyk gini mba,,, terutama background alammya keren,,, dalam u. Mba Lola, #eh😍

      Delete
  2. Belum sah kalau masih belum nonton filmnya langsung ya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayoo cuzz ke bioskop nonton sebelum dibawa festival ke luar lhooo

      Delete
  3. Lola itu memang keren. Soal kena ubur2 terus dikencingi itu aku taunya dari cergam Tintin yang aku baca waktu aku masih kecil dulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha oya? aku kudet deh soal begituan, padahal baca Tintin juga lhoo

      Delete
  4. Film Indonesia yang mengekspos keindahan alam kayaknya masih jarang, ya. Film model gini yang terakhir aku tonton Salawaku. Asiknya Labuan Hati mengangkat isu perempuan, tipikal khasnya Lola yang dipertahankan juga soal kepemilikan pulau itu. Sigh... Aku ga habis pikir kenapa bisa terjadi. Terlepas dari plus minusnya,mudah-mudahan nafasnya panjang, ga cepet turun. Pesaing film nasional bukan cuma produksi luar aja, tapi juga sesama anak negeri, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya memang jarang, karena pasti budgetnya gede. Harusnya kementerian pariwisata support sutradara yg angkat pariwisata indonesia

      Delete
  5. Saya belum nonton filmnya. Tapi pas baca di sini kalau Bia itu drama queen, saya pun mikir yang sama. Wajah Kelly Tan kan tipe 'keras', ya. Saya masih agak susah ngebayangin kalau dia jadi drama queen. Harus nonton kayaknya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sorry slowrespon, iya bener, jadi kamoh udh bisa bayangin bentuk wajah kelly tan ya

      Delete
  6. Sepet kaget pas baca kalau Lola teman kamu sejak jaman susah, haha. Bisa ajah deh. Saya penggemar karya Lola kuga, biasanya cari DVDnya di priceza.co.id soalnya nonton di bioskop gak bisa rutin (pas film tayang). Jarang banget kan Nadine main film, pasti kece deh. Thx yak rekomendasinyah 😊

    ReplyDelete
  7. Reviewnya keren banget!!
    Salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasihh, salam kenal jangan bosan mampir yaaa

      Delete