Tuesday, June 14, 2016

Rasanya Jadi Wartawan Gosip

Mbah Google
Mulai dari sini, Insya Allah saya akan konsisten menulis pengalaman saya selama lebih dari 10 tahun menjadi wartawan gosip. Bayangin, 10 tahun kerjaan saya ghibah terus? Padahal muka alim begini, harus wara-wiri urus aib artis bahkan sampai kena omelan beberapa artis karena nggak sesuai dengan penampilan tutup kepala begini, heheheh (*sungkemin satu-satu).

Saya sih berharapnya, tulisan tentang dunia wartawan ini bisa bermanfaat dan menjadi panutan beberapa anak muda yang pingin jadi wartawan gosip seperti saya (phuileesss.....Lols).

Jadi begini, flashback dulu ya, dari kecil saya memang suka banget sama menulis. Kalau liat pulpen atau buku nganggur, tangan ini gatel bawaanya pingin menulis. Menulis apa saja, dan di usia yang masih SD saya sudah punya buku diary. Namanya buku curhatan, takut kebaca orang, jadi tulisannya saya jelekin dan memakai beberapa kode. Dan ketika saya baca ulang, saya ikutan bingung itu maksudnya apa hahahah.

Usia 9 tahun, saya sudah membuat cerpen. Namanya masih anak-anak, saya suka banget baca buku HC Andersen. Tentang pangeran dan putri, dari situ saya jadi membuat cerpen soal putri dan pangeran. Pembacanya? Teman satu kelas saya paksa suruh baca dan harus komentar bagus, Lolss. Nyebelinnya, salah satu dari temen ada yang ngomong begini. "Alia, gue pernah baca cerita kayak begini, elo pasti nyontek." Kayaknya kesel banget, padahal itu pure dari imajinasi saya.

Okeh, beloknya kejauhan.

Kembali lagi keinginan untuk menjadi wartawan gosip. Sejak kecil, saya memang suka hal-hal yang berbau entertainment. Dari bacaan, film dan artis-artis saya ingat kesukaanya, favoritnya, nama aslinya, karyanya. Sejak kecil,  saya juga terbiasa melihat kakek saya menulis dengan mesin tik-nya hingga menghasilkan ratusan buku. Saya juga terbiasa membaca buku detektif seperti Trio Detektif, Pasukan Mau Tahu dan Lima Sekawan. Kayaknya, jadi wartawan pas banget. Investigasi kasus seperti detektif sambil menulis, begitu pikiran saya waktu itu.

Lulus SMU, saya berencana ingin mempatenkan keinginan saya untuk menjadi jurnalis dengan kuliah di IISIP. Sayang disayang, si bokap melarang yang diiringi dengan kalimat sakti mandraguna. "Ngapain jadi wartawan, nggak ada duitnya." Jrengjreng! Maksudnya mungkin, jadi wartawan itu elo nggak bisa kaya, hahahaha, (emang bener sihhh, ehem).

Tapi emang dasarnya jalan hidup saya menjadi jurnalis, usai skripsi sambil menunggu kelulusan, seorang teman memberikan informasi kalau Koran Merdeka (sekarang Rakyat Merdeka) sedang mencari reporter. Saya langsung melamar dan dipanggil untuk tes tulis. Namanya juga baru melamar kerja, datang pakai blazer yang cakep banget. Sempet minder melihat yang lainnya, dandanannya wartawan banget. Kayaknya, garis hidup mereka bakal jadi wartawan gitu, terlihat dari penampilannya. Jeans, kemeja, bahkan ada yang pakai rompi segala.

Ketika tes, di formulir ada pertanyaan, mau ditempatkan di desk mana. Dengan sejujurnya, saya menulis "hiburan." Dan 14 teman saya yang lain, semuanya menjawab politik, ekonomi, olahraga, cuma saya yang hiburan. Dan itu benar terjadi, ketika diterima saya ditempatkan di bagian hiburan, dan perempuan sendiri di desk itu.

Di halaman depan koran, ada tulisan kecil soal artis sebagai pemanis, secara semua berita HL (headline) politik semua. Dan tahukan kalian, itu berita soal apa? Berita soal artis dengan segala keseksiannya, hal-hal yang kayaknya nggak etis harus saya tulis dan saya tanya ke artisnya.

Parahnya, saya mereportase dengan tulisan biasa, tapi oleh redaktur tulisan saya diobok-obok hingga menjadi kalimat ungkapan seperti majalah pria dewasa hingga para pembaca bisa berimajinasi soal artis itu. Dan diakhir tulisan, dimasukkan kode saya AAL. Jadilah seantero pembaca koran dan wartawan lain me-cap saya sebagai wartawan porno. Bahkan beberapa yang tidak kenal mengira saya lelaki, phhuiihhh... (BERSAMBUNG)
(Next: Ketika pertama kali wawancara Krisdayanti...)


Alia Fathiyah



5 comments:

  1. Wkwkwk yaampun disangkain laki lak :)))
    Mbak aal aku juga pernah apply jd wartawan kanal entertaiment tp gak lolos hehehhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. heehehe dirimu mukanya bukan muka gosip kaliii hihihihi

      Delete
  2. Wkwkwk yaampun disangkain laki lak :)))
    Mbak aal aku juga pernah apply jd wartawan kanal entertaiment tp gak lolos hehehhe

    ReplyDelete
  3. Waduh, saking penasarannya gue sampai baca semua seri tulisan ini :v
    Salam kenal, Mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha seru yaaaa, salam kenal jugaaa

      Delete