Anak Masuk Pesantren, Ini yang Perlu Diwaspadai


Melihat zaman sekarang ini dengan banyaknya godaan di dalam lingkungan pergaulan, memasukkan anak ke pesantren menjadi salah satu alasan orang tua untuk melindungi anaknya. Saya pribadi setuju dengan hal ini, tapi kita sebagai orang tua juga nggak boleh egois. Memaksa anak menjadi santri tapi anaknya nggak minat atau nggak tertarik, itu pemaksaan.


Nah, saya coba sharing dari pengalaman anak kedua saya yang sudah berjalan 1,5 tahun mondok. Tulisan ini untuk para orang tua yang galau dan ragu, apakah menjadikan anak seorang santri merupakan jalan yang baik. Semoga tulisan ini membantu ya.

1. Bicara dari hati ke hati
Jika mom and dad ingin anaknya masuk pesantren, hal pertama tentu tanyakan ke si anaknya dulu. Mau nggak dia jadi santri? Jangan merasa menjadi orang tua yang tahu segalanya. Tahu mana yang terbaik untuk anak. Mom, dad, anak adalah manusia, punya nyawa, pikiran, keinginan dan kebutuhan. Biasakan mendengar keinginan anak, dengarkan dulu, ngobrol layaknya teman. Dia mau sekolah seperti apa, alasannya apa, dan lainnya.

Setelah itu, kita sebagai orang tua ungkapkan apa yang kita inginkan. Beri penjelasan, kenapa dia lebih baik masuk pesantren. Tuntun anak untuk mengubah pikirannya, tentu dengan lemah lembut. Misal, mama khawatir dengan pergaulan anak sekarang, kebanyakan main game, nonton yutube, . Kalau misal kamu masuk pesantren kamu akan mendapatkan kehidupan yang sehat. Di akhirat nanti, mama dan papa akan mendapakan mahkota surga karena anaknya menjadi hafiz.

Yah, semacam itulah. Cari kalimat yang kira-kira bikin anak tersentuh dan berfikir ulang. Kalau misal anaknya masih ragu (antara ya dan tidak), kita mulai cari info mengenai pesantren mana yang sesuai keinginan dia. Misal anak suka futsal, cari pesnatren yang eskulnya futsal. Ajak dia berkunjung ke beberapa pesantren, nanti biarkan dia memilih mana yang dia sukai.

Karena mom dad, jika kita memaksakan anak masuk pesantren, kita juga yang rugi. Teman anak saya sudah bayar semuanya sekitar 20 jutaan, nggak sampai sebulan anaknya keluar karena nggak betah, setiap hari menangis, dan lainnya. Siapa yang rugi? Uang nggak bisa balik, anak harus pindah sekolah keluar uang lagi. Kalau dipaksa anak bakal kabur dan nantinya orang tua yang mengalah.

2.  Sakit
Setelah masuk pesantren, yang diwaspadai adalah sakit perut. Ini dialami anak saya dan teman-temannya. Bisa juga si anak kena maag, karena jarang makan, atau susah makan lantaran waktu yang mepet untuk kegiatan lain, atau masih adaptasi dengan makanan pondok, air minum dan lainnya.

Caranya gimana? Saya sempat galau dan pusing juga waktu Rafa sakit perut terus menerus dan sampai nangis-nangis. Lalu dibawa ke dokter. Kalau kata dokter, sakit perut itu efek masuk ke psikologisnya, ini hal yang wajar untuk anak-anak yang boarding school atau pesantren.

Mereka pertama kali tidak tidur di rumah, jauh dari orang tua, adik, kakak. Mendapatkan suasana baru, teman baru, makanan yang tidak sebanyak dan seenak di rumah, nggak bisa bebas jajan dan makan enak. Nggak ada TV, nggak ada HP, semua serba disiplin.

Saya termasuk emak rempong, segala macam obat herbal, makanan sehat dipasok. Madu, kunyit bubuk yang bagus untuk masalah perut. Namanya anak-anak, kunyit plus madu sama sekali nggak diminum (alhasil dibawa pulang), obat maag sachet, bawang putih tunggal, milo, tolak angin, vitamin, masih banyak lagi. Dan semuanya nggak diminum, huhuhuhu.

Alhasil untuk mengatasi setiap mudif (istilah menjenguk) ajak si anak ke restoran yang dia suka. Bebas deh mau makan apa aja, hitung-hitung perbaikan gizi.

3. Barang hilang
Hadeeuuhhh inimah gak heran lagi. Kayaknya sejak ada pesantren dari zaman Belanda barang hilang adalah hal yang biasa. Sendal, sepatu, baju, celana dalem, sabun, pasti ada yang hilang. Sendal udah puluhan, sepatu juga tapi gak sebanyak sepatu, baju, celana dalam kalau dijemur, handuk juga.

Cara mengatasinya, sendal jepit dipakaikan gembok. Ngaruh? Nggak.  Tetap hilang. Bingungkan. Jadi saya membelikan barang itu yang murah, kalau hilang nggak gitu nyesek. Sendal jepit yang Rp 10 ribu atau Rp 12 ribu. Sepatu karet yang Rp 50 ribu atau ada lebih murah beli di pasar. Celana kolor dan kaus kaki yang satuannya Rp 5 ribu. Pokoknya yang murah. Teman saya membelikan anaknya sepatu Rp 700 ribu, pas hilang nyeseknya ke ubun-ubun. Lols. Anak masuk mondok, orang tua juga jadi belajar sabar dan ikhlas.

