Saturday, June 6, 2015

Bayiku Terkena Atresia Yeyunum


Menjelang usia 40 tahun, saya hamil lagi. Dua bulan sebelumnya, saya sempat hamil tapi hanya bertahan 7 minggu karena janin tidak berkembang dan harus dikuret. Sejak mengetahui positif hamil, saya sudah terus-terusan flek.

Dokter Christina SPog, di RSIA Carolus Gading Serpong, menyarankan untuk bedrest. Jadilah saya cuti dari kantor selama 1 bulan. Ternyata flek tetap berlanjut hingga kehamilan masuk 4 bulan. Sayapun tidak masuk kerja selama itu, baik sekali kantor saya memberikan saya cuti.

Tragedi yang memicu bayi saya terkena Atresia Yeyunum, sepertinya saat saya pendarahan hebat. Saat itu habis lebaran, asisten rumah tangga mudik tapi nggak balik lagi. Sebagai seorang perempuan, insting kewanitaanya tersentuh melihat dua bocah  dan suami yang tak terurus. Saya balik ke dapur, padahal hanya masak ringan dan cuci piring.

Setelah masak dan cuci piring saya kelelahan tertidur di sofa ruang tamu. Selama satu jam tertidur saya bangun tiba-tiba karena merasakan ada cairan yang keluar.

Saya terkejut bukan main ketika melihat darah bercucuran. Saya panik, suami lebih panik. Lalu kami memutuskan ke RS Carolus. Dalam perjalanan bayangan buruk terus di depan mata. Itu perasaan yang sangat sedih dan sulit dibayangkan. Sepertinya itu pertama kali saya terlihat menangis hebat di depan orang, meski suami sendiri, hiks.

Saya langsung menuju UGD, dan terus mempertanyakan bagaimana keadaan bayi di dalam perut saya? Mata ini sudah sembab dan bengkak. Suster pun melakukan serangkaian tes untuk mendeteksi jatung bayi yang saat itu berusia 4 bulan di dalam perut.

Alhamdulillah kondisi bayi masih baik, bahkan gesit.

Itu awal terjadinya gangguan usus pada bayi saya, karena adanya pendarahan waktu hamil muda, begitu keterangan yang diberikan dokter bedah anak.

Pada usia kehamilan 34 minggu, dokter kandungan menemukan kejanggalan di usus bayi saya. Katanya perut baby besar, ternyata dari usus yang ukurannya di luar normal, tapi dokter meyakinkan itu akan mengecil. Dia merekemondasikan untuk USG 4 dimensi dengan ahlinya,yakni Dr Azen Salim, yang juga dokter kandungan Aliyah Rajasa, mantu dari mantan presiden SBY.

Dokter yang juga praktek di RS Pondok Indah itu ternyata popular. Saya harus menunggu 1 minggu untuk konsultasi dengannya. Saya pun datang ke BSD Junction, tempat dia praktek dan memang ramai. Dokternya sudah tua, senior, dan bicara apa adanya. Dia teliti memeriksa perut saya menggunakan alat USG  4 dimensi. Dr Azen mengiyakan ada masalah di usus bayi saya.

"Di dalam USG memang tidak terlihat apakah ada anus apa tidak bayinya. Tapi kasus seperti ini banyak terjadi. Saya sarankan bayi ini cepat dikeluarkan jangan sampai dia keracunan. Lebih baik ibu dicesar," katanya.

Mendengar cesar saya deg-degan, tapi lebih deg-degan mendengar kenyataan pada bayi saya.

Sebelumnya, saya sudah punya dua anak dan melahirkan secara normal. Dokter Azen juga menenangkan, kemungkinan besar anusnya ada, hanya terhambat selaput. Sehingga setelah lahir anusnya bisa ditusuk dengan termometer lalu bisa langsung pup. Meskipun harus dioperasi itu hal yang biasa, kata dokter yang memperkirakan bayi saya terkena atreasiasi ani yakni bayi tidak punya anus.

Saya belum tenang meski dokter mengatakan sejujurnya. Saya selalu berdoa, tahajud, dan banyak bersalawat. Semua saran dari orang-orang, doa apapun saya turuti.

Lalu seminggu kemudian, saya kembali ke dokter Christina.  Usia kehamilan saya sudah 36 minggu. Dari USG, ternyata perut bayi semakin besar, begitu pula ukuran ususnya, dan terlihat kotoran, di mesin USG berwarna putih. Dokter terlihat serius memandang monitor yang berisi bayi saya yang berada di dalam perut. Jantung ini berdebar keras menunggu hasil diagnosanya.

