Thursday, January 28, 2016

Manajer Artis (1), Kenapa Kelihatan Sok Penting?


Jika sudah jadi artis terkenal yang banyak job, biasanya artis juga punya manajer. Tapi ada kok artis ecek-ecek (artis gak beken) yang sok pake manajer, mungkin biar kelihatan mahal dan keliatan jadi artis penting (hiks). Tapi ada juga artis yang handle sendiri kerjaannya karena nggak pakai manajer. Mungkin ini artis pelit yang ogah honornya dipotong (ups).

Nah, resminya, manajer itukan memenej atau mengatur artisnya. Mulai dari cariiin job, promosiin si artis atau mengatur si  artis untuk mendapatkan imej bagus sehingga sampai ke klien yang ingin menyewanya juga ke media yang membantunya untuk memuluskan karir. Manajer juga harus bagus dalam hal public speaking dan pinter negosiasi untuk artisnya ke klien.


Tapi menurut saya yang paling penting itu harus jujur! Hari gini susah cari orang jujur. Coba lihat, berapa banyak artis yang pake manajer itu-itu terus selama bertahun-tahun? Nyaris nggak ada. Cuma Selby, manajer Krisdayanti dan Deni Pete, manajer band GIGI. Mereka jadi manajer sejak awal karir artisnya.

Kalau nggak jujur susah juga. Si manajer yang terima job dan nego honor, otomatis akan masuk ke rekening manajernya semua. Kebanyakan, manajer artis sering kabur dengan membawa uang ratusan juta. Padahal, supaya aman, si artis minta saudaranya untuk jadi manajer. Tapi teetteeeuppp, honor mereka dibawa kabur, seperti kasus penyanyi Shanty yang pernah mencuat.

Lalu kenapa dibilang sok penting? Hmmm..Dari pengalaman saya beberapa kali berurusan dengan manajer artis kadang bikin keki. Mereka merasa sok penting ditelpon setiap saat, misal untuk wawancara. Padahal itu untuk kepentingan karir artisnya yang tentunya berimbas ke penghasilan si manajer dong.

Biasanya, manajer rese begini kalau nyadar artisnya sedang naik daun dan lagi dicari-cari wartawan, mereka langsung pasang badan. Atau jika si artis kena kasus. "Sori mbak, si artis ini lagi sibuk," kata si manajer langsung mematikan hape nya. Atau mereka dengan teganya mematikan panggilan telpon, meski sebelumnya sudah kirim sms. Yang paling nyebelin jika bertemu langsung. Si manajer ini pasang wajah kenceng (pake botox kayaknya), tanpa senyum, jika ditegur hanya melirik sebentar lalu mengamit lengan artisnya untuk menjauh. Padahal, artisnya pasang senyum ke semua wartawan dan siap ditanyai.

Entahlah, apakah ini setingan artis supaya imejnya sebagai artis ramah dan mengorbankan manajernya untuk pasang wajah jutek. Atau memang setelah mendapatkan label manajer artis, mereka jadi merasa sok penting karena tentunya semua orang akan menghubunginya supaya bisa meng-hire artisnya.

Saya punya pengalaman menakjubkan. Saya pernah menghubungi seorang penyanyi lawas yang masih cantik, muda dan bertubuh mungil. Untuk mewawancarai dia, harus melewati berlapis-lapis. Saya sampai bingung, tiga orang ini manajernya semua atau asisten doang yang memang cuma megangin hape si artis?

Waktu itu, manajer pertama bertanya apa tema yang ingin diwawancarai. Setelah saya jelaskan, dia meminta daftar pertanyaan via email. (hhmmmm...REM to the PONG). Oke, saya turuti, demi deadline majalah Tempo. Karena susah ketemu, jadi wawancara by phone untuk halaman Pokok Tokoh di belakang.

Setelah dia setuju, saya harus menghubungi orang lain dan dikasih nomornya. Lalu orang kedua ini, suruh saya telpon orang satunya lagi. What??? "Ini langsung asistennya mbak, dia yang sering ngikutin si A, jadi ada di sampingnya terus."

Lalu, saya hubungin asisten itu. Tau gak, manajer ketiga ini jawab begini. "Mbak, si A lagi sibuk, nanti kalau mbak saya telpon, langsung telpon ke nomor Mbak A langsung yaa.." (hhgghhhh...%$#@#).

Pada pagi hari, ketika saya otw ke kantor dengan commuterline (yang pernah naek commuterline tau dong, gimana padetnya itu kendaraan yang tak berperikemanusiaan). Si manajer ketiga telpon, secara berdiri cuma kaki satu di commuter, tentu saya kesulitan ambil handphone di tas.

Setelah turun dari commuter, saya telpon manajernya. "Mbak, si Mbak A nya udah pergi, tadi saya telponin susah sih, nggak diangkat. Nanti telpon aja 1 jam lagi," katanya. (hhgghhhhh...%$#@$ babak 2). *sabar,tariknafaspanjang. "Oke mbak," kata saya dengan suara lembut, padahal berasa pengen teriakin itu manajer setelah berdesak-desakan di Commuter.

Oke 1 jam kemudian sudah duduk manis di depan meja di kantor. Lalu telpon si artis mungil itu, dan nyambung! yesss...mulailah wawancara by phone. Baik sihhh. Setelah tayang di majalah, saya kabari dia via WA, dan dia membalasnya dengan mengucapkan terima kasih. Beberapa minggu kemudian, ketika saya mau wawancara by Wa lagi cuma dibaca booo...gak dibalas sama sekali sama si Artis. Jadi, gue kudu lewatin 3 manajer lo lagi gitu??? (hhgghhh%^$##)



0 komentar:

Post a Comment