11 Tahun Setelah Chrisye Pergi, Adakah yang Menggantikan Posisinya


Foto: Google


Siapa yang tak kenal Chrisye. Penyanyi lawas dan seorang legenda di dunia musik. Mendengar suaranya, orang pasti tahu kalau itu Chrisye sedang bernyanyi. Saya termasuk beruntung, bisa bertemu dan wawancara Chrisye di masa hidupnya. Ketika masih menjadi wartawan di Harian Rakyat Merdeka, saya beberapa kali hadir dan wawancara perihal proses kreatif lagu-lagunya.
Saya juga beruntung bisa menyaksikan beberapa konsel Chrisye di Jakarta dengan panggung dan tata suara yang mewah. Yang menjadi ciri khas Chrisye adalah, mau panggung semegah apapun atau semewah apapun, gesture tubuhnya yang kaku tetap saja dia berdiri di satu titik itu sampai lagu selesai. Jika pun berjalan, hanya seputar di depan panggung saja, dan senyum sekilas. Itulah Chrisye, penyanyi apa adanya, nggak neko-neko, pribadi yang tenang, seperti tanpa emosi dan nggak merasa dia seorang legenda musik di Indonesia.

Lagu-lagunya nggak pernah kehilangan kharismanya meski telah 11 tahun Chrisye ‘pergi’, meninggalkan 'warisan' yang  nilainya tak bisa dinilai dengan uang. Sampai sekarang saya masih mendengarkan lagu-lagu Chrisye, terutama ketika menyetir mobil sendiri. Lagu-lagunya dengan lirik yang memesona dan suaranya yang jernih, lumayan bikin adem ketika menyetir di siang hari yang panas. Tau dong, bagaimana lalu lintas Jakarta dengan segala mental pengemudinya di jalan, suara Chrisye bikin menyegarkan hati dan bikin saya jadi nggak nyolot kalau menyetir, Lolss.

Foto: Google


Suara dan Penampilan Chrisye
Bisa dibilang sejak terkenal pada tahun 70-an, model rambut Chrisye nggak pernah berubah. rambut gondrong belah tengah, dengan wajah datar dan polos. Saya menebak, pasti waktu muda, ketika belum terkenal, nggak ada yang mengira kalau dia anak band. Nggak mungkin juga anak band wajahnya sepolos itukan? Lol.

Penampilan serta model rambut Chrisye dipertahankan hingga dia sakit kanker paru-paru dan harus melakukan kemoterapi. Rambutnya rontok, dan dia muncul di hadapan wartawan memakai kursi roda dengan kepala tak ada rambut. Saat itu, seperti biasa dan ciri khasnya, dia menjawab pertanyaan wartawan dengan singkat dan datar. Tapi hanya sebentar, karena Chrisye butuh istirahat.

Suara Chrisye yang ringan, bening dan indah memang sanggup membius orang yang mendengarnya. Contohnya saya tadi, bisa adem ketika menyetir mobil.

Dalam sebuah buku memoar musikal yang ditulis Alberthiene Endah, ada tulisan bahwa kalau karakter suara aslinya yang seperti itu baru dia temukan setelah lelah menjadi copycat menjadi penyanyi top 40 yang mengikuti gaya penyanyi barat. Saat itu Chrisye sadar bahwa sebagai penyanyi pria, dia hanya punya satu hal yang bisa jadi andalan utama, suara. Beruntunglah suaranya memang indah.

Soal wajah Chrisye yang datar saya punya cerita sendiri yang sampai kini membekas. Bagaimana nggak, seperti lainnya, pasti kita melihat wajah Chrisye seperti itu terus, sama, nyaris selalu tanpa ekspresi. Jadi waktu itu ada press conference, label musik yang membawahi Chrisye, mengundang wartawan untuk peluncuran album tersebut. Nah, sebelum mulai press conference ada teaser video. Menyajikan proses pembuatan lagu tersebut di luar negri (saya lupa negaranya).  Chrisye dengan beberapa musisi dan tim nya, diperlihatkan bagaimana mereka serius membuat musik sampai hal-hal sepele yang justru bikin menarik diperlihatkan. Ada bagian, ketika Chrisye di video itu melucu, nyeletuk dan tertawa. Semua yang hadir di press conference itu ikutan tertawa, karena tak menyangka bakal melihat legenda musik bisa bereskpresi.