"Ibu harus dirawat sekarang, dua hari melakukan pematangan paru-paru," katanya.

Ketika obat untuk pematangan paru-paru bayi itu disuntik, rasanya???Mantaaappppp...Hanya dalam hitungan detik, sakit itu langsung terasa hingga ke pantat. Sakit banget, bikin merinding. Silahkan jika ingin mencoba, hehehe.

Oiya, sejak awal hamil, posisi bayi saya terlentang. Saya terus nungging karena berharap melahirkan normal. Tapi rencana hanyalah rencana, Allah yang menentukan. Meski bayi saya sudah di posisi normal, tapi harus di cesar.

Saya hanya pasrah. Hanya banyak doa dan salawat Nabi. Semua ikhlaskan dan pasrahkan ke Allah. Di ruang operasi pun, saya hanya mengamati ruangan itu. Saya flat.

Ini pertama kali seumur hidup urusan sama operasi. Saya nyaris tidak pernah 'menginap' di rumah sakit, kecuali untuk urusan persalinan saja.

Pukul 10.15 (sepertinya, saya lupa), bayi saya lahir. Saya dibius lokal, seperti tersadar, tetiba perut saya sudah diotak atik dan badan terasa melayang, lalu tak lama mendengar bayi menangis. Hal pertama yang saya tanyakan ke suster, apakah ada anus? Dokter dan suster menjawab ada. Saya lega, tapi masih belum puas, pasti ada yang salah.

Bayi langsung inisiasi menyusui dini, dia terlihat lahap. Pipinya tembem, rambutnya basah, matanya terpejam, saya cium pipinya, terasa lembut. Saya bahagiaaaa sekali kembali punya baby lucu.

Bayi sempat dibawa ke ruang perawatan, untuk menyusu. Hanya dua kali menyusu, setelah itu saya harus menunggu 3 minggu untuk kembali menyusui lagi.

Hasil rontgen menunjukkan ada yang salah pada ususnya. Dokter mendiagnosa terkena atreasiasi ani. Disarankan menunggu 24 jam dan berharap dia pup. Menunggu baby pup itu, seperti...rasanya gimana, seakan saat itu saya rela menyembah, bersujud atau melakukan apapun kepada pemilik pup agar baby saya pup.

Setiap ketemu suster saya selalu bertanya kondisi baby. Dokter kandungan memberitahukan kalau air ketuban saya berwarna hijau, itu kemungkinan besar dari muntahan bayi. Dan ternyata ketika menunggu 24 jam pup itu, baby muntah, dan berwarna hijau.

Itu ujian yang sangat hebat diberikan Allah untuk hambanya. Saya hanya tertidur tanpa bisa duduk, berjalan atau menghampiri bayi saya. Jika habis melahirkan terus menangis katanya efek dari baby blues, tapi saya yakin bukan disebabkan itu. Bayangkan, seorang bayi yang baru lahir harus berada di meja operasi dan saya ibunya tanpa bisa membantu apapun, meski hanya menggenggam jari mungilnya.


Saat itu RSIA Carolus memberikan opsi untuk operasi di tiga rumah sakit (karena di Carolus tidak ada bedah anak). Yakni, RS Carolus Salemba, Eka Hospital BSD dan Siloam Hospital Karawaci. Tadinya saya lebih srek ke Carolus karena salah satunya biasa tidak terlalu mahal, dan sudah teruji puluhan tahun. Tapi karena pertimbangan jarak dari Serpong dan Jakarta sangat macet, sedangkan ini urgent, kita memilih Siloam Hospital. Itupun rekomendasi dari beberapa teman yang pernah berobat di sana..

Saya sangat bersyukur baby dibawa ke Siloam, di sana saya dan suami bertemu dr bedah anak senior yang baik hati, humble, menyejukkan, menenangkan, yakni dr Ariono Arianto. Beliau juga dokter senior di RS Harapan Kita.

Dari cerita suami, dia langsung melihat hasil rontgen sebelum operasi dilakukan. "Kalau atresiasi ani gak begini bentuk ususnya. Ini bukan atreasia ani," katanya sambil mengambil benda (apa namanya, lupa) dan menyodokkan ke anus baby. "Ini anusnya ada. "

Lalu dokter meminta operasi dibatalkan dan minta dilakukan rontgen lengkap. Ternyata hasilnya lebih rumit, lebih complicated, babyku terkena atreasi yeyunum, yakni penyempitan usus kecil. Jadi usus besarnya selama baby di dalam kandungan tidak pernah dilewati kotoran jadi ukurannya sangat kecil itu yang menyebabkan perutnya membesar dan muntah.

