Rasanya Jadi Wartawan Gosip (5), Inilah Sang Diva Krisdayanti



Wuiihhh lama juga gue nggak nulis soal wartawan gosip, udah berbulan-bulan ternyata...Akhirnya sampai juga ke bagian pertama kali wawancara Krisdayanti, yeayy.

Karena gue wartawan udah senior (jaaahhhh guubraakk), jadi pertemuan pertama kali dengan KD ini berlangsung belasan tahun lalu.

Salutnya gue sama Mimi ini, namanya tetap berkibar hingga saat ini. Nggak heran jika dia menjadi seorang diva pop di Tanah Air. Suaranya yang khas, merdu, mendayu dan memiliki warna sendiri. Mau nyanyi mellow, KD jagonya, nyanyi dengan up beat juga dilahapnya dengan sempurna.

Jadi ketika pertama kali ketemu KD gue seneng banget. Saat itu nama doi lagi di atas-atasnya (sekarang juga sih). Apalagi saat itu banyak yang ngebahas alis KD yang meliuk-liuk (dulu nge-hits tuh,  bulu mata baday Syahrini lewat, Lol), body-nya yang seksi dan dandanannya yang juara. Bayangin, make up KD bisa bertahan begitu selama berjam-jam tanpa luntur sedikitpun. Kalau soal penampilan, KD memang tiada duanya.

"Saya ini dibayar mahal untuk tampil cantik, jadi saya harus memberikan penampilan yang bagus untuk penggemar saya," KD selalu komentar begitu jika ada wartawan yang bertanya soal dandanannya yang tebal.

KD memang total sebagai entertainer, dia memberikan 100 persen untuk penggemarnya, nggak heran jika ibu empat anak ini bisa terus berjaya hingga seperti sekarang.  Bukan cuma dengan penggemar, dengan wartawan KD termasuk artis ramah. Ketika jaman-jamannya gue jadi "anak lapangan aktif" (sebutan wartawan yang sering liputan di luar kantor), KD selalu  mau menjawab semua pertanyaan wartawan dengan apa adanya (ini menurut gue lho).

Dan dia nggak itungan sama wartawan. Biasanya, jika artis bikin acara, misalnya ulang tahun anaknya, wartawan bagian yang "dicuekin". Tapi, ketika itu, udah lama banget, ketika Aurel dan Azriel ultah di Hotel Mulya wartawan ikutan meliput. Ini acara jadi sumber berita yang bisa dibikin stock. Tamu yang hadir pastinya artis-artis papan atas. Kalau gue biasanya satu artis itu bisa dibikin beberapa angle berita. Jadi bayangin, ketika yang hadir paling  nggak 5 artis, untuk berapa hari gue bertahan dengan banyaknya berita tanpa liputan?

Dan biasanya, cara gue mencari berita itu diprioritaskan artis papan atas yang banyak pembacanya. Jika sudah tuntas habis, baru gue mulai melirik artis kelas B dan C, yang pembacanya nggak jelas ada atau  nggak. (Kasian ya orang yang usaha banget jadi artis, Lol).

Nah, tamu-tamu yang hadir tentunya dikasih souvenir mewah dong. N you know what, KD juga memberikannya ke semua wartawan yang hadir! Jarang-jarang ada artis kayak gini.

Untuk kasih aqua gelas aja ke wartawan, seorang artis bisa mikir seribu kali. Inget gak berita belum lama ini. Ada artis bikin acara pas bulan puasa, wartawan nggak disuguhi apapun, meski cuma aqua gelas untuk buka puasa. Ter..laaa..luuuuu

Okehhh...udah kejauhan gue ceritanya..


Jadi begini awalnya, saat pertama jadi wartawan hiburan, gue di plot kantor untuk mencari dan wawancara artis yang mengulik tentang kehidupannya, kebiasaanya, apa yang dia suka. "Pokoknya apapun yang terjadi sama seorang artis, itu layak tulis dan pasti bakal dibaca," redaktur gue selalu bicara begitu.

