Jelajah Banten Lama nan Eksotik




Nggak tahu kenapa, gue suka yang berbau-bau kuno, oldskool, antik, klasik, sejarah dan cerita masa lalu. Ketika mendatangi sebuah reruntuhan dari masa lalu, pikiran gue langsung membayangkan seperti apa tempat itu di masa lalu.

Nah, ketika ada yang menawarkan untuk melakukan Jelajah Kota Banten Lama, gue langsung mengangguk setuju. Padahal, waktu itu acaranya hari Minggu dan gue harus keluar rumah jam 6 pagi! Bbeeuuhhhh, kalau untuk urusan liputan waktu masih jadi wartawan, mana mau gue keluar rumah jam segitu. *wartawan macam apa kamoh?? (mata melotot ala sinetron).

Keraton Kaibon

Keraton Kaibon tidak berubah, masih sama sejak gue tinggalkan beberapa tahun lalu. Yang berbeda, kini sudah ramai. Dulu, waktu gue ke sana sama anak dan suami, sepi banget, cuma kita aja yang ada di situ. Tapi sekarang, sepertinya sudah banyak yang tertarik dan menjelajahi keraton eksotik itu.

Dibandingkan Keraton Surosowan, di Keraton Kaibon masih banyak sisa reruntuhannya. Dari cerita yang gue baca, istana itu dibuat Sultan Syaifudin untuk ibundanya, Ratu Aisyah. Kaibon itu artinya keibuan.

Keraton Kaibon
Sisa kerajaan menggunakan bata merah yang kokoh. Masih tersisa gerbang dan pintu-pintu besar yang ada dalam kompleks istana. Sebuah pintu berukuran besar yang dikenal dengan nama Pintu Paduraksa (khas bugis) dengan bagian atasnya yang tersambung, tampak masih bisa dilihat secara utuh. Deretan candi bentar khas banten yang merupakan gerbang bersayap.

Di bagian lain, sebuah ruangan persegi empat dengan bagian dasarnya yang lebih rendah atau menjorok ke dalam tanah, diduga merupakan kamar dari Ratu Aisyah. Ruang yang lebih rendah ini diduga digunakan sebagai pendingin ruangan dengan cara mengalirkan air di dalamnya dan pada bagian atas baru diberi balok kayu sebagai dasar dari lantai ruangan. Bekas penyangga papan masih terlihat jelas pada dinding ruangan ini. (sumber: Wikipedia, Lol).
Narsis dulu. "Namaste"

Bangunan besar yang tersisa konon itu adalah masjid, masih ada ruang kecil untuk imam sholat. Lalu ada pilar-pilar tinggi yang sangat megah dan anggun.

Lalu ke Keraton Surosowan


Nah, bangunan ini nyaris rata dengan tanah. Tapi lebih luas, sepertinya zaman dulu menjadi sebuah kerajaan besar. Menuju ke sini, harus melewati banyaknya orang jualan sejak dari parkiran mobil.

Nggak enaknya begini nih, tempat wisata yang seharusnya dilindungi dan dilestarikan, terlihat tidak terurus. Menuju pintu masuk Keraton, sangat crowded, ditunjang dengan sengatnya panas matahari, jalanan yang tidak diaspal, bahkan jika habis hujan jadi becek. Yang bikin rada ilfil, pas masuk tercium bau eek embekkk...

Masih ada lagi yang tragis pemirsah. Dari pintu masuk, di pojok sebelah kanan dekat pohon besar, ada tangga batu merah yang rimbun oleh rumput menuju ke bawah. Tau gak, teman gue menemukan apa? Kondom bekas sodara-sodara! OeMJii...
TKP ketemunya si k***dom
Begitulah, jika tempat wisata gratis dengan banyak pepohonan dan bebas orang keluar masuk, justru dimanfaatkan untuk kegiatan mesum.

Sutralah, itu urusan Pemkot Serang dan Pemrov Banten untuk menjaga situs sejarah yang terbengkalai itu. Padahal, Sejak  1995, Kota Kuno Banten telah diusulkan ke UNESCO untuk dijadikan salah satu Situs Warisan Dunia. Dari 1995-2016 sudah berapa tahun coba? Masih status diusulkan ckckckc, capedeee.

Konon, Surowowan mirip sebuah benteng Belanda yang kokoh dengan bastion (sudut benteng yang berbentuk intan) di empat sudut bangunannya. Sehingga pada masa jayanya Banten juga disebut dengan Kota Intan.

