Wednesday, April 13, 2016

Artis ini Ambisius Ikut Pilkada



Membaca berita para kandidat untuk pilkada Jakarta tahun depan mengingatkan saya akan kejadian beberapa tahun lalu. Sama kasusnya, pemilihan kepala daerah. Seperti janji saya sebelumnya, di tulisan Secuil Kisah Dibalik Tawa si Pedangdut,  saya akan ulik orang satu ini. Dia seorang aktris lawas, usia sepertinya belum sampai 50 tahun, namanya memang nggak beken karena kalau main film nyaris nggak pernah jadi bintang utama.

Sebut saja S, saya berkenalan dengan dia secara tak sengaja. Waktu itu saya diminta teman untuk menjadi media relation peluncuran album seorang anak menteri ganteng yang sekarang jadi pejabat kepala daerah (uhuks). Nah, ternyata acara peluncuran album itu didanai oleh S ini. Dia juga menyediakan dorprize sebuah motor kepada wartawan, hebat yaa, tapi sayangnya yang dapat motor itu malah bodrek (*langsungpingsan).

Sejak itu, dia sering kontak saya, kalau telpon lama banget, padahal udah beduk magrib hayo aja dia ngomong. Saya orangnya kan baik hati dan tidak sombong, sepertinya tidak sopan jika memotong pembicaraanya yang sedang memamerkan kekayaan dan proyek besarnya.

Dia banyak janji, ketika dia tahu saya juga orang Bugis, dia pamer kalau sedang mengerjakan proyek jalan besar di Makassar dan akan mengajak saya ke kampung kita (ciyeeciyee). Lalu, dia minta tolong saya bantuin koordinir infotainment. Dia sadar, bisa eksis lewat infotainment. Tapi sayangnya, karena tidak terkenal, para pekerja infotainment emoh meliput, padahal saat itu lagi ada kasus. Dan di job ini, dia hutang lho sama saya, alias honor saya cuma dibayar setengah, dengan janji-janji manis itu.

Lalu, dia punya rencana akan maju di pilkada daerah sebagai seorang walikota. Ibu ini menyadari jika menggandeng selebritis pamornya akan naik dan bisa memenangkan kompetisi pilkada. Dia minta saya untuk rekomendasi beberapa nama artis untuk dijadikan wakil. Lagi-lagi sebagai orang baik hati dan tidak sombong, saya berikan nama seorang pedangdut dan kontaknya.

Mulailah, kontrak kerjasama si S dengan M terjalin. Si M meminta sejumlah uang setiap bulan, apartemen dan mobil, lalu jika jebol (maksudnya terpilih) jadi wakil daerah, si M minta uang sekian miliar. Keduanya setuju dan mulailah deklarasi dilakukan di depan sejumlah media. Tentu banyak yang mencibir dengan pasangan itu, mengingat mereka nggak terkenal dan miskin politik, tapi mengklaim di back up sejumlah partai besar. Oiya, saat itu, si M sudah diberikan pinjaman mobil Alphard milik S, apartemen akan dipinjam juga sampai pemilihan dilakukan dan uang sudah masuk baru sekitar Rp 7 juta.

Menariknya, pada suatu hari, mereka melakukan jumpa pers di sebuah lapangan yang ada masjidnya. Wartawan sudah berdatangan, siap meliput, tetiba pengurus masjid datang dan mempertanyakan soal ijin jumpa pers di lokasi itu. Ceritanya, mereka akan memberikan bantuan di masjid itu. Teguran di depan wartawan tentu bikin malu, tanpa ada basa basi si M langsung masuk mobil dan pergi. Dia menugaskan anak buahnya untuk menyelesaikan masalah itu.

Beberapa tahun kemudian, setelah hilang kontak lama, saya melihat dia mulai mencoba menjadi kepala daerah di sebuah kota besar. Wajahnya muncul di mana-mana dengan label khusus yang akan menjadi ciri khasnya. Kita lihat saja, apakah dia berhasil mewujudkan ambisinya utuk menjadi kepala daerah? Serem nih kalau sampai kejadian, hutangnya buanyaakkk.

Note:
*Inisial disamarkan
*Bodrek: Orang yang ngaku wartawan tapi nggak punya media

0 komentar:

Post a Comment