Alhasil, dulu kerjaan gue itu mendatangi studio televisi satu ke studio televisi lainnya. Di studio mana ada syuting kuis, syuting musik, syuting acara, di situlah gue mencari berita. Nah, dulukan Indosiar itu suka bikin acara musik dan memiliki ruang ganti serta ruang make up yang gede.

Biasanya, gue menunggu di kursi di depan pintu. Malah kalau nggak ada satpam, gue suka nekat masuk ke dalam dan duduk di sebelah artis lalu wawancara. Jadi si artis lagi make up atau makan, atau ganti baju, gue nge-jogrok aja deket mereka tanya macem-macem. Alhamdulillahnya sih, artisnya asik-asik aja, nggak ada yang rese. Mungkin wajah imut gue bikin mereka nggak tega tuk ngusir gue, wkwkkw.

Bahkan, saking sok polosnya, gue pernah masuk menyelinap dan duduk di sebelah Julio Iglesias Junior yang sedang di make up. Gue yang bahasa inggrisnya acak-acakannya nyerocos aja nanya sambil terpana melihat wajah gantengnya si Julio #eeaaaa. Tapi ujung-ujungnya diusir juga sih sama label musiknya, katanya gue pendatang ilegal,Lolllsss

Nah, pas lagi duduk di depan pintu studio itu, tetiba KD keluar. Gue inget banget dia pakai baju apa saat itu. Waktu itu Aurel masih kecil banget ditemenin suster. KD rambutnya sebahu pakai kaous ketat putih tanpa lengan dan celana palazo coklat.

Karena saat itu sering nonton infotainment dan sering mendengar KD suka nge-bahas bodynya yang sekel serta bokongnya yang nungging (piss ya Mi, hehehe) reflek gue lihat bokongnya KD dan membatin. "Iya nungging," hahahha kocak banget.

KD baik banget, meski saat itu dia pertama kali bertemu gue. (Biasanya artis besar, kalau ditanya sama wartawan baru, suka agak-agak males jawab pertanyaan). Saat itu wartawan hiburan dan infotainment masih bisa dihitung jari. Dia jawab aja semua pertanyaan gue, tanpa dia balik bertanya gue dari media mana.

Setelah itu, gue jadi sering ketemu KD dan dia jadi hafal muka gue, karena di mana ada artis pasti di situ ada gue. Lo liat aja muka gue, pasti lo bakal liat muka artis (hahahah).

Saking seringnya ketemu KD, gue ampe lupa mau foto bareng. Itupun, tiba-tiba inget sehabis jumpa pers konser tunggal KD, kalau nggak salah tahun 2009. KD kolaborasi dengan Melly Goeslaw. Dan setelah jumper ini baru tersiar kabar KD akan bercerai dengan Anang Hermansyah.

"Foto bareng Yan, gue nggak ada foto sama elo," kata gue.

"Sini, elo udah 10 tahun jadi wartawan masa baru sekarang foto sama gue," kata KD.

Saking senengnya foto sama KD, mata gue ampe ilang

Setelah foto gue baru nyadar, saat itu gue emang udah 10 tahun jadi wartawan. Senangnya dia ingat masa pertama kali bertemu. Gudlak Yan, suara lo nggak ada yang nyamain. You always keep being a diva!
(yang pingin baca rasanya wartawan gosip sebelumnya, di sini 1 2 3 4)

AAL




Jelajah Banten Lama nan Eksotik




Nggak tahu kenapa, gue suka yang berbau-bau kuno, oldskool, antik, klasik, sejarah dan cerita masa lalu. Ketika mendatangi sebuah reruntuhan dari masa lalu, pikiran gue langsung membayangkan seperti apa tempat itu di masa lalu.

Nah, ketika ada yang menawarkan untuk melakukan Jelajah Kota Banten Lama, gue langsung mengangguk setuju. Padahal, waktu itu acaranya hari Minggu dan gue harus keluar rumah jam 6 pagi! Bbeeuuhhhh, kalau untuk urusan liputan waktu masih jadi wartawan, mana mau gue keluar rumah jam segitu. *wartawan macam apa kamoh?? (mata melotot ala sinetron).