Kamis, 8 Januari 2015, saya sudah bisa check out dari Carolus dan langsung menuju Siloam. Saya tak perdulikan nyut-nyutan bekas cesar. Sedih rasanya di ruang perawatan, semua orang habis melahirkan pulang membawa baby dengan bahagia, tapi saya?

Saya ke Siloam, karena malam hari diputuskan baby akan dioperasi. Usianya sudah 3 hari. Setelah melewati serentetan tes, hasilnya baby harus diberikan donor untuk pembekuan darah agar tidak terjadi pendarahan ketika operasi. Duh, ini juga bikin deg-degan dan air mata mengalir.

Ada kejadian yang bikin ngenes. Sesampai di Siolam, saya memakai kursi roda menuju ruang NICU di lantai 7. Sudah 2 hari saya tidak bisa melihat baby saya. Suster meminta saya cuci tangan. Saya memandang beberapa bayi hanya mengenakan pampers sedang tertidur. Ada satu bayi penuh dengan kabel, saya membatin.

"Alhamdulillah, ada yang lebih parah penyakitnya dibanding Ahmad (kita belum ada nama jadi hanya memanggil Ahmad)."

Saya bertanya ke suster, "Bayi saya mana sus?"

Suster menujuk bayi yang penuh dengan kabel itu. Saya langsung menangis melihatnya, nggak tega. Ada selang di mulutnya untuk mengeluarkan kotoran hijau, di dadanya beberapa kabel untuk mengetahui detak jantung, oksigen, dll. Lalu tangannya diinfus, belum kakinya banyak kabel. Karena sedang puasa, dia diberi empeng. Saya menangis tak henti melihatnya. Tuhan, dosa apakah aku? (Saya menangis lagi deh waktu menulis ini..)

Akhirnya diputuskan hari itu jam 8 malam, baby dioperasi. Untuk menyisakan tenaga esok, suami meminta saya pulang untuk istirahat. Karena saya baru check out dari Carolus. Esoknya pagi-pagi saya sudah di ruang Nicu.

Baby memang tidak akan merasakan sakit dan mengingat kejadian dia di operasi saat itu, tapi saya, ibunya, yang melahirkan, yang menjaganya selama 9 bulan di dalam perut, rasanya hati dan jiwa ini dicabik-cabik melihat bayi saya tak berdaya. Suaranya hilang, suster melihat dia menangis hanya dari gerakan kaki dan tangannya, ada bekas guratan panjang di perut kanannya, saya ngilu. Sepertinya itu, masa menangis saya paling panjang seumur hidup. Saya hanya bisa memandang, mengelus tangannya, tak bisa menggendong, tak bisa mendekap, memeluk, mencium, memberikan susu. Ini ujian yang sangat berat.

Entahlah, saya tak tahu, Tuhan ingin memberikan pesan apa lewat ujian ini? Saya hanya mencoba ikhlas dan pasrah, ini pasti yang terbaik. Selalu mengatakan ke diri sendiri, setelah kesulitan itu pasti akan ada kemudahan.

Baby di NICU selama 3 minggu, setiap hari tidak pernah absen, saya mendatangi NICU Siloam. Dari jam besuk pagi, jam 11.00-13.00. Biasanya untuk menunggu jam besuk selanjutnya, jam 18.00 saya bersama suami menunggu di lobi. Kami diuntungkan dengan lobi rumah sakit seperti mal, jadi lebih terhibur hehehe.

Alhamdulillah, 2 minggu pasca operasi, ada kemajuan, baby ada pup di anus. Di bekas operasinya, dokter juga memberikan selang untuk menampung kotoran hijau yang keluar, bentuknya seperti lumut hijau. Jadi ada 2, di hidung atau mulut dan bekas operasi. Di sana juga ada usus yang menonjol, untuk menampung kotoran yang keluar, menunggu sampai normal, turun ke anus.

Pada 27 Januari 2015, baby sudah boleh pulang. Saya bahagia sekali, meski was-was dengan tagihan rumah sakit yang jumlahnya sangat-sangat fantastis. Tapi Alhamdulillah, semuanya banyak kemudahan dan pertolongan dari orang-orang terdekat.

Terima Kasih yang sudah membaca, semoga bisa dijadikan inspirasi dan sharing. Salam


Ini Baby F di usia 4 bulan sedang siap2 operasi kedua


AAL







0 komentar:

Post a Comment