Bukti nyata sendal digembok

4. Makanan Diambil
Ini juga hal biasa. Waktu awal-awal, tiap mudif saya khusus belanja ke supermaket untuk keperluan Rafa. Mie instan, bubur ayam, abon, kentang kering, susu, madu, energen, biskuit, roti. Lumayan juga kalau mudif seminggu sekali keluarin dananya.

Pas minggu depannya mudif dapet cerita dari si anak kalau makanan diambil teman-temannya atau kakak kelasnya, nyesek kuadrat. Lhaaaa...jadi selama ini kita kasih makan anak orang?

Kalau teman sendiri si , Rafa masih bisa menolak atau suruh bayar, jadi dia jualan. Tapi sama kakak kelas gimana mau nolak. yang ada entar malah dibully.

5. Senioritas
Nah ini yang baru saya ketahui setelah anak masuk pesantren. Ternyata kalau di pondok itu ustad (orang yang lebih tua) tidak begitu memantau santri dalam kehidupan sehari-hari, tapi kakak kelasnya. Si ustad hanya mengajar ketika belajar di kelas saja. Di luar itu si kakak kelas yang berkuasa.

Misal di dalam satu kamar terisi 15 anak, ada 1 anak Aliyah (SMA) yang mengawasi dan tidur di kamar itu yang disebut Mudabir. Mereka yang mengajarkan anak-anak disiplin kalau ada kegiatan di luar sekolah. Ada 'satpam' nya yang disebut Bakem, ini anak Aliyah juga. Galaknya ngelebihin polisi.

Nah, mereka ini yang 'mengurus' anak-anak. Namanya anak masih usia sekolah,  masih tergolong anak, usia masih 15-17 tahun (usia anak itu maksimal 17  tahun), tentu berasa punya power, kekuasaan, berasa menjadi bos, dan semena-mena terhadap adik kelasnya.

Kalau misal kakak kelasnya baik, nggak masalah. Kalau ketemu yang tengil gimana? Nggak sedikit itu anak main fisik jika ada anak yang nggak disipin. "Di pesantren main fisik udah biasa ma," kata Rafa.

Ini untuk santri laki, kalau santri perempuan yang saya dengar cerita lebih kepada nyinyir, comel, ngeledek, intimidasinya lewat mulut.Tapi mom dad, jangan langsung mengkeret. Menurut saya ini masih tergolong wajar asal main fisik masih dalam batas normal. Kalau misal anak kita anteng, baik, tapi masih dipukul baru kita sebagai orang tua harus ambil sikap.

Impact kepada anak
Alhamdulillah, saya sangat bersyukur Rafa masuk pesantren. Soalnya dia termasuk tipe Bang Toyib, gak betah di rumah. Saya nggak kebayang kalau dia nggak mondok, pasti hidupnya suka-suka, nggak ada waktu disiplin, main HP terus, belum melawan ke orang tua karena kita larang (Astagfirullah).

Antri Makan

Waktu SD, dia ini rangking ke 3 dari bawah di kelasnya. Tiap ambil raport saya deg-degan terus, ada aja omongan dari guru. Sejak SMP di pesantren Alhamdulillah lebih baik, dia masuk rangking 10 besar bahkan kemarin 5 besar. Dia satu-satunya murid di kelas yang 'nggak ada hutang', maksudnya semua mata pelajaran sudah terpenuhi.

Sudah hafalan surat Al Quran lebih banyak, kalau di rumah selalu ke masjid, suka kritis ke saya, bapaknya atau abangnya. Saya nggak kebayang kalau dia nggak nyantri.

Alhamdulillah , dengan segala kekurangan di pondok, menurut saya lebih baik dibandingkan anak ada di rumah karena tentu pengawasann kita nggak akan sedisiplin di pondok.

Semoga Bermanfaat

Mamanya Trio Mamat


7 comments

  1. Ternyata senioritas akan selalu ada dimanapun ya, mbak.
    Terus tragedi hilang atau ketukar sendal dan barang pribadi lainnya juga sudah biasa ya, mbak. hihihi.
    Setuju banget belum tentu di rumah bisa kita awasi 100% :)

    ReplyDelete
  2. Aduh itu barang yang hilang nyesek juga beliin sepatu 700ribu hilang bener mba mending beliin yang murah wong digembok aja ilang yah :D

    btw makasih mba gambarannya jadi tahu nih tentang mondok di pesantren

    ReplyDelete
  3. Hidup bersama orang yang berbeda latar belakang pasti sulit ya mba. Apalagi buat anak2. Dgn mondok mereka jd belajar toleransi dan berbagi. Salut buat orang tua yg menitipkan anak anak di pondok

    ReplyDelete
  4. Ternyata perlu diwaspadai juga ya tinggal di pondok. Aku kira tadinya aman2 saja. Warning kek gini emang perlu banget ya mba. Buat antisipasi siswa ke depannya.

    ReplyDelete
  5. Ya ampun beneran digembok yaa mba tapi ternyata teteup aja hilang yah :'' aku jadi ngebayangin kalo anakku yg masihbayi kelak masuk pesantren, hihi. Semoga Lancar lancar proses menuntut ilmu nya yaa mba

    ReplyDelete
  6. Mmemag kalau tinggal di asrama kadang beda tipe orang ya. Temen juga ada beberapa temen yang anaknya mondok di pesantren

    ReplyDelete
  7. Kadang tinggal bersama di pesantren banyak pertimbangan ya mbak, barang sendiri jadi punya bersama (biasanya). Semoga restu orang tua mempermudah mencari ilmu

    ReplyDelete