Buku- buku Chrisye
foto: Google 
1. Chrisye: Sebuah Memoar Musikal
Ketika masih hidup, Chrisye baru meluncurkan satu buku karya Aberthiene Endah: Chrisye: Sebuah Memoar Musikal. Buku tersebut diterbitkan pada Februari 2007.  Sebulan kemudian, Chrisye wafat akibat kanker paru-paru yang dideritanya (ketika menulis bagian ini kok saya merinding ya, kayaknya dia udah feeling makanya diminta bukunya cepet diluncurkan untuk para fans nya).
Dalam buku ini berkisah soal perjalanan sebagian hidup penyanyi legendaris itu. Dalam buku tersebut juga diulas bagaimana kehidupan Chrisye yang bersahaja, meski dia seorang penyanyi sukses.

2. Chrisye, Kesan Di Mata Media, Sahabat dan Fans
Foto: Google
Nah di buku ini kutipan dan foto saya ada lhooo (jaahhh). Buku ini merupakan kumpulan (kompilasi) kutipan berita, kesan, pendapat dan berjuta kata lain tentang Chrisye,  seorang musisi (vokalis pria) Indonesia yang hampir semua pecinta musik mengenalnya, memiliki penggemar dari segala lapisan, golongan dan umur.

Dalam buku tercatat dari kutipan pemberitaan media yang pernah ada yang ditulis oleh para jurnalis dan fotografer atas kegiatan musikal sang Legenda. Kesan, pendapat dan cerita tentang Chrisye di buku ini juga berasal dari wartawan (pers), sahabat dan orang-orang yang berada di lingkaran industri musik seperti teman seprofesi, koreografer, perancang grafis, penyair dan staf di perusahaan rekaman. Tulisan mereka adalah tulisan baru, dibuat dalam rangka penerbitan buku ini.

3.  The Last Words of Chrisye

foto: Google
Ini kedua kalinya Alberthiene Endah menulis buku tentang Chrisye, kali ini bertajuk The Last Words of Chrisye.  Buku ini mengungkap sisi lain dari Chrisye. Banyak curhatan terdalam Chrisye yang selama ini dipendam sendiri, lalu dituangkan ke dalam buku.

Pengakuan Chrisye di buku tersebut belum diketahui siapapun, bahkan istrinya, Noor Damayanti. Selain itu, buku yang tebalnya 403 halaman itu ada juga kisah tentang perjuangan Chrisye saat bergulat dengan penyakit kanker stadium 4 yang dideritanya. Serta curahan hati sang istri pun tergores di buku itu.

Yang paling menjadi incaran pembaca adalah di bagian seteru Chrisye dengan sahabatnya, musisi senior, Yockie Suryoprayogo. Saat itu Yockie merupakan teman Chrisye saat bekerjasama untuk album Badai Pasti Berlalu yang nge-hits itu.
Selama hampir setahun menggarap buku biografi Chrisye sepanjang tahun 2006, Alberthiene Endah tak hanya mampu menggali kisah hidup menarik sang legenda, tapi juga menyaring curahan hati yang sangat bernilai dari diri seorang Chrisye. Obrolan heart to heart seusai makan malam mencuatkan bagaimana perasaan, pikiran, dan perenungan Chrisye saat melewati rentang masa setahun terakhir hidupnya. Batinnya mengalami metamorfosis rasa dari kecemasan menghadapi hari akhir, kesedihan meninggalkan kariernya, hingga kepasrahan dan sikap realistis untuk mengisi sisa hidup dengan penuh rasa syukur.