Keraton Kaibon

Keraton Kaibon tidak berubah, masih sama sejak gue tinggalkan beberapa tahun lalu. Yang berbeda, kini sudah ramai. Dulu, waktu gue ke sana sama anak dan suami, sepi banget, cuma kita aja yang ada di situ. Tapi sekarang, sepertinya sudah banyak yang tertarik dan menjelajahi keraton eksotik itu.

Dibandingkan Keraton Surosowan, di Keraton Kaibon masih banyak sisa reruntuhannya. Dari cerita yang gue baca, istana itu dibuat Sultan Syaifudin untuk ibundanya, Ratu Aisyah. Kaibon itu artinya keibuan.

Keraton Kaibon
Sisa kerajaan menggunakan bata merah yang kokoh. Masih tersisa gerbang dan pintu-pintu besar yang ada dalam kompleks istana. Sebuah pintu berukuran besar yang dikenal dengan nama Pintu Paduraksa (khas bugis) dengan bagian atasnya yang tersambung, tampak masih bisa dilihat secara utuh. Deretan candi bentar khas banten yang merupakan gerbang bersayap.

Di bagian lain, sebuah ruangan persegi empat dengan bagian dasarnya yang lebih rendah atau menjorok ke dalam tanah, diduga merupakan kamar dari Ratu Aisyah. Ruang yang lebih rendah ini diduga digunakan sebagai pendingin ruangan dengan cara mengalirkan air di dalamnya dan pada bagian atas baru diberi balok kayu sebagai dasar dari lantai ruangan. Bekas penyangga papan masih terlihat jelas pada dinding ruangan ini. (sumber: Wikipedia, Lol).
Narsis dulu. "Namaste"

Bangunan besar yang tersisa konon itu adalah masjid, masih ada ruang kecil untuk imam sholat. Lalu ada pilar-pilar tinggi yang sangat megah dan anggun.

Lalu ke Keraton Surosowan


Nah, bangunan ini nyaris rata dengan tanah. Tapi lebih luas, sepertinya zaman dulu menjadi sebuah kerajaan besar. Menuju ke sini, harus melewati banyaknya orang jualan sejak dari parkiran mobil.

Nggak enaknya begini nih, tempat wisata yang seharusnya dilindungi dan dilestarikan, terlihat tidak terurus. Menuju pintu masuk Keraton, sangat crowded, ditunjang dengan sengatnya panas matahari, jalanan yang tidak diaspal, bahkan jika habis hujan jadi becek. Yang bikin rada ilfil, pas masuk tercium bau eek embekkk...

Masih ada lagi yang tragis pemirsah. Dari pintu masuk, di pojok sebelah kanan dekat pohon besar, ada tangga batu merah yang rimbun oleh rumput menuju ke bawah. Tau gak, teman gue menemukan apa? Kondom bekas sodara-sodara! OeMJii...
TKP ketemunya si k***dom
Begitulah, jika tempat wisata gratis dengan banyak pepohonan dan bebas orang keluar masuk, justru dimanfaatkan untuk kegiatan mesum.

Sutralah, itu urusan Pemkot Serang dan Pemrov Banten untuk menjaga situs sejarah yang terbengkalai itu. Padahal, Sejak  1995, Kota Kuno Banten telah diusulkan ke UNESCO untuk dijadikan salah satu Situs Warisan Dunia. Dari 1995-2016 sudah berapa tahun coba? Masih status diusulkan ckckckc, capedeee.

Konon, Surowowan mirip sebuah benteng Belanda yang kokoh dengan bastion (sudut benteng yang berbentuk intan) di empat sudut bangunannya. Sehingga pada masa jayanya Banten juga disebut dengan Kota Intan.

