Pengalaman Janin Meninggal di dalam Kandungan

 


Pengalaman Janin Meninggal di dalam Kandungan, alief.com

Bismillah..

Assalamulaikum,

Sebenarnya ini udah lama banget sih, beberapa tahun lalu. Tapi nggak tau kenapa kok tetiba pingin tulis aja di blog. Siapa tau bermanfaat bagi ibu-ibu lainnya yang  mempunyai pengalaman yang sama, atau untuk saya pribadi sebagai pengingat kalau pernah ada janin lain (belum jadi bayi) di dalam perut. Pernah merasakan empat kali kehamilan tapi tiga kali melahirkan.

Bacaan Penting:
Kuliah di PTN Dijamin Sukses, Yakin?
10 Kelebihan atau Keuntungan Menjadi Jurnalis
Mau Jadi Jurnalis? Ini Syarat Pentingnya
- Cara Meliput Berita untuk Jurnalis Baru, Ini Tipsnya

Jadi gini ceritanya, setelah 9 tahun gak hamil pada suatu pagi saya iseng chek testpack. Lantaran sudah beberapa hari belum menstruasi. Saya termasuk teratur menstruasinya, selalu tanggal yang sama. Kalau telat mens udah deh, bisa dipastikan hamil.

Sebelumnya udah beli testpack yang murah, dua biji, ketika ditest, kaget juga ada dua garis biru. Deg-degan dan nggak nyangka, karena umur udah nggak muda. Setelah beberapa hari positif, langsung cari rumah sakit khusus ibu dan anak. Saya sampai dua kali pindah rumah sakit saking untuk meyakinkan kalau ini beneran hamil. Karena kehamilan masih muda, jadi periksa dalam dan beneran ada zigot (calon janin).

Akhirnya diberi vitamin sama dokter banyak banget dan ukurannya gede-gede. Waktu itu usia kandungan sudah 4 minggu. Saya mah santai aja ya, tetap kerja, bahkan naik motor, meski nggak seaktif 9 tahun lalu. Saya tuh mikirnya, pasti baik-baik aja, soalnya 2 kehamilan sebelumnya sehat-sehat saja bahkan saya sambil kerja dan liputan ke lapangan memakai ojek wara-wiri.

Nah, di kehamilan ini saya sempat mengalami flek.  Kata dokter ini nggak masalah karena usia saya dan saya diminta bedrest. Okelah saya nggak kerja, tapi di rumah tetap sedikit-dikit urus anak. Dokter bilang saya flek lantaran terkena bakteri pada vagina dan itu normal jika sedang hamil. Okeh saya tenang. 

Tiap 2 minggu masih rutin periksa ke dokter, dan usia kandungan sudah 11 minggu. Saya masih mual-mual kalau pagi, badan masih nggak enak. Waktu ke dokter, si dokter nya bingung kok janin ukurannya masih sama, kayak nggak berkembang. Lalu dokter menyarankan untuk dikuret sepertinya ada masalah sama si bayi. Saya sama paksu malah bengong nggak percaya, kok bisa? Saya masih mual seperti ibu-ibu hamil pada umumnya.

Untuk meyakinkan saya sama paksu ke dokter di salah satu rumah sakit di Pamulang dan dokter juga mengatakan kalau janin saya sudah tidak berkembang dan diberi surat untuk kuret. Kata dokter kedua, "Flek ini bukan karena bakteri tapi karena janinnya tidak berkembang." 

Saya nyaris mau ke dokter di Jakarta, dokter yang saya percaya di kehamilan pertama. Saya merasa dokter di Jakarta ini lebih jago, pasti 2 dokter sebelumnya salah mendiagnosa.  Ini dokter nenangin dan enak diajak ngobrol, ilmua banyaklah. Lantaran sudah sore dan katanya dokter praktek tutup, lalu kita ke rumah sakit ibu dan anak di Gading Serpong. Di sini alatnya lumayan canggih, dokter  memeriksa dalam dan di layar kita melihat janin itu. Jadi dari janin itu kita bisa tahu masih hidup atau tidak dari warna. Di sekeliling janin ada warna merah dan biru, artinya ada darah, dan ketika alatnya di janin tersebut, amsyong. Artinya nggak ada warna apapun, dan itu menandakan jika janinnya sudah tidak hidup.

"Janinnya sudah meninggal di usia 6 minggu," kata dokter dengan yakin. Saya kembali bengong, jadi selama 5 minggu saya membawa janin yang tidak hidup di dalam perut. Dan Setiap 2 minggu ke dokter, si dokter nggak sadar kalau janin saya udah nggak hidup.  

Kita pulang ke rumah masih bengong. Dokter menyarankan secepatnya dikeluarkan karena sudah lama meninggal.  Lalu kita putuskan untuk kuret di rumah sakit yang di Pamulang. Selain biaya lebih murah, seorang teman merekomendasikan kalau dokter itu bagus. Okelah manut.


Baca:
9 Hikmah #DirumahAja Karena Wabah Covid-19
- Ke Gunung Uludag Turki, Indahnya Kota Bursa
6 Hal yang Perlu Diwaspadai Jika Pergi ke Luar Negeri
Ke Turki Lebih Baik Membawa Dolar US, Lira atau Rupiah?
Penerbangan Panjang ke Turki 

Dikuret

Jam 10 malam saya masuk rumah sakit siap-siap dikuret. Katanya dikuret itu seperti operasi kecil dan dibius total, berbeda dengan dicesar biusnya nggak total (dua duanya sudah saya rasakan geys).

Saya di ruangan sendiri, suster bolak-balik mengecek kondisi saya. Lumayan lama menunggu, katanya suster si dokter sedang membantu persalinan cesar pasiennya. Lalu sekitar jam 11 malam, suster memberikan suntik bius. 

"Ditahan ya bu ini akan sakit sekali," kata si suster siap-siap akan menyuntikkan jarum ke tangan saya.

Sebelnya, saya itu memiliki pembuluh vena yang kecil. Jadi jarum suntik susah masuk dan suster dengan seenak udelnya tusuk jarum beberapa kali ke tangan. Omaygot...dikata saya boneka apa  gak berasa sakit.

"Susah banget bu dicari," kata suster sambil liat ke pergelangan tangan. Saya kalau udah kayak gitu pasrah aja, padahal sakit banget. 

Akhirnya suster ketemu dan rasanya sakit banget ketika obat bius masuk. Itu berasa banget obat jalan dari tangan dan menyebar ke seluruh tubuh, tau-tau saya nggak sadar aja. 

Sadar-sadar ketika mata kebuka pelan-pelan dan melihat suster juga paksu dengan samar. Antara sadar dan nggak, saya juga mendengar mereka ngobrol. Kata paksu si janinnya masih kecil banget.

Kuret sudah selesai, nggak ada yang perlu ditakutkan. Sampai rumah jam 1 malam langsung tidur. Dokter hanya memberikan vitamin dan saya bedrest beberapa hari. 

Semoga Bermanfaat

Alia Fathiyah


No comments

Alsya Communications

Alsya Communications
Media Consultant untuk press conference, media gathering dan press release. Tim kami terdiri dari para mantan wartawan sehingga memudahkan untuk interaksi dengan media di Indonesia, baik media cetak, media online, atau blogger.