"Saya, seperti juga kebanyakan orang lain, pernah salah mencerna makna menikmati hidup. Saya pernah hidup bersenang-senang, menghabiskan uang untuk memuaskan hasrat menikmati kebahagiaan hidup, sebetulnya makna dari menikmati hidup adalah mensyukuri segala yang diberikan-Nya, menjalani kehidupan yang seimbang, mampu membahagiakan diri, dan selalu ingat pada Tuhan. Hidup akan terus menerus menawarkan godaan tiada henti dan kita jangan sampai menjadi budak magnet duniawi. Kecuali kalau kita tidak takut pada hari akhir,” kata Chrisye di dalam satu kutipan di buku tersebut.


4. 10 Tahun Setelah Chrisye Pergi: Eskpresi Kangen Penggemar

Foto: Google
Buku ini merupakan ekspresi kangen para penggemar Chrisye sekaligus untuk memperingati 10 tahun meninggalnya Chrisye. Di dalamnya berisi kumpulan kliping dari berbagai media cetak dan elektronik, yang dikumpulkan oleh penggemar Chrisye. Juga, berisi kesan-kesan terhadap Chrisye dari keluarga, sahabat dekat, penggemar, juga dari para pewarta berita.

Buku ini diharapkan dapat menghidupkan kembali sosok Chrisye yang sangat bersahaja dan konsisten dalam berkarya dan bernyanyi. Karya-karyanya yang begitu melegenda selalu dikenang dan bahkan dinyanyikan kembali oleh penyanyi muda saat ini. Dari kumpulan kliping ini kita juga bisa mengetahui sosok Chrisye di mata keluarganya.


Dua orang di Balik Buku-buku Chrisye.

HIngga saat ini buku mengenai sosok Chrisye tertuang dalam beragam tema yang berjumlah empat buku. Ada dua sosok penting di belakang pembuatan buku-buku Chrisye tersebut.

1. Ferry M Baldan
Ferry Mursyidan Baldan adalah Mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional. Tapi pria kelahiran 16 Juni 1961 itu termasuk sebagai penggemar fanatik Chrisye.

Foto: Google
Saking fanatiknya, Ferry selalu membuat kegiatan untuk memperingati hari kematian Chrisye. Dia juga membentuk Komunitas Kangen Chrisye (K2C). Hingga saat ini Ferry yang membidani dua buku Chrisye, yakni Chrisye, Kesan Di Mata Media, Sahabat dan Fans dan 10 Tahun Setelah Chrisye Pergi: Eskpresi Kangen Penggemar.

Ferry memiliki satu keinginan yang belum terwujud, yakni Chrisye's Corner  sebagai tempat yang bisa menampung segala hal tentang pelantun Llin-lilin Kecil itu. Nantinya, tempat itu bisa menjadi sumber informasi mengenai Chrisye bagi generasi muda yang tidak mengenal pria bersahaja itu.

"Nanti di tempat itu kita bisa nonton bareng film Chrisye, mendengarkan lagu-lagunya, atau ada merchandise Chrisye," kata Ferry dikutip dari website pribadinya https://ferrymbaldan.id

Menurutnya, Chrisye adalah pribadi yang introvert, tertutup dan nyaris tidak pernah mempublikasi keluarganya, hanya karya-karyanya saja.

2. Alberthiene Endah
Foto: Google
Alberthiene Endah termasuk salah satu orang yang banyak menghabiskan waktu dihari-hari terakhir Chrisye. Penulis buku Chrisye, Sebuah Memoar Musikal dan The Last Words of Chrisye, mengaku sempat menolak tawaran untuk menulis buku Chrisye. Ketika pertama kali ditawari Alex Komara untuk menulis buku yang pertama, ia mengaku khawatir. Pasalnya, Chrisye bukan orang yang gampang bicara.

Namun selama satu bulan terkahir, kondisi Chrisye banyak berubah. Secara emosional, saat itu adalah saat-saat ketika Chrisye berbicara panjang lebar tentang perjalanan hidupnya dari album pertamanya yang masih klasik.Kata-kata terakhir yang diingat Alberthiene adalah saat Chrisye meminta komentarnya tentang kondisinya.