Saat ini bangunan di dalam dinding keraton tak ada lagi yang utuh. Hanya menyisakan runtuhan dinding dan pondasi kamar-kamar berdenah persegi empat yang jumlahnya puluhan. Menariknya, masih ada kolam persegi empat. Konon, kolam tersebut adalah bekas pemandian para putri termasuk Rara Denok. Dengan luas sekitar 4 hektare. Bangunan sejarah ini dihancurkan oleh Belanda pada masa kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa tahun 1680.(Wikipedia, Lol-2)

Museum Purbakala Banten Lama


Ruangannya kecil, dan agak panas, karena pendingin AC tak berfungsi (hhmmm). Di halaman museum terlihat Meriam Ki Amuk. Di dalam museum banyak terdapat benda peninggalan kerajaan Banten Lama, seperti tombak, keris dan balok yang digunakan untuk gerbang Keraton serta besi-besi.


Juga terdapat miniatur wilayah Banten Lama yang terletak di sisi teluk Banten, lalu banyak pula dipajang silsilah raja-raja dari Kesultanan Banten Lama, serta patung sapi peninggalan kebudayaan masyarakat Hindu jauh sebelum Islam ada di Indonesia. Gue nggak bisa cerita banyak soal museum ini, selain gue kepanasan, dan lay outnya kurang menarik.

Vihara Avalokitesvara 


Inilah Vihara yang Tertua di Banten. Vihara Avalokitesvara memiliki luas mencapai 10 hektar dengan altar Dewi kwan Im sebagai Altar utamanya. Di altar ini terdapat patung Dewi Kwan Im yang berusia hampir sama dengan bangunan vihara tersebut. Selain itu di sisi samping kanan dan kiri terdapat patung dewa-dewa yang berjumlah 16 dan tiang batu yang berukir naga. (Wikipedia, Lol-3).
Kata penjaga di sana, bentuk dan isi yang ada di dalam vihara masih dijaga keasliannya oleh pihak pengelola. Bahkan bangunan vihara ini masih terlihat kokoh layaknya bangunan baru dengan warna merahnya yang khas. Kata si penjaga itu lagi, hati-hati di Vihara, jangan aneh-aneh, karena semua patung di sana itu ada unsur ghaibnya. Setelah mendengar itu, gue pun langsung ngibrit keluar.

Nah yang terakhir gue kunjungin adalah

Benteng Speelwijk
 
Pemandangan Benteng dari atas
Gak berbeda jauh dengan Surosowan, masuk ke dalam benteng setelah melewati jembatan dari Vihara tercium bau embek. Pantes, si embek-embek itu berkeliaran tidak sopan di dalam benteng. Belum lagi setumpuk sampah yang bertengger manis di pintu masuk.

Namanya, Benteng bangunannya terlihat kokoh dan kuat juga tinggi. Semua ruangan dibuat dari dinding batu. Ke arah dalam terlihat lorong gelap, yang ternyata tempat para tahanan disekap. Gue nggak berani masuk, meski siang hari, tetiba ada yang nyolek pas nengok gelap gimana hayo. Mending cari aman, gue menuju atas yang disambut ruangan terbuka dengan pijakan batu.

Warrior Pose #Yogaaddict
Nah, hari sudah mulai sore. Gue pun bersiap-siap pulang ke rumah. Meski senang, tapi masih ada yang mengganjal. Kurangnya perhatian pemerintah setempat untuk melestarikan situs purbakala. Gue yakin, jika diolah dengan benar dan serius, banyak turisman (turis manca negara) yang datang berkunjung dan bisa memberikan penghidupan yang layak bagi masyarakat sekitarnya, dengan berjualan. Tul gak.


Tips Kecil Jika Jelajah Banten Lama:

1. Pakai baju adem, menyerap keringat. Karena dekat dengan laut, cuacanya panas banget, padahal masih jam 9 pagi.
2. Pakai sunblock
3. Pakai kaca mata hitam, biar gaya dan kece
4. Pakai topi atau payung
5. Jangan lupa minuman dingin
6. Better naik mobil, jika ingin jelajah dari Kaibon ke lokasi lainnya
7. Kalau bisa bawa makanan sendiri, gue gak recomended orang dagang di sekitar situ
8. Pakai sepatu nyaman, kets paling mantaplah
 Silahkan ikutan share di bagian komentar ya geyss

AAL