Saat ini bangunan di dalam dinding keraton tak ada lagi yang utuh. Hanya menyisakan runtuhan dinding dan pondasi kamar-kamar berdenah persegi empat yang jumlahnya puluhan. Menariknya, masih ada kolam persegi empat. Konon, kolam tersebut adalah bekas pemandian para putri termasuk Rara Denok. Dengan luas sekitar 4 hektare. Bangunan sejarah ini dihancurkan oleh Belanda pada masa kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa tahun 1680.(Wikipedia, Lol-2)

Museum Purbakala Banten Lama


Ruangannya kecil, dan agak panas, karena pendingin AC tak berfungsi (hhmmm). Di halaman museum terlihat Meriam Ki Amuk. Di dalam museum banyak terdapat benda peninggalan kerajaan Banten Lama, seperti tombak, keris dan balok yang digunakan untuk gerbang Keraton serta besi-besi.


Juga terdapat miniatur wilayah Banten Lama yang terletak di sisi teluk Banten, lalu banyak pula dipajang silsilah raja-raja dari Kesultanan Banten Lama, serta patung sapi peninggalan kebudayaan masyarakat Hindu jauh sebelum Islam ada di Indonesia. Gue nggak bisa cerita banyak soal museum ini, selain gue kepanasan, dan lay outnya kurang menarik.

Vihara Avalokitesvara 


Inilah Vihara yang Tertua di Banten. Vihara Avalokitesvara memiliki luas mencapai 10 hektar dengan altar Dewi kwan Im sebagai Altar utamanya. Di altar ini terdapat patung Dewi Kwan Im yang berusia hampir sama dengan bangunan vihara tersebut. Selain itu di sisi samping kanan dan kiri terdapat patung dewa-dewa yang berjumlah 16 dan tiang batu yang berukir naga. (Wikipedia, Lol-3).
Kata penjaga di sana, bentuk dan isi yang ada di dalam vihara masih dijaga keasliannya oleh pihak pengelola. Bahkan bangunan vihara ini masih terlihat kokoh layaknya bangunan baru dengan warna merahnya yang khas. Kata si penjaga itu lagi, hati-hati di Vihara, jangan aneh-aneh, karena semua patung di sana itu ada unsur ghaibnya. Setelah mendengar itu, gue pun langsung ngibrit keluar.

Nah yang terakhir gue kunjungin adalah

Benteng Speelwijk
 
Pemandangan Benteng dari atas
Gak berbeda jauh dengan Surosowan, masuk ke dalam benteng setelah melewati jembatan dari Vihara tercium bau embek. Pantes, si embek-embek itu berkeliaran tidak sopan di dalam benteng. Belum lagi setumpuk sampah yang bertengger manis di pintu masuk.

Namanya, Benteng bangunannya terlihat kokoh dan kuat juga tinggi. Semua ruangan dibuat dari dinding batu. Ke arah dalam terlihat lorong gelap, yang ternyata tempat para tahanan disekap. Gue nggak berani masuk, meski siang hari, tetiba ada yang nyolek pas nengok gelap gimana hayo. Mending cari aman, gue menuju atas yang disambut ruangan terbuka dengan pijakan batu.

Warrior Pose #Yogaaddict
Nah, hari sudah mulai sore. Gue pun bersiap-siap pulang ke rumah. Meski senang, tapi masih ada yang mengganjal. Kurangnya perhatian pemerintah setempat untuk melestarikan situs purbakala. Gue yakin, jika diolah dengan benar dan serius, banyak turisman (turis manca negara) yang datang berkunjung dan bisa memberikan penghidupan yang layak bagi masyarakat sekitarnya, dengan berjualan. Tul gak.


Tips Kecil Jika Jelajah Banten Lama:

1. Pakai baju adem, menyerap keringat. Karena dekat dengan laut, cuacanya panas banget, padahal masih jam 9 pagi.
2. Pakai sunblock
3. Pakai kaca mata hitam, biar gaya dan kece
4. Pakai topi atau payung
5. Jangan lupa minuman dingin
6. Better naik mobil, jika ingin jelajah dari Kaibon ke lokasi lainnya
7. Kalau bisa bawa makanan sendiri, gue gak recomended orang dagang di sekitar situ
8. Pakai sepatu nyaman, kets paling mantaplah
 Silahkan ikutan share di bagian komentar ya geyss

AAL