"Saat itu ia berpikir bahwa sepanjang hidupnya ia tak pernah menurunkan ilmu secara terbuka. Di saat ia menderita kanker ia merasa hari harinya bakal bermakna bila ia bisa membagikan ilmunya yg berharga, yakni pengalamannya," kata Alberthiene kepada saya lewat kontak japrian.

Perjalanan Hidup Chrisye

Foto: Google
Nama asli Chrisye, Chrismansyah Rahadi (lahir dengan nama Christian Rahadi) lahir di Jakarta, 16 September 1949. Chrisye tumbuh di keluarga Laurens Rahadi (Lauw Tek Kang), seorang wirausaha keturunan Betawi-Tionghoa, dan Hanna Rahadi (Khoe Hian Eng), seorang ibu rumah tangga keturunan Sunda-Tionghoa. Dia anak kedua dari tiga anak laki-laki yang bernama Joris dan Vicky. Setelah masa kecilnya dihabiskan di Jalan Talang, dekat Menteng, Jakarta Pusat, pada tahun 1954 keluarga itu berpindah ke Jalan Pegangsaan.

Saat sekolah di SD GIKI, Chrisye berteman dengan anak-anak keluarga Nasution, yang menjadi tetangganya, dia paling akrab dengan Bamid Gauri, dengan siapa dia sering bermain bulu tangkis dan layang-layang. Pada waktu itu dia juga mulai mendengarkan piringan hitam milik ayahnya, dia bernyanyi mengiringi lagu-lagu Bing Crosby, Frank Sinatra, Nat King Cole, dan Dean Martin.

Saat Chrisye duduk di bangku SMA PSKD Menteng, Beatlemania tiba di Indonesia. Ini membuat Chrisye lebih tertarik dengan dunia musik. Melihat Chrisye tertarik bermain musik, ayahnya membeli sebuah gitar. Chrisye memilih gitar bas, sebab dia beranggapan bahwa gitar tersebutlah yang paling mudah dipelajari.

Chrisye dan Joris, sang kakak belajar bermain musik dengan mengikuti lagu-lagu di radio dan piringan hitam ayah mereka, akibatnya, mereka tidak dapat membaca nota musik. Mereka lama-kelamaan mulai main musik di acara sekolah, dengan Chrisye sebagai vokalisnya. Juga waktu di SMA, Chrisye diam-diam mulai merokok,  pada suatu saat, dia ditangkap kepala sekolah dan disuruh merokok delapan batang secara bersamaan di depan siswa-siswi lain, tetapi dia tetap terus merokok sehingga menjadi perokok berat.

Awal karier Chrisye dimulai pada  1967 saat bergabung dengan keluarga Nasution di Komunitas Gank Pegangsaan. Bermain sebagai bassis dan vokalis pada band “Sabda Nada” yang dimodali oleh Pontjo Sutowo. Sempat dikontrak untuk bermain di New York selama 1 tahun, setelah kembali ke Indonesia untuk waktu singkat, dia kembali ke New York dengan band lain, yaitu The Pro's. Sekembali ke Indonesia, pada tahun 1976 dia bekerja sama dengan Gipsy dan Guruh Soekarnoputra untuk merekam album indie Guruh Gipsy.

Setelah keberhasilan Guruh Gipsy, pada  1977 Chrisye menghasilkan dua karya terbaiknya, yaitu Lilin-Lilin Kecil karya James F. Sundah serta album jalur suara Badai Pasti Berlalu.  Chrisye membuat soundtrack film Badai Pasti Berlalu bersama Jockie Surjoprajogo dan Eros Djarot.

Sukses kedua karya ini membuat Chrisye direkrut oleh Musica Studios, dia merilis album solo perdananya, Sabda Alam, pada 1978. Selama kariernya yang lebih dari 25 tahun dia menghasilkan 18 album solo lain, serta main dalam satu film: Seindah  
Rembulan (1981).

Julukan musisi tiga dekade yang pernah diembannya, ternyata salah satu trik Chrisye untuk berkolaborasi dengan musisi yang sedang hits saat itu. Chrisye mampu menandingi bahkan memiliki nilai tersendiri.  Sebut saja musisi yang pernah berkolaborasi dengannyal sebut saja Ahmad Dhani, Peterpan, Ungu, Naif hingga Eross Chandra dari Sheila On 7.

Menikah

Foto: Ferry, salah satu anak Chrisye, istri Chrisye, Mbak Yanti (Google)
Biarpun disuka para groupie, Chrisye sampai awal tahun 1980-an jarang berpacaran.  Akan tetapi pada awal1981, dia mulai mendekati sekretaris Guruh Soekarnoputra, yaitu Gusti Firoza Damayanti Noor (Yanti). Yanti, yang mempunyai keturunan Dayak dan Minang, juga seorang penyanyi dan berasal dari keluarga musisi; dia sering membahas musik dengan Chrisye saat Chrisye menunggu Guruh, dan mereka juga bertemu saat Chrisye mengunjungi kakaknya, Raidy, yang merupakan salah satu temannya.

Saat Yanti pindah ke Bali untuk bekerja di hotel bintang lima selama beberapa minggu, Chrisye mengikutinya dan menyatakan bahwa dia siap menikahinya ketika Yanti kembali ke Jakarta; biarpun itu bukan lamaran resmi, Yanti menerima.  Pada 1982 Chrisye masuk Islam, pada  12 Desember 1982 Chrisye dan Yanti menikah di suatu acara bergaya adat Padang. Mereka dikaruniai empat anak, Rizkia Nurannissa, Risty Nurraisa, Rayinda Prashatya dan Randa Pramsha (kembar).

Chrisye meninggal di rumahnya di Jakarta pada tanggal 30 Maret 2007 setelah bertahun-tahun mengidap kanker paru-paru.
Penghargaan

Foto: Google
Banyak penghargaan yang telah diraihnya. Lima album yang termasuk karyanya dimuat dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik oleh majalah musik Rolling Stone Indonesia. Lima lagunya dalam daftar lagu terbaik oleh majalah yang sama pada 2009. Beberapa albumnya disertifikasi perak atau lebih tinggi. Dia menerima dua lifetime achievement award, satu pada tahun 1993 dari BASF Awards dan satu lagi pada tahun 2007 dari stasiun televisi SCTV. Pada  2011, Rolling Stone Indonesia mencatat Chrisye sebagai musisi Indonesia terbaik nomor tiga sepanjang masa.
11 Tahun setelah Chrisye pergi, belum ada musisi yang hingga kini menggantikan tempatnya, baik dari karya, suara dan sifatnya yang bersahaja.

Alia Fathiyah | Berbagai Sumber











3 comments

  1. Kayanya kalau harus mencari lagi, saya belum bisa menemukan sosok chrisye di penyanyi lain. Seperti yang Mbak Alia bilang, ekspresi nyanyinya yang cenderung datar, tapi justru dia sangat menjiwai lagu yang dinyanyikan. Saya beberapa kali nangis kalo denger lagu-lagu beliau yang super mellow.

    Suatu hari saya pernah di toko buku dan lagunya diputar di sana. Saya langsung diem... dan tiba2 air mata udah keluar aja. Sampe kayak gitu! Saya lupa apa judulnya, tapi tiap denger lagu itu nggak bisa nahan sedih...

    Semoga beliau tenang di sisiNya :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, Al Fatihah untuk mas Chrisye. Suaranya bening ya, menyejukkan, mbak fans beratnya ya? gabung aja sama komunitas bang ferry m baldan mbak

      Delete
  2. Enggak kerasa ya Mba Al, ternyata udah 11 tahun Chrisye pergi.. :( Tapi lagu-lagunya tetap abadi, ya. Sampai sekarang pun masih suka denger lagu Chrisye.. Lagu-lagunya ada juga yang bikin aku merinding dan punya kesan mendalam..

    ReplyDelete